Setibanya dirumah sakit, para keluarga melihat dokter yang baru saja menangani Oricon. Mereka segera menghampirinya.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" Adriana begitu mengkhawatirkan putranya.
"Apa anda semua ini keluarga dari pasien?" tanya dokter memperhatikan mereka.
"Iya dok, kami keluarganya," sahut mereka bersamaan.
"Baiklah, pasien sudah melewati masa kritisnya dan peluru yang bersarang dibagian tubuh yang kena tembakan juga telah dikeluarkan," jelas dokter.
Terlihat wajah mereka yang tadinya khawatir mulai lega karena mengetahui Oricon baik-baik saja.
"Apa kami boleh melihatnya dok?" tanya Emilio yang sangat khawatir dengan putra kesayangannya.
"Silahkan, tapi pasien jangan banyak bergerak dulu agar luka yang baru dijahit tidak terlepas," pinta dokter pada mereka.
"Baiklah dok, " mereka memahami maksud dokter tersebut.
Kemudian mereka segera masuk ke ruang rawat Oricon, begitu juga menejer Gracia, namun saat Mia dan Abigail akan memasuki ruangan itu tiba-tiba saja Gracia menghadang mereka.
"Mau apa kalian?" tanyanya dengan wajah angkuhnya.
"Kami juga ingin melihat keadaan tuan muda," jelas Mia sambil melihat ke dalam ruangan tersebut.
"Hah, kalian pikir kalian itu siapa? Siapa yang mengijinkan kalian masuk, hm?" cemooh Gracia sambil memutar bola matanya.
Dirinya merasa Mia dan Abigail hanya orang rendahan yang tak pantas melihat Oricon. Dimatanya mereka cuma sampah yang tak berharga.
"Tapi nyonya, tuan Oricon telah membantu kami. Kami hanya ingin mengucapkan terimakasih padanya," sela Abigail pada menejer sombong itu.
"Hei kau anak kecil, jangan mengaturku. Kau dan temanmu ini hanya pembuat masalah jadi sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum tuan muda memarahi kalian," usirnya pada dua gadis belia tersebut.
Kedua gadis itu terdiam, ucapan Menejer restoran itu benar-benar menusuk jantung, dia terlalu meremehkan Mia dan Abigail. Merasa tidak ingin memperpanjang masalah, kedua gadis itu segera membalikkan tubuh untuk pergi dari ruangan, namun Oricon yang menoleh ke arah mereka dan melihat keberadaan Abigail langsung saja memanggilnya.
"Abigail," panggilnya dengan suara lirih menahan sakit.
Abigail dan Mia memutar tubuh mereka menoleh ke arah Oricon.
"Tuan muda, saya baru saja mengusir para pengganggu ini. Mereka seharusnya tak ada disini," ucap Gracia dengan nada genit pada Oricon.
Dasar penjilat, wanita paruh baya itu memang selalu bersikap merayu pada keluarga Oricon. Terlebih pada Oricon yang tampan, dalam keadaan sakitpun dia masih memperlihatkan wajahnya yang tampan.
Oricon hanya memandang malas pada wanita paruh baya itu. Pandangannya masih tertuju pada Abigail.
Emily yang memperhatikan Oricon, langsung menggenggam tangan Oricon tak ingin lelaki itu direbut oleh siapapun.
"Sayang, wanita itu hanya pembuat masalah sebaiknya biarkan saja dia pergi dari sini," hasutnya pada Oricon.
"Abigail kemarilah," Oricon tidak memperdulikan ucapan kekasihnya.
Dipikirannya saat ini adalah keadaan Abigail. Dia tak ingin wanita itu terluka padahal dirinya sendiri dalam keadaan lemah terbaring diruang pesakitan.
Seluruh mata memandang remeh pada Abigail, mereka bertanya-tanya dalam hati siapa gadis itu mengapa dia begitu penting bagi Oricon?
Dengan langkah ragu-ragu Abigail memasuki ruang rawat Oricon, dirinya menggenggam tangan Mia mengisyaratkan agar gadis itu menemaninya.
"Iya tuan muda, apa kau baik-baik saja?" tanya gadis belia itu dengan suara pelan. Dirinya takut kalau saja salah satu diantara keluarga yang berkumpul disana akan memarahinya karena tak menyukiai kehadirannya.
"Aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana? Apa ada yang terluka?" tanya Oricon sambil memperhatikan sekujur tubuh gadis itu. Dia khawatir sesuatu hal buruk terjadi pada gadisnya.
Abigail hanya menggelengkan kepala.
"Dan kau Mia? Kau baik-baik sajakan?" Oricon menatap pada Mia yang berada disisi Abigail.
"Aku baik-baik saja tuan,"
"Oricon, mengapa kau malah menyuruh mereka masuk ke ruangan ini? Kau tahu mereka yang membuatmu berada disini," Adrian merasa jengah melihat keberadaan dua gadis belia itu.
