“Kamu ngapain ke sini?” cecar Zafran setelah keduanya duduk di kursi yang ada di sana.
“Kenapa emang? Gak boleh?” sungut Bella seraya mengerutkan bibirnya.
Zafran menghela nafas. Ia salah bicara, jadi ia memilih merapatkan bibirnya daripada malah menambah masalah.
“Kamu kemana aja? Aku telpon gak pernah diangkat, aku chat juga gak pernah dibalas. Kalau di kampus juga kamu gak pernah nyari aku atau sekedar ketemu sebentar aja. Kamu juga kayak ngehindarin aku,” cecar Bella.
Zafran bergeming di tempatnya. Bohong jika ia tidak merindukan kekasihnya. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal demikian. Akhir-akhir ini ia selalu merasa tidak percaya diri dan merasa tidak pantas jika bersama Bella. Ia sadar ia jauh dari kriteria pria yang diharapkan kedua orang tua Bella. Ia menghindar karena ia ingin memberikan gadis itu kebebasan supaya gadis itu bisa menemukan yang lebih segalanya darinya. Namun justru ia yang tersiksa dengan pilihannya sendiri.
“Kenapa Zaf? Kamu udah gak sayang sama aku? Kamu masih kepikiran soal keluarga aku sama kamu? Kamu udah nyerah sama hubungan kita?”
“Bukan gitu–”
“Terus kenapa? Kalau kamu udah gak sayang sama aku bilang. Jangan kayak gini. Kamu pikir cuman kamu aja yang tersiksa, aku juga sama Zaf,” ujar Bella cepat. Air matanya luruh saat itu juga. Isak tangis mulai terdengar. Hingga membuat pria itu semakin merasa bersalah.
“Hidup aku udah terlalu banyak diatur sama mama papa. Bahkan yang katanya demi kebahagiaan aku juga, aku gak merasa kalau aku bahagia sama pilihan mereka. Aku menjalani karena aku menghargai mereka sebagai orang tua aku. Makanya aku selalu nyaman sama kamu karena aku bisa menjadi diri aku sendiri,” jelas Bella dengan isakannya.
“Berkali-kali aku bilang sama kamu, aku gak pernah permasalahin apa pun yang ada pada diri kamu. Karena aku sayang sama kamu. Aku nyaman dengan kamu yang apa adanya.” Bella mengusap air matanya yang membasahi pipinya.
“Tapi kalau kamu sendiri udah gak nyaman, aku bisa apa Zaf.” Bella memaksakan senyumnya seraya mengusap air matanya yang masih menetes. “Bahkan sekarang kayaknya kamu udah menemukan yang lebih baik dari aku,” lanjutnya.
Zafran masih merapatkan bibirnya. Entah kenapa rasanya sulit sekali untuk berbicara. Ia juga tidak tahu harus bagaimana. Ia sangat menyayangi Bella. Ia tidak mau kehilangannya, namun ia juga tidak mau jika Bella harus tersiksa karena bersamanya.
Keduanya sama-sama bungkam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Zafran yang masih mengatupkan bibirnya, sedangkan Bella menunggu respons dari pria itu. Hingga beberapa menit berlalu tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir Zafran hingga membuat Bella menyerah dengan perasaan kecewanya.
“Yaudah kalau gak ada yang mau dibicarain, aku pamit dulu. Makasih buat semuanya. Aku pergi.”
Setelah mengatakan demikian, Bella bangkit dari duduknya lalu berjalan menjauhinya dengan perasaan kecewa meninggalkan Zafran yang menunduk dengan perasaan bersalahnya.
Bella masuk ke dalam mobil Hanna. Tangis gadis itu kembali pecah setelah duduk di sana. Hanna yang berada di sampingnya dengan sigap menarik sahabatnya ke dalam pelukannya. Tanpa bertanya pun ia bisa menebak apa yang telah terjadi antara Bella dan Zafran di dalam.
*
*
*
Di sinilah Zafran sekarang, markas ini menjadi tujuan utamanya. Setelah Bella pergi dari bengkel, ia juga ikut pergi dan memilih libur bekerja. Pikirannya benar-benar kalut. Rasanya ia ingin sekali mengutuk dirinya sendiri yang begitu bodohnya malah membuat gadisnya menangis. Ia mengambil gelas yang berisi minuman beralkohol yang sengaja ia beli karena merasa pusing dengan permasalahannya. Tak hanya dirinya, di sana juga ada Juna, Galen, Ibram dan juga Yogi. Mereka hanya bisa menghela nafas melihat Zafran yang sudah meracau tidak jelas. Sedari tadi tak ada hentinya ia menyebutkan nama Bella. Pria itu benar-benar sedang kacau.
“Gue gak ngerti sama lo. Kalau emang masih sayang sama Bella kenapa malah milih menjauh coba,” gerutu Ibram. Setelah mendengar ceritanya, ia jadi kesal dengan Zafran.
“Percuma juga lo ngomel-ngomel sama dia orangnya juga lagi kobam,” cetus Yogi yang sudah jengah dengan ocehan Ibram.
“Kayaknya kita harus ngelakuin sesuatu deh,” ujar Galen seraya menatap satu persatu sahabatnya. Mereka tampak berpikir sejenak lalu mulai berdiskusi untuk membantu memperbaiki hubungan Zafran dan Bella.
*
*
*
Keesokan harinya, ternyata di kampus tengah mengadakan konser amal. Zafran dan keempat sahabatnya sudah berada di sana. Banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi telah mengisi lapangan untuk melihat bintang tamu yang telah diundang oleh panitia acara. Dari arah lain datanglah Bella, Hanna dan dua gadis lainnya masuk ke area lapangan. Para gadis itu tidak menyadari kehadiran Zafran dan temannya di sana. Mereka sibuk tertawa sembari berjalan ke arah depan dekat panggung. Lalu dari arah belakang David terlihat setengah berlari menghampiri Bella. Keduanya terlibat sedikit obrolan, lalu David kembali berjalan ke arah belakang panggung karena pria itu salah satu panitia acara juga.
Zafran terlihat geram dengan mereka yang semakin dekat. Ia ingin sekali menyeret gadis itu untuk berdiri saja di sampingnya. Namun apa daya, ia sadar hubungannya sedang tidak baik sekarang. Ia juga masih belum yakin dengan perasaannya. Ia terlalu tidak percaya diri karena merasa rendah jika bersama Bella meskipun gadis itu tidak pernah mempermasalahkannya.
Keempat sahabatnya saling pandang satu sama lain melihat Zafran bergeming di sana. Mereka menahan tawanya melihat Zafran yang tengah menahan rasa cemburunya. Apalagi sekarang Bella tengah digodai oleh pria dari fakultas lain.
“Gak mau disamperin nih bro?” Goda Yogi pada Zafran.
“Gue sih kalau jadi pacarnya Bella, udah gue jagain terus dia. Bahaya bro, yang suka sama dia banyak,” sahut Galen.
“Kalau gue sih nyerah duluan kalau lihat bapaknya kayak gimana,” ujar Ibram.
“Ah elah gimana mau ada kemajuan baru lihat bapaknya aja udah ciut duluan.” Galen sengaja mengeraskan suaranya untuk menyindir Zafran yang masih merapatkan bibirnya. “Kan cinta itu butuh perjuangan bro," lanjutnya.
Zafran masih bergeming. Pandangannya lurus menatap ke arah depan yang dimana ada Bella di sana tengah tertawa bersama teman-temannya. Sedangkan di belakangnya, diam-diam keempat pria itu terkikik seraya bertos ria melihat Zafran yang tidak berkutik di depannya. Ini salah satu rencana mereka supaya pria itu kembali sadar bahwa ia juga masih menyayangi Bella.
