Joan baru saja terjaga dari tidurnya, dirinya baru saja membuka matanya dan mendapati prianya tidak berada disisinya. Dirinya mencari ke kamar mandi untuk memastikan lelaki itu sedang berada disana, tapi dirinya tak mendapati lelakinya.
Ternyata pria itu telah meninggalkannya setelah melewati malam bersamanya. Joan mengambil ponselnya dan menghubungi lelaki itu, tapi tidak diangkat. Sesibuk itukah dia? Kemana lelaki itu sepagi ini? Monolognya dihatinya.
Sementara itu, Vano sedang menuju ke rumah sakit, dirinya masih penasaran dengan obat yang ditemukannya di tas Joan, lelaki itu segera menuju ke ruangan seorang dokter.
“Tuan Valno, ada apa anda tiba-tiba menghubungiku dan meminta untuk bertemu sepagi ini?” Dokter paruh baya itu merasa ada sesuatu yang aneh dari kliennya itu.
“Maaf jika kedatanganku mengganggumu dokter Zain, aku hanya ingin mengetahui obat apa ini?” imbuh lelaki itu sambil menunjukkan bungkusan obat yang dibawanya tadi.
“Apa itu tuan? Dari mana anda mendapatkannya? Dokter itu mengernyitkan dahinya memperhatikan obat yang dibawa lelaki itu padanya.
“Aku mendapatkannya dari tas Joan, aku curiga ini adalah obat terlarang, coba anda cek obat ini dokter Zain” tukas lelaki itu pada sang dokter.
Dokter itu segera mengambil bungkusan yang dibawa Vano padanya kemudian mengecek obat itu.
“Ini anfetamin tuan, dari mana nyonya Joan mendapatkannya?” dokter muda itu terlihat heran, untuk apa Joan memiliki barang haram itu? Apakah dia mengkonsumsinya atau digunakan untuk hal lain?
“Jadi benar dok, itu anfetamin?” Vano memastikan kembali bahwa yang dikatakan dokter itu benar.
“Iya tuan ini anfetamin,” dokter itu begitu yakin dengan ucapannya.
Jadi benar, fix Joan yang telah melakukan percobaan pembunuhan pada Brady. Gumamnya dibatin.
“Baiklah dok, terimakasi atas penjelasan anda,” Lelaki itu segera beranjak dari ruangan sang dokter.
Vano bergegas kembali ke rumah untuk meminta penjelasan pada Joan, tapi karena terlalu buru-buru secara tak sengaja dirinya menabrak seseorang dan orang itu adalah Hary.
Bungkusan yang sedang dipegangnya terjatuh dari genggamannya tapi dengan cepat lelaki itu mengemasi bungkusan yang terjatuh itu agar tidak menimbulkàn kecurigaan.
"Maaf, maafkan saya tidak berhati-hati," ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
Hary yang memperhatikannya ingin menyapanya namun lelaki itu bergegas pergi dari hadapannya sehingga Hary tidak sempat menyapanya.
"Ada apa? Siapa orang itu?" tanya Javes yang baru saja menghampirinya.
"Tidak tuan, tadi ada orang yang menabrakku tapi sepertinya dia buru-buru jadi aku tidak sempat menyapanya dia langsung pergi begitu saja," jelas lelaki itu padanya.
Javes hanya menganggukkan kepala tidak terlalu memperdulikan orang yang baru saja bertemu dengan Hary.
"Oh ya Hary, mana Mia?" Lelaki itu memperhatikan ke sekeliling rumah sakit tapi dia tidak menemukan gadis itu.
"Dia sedang ke hotel tuan, aku menyuruhnya kembali ke hotel karena mendadak ada tamu hotel yang akan menemuinya,"
Tamu hotel? Siapa lagi yang datang ke sana? Belum selesai masalah yang satu ini malah akan muncul masalah berikutnya. Pikir lelaki paruh baya itu dihatinya.
"Baiklah Hary, kau tunggu disini sampai ada perkembangan baru mengenai kesehatan tuan Brady, aku akan ke hotel sebentar untuk berbicara dengan Mia?" tutur lelaki paruh baya itu pada Hary.
Mau tidak mau Hary harus mengikuti perkataan bosnya itu, dirinya menunggu di ruang tunggu sembari menyantap sarapan yang baru dibelinya.
***
Javes segera menemui tamu yang mencarinya, dirinya merasa penasaran siapa yang begitu ingin menemuinya sepagi ini?
"Maaf apa anda berdua mencari saya?" tanyanya menghampiri sepasang lelaki dan wanita yang menunggunya sedari tadi.
Kedua orang itu membalikkan tubuhnya dan betapa terkejutnya Javes saat melihat dua orang itu adalah orang yang dikenalnya.
"Tuan muda Oricon? Abigail?" ujarnya dengan wajah terkejutnya.
"Maaf tuan, kedatangan kami ke sini untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di hotel anda," jelas Oricon padanya.
"Tunggu sebentar, apa kalian berdua saling mengenal?" selidik Javes merasa ingin tahu.
Sebenarnya ada hubungan apa antara kedua orang itu hingga mereka bisa bersamaan berada dihadapannya.
"Abigail adalah calon istriku, gadis ini terkena masalah saat dia tiba-tiba menghilang dari hotelmu," jelas Oricon secara detail.
"Ah iya, soal insiden itu aku benar-benar minta maaf karena telah membuatmu terseret dalam kasus ini nona Abigail," tukas pria paruh baya itu dengan sangat menyesal.
"Tuan, aku tidak bersalah. Aku mohon bantu aku untuk terlepas dari jeratan hukum ini tuan. Aku tidak melakukan apapun," Abigail merasa panik, karena dirinya dituduh sebagai dalang kasus pembunuhan Brady.
"Tenanglah nona, kami disini juga sedang mencari bukti-bukti dari kasus ini,"
"Hm, aku harap kasus ini bisa segera diselesaikan tuan," pinta Oricon pada pria paruh baya itu.
"Saya akan mengusahakan,tapi saya harap nona Abigail mau bersabar menungu, " jelas lelaki itu pada mereka.
Pandangan pria itu masih tertuju pada Abjgail. Dia menatap dalam manik gadis itu. Mata itu, mengingatkannya pada seseorang. Ya, seseorang yang selama ini dia juga mencari keberadaan orang itu.
Wanita yang pernah mengisi relung hatinya, tapi wanita itu telah lama menghilang dari kehidupannya. Akankah dia menemukan wanita itu kembali? Apakah sosok Abigail ada kaitannya dengan wanita itu?
"Akan kuusahakan menyelesaikan kasus ini. Terlebih saat ini kondisi tuan Brady sudah membaik, hanya saja dia belum bisa diajak bicara," imbuh lelaki itu lagi.
"Benarkah? Jadi tamu hotel itu selamat?" Oricon mencari kebenaran disetiap ucapan pria paruh baya itu.
" Iya, aku senang mendengar itu, semoga saja orang itu bisa membantu kita,"
Oricon menggenggam tangan Abigail menguatkan gadis itu. Terlihat senyum kecil dari wajah wanita itu. Ada setitik harapan bagj Abigail agar bisa keluar dari permasalahannya.
Mia yang tidak sengaja lewat disana terkejut dengan kedatangan Mia dan Oricon.
"Abigail, kemana saja kau? Aku mencarimu kemana-mana?" Mia yang melihat Abigail dihadapannya sontak saja memeluk gadis itu.
Abigail paham sikap temannya itu dirinya memeluk dengan rasa sayang.
"A ... aku..." dirinya tidak sangggup menahan emosinya.
Namun, Oricon memberi kode agar dia tidak melanjutkan ucapannya supaya permasalahannya tidak menjadi melebar.
Abigail menahan ucapannya kemudian berpikir untuk melanjutkan mengalihkan pembicaraan.
"Aku selama ini bersama tuan Oricon,aku bekerja dengannya," pungkas gadlis itu.
Sejenak Abigail merenung. Dirinya bingung untuk bicara jujur pada Mia atau tidak? Karena saat diperjalanan tadi Oricon memintanya untuk tidak mengatakan apapun tentang mereka.
Mia menghela nafas berat dan menundukkan kepalanya merasa bingung.
Tiba-tiba ponsel Mia bergetar. Gadis itu melihat layar ponselnya ada satu notifikasi belum dibaca, dia segera membaca isi chat itu.
"Mia cepatlah aku menunggumu. Kita akan memberikan rekaman CCTV pada polisi untuk diselidiki,"
Setelah membaca pesan singkat dilayar ponselnya dirinya berpamitan untuk segera menemui Hary.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments