Javes masih larut dalam lamunannya mengenai Abigail, hingga suara seseorang memanggilnya sukses membuat dirinya terkejut.
"Tuan Javes, anda baik-baik saja?" Hary sedikit khawatir dengan Javes karena lelaki itu seperti tidak konsentrasi dengan percakapan Mereka.
"Ah, iya Hary. Maaf tadi aku memikirkan sesuatu. Bagaimana dengan Abigail tadi?" Javes mengulang pertanyaannya.
"Iya tuan, gadis itu sekarang menjadi tersangka karena bukti-bukti yang ditemukan polisi mengarah padanya. Namun sayangnya Abigail juga menghilang," jelas Hary sedikit frustasi.
Sedangkan Mia sendiri tampak bingung menghadapi situasi ini. Disatu sisi Abigail adalah sahabatnya yang ingin sekali dia jaga, disisi lain dirinya merasa sedikit takut untuk membela Abigail, dia takut jika saja kecurigaan polisi itu benar? Mia memejamkan matanya mencoba menenangkan dirinya sejenak. Rasanya ini seperti sebuah batu besar yang berada dipunggungnya dan dia harus membawa batu itu saat ini.
"Mia, apa ķau mempunyai foto Abigail? Aku ingin tahu tentang temanmu itu," Javes menatap lirih pada gadis muda yang bersama Hary.
Mia membuka tasnya kemudian mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Mia dilayar ponselnya. "Ini tuan foto Abigail,"
Javes memperhatikan dengan saksama foto gadis yang bernama Abigail dan tidak salah lagi, gadis itu adalah Abigail yang sama yang pernah bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Tidak disangka gadis yang dia perkirakan seumuran dengan putrinya itu akan dipertemukan kembali dengannya, tapi mengapa dalam keadaan yang tidak menyenangkan seperti ini? Andai saja mereka bertemu sebelum ada kejadian mengerikan ini, pasti dia akan merasa sangat senang.
"Gadis ini ... " lirih Javes menatap foto Abigail di ponsel.
"Apa tuan mengenalnya?" Mia merasa Javes ada sesuatu dibalik suara lirih Javes.
"Hm, aku pernah bertemu dengannya sekali tapi setelah itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi," pungkas lelaki paruh baya itu cepat.
Mia mengerti dari arah pembicaraan Javes, berarti Javes pernah bertemu Abigail saat dia masih bekerja dengan Hany.
"Tuan, aku mohon bantulah temanku. Dia bukan seorang pembunuh," Mia berlutut dihadapan Javes memohon untuk sahabatnya.
"Hei, apa yang kau lakukan? Berdirilah, kita akan pecahkan masalah ini bersama-sama. Jangan membuatku menjadi bersalah padamu nak," Javes mengangkat tubuh gadis yang tengah berlutut itu memintanya berdiri sejajar dengannya.
Dia menatap gurat kesedihan diwajah gadis itu, Javes sangat paham dengan yang dirasakan Mia tapi dia juga tidak bisa memutuskan semuanya begitu saja, hanya berharap lelaki yang terbaring di ICU itu segera sadar dari masa kritisnya.
***
Abigail dan Oricon sedang menikmati makan malam mereka, tiba-tiba saja mereka mendengar berita di televisi,
*Breaking News*
Selamat pagi pemirsa,
Seputar Info kembali hadir di sela-sela aktivitas Anda, bersama saya, Jehan Sandrina, yang akan memberikan berita-berita terbaru dan teraktual, 10 April 2023.
Pemirsa, telah terjadi kasus percobaan pembunuhan terhadap seorang tamu hotel bernama tuan Brady Tompson. Keterlibatan Abigail seorang karyawan hotel, dalam pembunuhan pengusaha ternama yang menginap dikamar 303. Diduga Abigail dengan sengaja memberikan anfetamin dengan dosis tinggi sehingga mengakibatkan pengusaha tersebut mengalami over dosis.
Motif dari pelaku wanita yang berusia delapan belas tahun, terungkap berdasarkan pemeriksaan sementara yang dilakukan pihak kepolisian tadi malam. Hingga saat ini pelaku belum bisa ditemukan karena telah menghilang. Kuat dugaan pelaku melarikan diri saat kejadian. Jehan Sandrina, dari Jakarta melaporkan.
DEG!!!
Berita yang baru saja didengar Abigail dan Oricon nyaris saja membuat jantung Abigail berhenti berdetak.
"Berita itu? Mengapa berita itu mengatakan aku pembunuh? Aku tidak melakukan apapun," Abigai merasa panik dan ketakutan.
"Tenanglah sayang, kau tidak perlu panik. Aku akan membantumu," Oricon menggenggam tangan Abigail untuk menenangkannya.
"Tapi tuan, anda lihat sendiri bagaimana para reporter itu menyudutkanku, cctv juga menunjukkan wajahku dengan jelas," Abigail merasa tak nyaman saat dalam berita tersebut wajahnya terlihat oleh cctv saat berada di kamar 303.
"Tapi itu benar kau yang berada disana bukan? Kau bekerja disanakan?" tanya Oricon kembali.
"Iya, rekaman cctv itu saat aku membantu tuan Brady yang dalam keadaan terkena serangan jantung dan aku membantunya untuk beristirahat di tempat tidur lalu memberikan obat yang dimintanya," imbuh gadis malang itu.
"Tapi mengapa polisi menyimpulkan kau tersangka yang membuat pria itu over dosis dan nyaris meninggal?"
"Aku tidak tahu, saat aku meninggalkan kamarnya dia baik-baik saja tapi entahlah yang terjadi selanjutnya aku tidak tahu, karena malam itu aku juga hilang kesadaran karena orangmu membekapku dengan bius,lalu membawaku kepadamu," ingat abigail kembali.
Benar sekali yang dikatakannya mana mungkin dalam waktu bersamaan saat dirinya diculik juga melakukan pembunuhan. Sungguh tak masuk akal.
Oricon mengernyitkan dahinya. Dia ikut penasaran dengan berita yang baru saja didengarnya. "Kau tenanglah aku janji akan segera mengusut kasus ini," tukas Oricon padanya.
Tidak berselang lama, Oricon memanggil Jacob. " Ya tuan muda, apa ada yang bisa ku bantu?" Jacob datang sembari membungkukkan tubuhnya dihadapan Oricon.
"Kau dengar berita barusan bukan? Aku ingin kau mencari tahu siapa dalang pembunuhan yang sebenarnya, jika menemukan orang itu bawa dia kehadapanku, biar aku yang mengahabisinya dihadapan Abigail," Oricon menggeram dirinya tidak main-main, dia sungguh ingin melenyapkan orang itu saat ini juga.
"Jangan tuan," cegah Abigail.
"Orang itu berani mengusikmu. Itu artinya dia akan berurusan denganku," desis Oricon yang wajahnya kini mengegang karena amarah.
"Jangan lakukan itu, cukup cari tahu siapa pelakunya tapi jangan lenyapkan dia. Jangan menambah kesalahan," pinta Abigail pada Jacob yang sedang bersiap mengikuti perintah tuannya.
"Baiklah, kalau begitu cari tahu orang itu Jacob," titah Oricon pada orang kepercayaannya itu.
Jacob segera menuruti perintah tuannya. Dirinya segera keluar dari ruangan setelah memberikan penghormatan pada Oricon dan Abigail, kemudian mengerahkan anggotanya untuk mencari tahu pelaku percobaan pembunuhan terhadap Brady Tompson.
"Aku sudah pernah katakan padamu Abi, tempat kota ini tidak aman untukmu, sekarang selain Hany dan komplotannya polisi juga mengincarmu. Ikutlah bersamaku, akan kipastikan kau akan aman bersamaku dan tidak akan ada yang mengusikmu lagi," Oricon menggenggam erat tangan gadis muda itu lalu menatap dalam netra mata kecokalatan gadis itu untuk memberikan keyakinan padanya.
"A ... aku tidak tahu harus bagaimana tuan, aku sangat bingung. Disatu sisi aku masih mempunyai keinginan untuk menetap disini karena aku ingin mencari tahu keberadaan orang tuaku tapi disisi lain aku merasa tidak aman," lenguh gadis muda itu padanya.
Gadis itu menghembuskan nafas berat sambil menatap jauh kedepan. Berat! Memang sangat berat cobaan hidup yang didapatkannya setelah lepas dari sang mucikari malah sekarang terkena masalah pembunuhan.
"Terkadang aku merasa mengapa aku harus dilahirkan ke dunia ini? Apakah aku ini satu kesalahan?" keluh gadis itu, ada buliran bening yang mengalir disudut matanya.
"Kenapa kau mengatakan hal itu? Kau bukan suatu kesalahan, kau adalah yang terbaik," Oricon meraih tubuh mungil gadis itu dan memeluknya dengan erat.
"Kadang aku merasa aku tidak pernah diharapkan, orang tuaku saja membuangku dan sekarang masayarakat juga menuduhku dengan sangat kejam," Abigail menunduk dan membenamkan wajahnya ke dada bidang Oricon. Dirinya begitu terluka saat ini.
"Tenanglah sayang, kau adalah wanita yang kuat percayalah padaku kau sangat berharga dan aku akan membuktikan pada mereka semua kau tidak bersalah," bujuk Oricon sambil merangkup wajah mungil Abigail.
"Aku sangat takut tuan, aku tidak melakukan apapun pada tuan Brady. A ... aku hanya membantunya. Percalah tuan," tutur gadis itu dengan frustasi. Dirinya mencoba mencari pembenaran.
"Aku percaya, sangat percaya padamu dan aku akan selidiki kasus ini sampai tuntas. Kita akan menyelesaikannya dengan caraku," tandas lelaki itu sambil menatap lekat wajah sendu milik Abigail.
Baginya saat ini Abigail adalah dunianya. Semua yang dilakukannya adalah demi kebahagiaan Abigail karena dia sangat menyayangi Abigail.
Abigail masih saja ketakutan karena selama ini dia tidak pernah berurusan dengan polisi, ini sangat rumit baginya.
"Aku akan mencari tahu pemilik hotel tempatmu bekerja dulu dan aku akan bernegosiasi dengan orang itu," tukas Oricon. Dirinya mengusap puncak kepala gadisnya memberikan kenyamanan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments