Ketiga gadis itu sungguh merepotkan Riki, tapi mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
"Halo, siapa ini?" tanya Riki pada yang baru saja menghubunginya.
"Halo Riki, ini Bapak!" jawabnya.
"Eh Pak Suryo! Ada apa menelepon saya?" tanya Riki terkejut.
Pak Suryo Wiranto adalah Bapak Kepala Sekolah di sekolahnya Riki.
"Besok bisakah kamu langsung ke kantor Bapak?" tanya Pak Suryo.
"Siap, Pak!" jawab Riki. "Tapi, apakah ada hal penting?"
Pak Suryo di seberang sana tersenyum. "Ini hanya soal prestasimu yang selalu juara kelas."
Setelah obrolan selesai, Riki menebak bahwa Pak Suryo ingin memintanya agar ikut kompetisi pelajar yang diselanggarakan departemen pendidikan nanti.
Esok harinya, Pak Suryo benar-benar membahasnya.
Meski begitu, Riki merasa senang dengan permintaan tersebut. "Tentu, Pak! Saya akan sangat senang untuk ikut dalam kompetisi pelajar tersebut."
Pak Suryo mengangguk puas. "Bagus. Kamu memiliki potensi yang besar, Riki. Aku yakin Kamu bisa meraih hasil yang baik dalam kompetisi ini."
Kemudian, Riki segera pergi ke perpustakaan untuk belajar karena dia ingat ada perubahan pada cara kerja sistem.
"Lala, saya harus membaca semua buku karena tidak bisa menggunakan poin kemampuan lagi?" tanya Riki.
"Benar. Jika kamu terus membaca, nanti secara perlahan akan menaikan kemampuan literasi milikmu dan itu permanen," jawab Lala.
"Hei, bukannya itu sama saja kaya belajar seperti biasanya," ujar Riki merasa kurang suka.
"Tenang saja Tuan, kamu dapat menghapal apapun dari buku hanya dengan sekali membacanya," jawab Lala.
Riki memang remaja bodoh yang beruntung sehingga bisa mendapat juara kelas belakangan ini.
Tanpa adanya sistem, mungkin dia masih hanya akan menjadi murid yang terkenal suka tidur di kelas dan mendapat peringkat paling bawah setiap tahunnya.
Kebodohannya dalam belajar itu hampir 95 persen, tapi keberuntungannya cukup besar juga.
Selama ini, dia mengikuti ujian dengan mengandalkan penghapus.
Ketika ingin menjawab soal pertanyaan, dia melempar penghapusnya di atas meja seperti dadu.
Penghapus tersebut sudah dituliskan huruf A, B, C, dan E untuk mewakili pilihan jawaban yang akan dia pilih.
Setibanya di perpustakaan sekolah, Riki langsung nyelonong masuk saja karena tempat tersebut selalu sepi.
"Eh?" Riki terdiam karena melihat ada siswi perempuan yang lagi ganti baju.
"Dasar tukang ngintip!" ujar siswi tersebut marah.
"Ma-maaf! Aku tidak sengaja melihatmu!" sahut Riki masih berdiri di tempatnya.
"Kalau begitu tutup matamu, kenapa ngelihatin aku terus!" ujar siswi tersebut segera meraih buku dan ingin melemparnya ke arah Riki.
"Maaf, aku hanya tak ingin melewatkan rejeki depan mata!" jawab Riki keceplosan.
Bam!
Sebuah lemparan buku tebal akhirnya benar-benar menghantam Riki.
Akhirnya suasana menjadi hening dan canggung setelah gadis itu tenang.
Namanya Rika, dia menjaga perpustakaan sekolah ini setiap hari.
"Jadi, ada apa siswa terpintar di sekolah kita main ke tempat ini?" tanya Rika dengan wajah masam.
"Eh? Bukannya itu wajar? Aku harus belajar!" jawab Riki.
"Bukannya kamu seorang jenius yang pura-pura newbie selama ini? Sebelumnya kau tidak pernah terlihat datang ke tempat ini," sindir Rika, masih tidak suka dengan kehadiran Riki.
"Kau menilaiku terlalu tinggi. Aku selalu belajar kok di rumah," jawab Riki.
Kemudian, Riki menjelaskan dirinya perlu lebih banyak belajar karena akan mengikuti lomba pelajar antarsekolah nanti.
Riki pun mengambil beberapa buku dan mulai membacanya dengan serius.
Sementara itu, Rika duduk di kursi satu dan ikut membaca buku juga di sebelah Riki.
[Ding! Selesai membaca buka Matematika, Fisika, Bahasa, dan lain-lain : 200 poin kemampuan didapatkan]
[Total poin : 800 poin kemampuan]
Melihat Riki begitu fokus membaca, perhatian Rika mulai teralih padanya.
"Ehem! Apa ada yang aneh padaku?" tanya Riki tiba-tiba.
"Eh? T-tidak ada," jawab Rika sedikit salah tingkah ketika tersadar dari lamunannya.
"Oh, benarkah?" tanya Riki tidak percaya.
"Percaya deh! Sudah jangan tanya lagi!" ujar Rika makin salah tingkah.
"Baiklah. Aku sudah selesai dan sekarang mau buruan pulang," kata Riki merapikan buku di depannya.
"Aku juga," ucap Rika seraya menutup bukunya.
Tiba-tiba Riki mendekatkan wajahnya sampai sangat dekat dengan wajah Rika.
Rika mulai berpikir aneh-aneh dan menutup matanya karena merasa gugup.
"Badan kamu agak bau ya? Kamu harus segera mandi pas sudah sampai rumah nanti!" ucap Riki.
Seketika itu Rika merasa malu dan langsung menampar wajah Riki.
"Astaga! Apa salahku?" tanya Riki heran.
"Kamu jahat!" kata Rika langsung pergi meninggalkannya.
"Apa dia marah karena aku menyinggung soal bau badannya?" gumam Riki tidak peka.
Riki malas memikirkannya dan segera menyusul keluar meninggalkan perpustakaan.
Tak berasa sudah pukul 16 : 30 WIB dan hujan tiba-tiba turun.
Semua orang sudah meninggalkan sekolah dan hanya tinggal mereka berdua.
"Duh, apa aku harus hujan-hujanan?" kata Rika bingung.
"Hei, aku kebetulan bawa payung," kata Riki menawarkan.
"Enggak mau aku berbagi payung denganmu," tolak Rika.
"Kamu beneran marah ya?" tanya Riki mencoba menenangkannya.
Riki baru sadar kalau nama mereka sedikit mirip alias berbeda satu huruf belakang doang.
"Baiklah, terserah kamu mau ikut atau enggak. Tapi, omong-omong, pas sekolah sudah sepi begini, katanya suka terdengar suara gadis nangis dan ..." Riki sengaja menakut-nakuti dan itu berhasil.
"Oke, aku ikut!" kata Rika segera mendekat ke Riki.
Akhirnya keduanya pun mulai meninggalkan area sekolah dengan berbagi payung bersama.
Rumah Rika tidak terlalu jauh dari sekolah, jadi Riki mengantarkan gadis itu terlebih dahulu sampai depan rumahnya.
"Terima kasih, ya!" ucap Rika sebelum masuk ke rumahnya.
"Sama-sama," jawab Riki tersenyum.
Setelah berpisah dengan Rika, Riki kemudian melanjutkan perjalanannya pulang.
Hujan makin deras dan jalanan makin dipenuhi genangan air. Tapi, sebuah mobil tiba-tiba berhenti dekat Riki.
"Butuh tumpangan?" tanya Ami yang telah menyuruh supirnya berhenti sebentar.
"Riki, ayo masuk!" ucap Ami segera membukakan pintu belakang.
"Oke!" kata Riki seraya menutup payungnya dan segera masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil ternyata ada kakaknya juga, Kiran.
Mobil melaju dengan cepat melalui hujan yang deras. Riki duduk di belakang, di antara Kiran dan Ami. Mereka lalu mulai mengobrol sambil menikmati perjalanan.
"Bagaimana kamu bisa di sini, Ami?" tanya Riki penasaran.
"Aku sedang melintas dan melihatmu sendirian di jalanan yang banjir ini. Jadi, aku memutuskan untuk memberikan tumpangan," jawab Ami sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak, Ami. Kamu benar-benar menyelamatkanku dari kebasahan," kata Riki dengan ekspresi berterima kasih.
"Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantu," ucap Ami.
Kiran lalu ikut berbicara, "Aku juga turut senang bisa bertemu denganmu lagi, Riki. Lama tidak bertemu, ya?"
"Iya, benar. Terakhir kali aku bertemu denganmu adalah beberapa minggu yang lalu," jawab Riki sambil mengenang pertemuan terakhir mereka.
Mobil mereka pun berhenti depan restoran kecil milik keluarga Riki yang belum dibuka.
"Kalian mau mampir?" tawar Riki.
"Nanti saja kalau restoran keluargamu sudah buka," jawab Ami dan Kiran.
Riki melambaikan tangannya ke arah mereka ketika mobilnya sudah kembali melaju.
Hujan sudah reda dan Riki tak perlu membuka payungnya lagi untuk berjalan masuk rumahnya sekaligus menjadi sebuah restoran itu.
"Kamu akhirnya pulang!" sambut Ayahnya senang.
"Iya, aku habis belajar di perpustakaan dulu," jawab Riki seraya mengambil kursi untuk duduk.
"Kamu belum makan, kan sayang?" tanya Ibunya lembut.
"Yo! Kami berdua sudah memasak untukmu dan silakan beri nilai!" kata Ayahnya segera menyajikan beberapa menu makanan yang nantinya akan menjadi menu restoran mereka.
Riki pun segera mengambil sendok dan garpu untuk mencicipi masakan ayahnya.
"Lumayan! Akhirnya Ayah berhasil!" kata Riki senang.
Selama ini Riki memang menyisihkan waktunya untuk mengajari ayahnya memasak.
"Bagus deh! Kamu bisa tenang dan fokus sekolah!" kata ayahnya ikut senang.
Kemudian, Riki mengatakan keinginannya untuk pindah ke villa barunya.
"Ayah, aku membawa Mochi dan Gon tinggal di sana. Kecuali, kamu ingin semua pelangganmu kabur melihat mereka," kata Riki ketika ayahnya sedikit keberatan.
"Cepat atau lambat kamu memang akan pergi, tapi seringlah kunjungi kami," kata Ayahnya sedikit emosional.
Riki pun segera meminta Pak Arman untuk membantu memindahkan Kera kecil dan Harimau besarnya itu ke Villa barunya.
Pak Arman adalah wakilnya Pak Edi. Keduanya sama-sama orang kepercayaannya Pak Rudi Santoso.
Setelah pindah ke Villa, Lala akhirnya menyarankan Riki untuk berlatih bela diri.
"Harga kemampuan mahal, tapi kamu bisa mengakalinya dengan mempelajarinya dari buku/kitab yang harganya lebih murah!" tutur Lala.
Sebelumnya, Riki bisa dengan praktis menggunakan sistem karena termasuk trial atau percobaan.
Setelah sistem upgrade, dia sudah tidak bisa menggunakan keuntungan ini lagi.
"Aku pikir awalnya bisa mendapatkan semua kemampuan itu dengan gratis," kata Riki sedikit tidak rela.
"Ayolah Tuan! Semangat!" ujar Lala memberinya semangat.
"Ingat, kemampuan yang kamu pelajari secara manual akan menjadi permanen!" lanjutnya.
"Baiklah, kalau begitu, pilihkan aku salah satu kitab bela diri yang cocok!" kata Riki mulai menerimanya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
✍️⃞⃟𝑹𝑨Pemecah Regulasi୧⍤⃝🍌
saja
2023-09-27
2
Richie
apanya
2023-09-25
0
𝐀⃝🥀୧⍣⃝sᷤʙᷛSu Luxiaᴳ᯳ཽᷢB⃟LS⃟M
🤣🤣🤣🤣parah
2023-09-25
1