Mia saat itu sudah kehilangan akal mau mencari Abigail kemana? Bahkan sahabatnya itu belum menghubunginya sama sekali.
Tiba-tiba suara deringan ponselnya membuat dirinya tersadar dari lamunannya. Mia melihat siapa yang menelponnya semalam ini?
"Mia, ini aku Abigail,"
"Abi? Kau dimana kenapa kau tiba-tiba menghilang?"
"Maafkan aku Mia, malam itu ada seseorang yang membiusku di loker lalu membawaku pergi,"
"Apa? Jadi kau diculik? Katakan padaku kau sekarang dimana dan nomor siapa yang sedang kau pakai?" Mia mencecarnya dengan berbagai pertanyaan karena begitu mengkhawatirkan Abigail.
"Aku sedang berada di apartemen tuan Oricon. Aku diam-diam menggunakan ponselnya," jelas Mia sambil berbisik. Dia benar-benar takut jika Oricon mengetahui kalau dia sedang menghubungi seseorang.
Saat ini saja dirinya sedang bersembunyi dibawah meja yang berada di kamar Oricon. Gadis itu sengaja mengendap-endap masuk ke kamar Oricon untuk menghubungi Mia. Untung saja dia hafal nomor ponsel sahabatnya itu jadi dengan mudah dia bisa menghubungi Mia.
"Mengapa kau bisa berada disana? Jangan bilang kalau tuan muda Oricon menculikmu," Mia semakin yakin kalau Oricon menculik Abigail.
"Aku..."
Belum selesai Abigail melanjutkan ucapannya, tiba-tiba seseorang menyeretnya keluar dari bawah meja dan mengambil ponselnya lalu memutuskan pembicaraannya dengan Mia.
"Abigail ... Abigail kau masih disana?" suara Mia masih terdengar memanggil Abigail dari kejauhan.
Dengan kesal si pemilik ponsel langsung mematikan layar ponselnya. Dia benar-benar geram dengan perbuatan gadis muda itu.
"Kau! Beraninya kau menghubungi seseorang!" Oricon mencengkram lengan wanita muda itu sambil menatap tajam kepadanya.
"A ... aku hanya ingin keluar dari sini tuan, aku mohon biarkan aku pergi," Abigail meneteskan air mata. Suaranya bergetar menahan rasa takutnya. Dirinya merasa frustasi karena perbuatan Oricon.
"Kau dengarkan aku baik-baik, diluar sana anak buah Hany sedang mengincarmu jika kau berkeliaran di kota ini, anak buah Hany akan menangkapmu dan membawamu kembali padanya. Apa kau mau kembali ke tempat itu lagi?" jelas Oricon padanya.
Diam-diam selama ini Oricon menyuruh orangnya untuk mencari tahu siapa yang mengincar Abigail, oleh sebab itu dirinya menyuruh orang kepercayaannya untuk membawa Abigail kepadanya
Abigail tercengang dengan penjelasan Oricon. Dirinya tidak pernah menyangka hidupnya akan sesulit ini. Mengapa Hany masih saja mengincarnya?
"Jadi itu alasannya mengapa tuan tidak mengijinkanku untuk pergi dari sini dan tidak membolehkanku menghubungi siapapun?"
Oricon menganggukkan kepalanya. "Iya itu alasannya, kau ikuti saja perkataanku. Kau tinggal disini bersamaku," Oricon menggenggam tangan gadis itu sambil menatap ke dalam netra gadisnya.
"Tapi tuan, kau dan aku tidak mempunyai ikatan. Jika kita disini pasti akan jadi bahan gunjingan,"
Abigail menyadari posisinya saat ini. Dia bukan siapa-siapa Oricon bagaimana mungkin mereka tinggal satu atap tanpa ikatan?
"Kau tidak perlu khawatir, jika itu yang menjadi masalahnya bagaimana kalau kita menikah saja?" ucap Oricon dengan bersungguh-sungguh pada Abigail.
"Itu tidak mungkin tuan. Anda telah bertunangan, bagaimana mungkin anda menikah denganku?" Abigail merasa bingung dengan sikap pria yang ada dihadapannya.
"Kita bisa mengurus itu semua. Kita menikah secara siri saja, bagaimana menurutmu?" Oricon memberikan penawaran.
Abigail hanya terdiam, dia tak bisa memberikan jawaban. Disatu sisi dirinya merasa bahagia jika bisa menikah dengan seorang pengusaha ternama seperti Oricon, otomatis dirinya akan berubah menjadi kalangan atas.
Disisi lain dirinya juga tidak ingin dianggap menjadi pelakor karena telah merebut tunangan seseorang. Sungguh, saat ini pikirannya sangat kacau.
Abigail hanya memijat dahinya yang terasa sangat pusing. Ternyata Tuhan masih ingin menguji kesabarannya.
***
Mia bingung mengapa telponnya dan Abigail terputus begitu saja sebelum dirinya mendapat kejelasan dari Abigail. Anehnya lagi ketika dia menghubungi kembali nomor itu tidak bisa dihubungi.
"Mia," sapa seseorang dari luar.
Mia mencari sumber suara itu siapa?
"Pak Hary? Mia tersentak dari lamumannya.
"Ada apa Mia? Apa kau ada masalah?" selidik Harry padanya.
"Tidak pak," Mia mencoba mengelak.
"Temanmu itu masih belum ketemu?"
Mia hanya menggelengkan kepalanya.
Gadis itu bimbang untuk berterus terang atau tetap diam saja.
"Kalau begitu kita lapor polisi saja," ujar Hary.
"Ja ... jangan pak, " elaknya mengingat Abigail mengatakan bahwa dia berada di apartemen Oricon jelas saja Mia tidak ingin berurusan dengan polisi.
Disela-sela pembicaraan mereka, Hary memandang ke arah luar. Matanya tertuju pada ambulance yang sedang menuju ke stary hotel's.
"Mengapa ada ambulance disini? Apa ada yang sakit?" gumam Hary tapi masih bisa terdengar jelas oleh Mia.
Mendengar ucapan Hary, sontak saja Mia ikut memperhatikan arah pandang Hary.
"Ada apa pak?" tanyanya Heran.
"Baru saja ada ambulance datang, aku rasa ada salah satu pengunjung hotel kita yang sakit,"
Sakit? Mia teringat akan pengunjung hotel yang pernah diceritakan Abigail padanya.
"Mungkinkah orang itu?" Monolognya pada dirinya sendiri.
Hary yang merasa penasaran langsung keluar dari pantry dan menuju ke arah keramaian. Diikuti oleh Mia yang mengekorinya di belakang.
Rombongan para petugas kesehatan yang berada di ambulance itu menuju ke lantai sepuluh tepatnya ke kamar 303.
"Ada apa ini?" tanya Hary pada salah seorang karyawannya yang sedang membantu pengunjung kamar 303.
"Penghuni kamar ini tiba-tiba kritis pak," jelas si lelaki yang sedang membantu pria paruh baya itu untuk segera dibawa ke ambulance.
Situasi ditempat itu sangat berantakan. Terlihat kamarnya bak kapal pecah, sepertinya ada yang datang ke kamar itu dan telah terjadi keributan disana. Karena terlihat seisi kamar yang berantakan, botol obat juga tergeletak dilantai dan obatnya berserakan disana. Sedangkan si penghuni kamar terlihat pucat dan terdapat luka lebam didahi dan wajahnya. Terlebih lagi ada bekas guratan kuku yang berdarah di tembok kamar tersebut. Sungguh sangat misterius sekali.
"Apa yang terjadi padanya? Apa ada orang yang menyerangnya?" selidik Hary pada karyawannya.
"Saya tidak tahu pak, yang jelas saat saya membuka pintu kamarnya saya lihat dia sudah bersimbah darah dan dalam keadaan kritis," karyawan itu menjelaskan dengan perasaan takut.
Sedangkan Mia, hanya tertunduk tak berani menatap. Ternyata sikap Mia yang sedikit aneh itu terbaca oleh Hary.
"Mia, kenapa kau jadi gugup seperti itu? Apa kau baik-baik saja?"
"Hm ... i ...iya pak saya baik-baik saja," jawab gadis itu sekenanya dan masih saja menundukkan kepalanya.
Selain ambulance yang membawa petugas medis, polisi juga datang ke sana. Mereka memberikan garis pembatas untuk penyelidikan kasus.
"Selamat siang pak, apa anda bisa ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan mengenai kasus penghuni kamar 303?" Seorang polisi yang mengenakan pakaian seperti masayarakat pada umumnya menunjukkan tanda pengenalnya pada Hary.
"Saya? Ok tidak masalah," Hary mengikuti polisi itu menuju ke kantor polisi.
Sebagai warga negara yang baik, sudah seharusnya Hary menunjukkan sikap bekerjasamanya. Terlebih dirinya juga pengurus hotel, pastinya polisi akan melibatkannya.
"Pak saya boleh ikut?" pinta Mia pada kedua orang itu.
"Kenapa Mia, apa kamu mengetahui sesuatu?" heran Hary memperhatikan sikap Mia.
Buat apa gadis itu meminta ikut? Apa dia megenal pria paruh baya yang kini keadaannya kritis itu?
Mia tidak berani menajawab, dia hanya menganggukkan kepala.
"Baiklah bu, kalau begitu anda juga ikut bersama kami untuk memberikan keterangan," ajak polisi yang sedang bersama Hary.
Polisi itu mulai mencurigai Mia. Bisa saja Mia terlibat disana atau mungkin dia akan menjadi saksi kunci untuk kasus ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments