Suasana pagi di kelas, salah seorang murid bernama Ayano yang merasa si paling tampan di sekolah, sudah membuat heboh beberapa siswi rabun yang memujanya.
"Ayano, cepat ceritakan bagaimana liburanmu kemarin?" tanya para siswi.
"Aku pergi berlibur ke berbagai tempat di Bali bersama keluargaku dan kami..."
Dengan bangganya si Ayano menceritakan tentang pengalamannya selama liburan.
Ayano sengaja menonjolkan soal kekayaan keluarganya agar menarik perhatian semua gadis di kelas dan sekolahnya.
Terutama, menarik perhatian para kembang sekolah seperti Ami dan Aulia.
Kemudian, masuklah Riki dengan wajahnya yang terlihat masih mengantuk.
Namun, tidak seperti biasanya, pagi ini dia disambut oleh dua gadis cantik kembang sekolah yang menjadi pujaan hati Ayano.
"Selamat pagi, Riki. Aku ingin menanyakan soal jawaban kamu tentang tawaran kakakku," kata Ami.
"Aku belum ada waktu," jawab Riki.
"Hei Riki, apa kamu sudah sarapan? Aku bawa makanan untuk kamu," potong Aulia tidak mau kalah.
"Hei, aku duluan yang ingin mengobrol dengannya!" bentak Ami marah.
"Kamu ngobrolnya nanti saja, saat ini sarapan Riki lebih penting!" sahut Aulia.
Ayano tampak kepanasan melihat Ami dan Aulia justru rebutan untuk mendapatkan perhatian Riki. "Apa mereka buta dengan mendekati laki-laki payah seperti itu?"
Tiba-tiba semua orang dikejutkan dengan kedatangan gadis tercantik dari kelas lain.
"Hei lihat itu, kenapa gadis tercantik dari kelas 1 datang ke kelas kita?"
"Mungkinkah dia datang untuk mencari Ayano setelah mendengarnya kembali dari liburan?"
Beberapa murid itu mulai berasumsi liar karena tidak tahu tujuan gadis itu datang.
"Hei cantik, apa kamu datang untuk menemuiku?" tanya Ayano sangat percaya diri.
Namun, siswi tersebut tidak sedikitpun mempedulikannya dan terus berjalan ke arah Riki.
"Jadi benar di sini adalah kelasmu, Kak Riki," kata gadis tersebut tersenyum.
"Eh? Kamu yang kemarin itukan?" kata Riki mengingatnya.
"Benar. Aku Tasya Putri, dari kelas satu," jawab gadis tersebut.
"Siapa gadis itu, Riki?" tanya Aulia dan Ami seraya menyilangkan tangan mereka.
"Heh, haruskah aku memberitahukan pada kalian?" kata Tasya tersenyum sinis.
"Tentu saja!" jawab Aulia dan Ami sangat penasaran.
"Itu... tadi malam Riki meninggalkan aku begitu saja di gang sepi itu," jelas Tasya sengaja menceritakan dengan tidak jelas dan ambigu.
"Gang sepi? Apa yang kalian lakukan di tempat seperti itu?" tanya Aulia mulai terbakar curiga.
"Apa aku benar-benar harus mengatakannya? Aku hanya bisa bilang kalau tadi malam Riki sangatlah kuat dan begitu perkasa," jawab Tasya sambil menutupi wajahnya yang memerah.
Semua murid di dalam kelas yang mendengar ceritanya langsung membisu.
Mereka tampak menyimpulkan hal-hal yang melenceng dari cerita Tasya.
"Apa yang dia punya sehingga semua gadis tercantik di sekolah ini mengejarnya?" ujar Ayano tak terima.
"Dia sudah terlalu jauh dan adik kelas kami yang malang terkena tipu dayanya! Teman-teman, ayo beri dia pelajaran sebelum Ami dan Aulia turut menjadi korbannya juga!" tambah Ayano memprovokasi murid yang lainnya.
"Banyak omong!" sahut Riki. "Kalau kalian berani, silakan maju satu per satu!"
Meskipun beberapa murid itu sempat marah setelah termakan hasutan dari Ayano, tapi mereka semua langsung ciut ketika ditantang oleh Riki.
[Ding! Kemampuan intimidasi lawan telah digunakan]
[-5 POIN KEMAMPUAN TELAH DIKURANGI]
[Sisa Poin Kemampuan : 180 poin]
"Kenapa kalian malah diam?" tanya Ayano heran.
Akhirnya Riki mulai menghampiri ke meja Ayano dan menegurnya.
"Bisakah kamu berhenti membuat tuduhan yang tidak terbukti!" kata Riki seraya menatap tajam ke mata Ayano.
Seketika tubuh Ayano langsung lumer karena merasakan takut luar biasa kepada Riki.
"Hei lihat, dia ngompol!" ujar salah satu murid melihat celana Ayano basah tiba-tiba.
"Kalian jahat!" ujar Ayano seraya berlari pergi meninggalkan kelas.
Tepat ketika melewati pintu, dia hampir menabrak Gin dan Syahrul yang baru saja tiba.
"Ada apa ini? Kenapa rasanya suasana kelas agak angker begini!" ungkap Gin heran.
Syahrul mencoba mengamati situasi kelas, tapi dia tidak menemukan ada hal yang aneh.
Kemudian, dia melihat Riki sedang bersama tiga siswi tercantik di sekolahnya dan merasakan sedikit iri.
"Apakah dia baru saja mendapatkan sebuah sistem cheat sehingga tiba-tiba saja mendapatkan nilai terbaik di semua mata pelajaran dan bisa menarik perhatian semua kembang sekolah ini?" gumam Syahrul sangat cemburu.
Tebakan Syahrul yang acak itu sebenarnya akurat sekali, sayang dia tidak akan mengetahui hal itu.
Entah apa yang terjadi jika Riki tahu apa yang dipikirkan Syahrul barusan.
Namun, Ibu Lan Lan sudah datang setelah bel berbunyi.
Tasya kembali ke kelasnya dan murid-murid di kelas Riki sudah duduk di kursinya masing-masing, bersiap mengikuti pelajaran
Tepat di pertengahan jam pelajaran, Ayano yang masih kesal kembali mencari masalah dengan Riki.
"Ibu Lan Lan! Si Riki tidur!" ujar Ayano mengadukannya.
Aulia dan Ami yang sedang asyik memperhatikan wajah lucu Riki yang sedang tidur, langsung melotot pada Ayano.
"Apa?" sahut Ibu Lan Lan mendengarnya.
Ibu Lan Lan terkenal lebih galak dari Pak Han itu langsung melempar penghapus ke arah Riki untuk membangunkannya.
Namun, tubuh Riki yang sudah sinkron 100% dengan sistem berhasil menangkisnya dengan mudah.
Tangan Riki bergerak sendiri dan menangkis penghapus itu sehingga arahnya berbelok ke Ayano.
[Ding! Perlindungan host saat tidur telah digunakan]
[-5 Poin Kemampuan telah dikurangi]
[Sisa Poin Kemampuan : 175 poin]
Riki pun membuka mata, tapi dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi.
Dia terbangun karena mendengar pemberitahuan dari sistem tentang poin kemampuan telah digunakan.
"Sttt.. Riki, Ibu Lan Lan marah karena kamu tidur lagi saat pelajaran beliau berlangsung," ucap pelan Aulia memberitahunya.
Melihat Ibu Lan Lan marah, Ayano tampak senang meskipun kepalanya benjol terkena penghapus tadi.
"Kau pasti akan dihukum berat," kata Ayano senang.
Namun, Ibu Lan Lan tampak tidak marah lagi dan malah tertarik dengan kemampuan Riki.
"Melihatmu bisa menangkis lemparan barusan, mungkin kamu memiliki potensi yang bagus jika bermain badminton," kata Ibu Lan Lan tertarik.
Ayano yang masih heran langsung bertanya maksud ucapan Ibu gurunya tersebut. "Bu Lan Lan, kenapa Anda malah berkata begitu dan bukannya menghukum dia?" tanya Ayano.
"Sebentar lagi akan ada perlombaan bulu tangkis antarsekolah dan Ibu melihat Riki mungkin bisa mewakili sekolah kita," jelas Ibu Lan Lan.
Kebetulan Ayano juga sudah ditunjuk oleh Pak Han untuk mewakili sekolah mereka dalam perlombaan tersebut.
Ayano pun protes. "Apakah Ibu tidak tahu bahwa saya sudah ditunjuk oleh Pak Han untuk lomba itu?"
"Benarkah? Kalau begitu, Ibu akan bicara dahulu pada Pak Han," kata Ibu Lan Lan tetap ingin memilih Riki.
Pada akhirnya, Pak Han dan Ibu Lan Lan memutuskan agar Riki dan Ayano bertanding saja untuk memperebutkan posisi itu.
Sebenarnya, Riki itu malas mengikuti keinginan Ibu Lan Lan, tapi jika dia menolak, semua pelanggaran yang pernah dia lakukan akan dilaporkan kepada kepala sekolah agar orang tuanya dipanggil.
Untung saja pertandingan melawan Ayano akan dilakukan besok, dia masih punya waktu untuk berlatih sepulang sekolah nanti.
Riki belum pernah bermain bulu tangkis sebelumnya dan harus sedikit mempelajarinya.
"Tenang saja Riki, aku akan membantumu berlatih," kata Aulia.
Benar saja, begitu Riki sudah pulang dari sekolah, Aulia langsung datang ke rumahnya membawa raket dan shuttlecock atau bola kok.
"Eh?" Keduanya bingung karena bola bulu yang Riki pukul malah selalu jauh dan nyangkut di genteng.
"Oh, astaga!" Aulia tampak kesal karena yang nyangkut itu bukan hanya satu saja, tapi semuanya sampai habis.
"Sudah. Jangan cemberut terus. Ayo kita beli lagi!" ajak Riki sudah siap dengan sepedanya.
Aulia tersenyum dan langsung menerima tawaran Riki.
Sepanjang jalan, Aulia tampak sangat ceria. Dia bercerita tentang kegiatan di sekolah dan rencana liburan bersama teman-temannya.
Riki ikut tertawa mendengar cerita Aulia dan semakin semangat mengayuh sepedanya.
Tiba di pusat perbelanjaan, mereka langsung menuju toko tujuan mereka.
Aulia merasa senang melihat banyaknya pilihan barang di toko tersebut.
"Apa kamu sudah membelinya?" tanya Riki yang menunggu di luar toko.
"Iya, tapi ada barang lain yang ingin aku beli!" jawab Aulia.
Riki terkejut mendengar jawaban Aulia. "Wanita itu benar-benar suka berbelanja ya?"
Aulia tertawa. "Iya, ini kan momen yang langka bisa ajak kamu belanja."
Selain mengatakan ingin membeli barang lagi, ternyata Aulia sudah membeli banyak barang juga di toko tersebut.
Masalahnya, pemilik toko itu menagih uang tagihan kepada Riki dan Aulia mengatakan tidak membawa uang.
"Oke, aku tidak masalah membayar barang-barang itu. Tapi kenapa di tagihannya tercatat kamu mengambil sendok tembok juga?" tanya Riki heran dan kaget dengan apa yang dibeli Aulia.
"Ah, itu aku beli buat diberikan sama ayahku," jawab Aulia.
"Oh. Aku pulang saja!" kata Riki malah nyelonong mau kabur.
Namun, Aulia segera merengek dan pura-pura menangis sehingga perhatian semua orang tertuju pada mereka.
"Kasihan sekali gadis itu!"
"Makanya kalau tidak punya uang jangan ajak cewek jalan!"
"Anak muda sekarang, dikasih uang jajan sama orang tua malah dipakai buat cewek!"
Akhirnya Riki merasa malu dan putar arah lagi untuk meminta Aulia berhenti.
"Oke oke, kamu boleh beli apapun, sama tokonya sekalian!" kata Riki sedikit kesal.
"Beneran? Kalau begitu aku mau beli tokonya juga!" ucap Aulia malah beneran ingin membeli tokonya.
"Hah?" Ekspresi wajah Riki dibuat kaya unta telat datang bulan jadinya mendengar ucapan Aulia barusan.
"Hahaha! Aku bercanda kali!" kata Aulia terlihat puas sekali mengerjai Riki.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Knows
semangat Riki
2024-01-21
0
Zafrullah Effendy
lanjut.....
2023-12-06
0
Shopia Asmodeus
yalah buat ngebahagian pacarannya
2023-10-07
1