Riki sudah membeli salah satu kitab bela diri dengan harga 300 poin K.
Dia segera membuka kitab yang begitu tipis itu dan mencoba apa yang tertulis di dalamnya.
"Kitab bela diri apa ini yang menyuruhku meditasi?" kata Riki heran.
"Tuan, cobalah dahulu," jawab Lala sedikit gemas dengan keluhan-keluhan Riki.
Riki pun mengambil posisi duduk bersila dan mulai memejamkan matanya.
Sebelah mata Riki mengintip, "Enggak ada apapun yang terjadi!" ujarnya.
Tangan mungilnya Lala pun menepuk jidatnya Riki. "Baru satu menit sudah berharap terjadi!"
Riki pun mencoba bersabar dan kembali memejamkan matanya.
"Jangan lupa mengatur pernapasan kamu juga!" tegur Lala mengingatkan.
Akhirnya Riki merasa tubuhnya semakin ringan dan ringan sampai kepalanya terasa menyentuh sesuatu.
"Apa aku melayang dan menyentuh langit-langit kamarku?" gumam Riki.
Riki yang penasaran kemudian membuka mata dan malah mendapati dirinya di tempat gelap nan sempit.
"Lala, apa ini perbuatan kamu?" ujar Riki kesal.
Namun, seseorang tiba-tiba membungkam mulutnya dari belakang.
"Sttt... Raka, apa kau gila? Jangan berisik atau kita semua akan ketahuan!" ucapnya berbisik.
'Siapa orang ini? Kenapa aku dipanggil Raka dan di mana ini?'
Riki benar-benar kebingungan sampai Lala akhirnya muncul.
"Lala, di mana ini?" tanya Riki lewat telepati.
Semua orang di tempat gelap itu tidak bisa melihat Lala.
"Jiwa Anda tersedot kekuatan misterius dari kitab itu," jelas Lala.
"Jadi, apa yang terjadi?" tanya Riki lagi, masih dalam keadaan mulutnya dibungkam.
"Sepertinya Anda kembali ke masa lalu," jawab Lala.
Riki sangat terkejut, tapi dia harus tetap tenang dalam situasi ini.
Kemudian Riki memberi isyarat pada orang-orang di belakangnya bahwa dia akan bekerja sama.
Orang itu akhirnya melepaskan tangannya dari mulut Riki.
"Huek! Bau!" keluh Riki dalam hati.
"Kita belum bisa bergerak sebelum mendapat sinyal dari kelompok pasukan lain," kata pria tadi.
Setelah mendapat sinyal dari kelompok lainnya, akhirnya mereka bergerak keluar.
"Semuanya! Ayo maju!" teriak pria tadi.
Mereka terlihat berpakaian seperti prajurit kuno, membawa tombak dan sebagian lagi memakai pedang.
Riki yang tidak tahu apa-apa langsung maju paling depan, tapi dia putar balik pas di depannya terlihat banyak pasukan dari pihak musuh.
"Raka! Kenapa kau mundur lagi!" ucap pria tadi, menarik Riki agar ikut berperang.
Pertempuran tak terhindarkan ketika pasukan dari pihak Riki mulai menyerbu ke kamp musuh.
Terdengar suara pedang yang saling menabrak dan bersentuhan satu sama lain.
Pasukan dari kedua belah pihak berada dalam keadaan berapi-api, berusaha saling mengalahkan.
Di tengah-tengah kekacauan, Riki berusaha mencari cara agar selamat.
Kemudian, dia punya ide untuk pura-pura menjadi mayat atau prajurit yang sudah tumbang saja.
Suasana perang begitu kacau, dengan teriakan seruan dan pekikan yang menggema di sepanjang medan tempur.
Tangisan dan jeritan bercampur aduk di tengah-tengah kekacauan itu.
Darah mengalir, mengecat tanah dengan warna merah. Tubuh pria dan wanita yang terkapar pun ikut menjadi saksi bisu dari pertempuran ini.
Pertempuran itu tak hanya melibatkan senjata tajam, tetapi juga sihir dan kekuatan magis dari prajurit terlatih.
Kilatan cahaya seperti dari mantra sihir, ledakan energi yang menggetarkan medan tempur, dan perlindungan yang kuat dari para prajurit menjadi bagian tak terpisahkan dari pertempuran tersebut.
"Vangkeee! Lala! Situasi apa ini?" tanya Riki melalui telepati.
Semakin lama pertempuran berlangsung, semakin terlihat kemenangan yang tampak akan menjadi milik pasukan yang tadi bersama Riki.
Riki memperhatikan wajah salah satu prajurit dari pihak musuh yang terlihat bukan berasal dari negara ini.
Mereka bermata sipit, berkulit putih, dan tampaknya datang dari negeri tirai bambu.
Seiring dengan pengunduran diri pasukan musuh, kejatuhan kepala dan letusan pekik kemenangan menggema di udara.
Pasukan yang tadi bersama Riki, meski kelelahan dan terluka, merasa bangga atas kemenangan yang mereka raih dalam pertempuran ini.
"Hidup Raden Wijaya!" teriak mereka setelah berhasil memukul mundur pasukan musuh.
Mendengar sorak-sorai mereka membuat Riki teringat dengan salah satu buku yang sempat ia baca di perpustakaan kemarin.
"I-ini? Apa aku beneran pergi ke abad-13 Masehi?" kata Riki tercengang.
Riki teringat soal sejarah Kerajaan Mongol yang dipimpin oleh Kubilai Khan merupakan kerajaan yang sangat kuat pada abad ke-13 Masehi.
Pada masa itu, Kerajaan Mongol memiliki wilayah kekuasaan yang tersebar diberbagai negara, seperti Rusia, Asia Tengah, China, Irak, Polandia, maupun wilayah Asia Tenggara.
Namun, pasukan Kerajaan Mongol dikalahkan oleh pasukan Raden Wijaya ketika ingin menguasai tanah Jawa.
Raden Wijaya sendiri adalah pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Majapahit.
"Raka, apa kau terluka?" tanya salah satu prajurit ketika melihat tubuh Riki penuh noda darah.
"Tidak, ini adalah darah dari musuhku!" kata Riki pura-pura memasang wajah sangar.
"Haha! Bagus, kamu cukup berani meskipun masih muda!" puji prajurit tersebut.
Lala kemudian segera memberi informasi mengenai pria tersebut, nama dia adalah Jaka, temannya Raka.
"Lalu, siapa Raka ini? Apa jiwaku merasuk ke dalam tubuhnya?" tanya Riki masih bingung.
"Raka berasal dari keluarga yang dianggap sebagai pahlawan, Riki. Ayahnya, Jaka Alam, adalah seorang prajurit terkenal yang gugur dalam pertempuran melawan musuh. Maka dari itu, kamu dianggap sebagai penerus kehebatan dan keberanian ayahmu," jelas Lala.
Riki terdiam sejenak, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Setelah selesai membantu membereskan mayat-mayat yang berserakan, Riki terpaksa tetap mengikuti pasukan tersebut dan tiba di Kerajaan Majapahit.
Satu bulan kemudian, Riki mulai mengikuti kegiatan pelatihan berat yang diagendakan oleh kerajaan tersebut.
Selama waktu itu Riki juga mencari cara untuk kembali dan berlatih bela diri dari kitab miliknya.
"Sekarang latihan sudah selesai, ayo kita jalan-jalan!" ajak si Bolot, teman baru Riki.
Bolot adalah nama panggilannya dan Riki tidak terlalu ingat nama aslinya.
Namun, mereka tiba-tiba dicegat oleh prajurit lain dari kelompok Ranggalawe.
Di sini, Riki tergabung dengan kelompok pasukan Nambi dan prajurit Ranggalawe suka mencari masalah dengan mereka.
"Hei, aku dengar kau adalah prajurit termuda terkuat di pasukan Nambi," ujar mereka.
"Memangnya kenapa?" tanya Riki.
Wajah dua prajurit itu mengingatkan Riki pada Syahrul dan Gin, teman sekolahnya di zaman modern.
"Ayo bertukar beberapa jurus denganku!" tantang pria berjuluk Tanuk Kebo tersebut.
