7

Hari ini, Riki dan keluarganya mengunjungi toko atau kios baru yang diberikan oleh keluarga Santoso untuk mereka.

"Tempat ini sangat bagus dan luas!" ucap ibunya senang.

Ibu Riki bernama Yanti dan ayahnya bernama Hermawan, keduanya begitu bahagia setelah mendapat toko baru.

Namun, seorang pria tiba-tiba masuk dan mengatakan ingin membeli toko tersebut.

"Hei, jualah toko ini kepada saya," kata pria tersebut.

"Tidak bisa! Kami baru akan membuka rumah makan di toko ini," jawab ayahnya Riki.

"Apa kalian tidak tahu saya? Nama saya Andre Winata dan saya akan membeli semua tempat di kompleks sini," kata pria tersebut dengan arogan.

"Saya tidak peduli siapa Anda, saya ingin Anda segera pergi dari sini karena kami mau beres-beres untuk membuka restoran di tempat ini," kata Riki mengusirnya.

"Hei bocah, meskipun kau membuka restoran di tempat ini, saya bisa membuat semua orang tidak membeli ke tempat ini," ancam Andre.

"Apa maksud Anda ingin merugikan kami?" tanya Riki mulai kesal.

"Hahaha. Kalian jual saja tempat ini padaku dan aku akan mencarikan tempat yang baru untukmu," kata Andre kembali memaksa.

"Nak, sepertinya kita terima saja tawaran dia," kata ayahnya mulai khawatir.

"Tidak bisa, Ayah. Aku meminta tempat ini karena tahu kamu sangat menginginkan tempat ini," tolak Riki.

"Ada apa ini ribut ribut?" tanya Nona Quin yang tiba-tiba datang bersama tiga anak buahnya.

"Dia memaksa untuk membeli tempat ini," jelas Riki.

"Itu benar. Kalau masih menolak, saya benar-benar akan membuat bisnis kalian bangkrut," kata Andre kembali mengancam.

Plak!

"Apa kau tidak tahu saya? Saya Quin, pemilik restoran nomor satu di kota ini," ujar Nona Quin menamparnya.

"Restoran kecil ini akan berada di bawah perlindungan saya!" tegas Nona Quin.

Kemudian, Nona Quin menyuruh ketiga anak buahnya untuk mengusir paksa si Andre.

"Ayo keluar!" ujar Riz seraya menarik paksa Andre.

"Sebaiknya kamu jangan membuat masalah dengan orang-orang kami," kecam Trisna.

Namun, Andre tampak tidak terima dan dia segera menghubungi nomor bos perusahaannya.

"Kalian pikir bisa menindas saya? Lihat saja, kalian pasti tidak akan bisa berbuat apa-apa ketika bos saya datang!" ujar Andre.

Nona Quin dan lainnya mulai gelisah melihat kepercayaan diri Andre yang begitu sangat yakin.

Bisa jadi bosnya itu memang adalah orang besar dan tak bisa sembarangan disinggung.

"Tenanglah," kata Riki tampak masih kalem.

Beberapa menit kemudian, tiga mobil mewah datang dan berhenti di depan toko tersebut.

Tampak mobil pertama adalah mobil bosnya dan dua mobil lainnya adalah mobil pengawalnya.

"Apakah kita benar-benar telah menyinggung orang besar?" kata Riz mulai panik.

Riki dan yang lainnya pun berjalan keluar toko untuk melihat siapa yang datang.

"Haha. Tamatlah riwayat kalian!" ujar Andre ketika seorang pengawal sudah membukakan pintu mobil bosnya.

Namun, orang yang keluar dari mobil justru seorang gadis kecil dan gadis kecil itu mengenal Riki.

"Kak Riki!" panggil gadis tersebut, berlari ke pangkuan Riki.

"Zizi, apa kamu datang untuk melihat toko baru keluargaku?" tanya Riki.

"Eh?" Andre mulai bingung dengan situasinya.

Kemudian, barulah Pak Rudi Santoso dan Kakeknya Zizi ikut keluar dari mobil.

Andre langsung menghampiri Pak Rudi dan mengadu soal Riki kepadanya.

Plak! Andre kembali mendapat tamparan di wajahnya.

"Apa kau sengaja menyulitkan penyelamat putriku?" kata Pak Rudi Santoso sangat marah.

"Hah? Jangan bilang dia adalah ..." Andre baru ingat soal penculikan itu, tapi dia belum tahu siapa penyelamatnya.

"Benar!" kata Pak Rudi dengan tegas. "Dia adalah pemuda yang sudah menolong Zizi dari penculik itu."

Pak Rudi Santoso akhirnya meminta pengawalnya untuk membawa Andre pergi.

"Maafkan saya, Nak Riki. Saya harus mulai membenahi karyawan-karyawan perusahaan saya untuk ke depannya," kata Pak Rudi merasa tidak enak.

Sebenarnya Pak Rudi datang bukan karena dihubungi Andre, tapi kebetulan saja dia ingin berkunjung.

Selain itu, Pak Rudi Santoso tidak tahu kalau yang dikatakan Andre itu adalah tempat ini.

"Tidak apa-apa, Pak Rudi. Saya tahu Anda sangat sibuk dan tidak bisa selalu mengawasi bawahan-bawahan Anda," kata Riki memaklumi.

Kemudian, Pak Rudi mengatakan maksud kedatangannya yang ingin mencoba masakan mie ayam buatan Riki.

"Kebetulan saya juga datang karena ingin merasakan mie ayam buatan Riki lagi," ujar Nona Quin.

"Sebenarnya restoran ini belum buka, tapi aku bisa membuatkan kalian mie ayam," kata Riki bersiap untuk memasak mie ayam.

"Terima kasih, Riki!" sahut Pak Rudi dan Nona Quin serempak sambil tersenyum.

Riki bergegas masuk ke dapur, mempersiapkan semua bahan dan peralatan yang dibutuhkan.

[Ding! Kemampuan memasak telah digunakan]

[-5 poin kemampuan telah dikurangi]

[Sisa poin kemampuan : 350 poin]

Sesekali, terdengar suara sizzle dari wajan yang diberikan api.

Beberapa menit kemudian, aroma harum tumis bawang dan ayam merebak ke seluruh ruangan.

Suara panci berdenting saat Riki menuangkan kaldu ayam yang sudah matang ke dalamnya, diikuti dengan rasa hangat yang mengalir melalui sentuhan wajan besi yang digunakan untuk merebus mie.

Semua orang tampak tak sabar menanti hidangan tersebut.

Mereka bergabung di sekitar meja dapur, mengobrol dan tertawa riang, sambil melihat Riki dengan cermat menyajikan mie ayam hasil masakannya.

Akhirnya, hidangan mie ayam itu siap dihidangkan. Riki meletakkan mangkuk besar yang penuh dengan mie kuning dan irisan ayam di depan semua orang.

"Dengan tambahan bawang goreng dan sejumput daun bawang di atasnya, rasanya semakin sempurna," kata Riki sambil tersenyum.

Pak Rudi,Nona Quin, dan yang lainnya tak bisa menahan keinginan untuk segera mencicipi hidangan tersebut.

Mereka mengambil sejumput mie ayam dengan sendok, menghirup kuahnya yang gurih, dan menikmati rasa mie yang kenyal dan ayam yang lezat.

"Wah, Riki, mie ayam buatan kamu selalu istimewa. Rasanya tak pernah berubah, selalu lezat!" puji Nona Quin sambil mengacungkan jempol.

"Benar sekali, Riki. Ini adalah salah satu mie ayam terbaik yang pernah saya makan," tambah Pak Rudi dengan bersemangat.

Riki mengangguk dengan bangga mendengar pujian dari mereka. Ia senang bisa berbagi kemampuannya dalam memasak mie ayam dengan orang-orang terdekatnya.

"Wah, saat itu saya tidak sempat mencobanya dan tidak tahu bahwa akan seenak ini," ungkap Kakek Zizi.

"Zizi juga sangat suka!" ucap Zizi terlihat senang.

"Sayang sekali Abang Smile enggak ada di sini," kata Trisna teringat kawannya.

[Ding! Selamat, Anda mendapatkan 100 poin kemampuan tambahan setelah membuat semua orang bahagia]

[+100 poin kemampuan telah ditambahkan]

[Total poin kemampuan : 450 poin]

Selesai acara makan bersama, Zizi mulai menempel lagi kepada Riki dan memintanya untuk ikut ke rumahnya.

"Kak Riki, Zizi ingin kakak berkunjung ke rumahku," pinta Zizi dengan imutnya.

"Baiklah," jawab Riki seraya mengelus kepalanya dengan lembut.

"Kalau begitu, saya akan meminta beberapa pengawal saya untuk bantu keluarga kamu beres-beres dan menjaga tempat ini," kata Pak Rudi Santoso.

"Saya juga akan meminta Trisna, Riz dan Lutfi untuk membantu," kata Nona Quin.

Akhirnya, Riki pun ikut dengan keluarga Santoso untuk mengunjungi rumah mereka.

Riki penasaran dengan rumah keluarga Santoso yang terkenal sebagai pengusaha paling sukses di negara ini.

Setibanya di rumah keluarga Santoso, Riki terkagum-kagum melihat keindahan dan kemewahan rumah mereka.

Rumah tersebut begitu besar dan megah, dengan taman yang luas di halaman belakangnya.

Riki dipersilakan masuk ke dalam oleh Nona Zizi, yang dengan ramah menunjukkan ruangan-ruangan di rumah tersebut.

Setiap ruangan dihiasi dengan barang-barang mewah dan indah. Hal ini membuat Riki semakin takjub.

"Ada apa, Riki?" tanya Kakek Zizi heran melihat Riki terus memperhatikan salah satu lukisan besar yang ada di dinding rumah mereka.

"Lukisan ini bagus, sayangnya palsu," kata Riki.

"Apa?" Seorang wanita yang merupakan ibunya Zizi merasa tak terima dengan ucapan Riki. "Lukisan ini adalah hadiah yang saya beli untuk mertua saya dan harganya sangat mahal, mana mungkin palsu!"

"Tenanglah, Hana. Biarkan Riki menjelaskannya terlebih dahulu tentang alasannya," kata Pak Rudi yang datang bersamanya.

"Baiklah, sebaiknya dia memberikan penjelasan yang masuk akal! Saya tidak peduli meskipun dia telah menyelamatkan putriku jika dia hanya membual," ujar Nyonya Hana menatap tajam ke arah Riki.

Riki hanya tersenyum dan segera mendekat ke lukisan itu untuk menjelaskan alasan dia menyebutnya palsu.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Zafrullah Effendy

Zafrullah Effendy

lanjut......

2023-12-06

0

Shopia Asmodeus

Shopia Asmodeus

haeldehh...

2023-10-09

0

Manusia Biasa

Manusia Biasa

sempat baca "wanita"

2023-10-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!