Acara telah dimulai, beberapa kreasi mahasiswa mulai ditampilkan di sana. Seperti menyanyi, band bahkan penampilan dance cover juga ada. Hingga pada saat puncaknya yaitu penampilan bintang tamu spesial. Mereka mengundang salah satu grup band yang tengah viral di media sosial yaitu Dynamix Band.
Para penonton bersorak setelah mereka naik ke atas panggung. Saat lagu pertama dibawakan, para penonton melompat-lompat menikmati lagunya. Sebelum lanjut ke lagu berikutnya, mereka melakukan fan service dengan para mahasiswa di sana. Namun tiba-tiba saja vokalisnya menunjuk seorang gadis dan menyuruhnya ke atas panggung.
Bella terkejut saat dengan tiba-tiba ia ditunjuk oleh Jevano vokalis dari Dynamix Band. Ia menoleh ke arah sahabatnya dan mereka malah mendorongnya untuk ke atas panggung.
“Bukan gue kali,” elak Bella. Namun ucapan selanjutnya dari vokalis itu kembali menyadarkan Bella.
“Mbaknya yang pake baju putih sama rambut coklat boleh naik ke atas panggung?” ujar Jevano seraya menunjuk ke arah Bella.
“Anjir Bel, gila lo lucky banget sih,” pekik Jihan salah satu sahabat Bella.
“Udah buruan sana naik. Kalau gue yang disuruh udah lari gue ke atas buat minta foto bareng,” timpal Hanna.
“Mbaknya mau disamperin apa gimana nih?” sahut drummernya yang langsung ramai sorakan dari para mahasiswa.
Akhirnya Bella berjalan ke atas panggung dengan sedikit menunduk. Ia malu pastinya apalagi ini ditonton banyak orang. Lagi pula ngapain vokalisnya malah nyuruh dia sih. Padahal kan banyak yang nonton di sini, atau Jihan saja yang jelas fans mereka.
“Namanya siapa?” Tanya Jevano saat sudah berada di atas panggung.
“Bella.”
“Dari jurusan apa sama semester berapa?”
“Manajemen semester 4.”
“Oke, kita punya challenge. Rules nya itu lo harus nyanyiin salah satu lagu kita tapi duet bareng gitaris kita,” ujar Jevano yang langsung mendapat sorakan dari para penonton.
“Kenapa jadi gue?” ujar gitarisnya yang bernama Dhanu dengan wajah terkejutnya.
“Gue gak bisa nyanyi,” ujar Bella berbicara tanpa mengenakan micnya yang tentu saja hanya bisa didengar oleh Jevano.
“Hah? Gak bisa nyanyi?” ujar Jevano masih dengan micnya yang menyala. Sontak mendapat sorakan dari para penonton. Termasuk ketiga sahabatnya.
“Bohong itu bohong!” teriak Jihan lalu disetujui oleh Hanna dan juga Mila.
Bella merutuk dalam hati. Lihat saja setelah ini mereka akan siap diomeli olehnya.
“Tuh bohong katanya. Ayo coba nyanyi sedikit aja,” ujar Jevano lalu menoleh ke arah gitarisnya. “Ayo Nu, jangan malu-malu gitu lah.”
Setelah dibujuk untuk melakukan tantangan tersebut, akhirnya mereka menyetujuinya. Para penonton bersorak saat keduanya nyanyi bersama dengan saling bertatapan satu sama lain. Sungguh pemandangan yang sangat langka. Setelah itu, Bella berfoto bersama member Dynamix Band di atas panggung.
“Terima kasih mbak Bella. Kata temen saya selesai acara nanti dilanjutin di belakang panggung ya,” ujar Jevano dengan kekehannya.
Bella sedikit membungkukkan badannya seraya terkekeh, lalu ia segera turun dari atas panggung. Namun sebelumnya ia sempat bersitatap dengan seseorang yang tengah berdiri diantara kerumunan dengan tatapan tajamnya. Ia memilih memutuskan pandangannya dan kembali ke barisan para sahabatnya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments