“Jadi benar David sengaja ngikutin kita waktu itu?”
Bella menganggukkan kepalanya. Ia masih saja memeluk kekasihnya di sana seperti tidak ingin berjauhan dengannya. Bahkan ia melupakan jika saat ini tengah berada di rumah neneknya. Ia juga menceritakan apa yang telah terjadi padanya. Dari mulai Dharma yang memarahinya dan membawanya ke Jogja, sampai David yang ternyata selama ini selalu mengikuti Bella kemana pun ia pergi.
“Yang penting sekarang aku bisa ketemu lagi sama kamu,” ujar Zafran seraya mengecup puncak kepala Bella.
“Kok kamu bisa tahu aku ada di sini?” Bella mendongak.
“Aku nyari kamu selama seminggu ini. Terus aku gak sengaja dengar pembicaraan David sama temannya di ruang BEM dan bilang kalau kamu lagi di Jogja. Aku dapat alamatnya dari Hanna, katanya dia nanyain langsung ke kakak kamu. Pas lagi nyari tadi gak sengaja ketemu nenek kamu yang hampir dijambret orang.”
“Makasih ya udah nolongin nenek aku.”
“Aku juga bersyukur bisa nolongin nenek kamu dan bisa ketemu kamu di sini.” Zafran kembali membubuhkan kecupannya pada dahi Bella.
“Jangan pergi ya,” cicit Bella semakin mengeratkan pelukannya.
Zafran tersenyum seraya mengusap rambut kekasihnya. Ia juga tidak mungkin menginginkan perpisahan setelah ia sudah benar-benar menjatuhkan hatinya pada Bella. Untuk sekedar memastikan keberadaannya di sini saja ia sudah sangat senang. Apalagi jika ia sudah siap segalanya, tak segan ia akan membawa gadis itu pergi sekarang juga. Namun ia sadar keadaannya masih belum memungkinkan untuk sampai sejauh itu.
“Maafin aku. Gara-gara aku kamu harus di sini,” ujar Zafran dengan lembut.
Bella menggelengkan kepalanya. “Ini bukan salah kamu. Lagian aku juga salah percaya gitu aja sama David.”
“Oh ya, handphone kamu mana? Aku selalu ngabarin kamu tapi gak pernah aktif. Nomor kamu udah ganti? Tapi sosial media kamu juga gak aktif,” cecar Zafran.
Bella mengerucutkan bibirnya. “Handphone aku rusak sama papa. Aku juga gak diizinin beli handphone baru selama di sini.”
Zafran menghela nafas. Pria itu semakin merasa bersalah kepada kekasihnya. Jika dirinya tidak mengajak kekasihnya bertemu waktu itu mungkin semuanya akan baik-baik saja. Bella akan berada di Jakarta bersamanya. Bella juga tidak akan mendapatkan hukuman dari papanya. Ia juga tidak akan sampai nekat pergi ke Jogja untuk memastikan keadaannya seperti sekarang. Apakah harus sesulit ini untuk bisa bersama Bella? Seburuk itukah orang tua Bella menilai dirinya?
“Bella...” panggil Neneknya dari arah dapur.
“Iya, Nek?”
Zafran menyuruh Bella untuk menghampiri neneknya yang berada di dapur. Gadis itu menurut lantas beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju dapur. Tak berselang lama, Juna datang dari luar dan kembali duduk di tempat semula. Begitu pun dengan Zafran yang kembali duduk di samping Juna.
“Gimana?” tanya Juna.
“Nanti gue jelasin di rumah Bang Dion.”
“Bukan itu.”
Zafran menoleh seraya mengangkat sebelah alisnya. “Terus?”
“Bukannya tadi lo bilang kalau cucu neneknya cewek mau dikasih ke gue?”
Zafran menatap datar Juna. Bisa-bisanya pria itu masih menagih ucapannya tadi. Ia kan tidak tahu jika cucunya itu adalah Bella, kekasihnya. Kalaupun tahu mana mau ia memberikannya pada Juna.
“Gak ada. Dia udah punya gue,” tegas Zafran.
Juna tertawa. “Ah elah mana gue udah seneng banget lagi pas lihat cucunya.”
“Anjing punya gue itu. Awas lo kalau berani deketin dia,” ancam Zafran.
“Gak janji.” Juna menggelengkan kepalanya dengan diiringi tawanya.
“Jun, lo jangan bikin saingan gue nambah. Lo mau bikin gue semakin ngerasa insecure? Masih mending saingan gue buaya darat macam David. Sedangkan lo lebih segalanya dari gue dan pastinya jadi menantu idaman papa Bella juga.”
Juna semakin tertawa. Sebenarnya ia tidak berniat untuk melakukannya, namun ia selalu suka jika Zafran sudah mode posesif kepada Bella. Ia juga sangat tahu bagaimana bucin nya Zafran kepada kekasihnya itu.
Juna memang terlahir dari keluarga berada seperti Bella. Selain itu juga, pria ini memiliki segudang prestasi. Tak heran jika banyak gadis yang menyukainya. Namun entah kenapa hingga saat ini pria itu masih menutup dirinya untuk siapa pun. Sehingga saat mendengar Juna ingin merebut Bella, Zafran merasa khawatir. Karena peluang Juna untuk diterima keluarga Bella sangat besar dibandingkan dirinya.
Nenek Bella mengajak mereka untuk segera makan di dapur. Setelah itu mereka kembali melanjutkan obrolan dengan nenek dan juga Bella. Hingga tak terasa waktu telah memasuki sore hari. Kedua pria itu pamit dari rumah nenek Bella.
*
*
*
Keesokan harinya, Zafran kembali ke rumah nenek Bella. Pria itu datang sendiri karena Juna akan pergi ke suatu tempat bersama Dion. Ia juga sengaja meminjam motor Dion karena ingin mengajak kekasihnya itu untuk jalan-jalan. Ia juga sudah meminta izin kepada neneknya.
“Udah siap cantik?” tanya Zafran setelah Bella menaiki motornya.
“Udah.”
“Yaudah kita berangkat.” Motor yang dikendarai Zafran melaju meninggalkan pekarangan rumah Bella.
Selama di perjalanan, tak hentinya mereka tertawa hanya karena hal kecil. Seperti Zafran yang akan menghibur gadis itu dengan menceritakan hal lucu saat bersama para sahabatnya atau bahkan membicarakan orang random yang mereka temui di jalan. Sesampainya di tempat tujuan, Zafran ternyata mengajaknya ke Taman Sari yang ada di Yogyakarta. Jaraknya cukup dekat dari rumah neneknya Bella. Ia sengaja mengajak kekasihnya ke sini untuk sekedar berjalan-jalan menikmati indahnya kota Yogyakarta. Selain itu, ia juga ingin memanfaatkan kebersamaan mereka sebelum ia harus kembali ke Jakarta.
“Gimana senang gak?”
Bella menganggukkan kepalanya. Ia bahkan sudah menggandeng lengan Zafran seperti pasangan pada umumnya. Berjalan mengitari tempat wisata berdua seperti ini serasa terlihat pasangan pengantin muda yang tengah berbulan madu.
Perasaan Bella menghangat. Mungkin ini hal sederhana namun sangat berarti bagi dirinya. Ia jarang sekali jalan keluar seperti ini entah itu bersama orang tuanya ataupun dulu saat ia dengan mantannya. Mereka akan lebih memilih makan di resto bintang lima atau ke pusat perbelanjaan untuk menghabiskan uang. Namun kali ini ia dapat merasakan bagaimana dicintai dengan tulus dan kelewat sederhana ini. Ketahuilah ia sangat bersyukur telah dipertemukan dengan sosok pria yang begitu mencintainya.
Zafran diam-diam memotret Bella dari belakang. Ia tersenyum saat melihat hasilnya yang begitu cantik. Ia mencoba merekam video saat gadis itu berjalan di depannya. Saat Bella menoleh ke belakang ia terkejut melihat kamera ponsel yang mengarah padanya.
“Heh ngapain? Kamu rekam aku ya?” pekik Bella seraya ingin merebut ponsel Zafran. Dengan segera pria itu menyembunyikan ponselnya ke belakang punggungnya.
“Zaf, hapus gak? Pasti muka aku kelihatan jelek.”
“Enggak, kata siapa?”
“Mana coba lihat sini," ujar Bella.
Zafran menggelengkan kepalanya lalu merangkul kekasihnya seraya berjalan kembali mengitari Taman. Gadis itu sudah siap mengeluarkan ocehannya sebelum Zafran membisikkan sesuatu yang membuatnya seketika diam.
“Diem atau aku cium di sini?” Bella mengerucutkan bibirnya. Kebiasaan Zafran ngancemnya suka begitu.
Waktu telah menjelang sore hari, Zafran mengantarkan Bella kembali ke rumah neneknya. Keduanya terlihat sama-sama bahagia setelah menikmati waktu bersama dengan bebas tanpa takut dimata-matai oleh keluarganya. Bella tidak akan melupakan keindahan kota Jogja bersama orang terkasihnya.
“Besok aku ke sini lagi ya. Jam 9 aku jemput kamu,” ujar Zafran setelah keduanya sampai di depan rumah nenek Bella.
“Iya, aku tunggu ya.”
Zafran mengangguk. “Aku pulang dulu kalau gitu. Awas jangan bangun siang!” peringat Zafran.
Bella terkekeh seraya hormat pada Zafran. “Siap bosku!”
“Pinter. Yaudah aku pulang,” pamit Zafran.
“Hati-hati di jalannya.”
Motor Zafran melaju meninggalkan pekarangan rumah nenek Bella meninggalkannya yang masih setia berdiri di sana. Setelah Zafran hilang dari pandangannya, barulah ia berbalik untuk segera masuk ke dalam rumah. Namun baru saja ia melangkahkan kakinya memasuki rumah neneknya. Wanita paruh baya itu telah berdiri di sana dengan tatapan penuh arti.
“Nek–”
“Nenek mau bicara sama kamu.”
*
*
*
“Jadi laki-laki itu pacar kamu?”
Bella mengangguk seraya menundukkan kepalanya. Ternyata diam-diam neneknya memperhatikan gerak-gerik Bella saat pertama bertemu dengan Zafran dan Juna tempo hari. Gadis itu terlihat berbeda saat bertemu dengan keduanya. Pada saat nenek tengah di dapur untuk memasak, ia berniat ingin memanggil cucunya untuk meminta bantuannya. Namun yang ia dapati justru Bella tengah menangis dipelukan pria yang membantu neneknya. Wanita paruh baya itu terkejut pastinya. Ia mencoba berpikir positif mungkin mereka memang dekat, namun samar-samar terdengar kata-kata cinta diantara mereka. Dari situlah neneknya yakin jika diantara keduanya tengah terjalin suatu hubungan. Hal itu juga dikuatkan dengan bukti yang dimana Zafran tiba-tiba kembali ke sini dan mengajak Bella untuk pergi.
“Jadi laki-laki itu sengaja pergi ke sini karena ingin mencari kamu?”
Bella kembali mengangguk.
“Nenek tidak masalah jika kalian memiliki hubungan. Kamu berhak menentukan kebahagiaan kamu sendiri. Tapi Nenek minta sama kamu, jangan sampai kamu mengorbankan suatu hal demi kebahagiaan kamu,” ujar Nenek.
Bella hanya bergeming di tempatnya.
“Papa kamu itu sangat keras kepala sama seperti kakek kamu. Sangat sulit buat mereka untuk menerima yang tidak mereka inginkan. Tapi suatu saat juga ia akan menerima dengan sendirinya kalau Zafran bisa membuktikannya sendiri kepada papa kamu,” ujar Nenek seraya mengusap lengan Bella dengan lembut.
“Jadi Nenek minta sama kamu, pertahankan selagi kalian sama-sama saling mencintai. Buktikan pada mereka kamu berhak bahagia atas pilihanmu sendiri dan mematahkan persepsi mereka tentang perbedaan status sosial.”
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments