2

Hari ini, semua murid SMA Karunia Bhakti tampak semangat mengikuti kegiatan olahraga.

Mereka begitu aktif mengikuti segala kegiatan kecuali satu murid bernama Riki.

Namun, salah satu gadis tercantik di sekolah bernama Ami terlihat menghampiri Riki.

"Riki, kenapa kamu malah tiduran di sini?" tanya Ami membangunkannya.

"Hoam... aku malas ikutan olahraga," jawab Riki.

Tak jauh dari posisi mereka, ada seorang murid yang terkenal jago dalam bidang olahraga bernama Otto Martadinata, dia tampak begitu marah melihat kedekatan Ami dengan Riki.

"Apakah dengan Aulia saja tidak cukup untukmu!" ujarnya kesal.

Kemudian, Otto tampak menendang bola di depannya dan sengaja mengarahkannya kepada Riki.

"Ami, awas!" teriak Riki, dengan cepat menarik gadis cantik di depannya tersebut.

[Ding! Kelincahan telah digunakan]

[-5 poin kemampuan telah dikurangi]

[Sisa poin kemampuan : 15 poin]

Rupanya tembakan bola dari Otto malah mengarah tepat ke arah Ami. Untung saja, Ami tidak terkena bola tersebut karena Riki dengan cekatan menariknya.

"Hei Otto, apa masalahmu?" tanya Riki marah.

Namun, Otto terlihat lebih marah karena melihat Ami dalam pelukan Riki.

"T-terima kasih, Riki. Tapi, bisakah kamu segera melepaskan aku?" kata Ami, sedikit salah tingkah dan pipinya bersemu merah.

"M-maaf," jawab Riki baru tersadar dan segera melepaskan Ami dari pelukannya.

[Ding! Selamat, Anda telah mendapat 10 poin kemampuan setelah menyelamatkan gadis cantik]

[+10 poin kemampuan telah ditambahkan]

[Sisa poin kemampuan : 25 poin]

Situasi semakin memanas ketika salah satu temannya Otto yang bernama Amay muncul.

"Bro, kenapa tidak tantang saja dia bermain futsal?" kata temannya.

"Ide bagus! Saya bisa mempermalukannya dengan cara ini," jawab Otto setuju.

"Benar, si Riki itukan buruk dalam pelajaran dan olahraga. Kita bisa memberinya pelajaran dan membuatnya malu di hadapan semua orang," ucap Amay, temannya.

Akhirnya, Otto pun menantang Riki untuk tanding bermain futsal.

"Riki, jika kamu memang laki-laki, terima tantanganku!" ujar Otto Martadinata.

Pertandingan futsal 3 versus 3 dimulai. Dua anggota tim Riki diisi oleh Syahrul dan Gin. Sementara dua orang tim Otto diisi oleh Amay dan Andre.

"Baiklah, bertandinglah dengan sportif," kata Pak Han menjadi wasitnya.

Namun, Pak Han tampak menyimpan dendam kepada Riki karena merasa telah dipermalukan waktu itu.

Prit!!!

Begitu peluit dibunyikan, Otto dan timnya langsung bermain kasar dan berhasil mencetak gol pertama.

"Ya ampun, ini main futsal atau gulat sih?" keluh Gin yang baru saja dihantam oleh Otto sampai jatuh terpelanting.

Tubuh Otto memang tinggi besar dan cukup berotot karena rajin berolahraga.

Masalahnya, Pak Han tidak meniup peluit pelanggaran ketika Otto menabrak Gin dengan sengaja.

"Sepertinya Pak Han memihak pada Otto," kata Syahrul setelah memungut bola dari gawangnya.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Gin bingung.

"Kita bermain seperti biasa saja. Gin, nanti kau oper saja bolanya padaku," kata Riki masih tenang.

Setelah kick off dimulai lagi, Gin langsung memberi bolanya kepada Riki.

"Tidak akan kubiarkan kau mencetak gol!" ujar Otto mulai membayangi Riki.

[Ding! Kemampuan dribling telah digunakan]

[-3 poin kemampuan dikurangi]

[Sisa poin kemampuan : 22 poin]

Melihat Otto kesulitan merebut bola, Amay mulai ikut membantunya.

Namun, Riki berhasil melepaskan diri dan bersiap menendang bolanya untuk mencetak gol.

"Tidak semudah itu, Riki!" Otto dan Amay datang dari dua sisi yang berbeda untuk menjegalnya.

Riki berhenti dan mundur sedikit sehingga Otto dan Amay jadi bertabrakan.

Bam!

[Ding! Kelincahan telah digunakan]

[-2 poin kemampuan telah dikurangi]

[Sisa poin kemampuan : 20 poin]

Shoot!

"Gol!!!" teriak Gin dan Syahrul sangat senang, tapi Pak Han malah menganulir gol tersebut.

"Pelanggaran!" kata Pak Han malah memberi tendangan bebas kepada tim Otto.

"Tunggu dulu," ujar Syahrul tidak terima.

"Pak Han, apanya yang pelanggaran? Meskipun Otto dan Amay terjatuh, tapi mereka bertabrakan sesama satu timnya sendiri!" protesnya kepada Pak Han.

"Kalian harusnya sportif dan membuang bolanya ketika tim lawan mengalami insiden seperti itu," jawab Pak Han, sesukanya memberi alasan tidak masuk akal.

Pertandingan dilanjutkan kembali dan Pak Han masih saja memihak sebelah, membiarkan Otto dan temannya bermain kasar tanpa dianggap sebagai pelanggaran.

"Gin, oper bolanya!" pinta Riki yang berdiri di posisi kosong dekat gawangnya sendiri.

Setelah menerima bola, Riki langsung menendang bolanya dan berhasil mencetak gol dari jarak jauh.

[Ding! Kemampuan tendangan jarak jauh telah digunakan]

[-3 poin kemampuan telah dikurangi]

[Sisa poin kemampuan : 17 poin]

Kali ini Pak Han tidak punya alasan untuk menganulir gol tersebut dan akhirnya tim Riki dapat menyamakan kedudukan sementara.

Prit!

Pertandingan babak pertama selesai.

"Duh, seluruh tubuhku sakit banget," keluh Gin.

"Kita bisa kalah kalau Pak Han terus berat sebelah!" kata Syahrul kesal.

"Kalau begini terus, kita benar-benar akan menjadi budak mereka selama seminggu," singgung Gin soal taruhan mereka dengan Otto sebelum pertandingan.

"Hei Riki, kenapa kamu masih santai saja dan tidak membantu kita untuk memikirkan solusinya!" kata Syahrul geram. "Ingat, kamulah yang telah menyeret kami berdua ke dalam hal ini."

"Syahrul benar, kau harusnya memikirkan cara mengatasi sikap Pak Han yang terus memihak lawan," sambung Gin.

"Masalah kita itu cuma Pak Han bukan?" kata Riki.

"Ya," jawab Syahrul dan Gin mengangguk bersamaan.

"Itu... mungkin aku sudah punya solusinya," ucap Riki seraya bangun dari rebahan.

"B-baiklah," jawab mereka berdua berusaha percaya kepadanya.

Raut wajahnya Riki yang selalu datar dan tampak malas memang membuat kedua temannya merasa ragu, tapi mereka tidak punya pilihan lain.

Prit!!!

Kick off babak kedua dimulai dan Gin segera memberikan bolanya kepada Riki.

"Takkan kubiarkan kau mencetak gol lagi dari tendangan jarak jauh!" teriak Otto menutup arah tembakan Riki ke arah gawang.

Namun, Riki justru mengarahkan tembakan bolanya ke arah yang lain.

"Ke-kenapa dia menembak ke arah samping?" gumam Otto seraya heran.

Bam! Gubrak!

Wajah Pak Han terkena bola tembakan Riki dan dia langsung tumbang.

[Ding! Kemampuan tendangan keras telah digunakan]

[-2 poin kemampuan telah dikurangi]

[Sisa poin kemampuan : 15 poin]

"Jadi maksud dia soal punya solusi adalah membuat Pak Han tak sadarkan diri?" kata Syahrul dan Gin tidak habis pikir dengan perbuatan Riki.

Pak Han digotong ke UKS, sementara pertandingan masih dilanjutkan dengan diganti oleh wasit yang lain.

Wasit itu adalah Smile yang saat ini sudah memutuskan pensiun dari menjadi preman dan diterima kerja menjadi satpam baru di sekolah ini.

"Nanti aku buatkan satu mangkuk mie ayam lagi kalau kau mau menjadi wasit untuk kami," bujuk Riki pada pria gempal bernama Smile itu.

Smile yang teringat betapa lezatnya mie ayam buatan Riki langsung bersemangat untuk menjadi wasit.

Pertandingan pun dimulai kembali dan kali ini akhirnya berjalan dengan cukup adil.

[Ding! Anda telah memenangkan pertandingan]

[+20 poin kemampuan telah ditambahkan]

[Sisa poin kemampuan : 120 poin]

Riki telah mendapat banyak poin dari dia mencetak gol dan lainnya selama pertandingan.

"Apa-apaan ini? Aku belum pernah bertemu pemain futsal sehebat ini sebelumnya," kata Otto masih sulit menerima kekalahannya yang telak.

Pertandingan mereka berakhir dengan skor 30-2 untuk kemenangan tim Riki.

"Sudahlah. Sebaiknya kita lupakan saja taruhan itu dan menjalin pertemanan yang baik mulai sekarang," kata Riki seraya mencoba menghiburnya dan memberikan sebotol air minuman untuknya.

Mata Otto langsung berkaca-kaca ketika Riki datang menghiburnya.

"Aku yang buta karena tidak bisa melihat orang sebaik ini," kata Otto mulai menangis.

Syahrul dan teman-temannya yang lain merasa jijik melihat pemandangan tersebut.

"Sudahlah. Kita pergi saja dari sini," kata Syahrul pada semua orang.

Setelah semua orang pergi, Ami kembali mendatangi Riki untuk memberi selamat.

"Baiklah, Riki. Aku juga akan pergi menyusul yang lainnya. Aku harap, kamu bisa menjaga Ami dengan baik," kata Otto pamit.

Otto menyeka air matanya sendiri dan berlagak seperti pria sejati yang baru saja merelakan cintanya untuk orang lain.

"Itu anak kenapa sih?" kata Riki heran melihatnya.

"Selamat ya, Riki," kata Ami tersenyum.

"Terima kasih, tapi apakah kamu ada perlu sesuatu?" tanya Riki menyadari niat Ami.

"Etto... aku sudah merekam kamu ketika bermain bola dan mengirimkan videonya pada kakakku," kata Ami.

"Oh, terus?" tanya Riki sedikit penasaran.

"Katanya dia tertarik dengan permainanmu dan ingin mengundangmu untuk bergabung ke dalam timnya," lanjut Ami.

"Itu saja?" kata Riki.

Ami mengangguk.

"Nanti akan aku pertimbangkan," kata Riki belum memutuskan.

Sementara itu, Aulia tampak mengintip mereka dan sedikit cemberut melihatnya.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

REN

REN

aneh Cok guru kok gitu,guru masuk jalur belakang ini mah

2024-06-19

0

pelajaran kesukaan kuh, soalnya gurunya guanteng tenan, mana masi muda🗿

2024-04-28

1

Knows

Knows

seru harus sportif klu bermain kan

2024-01-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!