Jackob menyusuri jalanan kota besar bersama dua temannya. Dirinya menanyakan keberadaan Abigail dengan menunjukkan foto gadis itu pada orang-orang yang sekiranya pernah melihat Abigail, tapi tidak satupun dari mereka yang mengetahui atau pernah bertemu Abigail.
"Kemana lagi kita harus mencari gadis itu?" Jackob cukup kelelahan untuk mencari tahu keberadaan Abigail.
"Kita cari saja dulu, mungkin kita akan menemukan dia. Lagi pula tuan muda pasti akan marah jika kita kembali tanpa membawa gadis itu kembali,"
"Abigail antarkan makanan ini ke kamar 303 ya, costumer telah menunggu," ujar seorang kepala pelayan di hotel itu menunjukkan makanan yang telah dipesan pada Abigail.
Selain bekerja sebagai waiters di restoran, Abigail juga bekerja sebagai room service di hotel besar yang saat ini dirinya berada disana.
"Baik nyonya, saya akan mengantarkannya segera," dengan lincah jari jemari Abigail meletakkan makanan dan minuman yang telah diorder ke atas nampan lalu menaruhnya ke atas troli untuk segera diantarkan ke kamar yang telah dijelaskan oleh kepala pelayan padanya.
Abigail mendorong troli itu menuju lift untuk mempermudah dirinya mengantarkan makanan ke kamar tujuan, dan sesampainya di kamar tersebut Abigail memencet bel pada kamar itu.
"Room service," ucap Abigail kepada penghuni kamar.
Abigail mengulangi panggilan kepada penghuni kamar, mungkin saja penghuninya namun belum ada jawaban dan saat panggilan ketiga seseorang muncul dari balik pintu kamar hotel.
Wajah lelaki itu menyembul dari balik pintu kamar untuk melihat siapa yang datang.
"Service room tuan saya mengantarkan makanan pesanan anda," jelas Abigail pada orang itu, tapi Abigail sedikit terperanjat saat melihatnya. Wajah lelaki itu terlihat pucat seperti sedang sakit, mungkin lelaki itu kurang sehat.
"Masuklah, letakkan saja pesananku di atas meja itu," ucap lelaki itu dingin pada Abigail.
Lelaki itu tampak sedikit gelisah sepertinya dia sedang menunggu seseorang, karena sedari tadi dirinya sibuk memainkan ponselnya.
"Tuan, makanannya sudah saya taruh di meja, apa anda membutuhkan sesuatu?" Abigail mencoba memberikan pelayanan terbaik untuk costumernya.
"Tidak, terimakasih. Kau boleh pergi," pinta lelaki paruh baya itu padanya.
Abigail menundukkan kepalanya memberikan hormat dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar itu, tapi baru saja kaki Abigail menuju ke arah pintu, terdengar suara hempasan yang cukup keras.
BRAK!!!
Abigail cukup terkejut mendengar suara itu, dirinya menole ke belakang mencari sumber suara tadi dan seketika Abigail membelalakkan matanya saat melihat penghuni kamar itu terjatuh tepat dibawah kaki meja. Terlihat sudut kepala lelaki itu mengeluarkan darah, sepertinya kepala lelaki itu terbentur meja saat dia jatuh.
"Tu ... tuan, apa anda baik-baik saja?" Abigail menghampiri lelaki paruh baya itu mencoba untuk menolongnya.
Lelaki itu berusaha mengatur nafasnya yang tersengal, tangannya meremas dadanya dengan begitu kuat merintih kesakitan.
"Tuan, katakan padaku apa yang bisa saya bantu?" Abigail cukup panik melihat cotumernya yang mulai berkeringat dan sesak nafas.
Apa yang terjadi pada lelaki itu? Apa dia sakit?
"To ... tolong ... am ... ambilkan botol obatku," pinta lelaki itu pada Abigail.
"Dimana tuan? Dimana anda meletakkan obat anda?" Mata gadis muda itu menyusuri sisi kamar mencari obat yang dimaksud oleh lelaki paruh baya yang seumuran dengan ayahnya.
Lelaki itu hanya menunujuk ke arah nakasnya. Abigail mengikuti arah tangan si pria dan benar saja, disana ada sebuah botol obat. Mungkin itu obatnya, Abigail bergegas menuju nakas dan mengambil botol obat itu lalu membukakan tutup botol obatnya.
"Ini tuan, minumlah obat anda," Abigail menggenggam tangan pria itu kemudian memberikan obatnya. Pria itu langsung meminum obatnya. Abigail juga memberikan air mineral agar pria itu tidak kesulitan meminum obatnya.
Setelah meminum obatnya lelaki itu menghela nafas panjang, nyaris saja dia kehilangan nyawanya saat itu juga jika Abigail tidak segera membantunya. Dan untungnya Abigail datang tepat pada waktunya.
Perlahan lelaki itu menyandarkan tubuh ringkihnya ke kaki meja untuk menenangkan diri. Matanya dipejamkan sesaat kemudian dibuka kembali untuk merasakan ketenangan.
"Tuan, apa saya harus memanggilkan dokter untuk anda?" tanya Abigail merasa khawatir padanya.
"Tidak perlu, kau bantu aku berdiri aku ingin beristirahat di tempat tidur," titah lelaki itu dengan nada dingin.
Pria macam apa dia? Sudah dibantu tidak berterimakasih sama sekali malah bersikap dingin seperti itu. Tidak tahu balas budi sekali dia.
Meskipun sedikit kesal dengan sikap lelaki itu padanya, sebagai karyawan yang baik dan ingin menunjukkan loyalitasnya dalam pekerjaan, Abigail tetap membantu lelaki itu. Dia mengambil lengan lelaki itu dan meletakkannya ke bahunya, perlahan dirinya memapah pria itu dan membantunya duduk ditempat tidur.
Abigail merapikan bantal dan memberikan sandaran untuk tubuh pria itu.
"Tuan, apa anda membutuhkan sesuatu?"
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya dan menyandarkan tubuhnya ke sisi tempat tidur.
"Tuan, anda yakin tidak butuh dokter? Bagaimana kalau anda sakit lagi?" Abigail merasa khawatir melihat keadaan lelaki itu.
"Tidak usah, ini sudah biasa terjadi. Bagi lelaki tua sepertiku sakit seperti ini sudah sering kualami," jelasnya dengan suara berat yang terdengar lirih.
"Apa anda ke sini sendirian saja? Keluarga anda tidak bersama anda?" tanya Abigail merasa iba pada lelaki paruh baya itu.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Baiklah tuan,saya akan melanjutkan pekerjaan saya, apa anda masih membutuhkan sesuatu?" tanya Abigail dengan sikap ramahnya.
"Tidak, nanti jika aku membutuhkan sesuatu aku akan panggil melalui telpon saja," tukas lelali itu.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," Abigail melangkahkan kakinya keluar kamar.
"Terimakasih atas bantuanmu, jika kau tidak ada disini tadi, mungkin aku sudah tidak terselamatkan, " pungkas lelaki itu.
Dirinya baru teringat bahwa Abigail telah menyelamatkannya dari kematian tadi. Dia telah berhutang nyawa pada gadis muda itu.
Abigail membalikkan tubuhnya menatap pria paruh baya itu sambil tersenyum dan pria itu membalas senyumannya sebagai ucapan terimakasih. Kemudian Abigail keluar dari kamar itu dan segera kembali bekerja.
"Dari mana saja? Kenapa kau baru terlihat Abi?" Mia sedari tadi mencarinya di pantry karena tidak melihat sosok temannya.
"Maaf, tadi aku harus membantu seseorang dulu," jelas Abigail sambil merapikan piring dan gelas yang dibawanya dengan troli dari kamar pengunjung hotel.
"Siapa? Apa ada masalah?" tanya Mia penasaran.
"Tidak Mia, tadi aku hanya mengantarkan makanan untuk penghuni kamar 303 tapi dia mendadak terkena serangan jantung," jelas Abigail pada sahabatnya.
"Apa kau sudah menghubungi security?"
"Tidak, aku hanya memberikan obat lalu membantunya beristirahat di tempat tidur,"
"Tapi benara tidak ada masalahkan?" Mia mulai khwatir.
"Hm, tidak ada masalah mia. Jangan khawatir. Semua baik-baik saja," abigail tersenyum menenangkan Mia.
Abigail cukup paham dengan kekhawatiran sahabatnya itu. Semenjak kejadian penculikan waktu itu Mia terkesan paranoid menjaga Abigail. Dia tidak ingin Abigail terkena masalah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments