[Ding! Kemampuan bermain bulu tangkis telah digunakan]
[-5 Poin Kemampuan telah dikurangi]
[Sisa Poin Kemampuan : 190]
Ayano tampak kewalahan melawan Riki dan akhirnya kalah dengan telak.
"Aku menyerah!" ujar Ayano sudah mencapai batasnya.
Selain Riki menggunakan bantuan sistem, dia mendapat dukungan dari para kembang sekolah juga. Itu membuat Ayano kena mental meskipun ada beberapa murid yang mendukungnya juga.
[Ding! Selamat, Anda mendapat poin sebanyak 50 setelah mengalahkan Ayano]
[+50 poin kemampuan telah ditambahkan]
[Total Poin kemampuan : 240 poin]
Sementara itu, kakaknya Ami ternyata datang ke pertandingan tersebut dan ikut menjadi penonton.
"Dia beneran segala bisa ya?" ungkapnya terkejut.
"Benar, Kak Kiran," jawab adiknya, Ami.
Kembali ke dalam lapangan, Ayano tampak bertanya pada Riki tentang apa kesalahan yang membuatnya kalah.
"Itu sudah jelas, bukan?" kata Riki.
"Jelas apanya? Apakah kau ingin bilang kalau aku tidak akan pernah bisa unggul darimu?" kata Ayano memotong.
"Bukan," jawab Riki singkat. "Stamina kamu cepat habis, tapi itu bisa diatasi andai penempatan kakimu benar!"
"Apa maksudmu?" tanya Ayano tidak paham.
"Posisi kaki atau bisa disebut kuda-kuda kamu terlalu buruk. Kamu terlalu banyak melangkahkan kakimu karena posisi kakimu tidak benar!" jelas Riki.
Ketika bermain, Riki menempatkan satu kaki di depan dan satu lagi di belakang.
Jadi, dia hanya perlu mengangkat satu kaki atau melangkah satu langkah saja untuk mengejar bola yang diarahkan ke samping oleh lawan.
Selain itu, wasitnya bukan Pak Han lagi. Dia masih trauma terkena bola kemarin meskipun Otto sering bilang, "bola adalah teman!" kepadanya.
"Sudahlah. Meski aku menang, aku tidak ingin ikut kompetisi itu," kata Riki.
"K-kenapa?" tanya Ayano heran.
"Sedari awal aku melawanmu untuk menghindari hukuman saja," jelas Riki.
Lagian, Riki melihat Ayano yang sebenarnya sudah berjuang keras demi menjadi wakil dalam lomba tersebut.
Jadi, Riki ingin agar Ayano saja yang mengikuti kompetisi itu karena dia lebih cocok.
Riki pun pergi begitu saja meninggalkan Ayano yang masih tidak paham.
"Dia berada di level yang berbeda dengan kita," kata Otto tiba-tiba muncul menghampiri Ayano. "Dia punya tujuan lebih besar daripada kompetisi kecil itu."
Setelah itu, tampak Riki sedang diomeli lagi oleh Ibu Lan Lan karena menolak untuk ikut kompetisi itu.
"Ibu Lan Lan sepertinya sedang datang bulan dan tidak lancar," sindir Riki.
Wajah Ibu Lan Lan langsung memerah. "Bagaimana kamu bisa tahu?" tanyanya heran.
"Itu terlihat dari sikap dan nada bicaramu yang tiba-tiba berubah agresif dan sensitif," jawab Riki dengan tenang.
Ibu Lan Lan terdiam sejenak, mengendalikan emosinya. "Sudahlah, Riki. Tidak perlu kamu mencampuri urusanku. Ayo selesaikan tugas sekolahmu dengan baik."
"Saya mungkin bisa membantumu," kata Riki tersenyum.
"Bantuan seperti apa?" tanya Ibu Lan Lan penasaran.
"Kebetulan saya sudah belajar pengobatan tradisional dan dapat mengurangi sakitmu dengan pijatan," tawar Riki.
Ibu Lan Lan terkejut mendengar tawaran Riki. "Serius? Kamu bisa melakukan itu?"
Riki mengangguk. "Iya, saya sudah belajar teknik pijat dari kakek saya yang juga ahli pengobatan tradisional. Saya bisa membantu mengurangi sakit dan membuatmu merasa lebih baik."
Ibu Lan Lan membayangkan rasa lega yang bisa didapatkan dari pijatan tersebut. "Baiklah, kalau begitu aku mau mencobanya. Terima kasih, Riki."
Mereka berdua kemudian pergi ke ruang guru dan Riki mulai melakukan pijatan pada punggung Ibu Lan Lan.
Riki fokus pada titik-titik tekan yang bisa membantu mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh Ibu Lan Lan.
Begitu pijatan dimulai, Ibu Lan Lan merasakan kehangatan dan kelegaan yang perlahan mengalir ke seluruh tubuhnya.
Ia merasa lebih rileks dan emosinya yang tadi sedang naik turun juga mereda.
"Ah... Lanjutkan terus, Riki. Ini sangat membantu," ucap Ibu Lan Lan dengan suara aneh.
"Bisakah Ibu tidak bersuara seperti itu," kata Riki sedikit panik, takut ada yang mendengar dan salah paham.
Riki melanjutkan pijatannya dengan penuh kehati-hatian dan perlahan-lahan, sambil sesekali bertanya apakah pijatan tersebut masih nyaman bagi Ibu Lan Lan.
[Ding! Kemampuan memijat telah digunakan]
[-5 poin kemampuan dikurangi]
[Sisa poin kemampuan : 235 poin]
Sementara itu, di luar sebenarnya ada Ami dan kakaknya yang tadi hendak ingin menemui Riki.
Pikiran kedua gadis cantik itu mulai berkelana liar karena mendengar suara Ibu Lan Lan di dalam.
"Ah... Riki, terus mainkan jarimu di situ," ucap Ibu Lan Lan terdengar keenakan.
"Selanjutnya mungkin akan terasa sakit, apa ibu siap?" tanya Riki.
"Lakukan saja, Riki. Jangan menahan diri!" jawab Ibu Lan Lan.
Mendengar Ibu Lan Lan sedikit menjerit, Ami dan Kiran tidak tahan lagi.
Mereka akhirnya mencoba mendobrak pintu dan masuk ke dalam ruangan itu.
"Hentikan perbuatan nista kalian!" ujar Ami ketika berhasil masuk karena pintunya tidak dikunci.
"Eh?" Ami dan Kiran langsung terdiam melihat Riki yang hanya sedang memijat telapak kaki Ibu Lan Lan.
"Rikiiii! Kamu sebenarnya sedang apa?" ujar Ami malah marah.
"Pijit Ibu Lan Lan," jawab Riki.
Akhirnya keadaan menjadi tenang setelah Riki dan Ibu Lan Lan menjelaskan situasinya.
"Tunggu dulu, kakakmu adalah cewek?" kata Riki heran.
Riki ingat bahwa kakaknya Ami ingin agar dia bergabung ke dalam klub kakaknya.
"Lebih tepatnya aku ingin kamu menjadi pelatih tim basket kami," ucap Kiran menjelaskan.
"Aku kira timnya adalah tim futsal, ternyata tim basket perempuan. Baiklah, aku juga bisa kok bermain basket," kata Riki bersedia.
Riki juga sempat mengira kakaknya Ami itu adalah cowok.
"Awalnya aku mengundangmu karena penasaran dengan cowok yang membuat Ami tertarik. Tapi, tadi aku melihatmu pandai bermain cabang olahraga lain dan merasa bahwa kamu mungkin pandai dalam semua cabang," jelas Kiran serius.
[Ding! Selamat, kamu mendapatkan poin sebanyak 10 poin setelah meringankan sakit Ibu Lan Lan]
[+10 poin kemampuan telah ditambahkan]
[Total poin kemampuan : 245 poin]
Sekolah berakhir dan semua murid mulai meninggalkan area sekolah untuk pulang.
"Ayo Riki, ikut aku menemui teman-temanku," ajak Kiran, dia menaiki sebuah sepeda motor.
"Oke," jawab Riki seraya menaiki motor tersebut.
"Pegangan," kata Kiran.
"Oke," jawab Riki mulai melingkarkan tangannya.
"H-hei, ke mana tanganmu menyentuh?" tegur Kiran ketika tangan Riki tak sengaja menyentuh bagian sensitifnya.
"M-maaf," kata Riki karena tak sengaja menyentuhnya.
"Sudahlah," ucap Kiran mulai menarik gas motornya.
Setiba di tempat latihan klub futsal, Riki langsung disambut banyak gadis cantik.
Mereka semua adalah mahasiswi dan lebih tua dari Riki.
"Jadi ini laki-laki yang kamu katakan?" kata Yuni, teman Kiran.
Riki dikerumuni oleh mereka dan gadis bernama Yuni sedikit jahil meraba-raba tubuhnya dengan nakal.
[Pesona Anda telah meningkat]
[-5 poin kemampuan telah digunakan]
[Sisa poin kemampuan : 230 poin]
"Kiran," panggil Riki tak berdaya.
Kedua tangan Riki dipegang oleh mereka dan Yuni menempelnya dari belakang seraya meraba tubuhnya.
"Apa yang kalian lakukan?" tegur Kiran.
"Adik kita sangat manis," kata Yuni terlihat bernafsu.
Mereka tidak tahan dengan pesona Riki dan ingin terus menggodanya.
Berkat sistem, Riki memang terlihat jauh lebih cakep dan menarik perhatian banyak gadis.
"Hentikan!" kata Kira seraya menarik Riki dari mereka.
"Lembutnya," gumam Riki yang wajahnya tenggelam di dalam dada Kiran.
"Aish!" Kiran mendorong Riki karena sedikit mendengarnya barusan.
"Kamu malah mencari kesempatan dalam kesempitan!" kata Kiran menyilangkan tangannya menutupi dada.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka pun mulai latihan basket dengan wajah Riki yang terlihat ada bekas tamparan di pipinya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Zafrullah Effendy
lanjutkan......
2023-12-06
0
Manusia Biasa
tsubasa momen
2023-10-01
1
Manusia Biasa
suhu
2023-10-01
0