"Itu bukan salah mereka mom, aku yang berinisiatif untuk menolong Abigail jadi ini semua bukan sepenuhnya kesalahannya,"
"Kenapa kau begitu menbela gadis ini?" Emilio menimpali.
"Itu benar dady, mereka hanya korban penculikan," jelas Oricon lagi.
"Sudahlah, kita tidak usah saling berdebat. Yang terpenting sekarang kau baik-baik saja. Kita masih bisa melanjutkan acara pertunangannya setelah Oricon membaik," Edison menengahi perdebatan mereka.
Diantara semua yang ada disana, hanya Edison yang bersimpatik pada Mia dan Abigail. Mungkin karena lelaki paruh baya itu memang orang yang sangat ramah pada orang-orang disekitarnya jadi dia tidak memandang status untuk bertegur sapa dengan orang lain. Sangat bertolak belakang dengan Mariana istrinya dan Emily anaknya yang super sombong juga arogan.
Perdebatan itu segera berhenti ketika seorang perawat menghampiri mereka,
"Maaf tuan dan nyonya, saatnya tuan Oricon untuk istirahat. Anda semua bisa menunggu diluar dulu," pinta perawat dengan sangat ramah.
Mereka semua memahami perkataan perawat itu dan keluar dari ruangan Oricon, untuk menunggunya diluar.
***
Sementara itu, Hany dan orang-orangnya menyusuri kota mencari keberadaan Abigail.
"Kemana anak itu? Awas saja kalau sampai ketemu aku tidak akan mengampuninya. Akan kuberi dia pelajaran," Hany meluapkan kekesalannya sambil mengetukkan jari jemarinya ke meja yang kini berada dihadapannya.
Wanita itu duduk dikursi yang berada didekat meja itu.
"Tenang sayang, gadis itu tidak akan pergi jauh karena dia tidak akan mungkin keluar dari sini. Tempat ini diawasi dengan sangat ketat, dia tak mungkin bisa lolos,"
tukas Diego menenangkan Hany.
"Kau ini banyak bicara, jika memang tidak mudah baginya untuk lari dari sini mengapa sudah hampir malam begini orang-orang itu belum juga menemukannya?" Gerutu Hany sambil menatap sinis pada Diego.
"Nyonya ... nyonya kami sudah mengetahui keberadaan Abigail," salah seorang suruhannya dengan terengah-engah menghampiri Hany.
"Apa kau dan teman-temanmu sudah menemukan gadis itu?" tanya Hany penuh antusias.
"Tidak nyonya, kami bekum bisa menemukannya. Hanya saja seorang temanku memberitahukan padaku keberadaan Abigail," jelas lelaki itu lagi.
"Apa? Coba kau jelaskan padaku Andrew, dimana keberadaan gadis itu," Hany menarik kerah baju lelaki yang bernama Andrew dengan kasar dan menghadapkan wajah lelaki itu padanya.
"I ... iya nyonya, Abigail sekarang berada di kota dan dia bersama tuan Oricon," imbuh lelaki itu dengan ketakutan melihat wajah bosnya yang ditutupi amarah.
Seketika cengkraman wanita itu terlepas dari kerah baju Andrew tatkala dia mendengar nama Oricon, dirinya terjingkat begitu juga dengan Diego dan para anak buahnya.
Bagaimana bisa dia bersama Oricon? Ada hubungan apa Abigail dan Oricon? Berbagai pertanyaan itu muncul dikepala mereka. Terutama Hany, dirinya masih belum percaya gadis muda itu punya hubungan dengan Oricon.
"Bagaimana ini sayang? Ini akan menyulitkan kita jika gadis itu bersama tuan muda," ucap Diego dengan gusar.
"Aku juga tidak tahu, apa hubungan anak pungut itu dengan tuan muda? Apa mereka punya affair?" tukas wanita paruh baya itu sambil berpikir.
Lalu dirinya tertawa dengan keras merasa sangat bahagia.
"Hei sayang, apa kau baik-baik saja?" Diego mulai khawatir dengan suara tawa Hany yang begitu keras.
Apa wanita itu mulai gila karena kehilangan pionnya?
"Tentu saja aku baik-baik saja bodoh. Aku tertawa karena aku senang. Kau tahu, jika benar tuan muda mempunyai hubungan dengan Abigail bukankah itu sangat menguntungkan bagi kita?" seringai licik dari wanita itu terlihat.
"Menguntungkan bagaimana?" Diego semakin tidak mengerti jalan pikiran pacarnya itu.
"Hei, berpikirlah cerdas sedikit. Jika gadis itu memiliki hubungan dengan tuan muda tentunya dia akan menjadi orang kaya dan kita bisa mencari keuntungan darinya. Dengan cara memerasnya," jelas Hany pada Diego.
"Hm, aku mengerti maksudmu sayang. Kau akan melunasi semua hutang-hutangmu dengan memanfaatkan anak itukan," Dieogo mulai memahami alur pikiran pacarnya.
Hany mengangguk dan tersenyum penuh makna pada lelaki itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments