"Pak Gunawan, kami mendapat informasi tentang bocah yang tetap memilih tinggal di gunung karena menemukan seorang gadis terluka," ucap pria yang terlibat seperti pengawal.
"Apa kalian berpikir bahwa gadis di gunung itu adalah putriku yang hilang?" kata pria paruh baya bernama Gunawan tersebut.
"Entahlah, Pak. Nona Alya pergi diam-diam dan tak kunjung kembali sampai sekarang. Kami sudah mengerahkan seluruh tim untuk mencarinya, tapi masih belum bertemu titik terang," jelas bawahannya tersebut.
"Kalau begitu, kirimkan beberapa orang untuk bergabung dengan tim pencarian itu," perintah Pak Gunawan.
Kembali ke tempat Riki, dia baru saja memetik banyak buah-buahan yang berhasil ia temukan untuk diberikan pada gadis terluka itu.
"Ini buah Lo, harus direbus dulu kalau ingin rasanya manis," kata Riki ketika gadis itu merasa keasaman karena memakannya.
"Cuacanya sudah bagus, kondisimu juga mulai pulih, kita bisa segera turun gunung," lanjut Riki.
Riki heran gadis itu hanya selalu mengangguk dan tak pernah bicara sepatah kata pun.
Namun, dia tidak mencoba menanyakannya dan bisa saja gadis tersebut memang bisu.
Kemudian, Riki segera menggendong gadis tersebut untuk meninggalkan gunung.
Sepanjang perjalanan, gadis itu tampak merasa bersalah dan sesekali pipinya bersemu merah.
"N-nama?" ucap gadis itu tiba-tiba.
"Apa barusan kamu bicara sesuatu?" tanya Riki sedikit terkejut.
"Iya, siapa nama kamu?" tanya gadis tersebut dengan nada pelan.
"Riki," jawab Riki. "Kalau namamu, siapa?"
"Alya," jawab gadis tersebut.
"Bisakah kamu beri tahu aku kenapa dirimu bisa berada di sana dalam keadaan menyedihkan waktu itu?" tanya Riki penasaran.
"Ceritanya panjang," jawab Alya menghela napas.
"Perjalanan kita masih jauh, kamu bisa menceritakannya perlahan," kata Riki masih memaksanya bercerita.
Alya menghela napas panjang lagi sebelum memulai ceritanya. "Aku sebenarnya datang bersama teman-temanku ke Gunung Agung. Saat sedang dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ada yang mendorongku."
Riki terkejut mendengarnya. "Jadi kamu didorong oleh salah satu temanmu?"
Alya mengangguk. "Ya, dan tidak satu pun dari mereka mau menolongku lalu meninggalkanku."
Rasa iba menyelimuti hati Riki. "Aku turut bersedih mendengarnya, Alya."
Alya tersenyum pahit. "Aku tidak tahu mereka akan berbuat seperti itu."
Bersamaan dengan Alya bercerita, bawahan Pak Gunawan telah berhasil mengamankan lima orang temannya.
Menurut informasi dan pencarian yang mereka cari, Nona Alya bersama mereka terakhir kali.
Mereka berjumlah lima orang dan merupakan teman sekolahnya Alya.
Beralih ke posisi regu penyelamat, di sana terdiri dari kelompok pemerintah dan orang-orangnya Santoso.
Tidak hanya itu, anak buah Nona Quin juga turut hadir untuk membantu.
"Halo, kami dari keluarga Gunawan. Kami sudah mendapat informasi bahwa gadis yang bersama bocah itu adalah nona muda dari keluarga bos kami," ucap Roni, ketua kelompok yang dikirim oleh Pak Gunawan.
Mereka pun mulai berangkat untuk melakukan pencarian di gunung.
Mereka bergerak dengan hati-hati, menyusuri jalur gunung yang terjal dan berbatu.
Setelah beberapa jam berjalan, mereka akhirnya menemukan jejak-jejak kaki di tanah.
Jejak tersebut membawa mereka menuju sebuah gubuk bambu yang tersembunyi di balik semak-semak.
Namun, Nona Alya dan Riki sudah pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Nona Alya! Kami datang untuk menyelamatkanmu!" Roni berteriak berharap mereka belum jauh.
Di luar dugaan, Riki justru sudah tiba di tempatnya Pak Gunawan.
"K-kau?" Pak Gunawan dibuat terkejut dengan kedatangan Riki.
"M-maaf, Pak! Dia memaksa masuk dan kami tidak menahannya karena dia membawa Nona Alya," lapor bawahannya.
"Di mana kamarnya?" tanya Riki masih menggendong Alya.
Pak Gunawan pun langsung memandu sendiri ke kamar Alya.
Sementara itu, di luar rumah kediaman Pak Gunawan, tampak para pengawal di sana sedikit ketakutan dengan macan harimau dan monyet yang datang bersama Riki.
Kemudian, Pak Gunawan dibuat terkejut dengan cerita Riki sedari di gunung sampai menunggangi harimau besar dan tiba di rumah ini.
Akhirnya dia menghubungi semua orang agar kembali dari gunung.
[Ding! Selamat, Anda mendapat 500 poin kemampuan setelah berhasil mengantar gadis bernama Alya dengan selamat sampai ke rumahnya]
[Total : 600 poin kemampuan]
"Lala, sudah kuduga membawa kucing besar itu berlebihan," kata Riki lewat telepati.
"Tidak masalah, Tuan. Harimau itu bukan harimau biasa," jawab Lala.
Kemudian, dengan cerita Alya yang sudah diceritakan pada Riki, Pak Gunawan segera mengajak Riki melihat kelima orang itu.
"Mungkinkah mereka yang sudah mencelakai Alya?" kata Pak Gunawan.
"Itu sudah pasti bukan?" jawab Riki.
"Atas dasar apa kalian menuduh kami?" kata remaja laki-laki bernama Alvin.
"Tentu saja karena kesaksian dari Alya," jawab Riki.
"Dia bisa saja berbohong!" bantah Alvin.
Namun, Riki dapat menggunakan mata ajaib yang bisa tembus pandang.
Alya mengatakan sempat melukai pelakunya sebelum dia didorong jatuh.
Riki kemudian mengarahkan pandangannya kepada kelima orang tersebut, mencoba mencari tanda-tanda cedera pada tubuh mereka. Setelah memeriksa dengan teliti, ia menemukan bekas luka kecil yang terlihat di tangan salah satu dari mereka.
"Dapatkah kamu menjelaskan asal mula luka kecil tersebut?" tanya Riki, menunjuk pada luka yang ia perhatikan.
Para remaja itu terlihat terkejut, tetapi salah satu di antara mereka, bernama Renata, menjawab.
"Itu hanya luka kecil yang saya dapatkan saat bermain basket kemarin," kata Renata dengan sedikit kebingungan.
Namun, Riki bisa merasakan bahwa ada yang diucapkannya yang tidak sepenuhnya benar.
"Dalam hal apa kamu tidak jujur dengan luka tersebut?" tanya Riki dengan tegas.
Renata terdiam sejenak sebelum akhirnya mengakui kebenaran.
"Benar, aku terlibat dalam insiden yang menyebabkan Alya terluka," jujur Renata dengan nada menunduk.
Ketika Renata mengungkapkan kebenaran tersebut, keempat temannya yang lain ikut mengaku bahwa mereka juga terlibat dalam peristiwa itu.
Pak Gunawan yang mendengar ini mengangguk. "Kalian harus bertanggung jawab atas tindakan kalian."
Setelah ditanya lebih lanjut tentang motif mereka, ternyata mereka adalah anak-anak dari karyawan yang telah dipecat dari perusahaan Pak Gunawan.
Mereka mengaku kecewa pada Pak Gunawan karena membuat keluarga mereka jadi sengsara.
Setelah kebenaran terungkap, Pak Gunawan benar-benar marah besar dan meminta orang tua mereka dipanggil.
"Tunggu dulu, Pak Gunawan. Saya tahu perbuatan mereka telah keterlaluan dan tak bisa dimaafkan. Tapi, Anda harus sabar dalam masalah ini agar tidak terulang kembali," kata Riki berusaha menenangkannya.
"Jika boleh, apakah Anda bisa memberi tahu alasan orang tua mereka dipecat?" tanya Riki.
Riki yakin dapat menemukan sesuatu jika menggunakan kekuatan anehnya untuk menyelediki masalah perusahaan Pak Gunawan.
Pak Gunawan merenung sejenak. "Saya memecat orang tua mereka karena terbukti melakukan tindakan korupsi di dalam perusahaan. Mereka menggunakan posisi mereka untuk menguntungkan diri sendiri, dan itu sudah melewati batas!"
Riki mengangguk memahami. "Baik, saya akan mencari tahu lebih lanjut tentang hal ini. Mungkin ada alasan di balik tindakan orang tua mereka yang membuat anak-anak merasa teraniaya."
Dengan izin Pak Gunawan, Riki mulai menyelidiki masalah di perusahaan tersebut.
Ia menggunakan kekuatan dari sistem untuk membaca pikiran saksi-saksi dan melihat kembali kejadian-kejadian terdahulu.
Pada akhirnya, Riki menemukan bahwa terdapat kelompok di dalam perusahaan yang merasa dirugikan oleh keputusan Pak Gunawan.
Mereka merasa bahwa Pak Gunawan tidak adil dalam melaksanakan kebijakannya, dan kekuasaannya digunakan untuk kepentingan pribadi.
Riki membawa hasil temuannya kepada Pak Gunawan. "Pak Gunawan, saya menemukan adanya kelompok di perusahaan yang merasa dirugikan oleh keputusan-keputusan Anda. Mereka beranggapan bahwa kebijakan yang Anda buat tidak adil dan hanya digunakan untuk kepentingan pribadi."
Pak Gunawan menatap Riki dengan penuh perhatian. "Apakah mereka benar?" tanyanya.
Riki menjawab, "Saya perlu lebih banyak waktu untuk mengumpulkan bukti-bukti yang lebih konkrit, tetapi sepertinya ada kebenaran di balik tudingan mereka."
Pak Gunawan mengangguk. "Anda benar, Riki. Kita harus menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin dan tidak memperburuk keadaan. Terima kasih atas saran dan bantuannya."
Namun, Pak Gunawan setuju dengan Riki karena tertarik dengan kemampuannya.
"Bagaimana dia bisa tahu masalah tentang perusahaan hanya dalam kurun waktu sesingkat itu?" batin Pak Gunawan.
Dua hari kemudian, keadaan mulai kembali normal dan Riki sudah kembali ke kelasnya.
"Rik, pinjam penghapus dong!" kata Syahrul.
Riki pun menggosok-gosoknya ke hidung terlebih dahulu sebelum disodorkan pada Syahrul.
"Huek!!! Gak jadilah Vangkee!" ujar Syahrul merasa jijik.
"Pinjam punyaku saja," tawar Gin.
"Terima kasih," kata Syahrul menerima tawarannya.
"Vangkee! Nih penghapus atau tinta? Kok malah hitam jadinya!" keluh Syahrul kesal.
Syahrul pun merobek halaman bukunya dan memilih membuka lembar baru.
Namun, tulisan dia lagi-lagi melenceng karena sikutnya tersenggol.
"Siapa sih?" ujar Syahrul makin kesal, tapi dia malah melihat pantat kera depan wajahnya.
"Astaga! Monyett dari mana itu!" ujar Ibu Lan Lan kaget.
"Ibu! Lihat ke pintu!" teriak Ami.
Ibu Lan Lan langsung pingsan ketika melihat sosok mengerikan datang ke kelasnya.
"H-harimau!" teriak semua murid histeris panik.
"Astaga, aku lupa memberi tahu mereka soal teman baruku," kata Riki yang santai saja meskipun harimau itu menghampirinya.
"Kalian kenapa? Apa kalian tidak lihat bahwa kucing ini sangat imut? Namanya Mochi, peliharaan baruku," kata Riki mengumumkan.
"Imut apanya?" gumam Gin ketakutan.
Semua orang berkumpul di sudut kelas dan sebagian sudah melompat keluar lewat jendela.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Taufik Hidayat
tadi ada 1900 lebih apakah udh dibeliin kemampuan?
2023-10-02
0
𝐀⃝🥀୧⍣⃝sᷤʙᷛSu Luxiaᴳ᯳ཽᷢB⃟LS⃟M
alamak tdi bru selesai baca mochi,disini mochi jdi harimau
2023-09-24
2
𝐀⃝🥀୧⍣⃝sᷤʙᷛSu Luxiaᴳ᯳ཽᷢB⃟LS⃟M
kasiahan sekali
2023-09-24
0