"Raka, jangan ladeni dia!" tegur Bolot.
"Diam kau!" bentak Tanuk Kebo.
Kebetulan Raka baru saja mempelajari jurus bela diri baru dan dia ingin mencobanya. "Baiklah, aku terima tantanganmu!"
Tanuk Kebo dan Raka berdiri saling berhadapan di tengah lapangan terbuka.
Mata mereka dipenuhi semangat pertarungan dan tekad untuk memperlihatkan jurus-jurus terbaik mereka.
Tanuk Kebo adalah seorang ahli bela diri dengan julukan lain, "Kebo Gila", sedangkan Riki masih seorang pemula yang baru saja menguasai jurus baru yang dipelajarinya.
Tanpa menunggu lebih lama, Tanuk Kebo langsung meluncurkan serangan pertamanya.
Ia melompat tinggi ke udara, memutar tubuhnya dengan lincah, dan mengejar Raka dengan pukulan bertubi-tubi.
Namun, Riki yang telah mempersiapkan diri dengan baik, dengan cepat menyerap serangan tersebut dan membalasnya dengan jurus baru yang dimilikinya.
Riki mengayunkan tangan kanannya dengan kecepatan luar biasa, meluncurkan serangkaian pukulan yang akurat ke arah Tanuk Kebo.
Kekuatan dari jurus barunya mampu membuat lawannya terkejut sejenak.
Tanuk Kebo dengan cepat menghindari serangan Raka, tetapi beberapa pukulan berhasil mengenainya.
"Hati-hati, Tuan. Dia bukan orang yang mudah ditaklukan!" tegur Lala lewat telepati.
"Aku tahu," jawab Riki tetap waspada
Benar saja, Tanuk Kebo langsung mengeluarkan jurus andalannya.
Ia melancarkan serangan yang jauh lebih kuat dan cepat dari sebelumnya.
Namun, Riki dengan kelincahan dan kepiawaian tubuhnya berhasil menghindari serta mengamankan diri dari pukulan berbahaya tersebut.
"Masih heran mengapa aku bisa melakukan ini, tapi kenapa orang-orang zaman modern tidak sehebat ini?" kata Riki.
"Fokuslah Tuan!" tegur Lala.
Lala terus mendampingi Riki ke mana pun. Tubuhnya kecil dan bisa terbang sesukanya.
"Ternyata rumor itu benar!" kata Tanuk Kebo sedikit memuji Riki.
Keduanya pun semakin serius dalam melontarkan serangan dan bertahan dari setiap pukulan lawan mereka.
Pukulan dan tendangan mereka terus berkelebat di udara, menciptakan suara benturan yang menyala-nyala.
"Lala, aku pengen balik!" ujar Riki sudah kewalahan.
Meski berusaha semaksimal mungkin, keahlian dan pengalaman Tanuk Kebo masih jauh di atasnya Riki.
Pada saat-saat tertentu, Riki mati-matian harus menghindari dengan segera serangan berbahaya yang dilancarkan oleh Tanuk Kebo.
"Aku mengakui, jurusmu sungguh luar biasa," ucap Raka dengan sedikit terengah-engah.
"Aku juga mengakuinya," jawab Tanuk Kebo sambil tersenyum. "Kau memiliki potensi besar, Raka. Berlatihlah lebih keras lagi dan siapa tahu suatu hari nanti kau bisa mengalahkanku."
Tanuk Kebo langsung pergi setelah berhasil membuat Riki kewalahan dan nyaris terluka oleh serangannya.
Riki benar-benar tidak paham dengan pemikiran orang-orang zaman kuno, tapi dia merasa memang harus berlatih lebih keras lagi.
"Kapan aku bisa pulang?" kata Riki sedih pada malam harinya.
"Mungkin setelah berhasil menguasai semua jurus dari kitab ini," jawab Lala.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
𝐀⃝🥀୧⍣⃝sᷤʙᷛSu Luxiaᴳ᯳ཽᷢB⃟LS⃟M
🤣🤣🤣🤣sistem nya jdi brani
2023-09-25
1
Richie
ini hanya fiksi ya ges
2023-09-25
0