9

Sepulang dari rumah keluarga Santoso, ketiga temannya dari sekolah sudah ada di rumahnya.

Ami, Lia, dan Tasya, ketiganya datang untuk membantu beres-beres toko baru Riki.

Namun, ketiganya malah lebih sering bertengkar daripada menyelesaikan apapun.

"Apa putra kita satu-satunya ini sudah menjadi pria?" sindir ayahnya sedikit bangga pada anaknya.

Ketiga gadis tersebut makin ribut ketika Riki sudah kembali.

"Lihat Riki, aku beres-beres piring!" kata Ami.

"Saya membantu menyusun meja!" ujar Lia tidak mau kalah.

"Riki, apa kamu lelah habis perjalanan? Sini aku pijit," ucap Tasya pintar mencari kesempatan.

[Ding! Nilai Pesona telah digunakan]

[-5 poin kemampuan telah digunakan]

[Sisa poin kemampuan : 720 poin]

"Ini bukan hal yang saya butuhkan!" kata Riki ketika tiga gadis itu berebut untuk memijitnya.

"Mungkinkah kita harus mulai memikirkan bagaimana pesta pernikahan?" kata ibu dan ayahnya berdiskusi.

"Pernikahan apanya? Saya masih pelajar!" protes Riki seraya melepaskan diri dari tiga gadis tersebut.

Lagipula ketiga gadis ini sibuk bertengkar sendiri dan semua pekerjaan telah dikerjakan bawahan Pak Rudi S.

"Riki, kami sebenarnya datang juga karena ingin mencicipi mie ayam buatan kamu," kata Aulia mewakili ketiganya.

"Sayangnya bahan untuk membuat mie sudah habis," ucap Riki, membuat ketiga gadis itu kecewa.

"Tapi," Riki mengusulkan makanan lain, "Bagaimana jika aku buatkan nasi goreng?"

Aulia, Ami, dan Tasya menatap satu sama lain dengan senyum lebar. Mereka setuju untuk mencoba nasi goreng buatan Riki.

Dengan semangat, Riki segera bergerak menuju dapur. Dia mengeluarkan berbagai bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat nasi goreng.

[Ding! Kemampuan memasak telah digunakan]

[-5 poin kemampuan telah digunakan]

[Sisa poin kemampuan : 715 poin]

Tangan Riki bergerak dengan lincah saat dia memotong dan menggoreng sayuran, daging, dan telur.

Beberapa saat kemudian, aroma harum nasi goreng mulai tercium di udara. Aulia, Ami, dan Tasya tak sabar untuk mencicipi hasil karya Riki.

[Ding! Selamat, Anda berhasil membuat nasi goreng super lezat]

[+50 poin kemampuan telah ditambahkan]

[Total poin kemampuan : 765 poin]

Nasi goreng pun segera disajikan di atas piring. Ketiganya duduk di meja makan dengan penuh antusiasme.

Setelah satu suapan, mereka langsung terpukau dengan cita rasa nasi goreng buatan Riki.

"Wow, rasanya enak sekali!" puji Ami sambil tersenyum puas. "Bener-bener nggak mengecewakan!"

"Benar, Riki! Kamu hebat dalam memasak!" tambah Tasya dengan antusias. "Aku tidak sabar mencoba hidangan dari tanganmu lagi!"

Aulia juga mengangguk setuju. "Terima kasih, Riki. Nasi goreng buatan kamu sungguh lezat. Aku akan merekomendasikannya kepada teman-temanku!"

Riki pun ikut duduk dan mengobrol dengan mereka.

"Baiklah, sekarang katakan tujuan kalian sebenarnya," kata Riki seraya menaruh satu tangannya di dagunya.

"Dua hari lagi sekolah kita akan kemping, aku hanya berharap kamu mau membantu dan menjagaku nanti," kata Lia duluan.

"Kami pun sama!" kata Ami dan Tasya.

"Kenapa?" tanya Riki heran.

"Tidak ada yang bisa diandalkan selain kamu," jawab Ami terus terang.

"Benar sih," ucap Riki memang sedikit setuju.

Riki melihat zaman sekarang banyak cowok lebay dan manja sekali.

Contohnya seperti kepanasan sedikit takut kulitnya hitam.

Pernah tuh ada siswa laki-laki, adik kelasnya Riki, teriak-teriak, "Kya!!!Afgaaaan!!!" depan Riki.

Adik kelas itu ternyata heboh karena melihat temannya memakai kacamata yang mirip dengan penyanyi tersebut.

Masalahnya, wajah temannya itu tidak mirip sama sekali dengan Afgan mau dilihat dari sisi manapun.

Esok harinya, tampak semua murid di kelasnya sedang mendiskusikan rencana mereka untuk kemping.

"Saya akan membawa gitar," kata Gin sambil tersenyum kepada teman-temannya. "Kita bisa duduk bersama di sekitar api unggun sambil bernyanyi lagu-lagu favorit kita."

"Iya, bagus ide!" seru Aulia. "Aku juga akan membawa marshmellow untuk dipanggang di atas api unggun."

"Tentu saja! Aku akan membawa tenda untuk kita semua," tambah Syahrul. "Kita bisa tidur di dalamnya dan merasakan pengalaman menginap di alam terbuka."

Namun, di tengah keseruan diskusi mereka, Rani agak sedih. Ia bercerita bahwa ia tidak memiliki peralatan untuk kemping.

Rani adalah murid yang baru saja pindah ke sekolah ini dan dia tidak tahu harus membawa apa.

Teman-temannya pun langsung bereaksi. Mereka berdiskusi dan mengajukan beberapa solusi untuk membantu Rani.

"Jangan khawatir, Rani. Kamu bisa pinjam peralatanku," kata Tasya ramah. "Aku punya tenda cadangan yang bisa kamu pakai."

"Aku juga bisa meminjamkanmu kantung tidur," tambah Ami. "Biar kamu nyaman tidur di luar ruangan."

"Kamu bisa menggunakan tas ranselku, Rani. Aku punya banyak ruang di dalamnya untukmu simpan barang-barang pribadimu," Riki menawarkan dengan semangat.

Rani merasa sangat terharu dengan sikap baik teman-temannya.

Ia tidak pernah berharap mendapatkan dukungan seperti ini.

Esok harinya, mereka semua berkumpul di depan sekolah sambil membawa peralatan kemping masing-masing.

Mereka pun berangkat ke lokasi kemping yang indah di pegunungan.

"Tunggu, kamu diem dulu, Gin," ujar Riki menahannya ketika mereka sudah turun dari bus dan berjalan menuju lokasi kemping.

"Apa?" tanya Gin menanggapi serius dan menurut untuk tidak bergerak.

Plak!

Riki menampar pipi Gin karena ada nyamuk hinggap di situ.

"Vangke! Kenapa kau nampar gua?" tanya Gin kesal.

"Ada nyamuk," jawab Riki.

"Dapat nyamuknya?" tanya Gin sudah sedikit mereda kekesalannya.

Riki mengangkat tangannya dan menunjukkan telapak tangannya.

"Gak dapat nyamuknya, tapi tangan gue jadi penuh minyak gini jir!" keluh Riki seraya menyusutkan pada bajunya Gin.

Gin dan Riki memang berjalan paling depan untuk memimpin jalan.

Ketika Gin mau berbalik dan melanjutkan perjalanan, Riki kembali menyuruhnya diam.

"Apa lagi?" tanya Gin reflek menutup pipinya.

"Enggak ada apa-apa sih, cuma di bahumu ada ular hijau," kata Riki dengan kalemnya.

Akhirnya rombongan belakang menyusul dan heran melihat kedua siswa laki-laki itu malah diam.

"Riki, bukannya itu ular?" kata Ami terkejut.

"Eh? Iya! Kya!" Tasya dan Lia yang panik malah sengaja menempel ke Riki.

"Tapi kok si Gin berani banget ya?" kata Ami heran.

"Kenapa?" tanya Tasya.

"Dia begitu tenang meskipun ada ular di bahunya!" jelas Ami.

Kemudian, rombongan Syahrul, Ibu Lan Lan, Pak Han, dan murid lainnya tiba juga menyusul mereka.

"Anak-anak, ada apa ini?" tanya Pak Han.

"Itu... ada ular di bahunya," jawab Tasya.

"Oh. Ini cuma ular pucuk dan tidak berbisa," kata Pak Han seraya mengambil ular tersebut seraya melemparkannya.

Namun, siswa bernama Gin ini masih saja diam di tempatnya.

"Woi, buruan lanjutkan perjalanan sebelum kemalaman," tegur Syahrul padanya.

Setelah mengamatinya baik-baik barulah Syahrul sadar kalau Gin sudah pingsan daritadi.

"Pak Han! Dia pingsan!" teriak Syahrul.

"Hah? Kok bisa?" kata Pak Han tak percaya karena Gin masih berdiri dan matanya melek.

Akhirnya Pak Han mencoba memeriksanya kembali dan ternyata Gin beneran pingsan sambil berdiri dengan mata masih terbuka.

"Beneran pingsan," kata Pak Han sudah yakin.

Kemudian, Pak Han pun menyuruh Syahrul dan Riki untuk menggotong tubuhnya.

"Wastoge! Ini anak bertubuh cungkring tapi berat!" keluh Syahrul kesulitan mengangkat tubuhnya yang menjadi kaku seperti patung.

"Berat karena banyak dosa kali. Untungnya aku punya solusi untuk ini," kata Riki.

Riki pun mengeluarkan air botol dari tasnya dan mulutnya mulai kumat-kamit membacakan sesuatu ke botol tersebut.

Kemudian, Riki meminum air tersebut dan menyemburkannya ke wajah Gin.

Mata Gin langsung terbuka dan dia bingung dengan apa yang sudah terjadi.

"Omong-omong, kenapa bau jengkol ya?" kata Gin heran.

"Sudahlah. Kita sudah ketinggalan cukup jauh, sebaiknya buruan lanjutkan perjalanan untuk menyusul mereka, kata Riki dengan wajah datar seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Akhirnya mereka bertiga segera menyusul rombongan di depan dengan keadaan Gin yang masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi padanya.

Setiba di lokasi tujuan, mereka bukannya langsung mendirikan tenda, malah heboh lagi karena giliran Syahrul yang kejang-kejang akibat kerasukan.

"Dia habis pipis sembarangan sih, tanpa permisi dan berkata kasar atau sembarangan," kata Riki

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Gin bingung.

"Kalau untuk masalah ini mah kita ikat saja dia di pohon," jawab Riki memberi solusi.

"Apa itu tidak masalah?" ucap Gin khawatir.

"Apa kau punya solusi lain?" tanya Riki.

Akhirnya semua orang setuju untuk mengikat Syahrul di batang pohon.

Malam harinya, ketika mereka berkumpul di depan api unggun, siswi bernama Rani sempat khawatir dengan kondisi Syahrul saat ini.

"Biarkan saja, nanti kita lepas kalau dia sudah sadar," jawab Riki tak peduli.

"Kejam kau Rik!" ujar Gin marah.

"Terus, mau kamu gimana?" tanya Riki.

"Gue akan melepaskannya!" kata Gin berjalan mendekati pohon di mana Syahrul diikat.

Namun, Syahrul langsung menerkamnya ketika Gin telah melepasnya.

Semua orang pun kembali panik.

"Ide bagus, Gin. Dengan begitu, dia akan segera lelah dan akhirnya pingsan karena bantuan kamu," ujar Riki.

"Vangke!" keluh Gin tak berdaya.

Lima menit kemudian, Syahrul akhirnya pingsan.

"Kesucianku telah terenggut," kata Gin berdiam diri di pojokan.

"Baiklah anak-anak, sebaiknya kalian segera beristirahat dan semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi," ujar Pak Han.

"Kenapa? Kenapa? Kenapa?Kenapa? Kenapa? Kenapa?Kenapa? Kenapa? Kenapa?" Gin terus meratapi dirinya ketika semua orang sudah masuk ke dalam tendanya masing-masing.

"Wah, kita berdua dapat giliran pertama jaga ya?" kata Riki berlagak tidak terjadi apa-apa.

"Tolong jangan dekat-dekat dasar manusia keji!" ujar Gin yang sudah mengingat semua kejadian yang menimpanya sejak mereka turun dari bus.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Manusia Biasa

Manusia Biasa

XD

2023-10-01

0

✍️⃞⃟𝑹𝑨Pemecah Regulasi୧⍤⃝🍌

✍️⃞⃟𝑹𝑨Pemecah Regulasi୧⍤⃝🍌

kebalik 🤣🤣🤣

2023-09-22

0

✍️⃞⃟𝑹𝑨Pemecah Regulasi୧⍤⃝🍌

✍️⃞⃟𝑹𝑨Pemecah Regulasi୧⍤⃝🍌

😅

2023-09-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!