Pagi itu Oricon telah menunjukkan perkembangannya yang semakin membaik, dirinya sudah terlihat lebih bugar dari sebelumnya.
"Tuan, hari ini anda sudah bisa pulang tapi anda harus tetap berhati-hati. Anda tidak boleh terlalu banyak bergerak agar jahitan dilengan anda tidak terlepas," perawat yang baru saja memeriksa kesehatan Oricon memberikan peringatan padanya.
Oricon hanya tersenyum mengerti dengan penjelasan sang perawat.
"Bagaimana tuan Oricon? Apa anda sudah merasa lebih baik?" sapa dokter yang baru saja memasuki ruang rawat Oricon.
"Ya seperti yang anda lihat dokter," Oricon tersenyum melihat ke arah dokter.
Mata lelaki muda itu melihat ke sekeliling ruangannya hanya ada keluarganya, Emliy dan juga kedua orang tuanya.
"Kemana gadis itu?" Oricon mencari keberadaan Abigail yang sedari tadi tidak terlihat.
"Putraku, akhirnya kau diperbolehkan pulang. Momy bisa bernafas lega," Adriana begitu bahagia ketika melihat anaknya baik-baik saja dan memeluk putra kesayangannya dengan erat.
Ups, sepertinya dia lupa bahwa anak kesayangannya itu masih dalam tahap pemulihan.
"Awww, pelan-pelan mom. Ini masih terasa sakit," ringis Oricon sambil memejamkan mata menahan kesakitannya.
"Oh, maaf sayang. Momy terlalu bahagia hingga lupa jika lukamu belum sembuh," Adriana menunjukkan wajah menyesal sambil mengusap kepala sang putra.
Oricon hanya memutar bola matanya malas karena menurutnya sikap momynya itu terkesan berlebihan.
Emilio membantu sang anak untuk duduk di kursi roda, karena saat ini Oricon memang tidak boleh banyak bergerak jadi dokter menyarankannya untuk menggunankan kursi roda.
Emily mebgikuti langkah mereka untuk mengantarkan Oricon ke dalam mobil. Dan sampai di dalam mobil Oricon masih belum melihat keberadaan Abigail.
"Ada apa sayang? Kau melupakan sesuatu?" tanya Emily yang sedari tadi memperhatikan wajah kekasihnya yang resah.
"Dimana gadis itu? Mengapa aku tidak melihatnya dari tadi?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari mulut Oricon.
"Apa? Astaga sayang, apa kau tidak melihat ada aku disini yang selalu menjagamu sejak tadi malam dan sekarang kau malah menanyakan gadis lain dihadapanku?"
Memang benar Emily menjaganya semalaman. Bahkan gadis itu sampai tertidur disisi brankan kekasihnya demi mengharapkan ketika pagi menjelang, dia akan mendapati kekasihnya sudah dalam keadaan pulih.
"Maaf, aku hanya ingin tahu kemana dia pergi. Karena seingatku dia masih bersama kita tadi malam," tukas lelaki itu dengan wajah bersalah.
Dia tahu kekasihnya sangat tidak menyukai pertanyaan bodohnya tadi.
"Aku sudah menyuruh gadis itu dan temannya pergi," ucap Emily dengan wajah datar.
"Apa? Kau mengusirnya?"
"Aku hanya menyuruhnya pergi, karena tidak ada gunanya dia bersama kita. Gadis itu hanya membawa sial untukmu," Emily menunjukkan wajah tak senangnya pada Oricon.
"Namanya Abigail, itu artinya kau mengusirnya Emily?" tegas Oricon.
"Aku tidak perduli siapa namanya, aku hanya tidak ingin dia merusak hubungan kita. Kau tahu gara-gara dia pertunanganku denganmu jadi tertunda, apa kau tidak berpikir bagaimana para relasi bisnis orang tua kita akan menertawakan kita?" cicit Emily merasa kesal dengan sikap Oricon yang hanya mementingkan gadis yang baru saja dikenalnya.
Oricon hanya menghembuskan nafas kasar. Dirinya menyadari telah berbuat salah dan dia sangat menyesal, namun bukan karena pertunangan yang tertunda yang membuatnya menyesali keadaannya tapi karena Abigail menghilang.
Entah bagaimana dia harus mencari gadis itu lagi.
Merasa kesal, Oricon hanya diam tak mau bertanya lagi. Tidak beberapa lama kemudian, dia memperhatikan wanita yang berada didekatnya tertidur karena kelelahan menjaganya. Dimobil itu hanya ada dirinya, Emily dan sang supir sementara yang lainnya mengikuti dimobil belakang.
Melihat keadaan mulai aman, Oricon mengambil ponsel dari sakunya. Dirinya masih ingat bahwa setelah melewati malam itu bersama Abigail dia sempat bertukar kontak dengan gadis itu, segera dia mencari kontak Abigail tapi sepertinya dia kehilangan kontak gadis itu.
Mungkinkah Emily yang menghapusnya? Bagaimana mungkin bisa hilang begitu saja?, kalau sudah begini sama saja artinya dia akan kehilangan Abigail.
***
Abigail dan Mia telah sampai di sebuah rumah kontrakan kecil. Ya, itu adalah rumah kontrakan Mia. Gadis yang bekerja disebuah restoran mewah itu bertempat tinggal di sebuah kontrakan kecil yang hanya memiliki satu kamar dan satu dapur kecil, tidak mengapa, untuk tempat tinggal seorang gadis sepertinya itu sudah cukup baik.
"Masuklah Abigail, aku hanya memiliki kontrakan kecil ini saja sebagai tempat tinggal kita," Mia mempersilakan Abigail untuk masuk ke dalam gubuk kecilnya.
Apalagi cuaca sedang dalam keadaan hujan lebat, pasti akan terasa sangat dingin jika mereka masih berada diluar.
"Terimakasih Mia, kau sudah banyak membantuku," Abigail masuk kedalam rumah kecil itu kemudian menaruh barang-barang yang dibawanya kesudut ruangan.
"Maaf rumahku sempit mungkin kau akan merasa tak nyaman," ujar Mia merendah sambil membawakan dua cangkir teh hangat untuk mereka berdua.
"Tidak mengapa Mia. Begini saja sudah lebih baik. Seharusnya aku berterimakasih padamu, kau sudah menyelamatkan nyawaku dan juga hidupku,"
"Jangan berkata seperti itu Abigail, kita ini sudah seperti saudara dan sudah selayaknya aku melakukan semua itu padamu. Jangan lupakan semua ini bisa kita lewati karena bantuan tuan muda," Mia mengingatkan kembali sahabatnya itu.
"Kau benar, padahal aku sangat ingin sekali melepasnya untuk keluar dari rumah sakit, tapi keluarganya tidak menyukaiku ditambah lagi kekasihnya yang terlihat begitu ingin menghabisiku," Abigail menyeruput minumannya sambil mengingat kembali perlakuan keluarga Oricon dan Emily yang begitu menolaknya.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Orang kaya memang selalu seperti itu. Apalah artinya kita yang hanya remahan rempeyek dimata mereka?"
Kata-kata yang baru saja diucapkan Mia itu benar, hanya saja itu benar-benar sangat menggelitik bagi Abigail. Gadis muda itu terbahak mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Oh ya Mia, bagaimana dengan pekerjaanmu? Bukankah menejer Grace marah besar padamu karena insiden kemarin?"
Abigail teringat akan pekerjaan Mia. Bisa-bisa gadis itu dipecat karena dirinya. Dia masih mengingat bagaimana menrjer Gracia mengancam Mia saat berada di koridor rumah sakit.
"Sudahlah kau tidak perlu memikirkan itu. Aku akan mencari pekerjaan lain dan aku tidak akan kembali ke tempat itu lagi," ucap Mia dengan penuh keyakinan.
"Mengapa kau berkata seperti itu? Bukankah kau membutuhkan pekerjaan itu, kau membutuhkan uang demi pengobatan ibumu bukan?"
"Ya benar yang kau katakan, tapi aku sudah tidak tahan dengan semua hinaan perawan tua itu. Dia selalu saja mengancamku dengan memotong gaji atau memecatku, aku lelah diremehkan setiap waktu," jelas Mia mengungkapkan kekesalannya yang terpendam selama ini.
"Jadi menejer Grace belum menikah?" celetuk Abigail mencairkan suasana.
"Hm, begitulah. Apa kau tidak melihat bagaimana dia merayu tuan Oricon saat di rumah sakit?"
Abigail dan Mia tertawa renyah mengingat bagaimana menejer Gracia mencari perhatian dari Oricon dan perawat pria di rumah sakit. Benar-benar seperti wanita penggoda yang haus kasih sayang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments