Para keluarga di acara pertunangan telah hadir, Emily merasa sangat bahagia dan begitu antusias karena harapannya untuk bersama Oricon akan segera terwujud.
Setelah begitu lama menunggu, Oricon belum juga muncul dihadapan mereka.
"Dimana anak itu? Mengapa sudah selama ini dia belum juga datang?" Emilio mulai gelisah karena sang anak belum menampakkan dirinya.
"Sebentar, biar aku hubungi dia dulu," tukas Adriana sambil menghubungi nomor ponsel sang anak.
Beberapa kali dirinya menghubungi ponsel anak lelakinya, tidak ada jawaban sama sekali.
"Bagaimana nyonya? Hari waktu baik akan segera berlalu jika mempelai pria tidak hadir pertunangannya tidak bisa dilanjutkan," tukas pemandu acara kepada Adriana.
"Tuan Emilio, apakah anak anda berniat serius atau tidak untuk menikahi anakku? Aku tidak ingin anakku dipermalukan karena perbuatan anakmu," desak Edison yang mulai jengah karena lama menunggu.
"Sabar tuan, tolong tunggu sebentar kami sedang berusaha menghubunginya," jelas Emilio mencoba menenangkan calon besannya dan para tamu undangan yang mulai gusar.
Sementara itu menejer restoran, yang menyelenggarakan acara juga mencari keberadaan Mia yang sedari tadi tidak kelihatan.
"Dimana anak itu? Selalu saja membuat masalah, awas saja kalau aku bertemu dengannya akan aku potong gajinya!" Gerutunya sambil menelusuri tiap sisi restorannya untuk menemukan keberadaan Mia.
"Hei kau, coba kau hubungi Mia dan suruh gadis itu segera kembali ke sini," titahnya pada salah seorang karyawannya.
Orang itu segera mengikuti perintah sang menejer. Dirinya segera menghubungi Mia.
"Mia, kau dimana? Bu menejer dari tadi mencarimu,"
"Andrea, a ... aku, aku sedang berada di kantor polisi,"
"Hah? Kantor polisi, apa kau terkena masalah?"
"Nanti saja aku ceritakan cepatlah datang dan bantu aku keluar dari sini, jangan lupa katakan pada bu menejer bahwa tuan Oricon tertembak dan dia sedang berada dirumah sakit," pinta Mia yang panik.
"Apa?! Tuan Oricon tertembak?"
"Baiklah. Aku akan segera ke sana,"
Pembicaraan merekapun berakhir setelah gadis yang bernama Andrea itu mengakhiri pembicaraan mereka.
Mendengarkan nama sang anak disebut dengan jelas dan dengan keadaan tertembak, Adriana menjadi panik.
"Oricon? Oricon tertembak?" Adriana histeris mendengarkan pembicaraan pelayan restoran yang secara tak sengaja didengarnya barusan. Dirinya bergegas menghampiri suaminya untuk memberitahukan keadaan putranya.
"Bagaimana? Apa kau bisa menghubungi gadis itu?" tanya menejer itu sedikit kesal pada karyawannya.
"Iya nyonya aku sudah menghubunginya. Mia berada di kantor polisi dan dia juga bilang tuan Oricon tertembak," jelas Andrea dengan terbata-bata.
"Apa hubungannya Mia di kantor polisi dengan tuan muda yang tertembak?" tanya menejer itu sambil mengernyitkan dahinya.
"Entahlah nyonya, aku juga tidak tahu. Sebaiknya kita segera menemui Mia ke kantor polisi untuk mendapatkan penjelasan darinya,"
Menejer itu menganggukkan kepalanya dan menjelaskan apa yang telah terjadi pada keluarga Oricon dan keluarga Emily yang berada disana, kemudian menuju ke kantor polisi.
"Kami ikut denganmu. Aku juga ingin mengetahui keadaan anakku," tukas Emilio pada menejer itu.
"Baik tuan. Ayo kita akan berangkat bersama-sama," ajak wanita paruh baya itu pada Emilio.
***
Derap langkah kaki beberapa orang kini tengah memasuki kantor polisi. Dari kejauhan Mia dan Abigail yang sedang berdiri bersama para gadis muda didekatnya menatap kehadiran menejernya dan beberapa orang yang bersamanya.
Melihat Mia yang berdiri bersama para gadis disana. Sang menejer langsung meluapkan emosinya.
"Kau!!! Mengapa kau berada disini? Apa kau tertangkap karena berbuat asusila?" tuduhnya pada Mia sambil melihat para gadis yang berada didekatnya.
Menejer itu mengira Mia tertangkap karena terjerat jaringan prostitusi.
"Sabar nyonya Grace, karyawan anda ini baru saja menyelamatkan para gadis ini dari sindikat penjual anak dibawah umur," jelas salah seorang polisi pada menejer yang bernama Gracia itu.
"Apa maksud anda?" tanya wanita itu merasa bingung.
"Begini nyonya, karyawan anda itu mencoba menyelamatkan temannya yang terjebak dalam kerusuhan antar geng dan secara bersamaan gadis muda itu diculik oleh komplotan gengster itu untuk dijual ke luar negeri bersama para gadis-gadis ini,"
"Lantas apa hubungannya dengan Oricon putraku?" tanya Adriana dengan wajah khawatirnya.
Dirinya benar-benar sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada putra kesayangannya.
"Tu ... tuan Oricon tadi membantu saya menyelamatkan Abigail, tapi salah satu anggota gengster itu menembaknya," jelas Mia dengan penuh ketakutan.
Dirinya sangat memahami posisinya saat ini. Pasti dia akan mendapatkan masalah besar, karena dia tidak hanya menggagalkan pertunangan Oricon tapi juga membuat Oricon dalam keadaan bahaya.
"Kau, jika terjadi sesuatu pada anakku aku tidak akan mengampunimu !!!" Tunjuk Emilio dengan penuh emosi pada wajah Mia.
"Ma ... maafkan aku tuan. Ini semua salahku. Seharusnya a ... aku tidak melibatkan putra anda. Ta ... tadinya aku hanya ingin meminta bantuan dari Mia ta... tapi..." Abigail mencoba membela sahabatnya dengan memberikan penjelasan tapi dirinya begitu ketakutan saat melihat beberapa orang penting yang berada dihadapannya.
"Dasar gadis bodoh, karena kau pertunanganku jadi berantakan!" Emily meluapkan kekesalannya sambil mencengkram lengan Abigail. Sedangkan Abigail hanya meringis kesakitan.
"Sudahlah nak, kita tidak perlu mengotori tangan kita demi orang-orang seperti mereka. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Oricon," Edison mencoba menengahi Emily dan Abigail untuk menetralisir keadaan.
Gadis itu menghempaskan cengkramannya dari Abigail sambil menatap tajam padanya.
"Awas kau! Kalau terjadi sesuatu pada kekasihku, aku akan buat perhitungan padamu!" Emily masih meluapkan emosinya pada Abigail dengan sikap angkuhnya.
Namun, sang ayah dengan sigap menarik lengan sang anak untuk keluar dari tempat itu agar tidak terjadi keributan.
"Nyonya, karyawan anda sudah menandatangani berkas berita acara ini dan dirinya sudah bisa kembali bersama anda," seorang polisi tengah menyelesaikan urusan administrasinya bersama Mia dan Abigail. Polisi muda itu telah menuangkan semua keterangan mereka kedalam ketikannya dan memperlihatkannya kepada Gracia sebagai bukti bahwa Mia telah melakukan penyelamatan hari itu.
"Terimakasih pak polisi atas bantuan anda, baiklah kalau begitu kami permisj dulu," wanita itu berpamitan untuk segera pergi dari ruang introgasi.
"Urusanmi denganku belum selesai. Kita akan bicarakan ini nanti, setelah melihat keadaan tuan muda. Awas saja jika terjadi sesuatu pada tuan muda, kau tahu akibatnya bukan?" ancamnya pada Mia.
Mia hanya menghembuskan nafas berat dan mengikut saja.
Dia tahu persis, menejernya itu memang tidak pernah mau mendengarkan alasan apapun. Meskipun itu bukam sepenuhnya kesalahannya, dirinya tidak diberikan kesempatan untuk membela diri sedikitpun.
"Maafkan aku Mia," lirih Abigail dengan suara berbisik pada sahabatnya yang batu saja menyelamatkannya.
Mia hanya tersenyum sambil menggenggam tangan Abigail. Seolah menyatakan semuanya akan baik-baik saja.
Mia tidak memperdulikan akan kemarahan menejernya itu, karena itu sudah hal yang biasa baginya. Paling-paling kalau dia dianggap salah pasti akan dipecat dan dirinya sudah siap dengan kondisi terburuk itu.
Sementara itu Andrea yang bersama mereka juga mencoba menguatkan Mia dengan merangkul Mia.
"Percayalah semua akan baik-baik saja. Tuan muda pasti akan membantumu," imbuh gadis muda itu padanya.
Mia hanya menganggukkan kepalanya memahami ucapan temannya itu.
"Hei! Mai berapa lama lagi kalian di sini? Ayo cepat ikut denganku!" titah Gracia yang membalikkan tubuhnya ke arah mereka yang masih berada dibelakangnya.
Dirinya cukup kesal dengan apa yang telah terjadi hari ini. Gracia takut, jika kejadian hari ini akan mempengaruhi bisnisnya. Secara, Mia yang merupakan karyawannya itu baru saja membuat masalah dengan keluarga pengusaha terkenal di kota itu.
***
Sementara itu Hany baru saja sampai dirumahnya. Dirinya msndapati rumahnya yang masih tertutupi oleh kain gorden.
"Kemana gadis itu? Jam segini apa dia belum bangun juga?" Gerutunya sambil membuka gorden rumahnya.
"Ada apa sayang? Mengapa wajahmu terlihat begitu kesal?" tanya Diego yang memperhatikan wanita itu semenjak memasuki rumah.
"Kau lihat, gadis itu masih tidur juga. Inikan sudah mau siang," jelasnya pada lelaki yang berdiri didekatnya.
"Coba ketuk saja pintu kamarnya. Mungkin dia ketiduran,"
Dengan kesal dan geram Hany menggedor pintu kamar Abigail yang masih tertutup rapat. Dirinya mengira gadis pemalas itu masih tidur didalam kamarnya.
"Dasar pemalas! Dia mau tidur berapa lama lagi? Akan ku siram wajahnya jika dia tidak bangun juga!" Sungut wanita paruh baya itu sambil membuka pintu kamar Abigail.
Tidak dikunci? Apa yang sedang dilakukan gadis itu? Hany dan Diego segera memasuki kamar itu dan betapa terkejutnya mereka mendapati Abigail telah menghilang. Barang-barangnya juga sudah tidak ada disana.
"Kurang ajar!!! Dia kabur dari sini? Awas kau Abigail aku tidak akan mengampunimu!" emosi Hany meledak-ledak melihat pionnya yang menghilang.
"Kemana gadis tengil itu?" Gerutu Diego sambil mencari Abigail ke seluruh ruangan dirumah itu, namun dia tidak mendapatkan jejak gadis itu.
"Aku sudah mencarinya disekeliling rumah ini, tapi aku tidak menemukannya."
"Cepat suruh anak buahmu mencarinya sekarang juga! Aku mau anak itu segera kembali!!!" titah Hany dengan penuh kemurkaan.
Diego segera menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan Abigail.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments