15

Setelah berlatih cukup keras setiap hari, akhirnya Riki mampu menguasai banyak jurus dari buku bela diri itu.

Namun, dia membutuhkan waktu yang cukup lama.

Meski demikian, Riki sudah meninggalkan Kerajaan Majapahit karena masa tugasnya berakhir.

"Aku hanya menyelesaikan tugas ayah dari pemilik tubuh ini dan akhirnya bisa bebas dari sana," kata Riki cukup senang.

"Selamat, Tuan!" ucap Lala.

"Terima kasih, Lala. Sekarang tinggal satu jurus terakhir dan aku bisa kembali," ucap Riki tampak lega.

"Tuan Beruntung! Tuan bisa kembali sebelum konflik di kerajaan semakin memanas," ujar Lala.

"Benar. Nambi sudah diangkat menjadi Patih Majapahit dan Mahapati sudah mulai menghasut Ranggalawe. Aku tidak mau terlibat, apalagi harus menghabisi seseorang di zaman ini," kata Riki.

Sebelum menyelesaikan misinya menguasai semua jurus dari kitab, Riki kembali ke kampung halamannya pemilik tubuh.

"Raka, akhirnya kamu pulang!" sambut ibunya Raka.

Riki melihat ibunya Raka sangat mirip dengan ibunya di zaman modern.

Hal ini membuatnya dapat melepaskan sedikit kerinduannya kepada ibunya.

Di zaman ini, ibunya Raka juga berjualan makanan seperti restoran.

Sayangnya, ayahnya Raka sudah gugur dalam peperangan. Mungkin, ayahnya Raka juga mirip dengan ayahnya di zaman modern.

Namun, ayahnya Raka tampak lebih bijaksana dan luar biasa daripada ayahnya Riki.

Ini membuat Riki sedikit iri. Meski begitu, bagi Riki, ayahnya juga luar biasa dan adalah pahlawan untuk keluarganya.

"Raka, selamat datang kembali," ucap pamannya Raka, Jaya Raksa.

"Paman, terima kasih sudah menjaga ibuku selama saya tidak ada," ucap Riki mewakili Raka.

Namun, di tempat jualan ibunya tersebut tiba-tiba terjadi keributan.

"Hei kalian, pergi dari sini!" ujar seorang prajurit yang baru datang bersama lima temannya.

"Hak apa kalian mengusir kami?" jawab prajurit yang sudah datang duluan di tempat ibunya Raka.

Kelompok prajurit yang baru datang tersebut terlihat dari pasukannya Nambi.

Sementara itu, pihak satunya adalah kelompok pasukan dari pihak Ranggalawe.

Suasana diantara pasukan kerajaan memang sedang memanas.

Pihak Nambi marah karena Rangga menentang kenaikan jabatan Nambi sebagai Patih baru.

Sebaliknya, pihak Rangga merasa bahwa Nambi memang tidak pantas menjadi Patih.

Mereka sama-sama berjasa dalam membantu Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit.

Pertarungan dua kelompok prajurit yang berjumlah sama-sama enam orang itu akhirnya terjadi.

Kedua kelompok prajurit itu saling menatap dengan tatapan penuh kemarahan dan ketegangan.

Mereka saling berdiri berhadapan, seolah-olah sedang berada di medan pertempuran yang telah ditentukan.

Kedua belah pihak saling memandang dengan sikap yang tegas dan teguh.

Suasana di sekitar mereka menjadi sangat tegang dan mencekam.

Meskipun begitu, Riki berusaha menjaga ketenangan, ia berbicara dengan suara yang tenang dan tegas.

"Saudara-saudara sekalian, pertumpahan darah tidak akan membawa keputusan yang baik bagi kerajaan ini. Kita telah berjuang bersama-sama untuk mendirikan Kerajaan Majapahit. Saya mencintai kedua belah pihak ini, dan saya tidak ingin melihat saudara-saudara tercinta bertarung satu sama lain," ujar Raka dengan nada yang serius.

Kata-katanya terdengar mempengaruhi para prajurit yang sedang bersiap-siap untuk bertempur.

Beberapa wajah yang semula penuh kemarahan berubah menjadi ragu dan berpikir dengan lebih bijak.

Raka melanjutkan pidatonya, "Karena itu, saya mengajukan usulan agar kedua pasukan mencari jalan damai. Kita harus mengutamakan kepentingan kerajaan dan menghormati peran setiap individu di dalamnya. Adakah di antara kalian yang setuju dengan usulan saya?"

"Hei, bukankah dia Raka?" kata prajurit yang memimpin kelompok Nambi.

"Kurasa apa yang dikatakannya benar!" kata salah satu prajurit dari pihak Rangga.

[Ding! Anda telah berhasil mencegah pertarungan sesama rekan kerajaan]

[+50 poin kemampuan telah ditambahkan]

[Total poin : 550 Poin Kemampuan]

Kedua belah pihak akhirnya mau berdamai dan memilih tempatnya masing-masing.

Ibunya Raka pun segera melayani mereka dan menyajikan makanan-makanan yang enak.

Ibunya Raka ternyata pandai memasak, beda sekali dengan ibunya Riki di zaman modern.

Malam harinya, Riki mencoba untuk menguasai jurus terakhir dan akhirnya berhasil.

Kemudian, Raka yang asli akhirnya muncul. Dia berterima kasih karena sudah membantunya kembali ke keluarganya dan membalaskan dendam ayahnya kepada pasukan mongol.

Sebuah kekuatan misterius tiba-tiba menarik Riki dan dia pun kembali ke tubuh aslinya.

[Ding! Anda telah berhasil menjalankan perjalanan waktu]

[+poin kemampuan telah ditambahkan]

[Total poin : 650 poin kemampuan]

Kini, kitab bela diri di tangannya menghilang menjadi debu tertiup angin.

Namun, pemilik kitab tersebut ternyata bernama Raka.

"Lala, apakah itu akan mengubah sejarah dunia?" tanya Riki sedikit khawatir.

Menurut informasi dari sistem, Raka harusnya terbunuh dalam peperangan itu.

"Tenang saja, Tuan. Raka yang kita bantu adalah dari dunia paralel!" jawab Lala.

Riki pun berdiri dan ingin mencoba kekuatan barunya.

"Hiya!" teriak Riki melayangkan satu pukulan ke depan.

Dar!!!

Dinding kamarnya langsung bolong.

"Eh?" Riki tidak menyangka dampaknya akan sebesar itu.

"Anda gegabah sekali, Tuan!" sindir Lala heran.

"Maaf, Lala. Aku tidak tahu ilmu bela diri yang menggunakan tenaga dalam ini benar-benar menakutkan!" kata Riki terkejut.

Dia pun menghubungi Pak Arman untuk memperbaiki masalah dinding kamarnya tersebut.

Sementara itu, Mochi dan Gon tampak masih ketakutan dengan kekuatan tuannya barusan.

"Tenanglah, aku tidak akan menyakiti kalian berdua," kata Riki mengelus keduanya.

Kemudian, Riki melihat jam di dinding dan ternyata sudah jam 6 pagi.

"Ini waktunya saya sekolah," kata Riki segera bersiap.

Singkat cerita, Riki akhirnya tiba di sekolah dan auranya terasa begitu berbeda di mata orang-orang.

Riki terlihat lebih gagah, berwibawa, tenang, dan makin mempesona.

"Selamat pagi," sapa Bang Smile, Satpam sekolah.

"Pagi juga, Bang," jawab Riki tersenyum.

Bang Smile merasa lega karena Riki tidak lagi membawa hewan peliharaannya yang terlihat buas dan liar itu.

Belum sampai ke kelas, Riki sudah ditunggu oleh Bapak kepala sekolahnya.

"Kamu ingat? Hari ini adalah hari perlombaan pelajar?" kata Pak Suryo.

"Tentu saja," jawab Riki tampak sudah sangat siap.

Riki pun mengikuti Pak Suryo untuk berangkat ke sekolah lain di mana kompetisi itu diselenggarakan.

Setiba di sana, sekolah terkenal sebagai sekolah nomor satu sering menghasilkan murid terbaik itu sudah sangat ramai.

Banyak guru-guru dan murid-murid dari sekolah lain yang sudah hadir untuk mengikuti lomba.

Tidak hanya itu, orang-orang dari pihak departemen pendidikan dan para wartawan juga sudah datang.

Acara dimulai dengan sesi wawancara terlebih dahulu kepada wali-wali murid peserta.

"Hahaha. Kalian menyerah saja, tahun ini aku juga pasti akan menjadi juaranya!" kata Hartono, juara bertahan tahun kemarin dan sudah menang tiga kali berturut-turut.

"Hei kau, jangan meremehkan kami!" sahut Randi, peserta baru tahun ini.

Ketika semua peserta mulai marah, Riki malah terlihat santai saja.

"Lihatlah dia, dia sudah tahu akan kalah makanya diam saja!" ujar Hartono menunjuk Riki.

"Aku?" kata Riki heran.

"Benar!" jawab Hartono.

'Iyain aja deh biar diem!' pikir Riki.

Lomba pun di mulai dalam salah satu kelas, semua murid peserta sudah duduk di bangkunya masing-masing.

Namun, belum lima menit berlalu, Riki sudah memberikan kertas lembar jawabannya kepada juri pengawas.

"Dasar payah! Dia benar-benar tidak mau berusaha!" gumam Randi dalam hati.

"Aku boleh keluar, kan?" tanya Riki.

"Silakan!" jawab juri, tapi dia menggelengkan kepalanya karena berpikir kalau Riki tidak niat mengikuti lomba ini.

"Astaga, Riki! Apa yang kamu lakukan?" tanya Pak Suryo panik ketika Riki sudah keluar dari ruang kelas perlombaan.

"Santai saja, Pak Suryo!" jawab Riki, malah menguap dan pergi entah ke mana.

Tampak murid peserta lainnya masih serius mengisi lembar jawaban dan tertekan.

Akhirnya, tibalah waktu untuk mengumumkan siapa juaranya.

Juara 3 : Randi.

juara 2 : Hartono.

Juara 1 : Riki Saputra.

"Apa? Bagaimana dia bisa menang?" ujar Hartono protes.

"Benar! Ini sungguh aneh! Dia mengisi jawabannya kurang dari tiga menit!" ujar Randi.

"Dia pasti curang!" tuduh Hartono.

"Jangan sembarangan kalau bicara! Kami sudah mengawasi dan menilai lembar jawabannya dengan teliti!" ujar perwakilan departemen pendidikan.

Riki pun dipanggil naik ke atas panggung dan ditanya alasan dia bisa dengan cepat mengisi lembar soalnya.

"Eh? Bukannya itu karena semua pertanyaannya terlalu mudah?" jawab Riki.

Semua orang langsung terdiam.

Memang masuk akal apa yang dikatakan Riki barusan, tapi semangat semua orang langsung runtuh.

"Ran, apa menurutmu pertanyaan tadi mudah?" tanya Hartono dengan ekspresi masih tercengang dengan jawaban Riki tadi.

"Sulit sekali," jawab Randi dengan mata berkaca-kaca.

"Tapi kata dia mudah tadi," ucap Hartono.

"Mungkin kita memang bukan saingannya," jawab Randi.

Seketika semua orang tampak putus asa dan merasa bahwa si Riki bukan lagi seseorang yang bisa mereka kejar.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Richie

Richie

buku

2023-09-29

0

𝐀⃝🥀୧⍣⃝sᷤʙᷛSu Luxiaᴳ᯳ཽᷢB⃟LS⃟M

𝐀⃝🥀୧⍣⃝sᷤʙᷛSu Luxiaᴳ᯳ཽᷢB⃟LS⃟M

buki apa buku sihhh🤔

2023-09-29

1

DenDelanzX

DenDelanzX

👍

2023-09-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!