"Silakan tuan dan nona duduk di sini. Kami akan meminta keterangan dari anda berdua mengenai tamu hotel anda," ujar polisi yang sedang disibukkan dengan mesin tiknya.
Polisi itu sedang membuat berita acara untuk menjelaskan kronologis perkara mengenai lelaki paruh baya yang sedang kritis di kamar 303.
"Sewaktu tuan Brady berada di kamar apakah anda menemukan sesuatu keganjilan disana, nona?"
"Hm, waktu itu saya sedang berada di pantry menyiapkan makanan yang telah dipesan seseorang untuk diantar ke kamar 303, pak," jawab gadis itu dengan tenangnya.
"Lalu siapa yang mengantarkan makanan itu ke kamar yang tamu?"
"Hari itu yang bertugas mengantarkan makanan Abigail,"
"Siapa itu Abigail?" selidik polisi itu padanya.
"Abigail adalah salah satu karyawan di restoran kami pak. Dia adalah waiters tapi terkadang diperbantukan untuk service room juga," Hary menjelaskan detail pada polisi itu.
"Baiklah, waktu nona Abigail ke kamar pria itu apakah terjadi sesuatu disana?" Polisi itu bertanya dengan tatapan penuh intimisadi pada Mia.
"Seingat saya, Abigail bilang saat dia bertemu lelaki itu untuk membawakan makanan pesanannya tuan Brady tiba-tiba terkena serangan jantung,"
"Benarkah itu? Tuan Brady terkena serangan jantung atau sengaja diracun?" polisi itu bertanya seakan menekan Mia untuk membenarkannya.
"Maksud anda apa pak? Teman saya itu tidak pernah meracuni siapapun," jawab Mia dengan ketus dan memperlihatkan wajah tak senang.
Dia sungguh tak terima saat sahabatnya dituduh meracuni tamu hotel. Bagaimana bisa gadis polos seperti Mia meracuni seseorang,?
"Pak, karyawan kami itu orang-orang yang terdidik dan mempunyai skill buat apa mereka meracuni tamu hotel?" timpal Hary sambil merangkul Mia mencoba menguatkan gadis belia itu.
Hary sangat tahu persis Abigail tidak seburuk itu untuk mengganggu tamu hotel.
"Tapi sidik jarinya ada di botol obat yang terjatuh di dekat ranjang tuan Brady," jelas polisi itu sambil menunjukkan botol obat dan butiran obat yang tersisa.
Mia dan Hary saling menatap merasa heran. Tidak mungkin Abigail melakukan itu semua. Pasti ada sebab lainnya.
"Pak,teman saya memang membantu tuan Brady mengambilkan obat tapi bukan berarti dia penyebab tuan Brady menjadi kritis seperti itu," suara Mia sedikit bergetar menahan air matanya yang mulai mengalir membasahi pipinya.
"Tapi obat yang dikonsumi tuan Brady itu adalah anfetamin dan berdasarkan penyelidikan sementara kami tuan Brady mengalami over dosis sehingga menyebabkan keadaannya jadi kritis seperti saat ini," jelas polisi secara detail padanya.
Mia tersurut tak mampu menjawab, karena mengenai hal itu dirinya tidak mengetahui sama sekali.
"Tapi pak teman saya tidak pernah berbuat seperti itu. Abigail itu hanya bekerja, tidak berbuat keanehan apapun selama ini,"
"Kami mengerti nona, tapi penyelidikan ini akan tetap dilanjutkan sampai teman anda terbukti tidak bersalah,"
"Bondan, ini tugasmu dan timmu untuk menangani kasus ini sampai selesai," titah komandan polisi itu pada anggotanya.
"Maafkan kami nona. Sampai kasus ini selesai teman anda yang bernama Abigail akan kami anggap sebagai tersangka,"
Mendengar ucapan sang komandan polisi, hati Mia terasa sakit, tapi mau bagaimana lagi kasus itu memang sangat rumit.
Sementara itu dirumah sakit, Brady sedang berjuang antara hidup dan mati. Lelaki paruh baya itu kini terbaring dengan alat bantu pernafasan dihidungnya dan para tenaga medis sedang memacu jantungnya dengan alat kejut jantung. Monitor masih memperlihatkan detak jantungnya berdetak namun sedikit melemah.
"Keadaan pasien melemah, cepat picu jantungnya kembali," titah sang dokter pada perawat.
Sang dokter mulai menggosokkan alat pacu jantung itu lalu mengejutkan jantung si pasien kembali. Setelah berkutat lama diruang operasi dokter itu keluar.
"Bagaimana dokter? Apa pasien masih bisa diselamatkan? seorang lelaki menanyakan keadaan pria yang terbaring tak berdaya didalam sana.
"Tuan Javes anda disini?" Dokter itu dengan ramah menyalaminya
Lelaki paruh baya itu mengangguk dan menyambut uluran tangan sang dokter.
"Suatu kehormatan anda datang mengunjungi rumah sakit kami," tukas sang dokter.
Javes Frederick adalah orang yang sangat disegani dan sangat dihormati. Dia merupakan investor sekaligus donatur untuk berbagai acara sosial, termasuk dalam pembangunan rumah sakit Medica Center yang kini tengah merawat pasien dari salah satu tamu Stary Hotel yang merupakan salah satu usaha milik Javes Frederick.
"Hm, bagaimana dokter apa pasien yang bernama Brady Lionel masih bisa diselamatkan?" lelaki paruh baya itu tampak khawatir dengan keadaan tamu hotelnya.
Tentu saja Javes merasa khawatir karena insiden itu terjadi di hotelnya dan pastinya akan berpengaruh terhadap usahanya yang sedang maju pesat.
"Ya tuan, sejauh ini kami masih bisa mengusahakan kesembuhannya. Hanya saja kondisi pasien masih kritis, kemungkinannya untuk bertahan hidup hanya dua puluh lima persen," jelas dokter itu sambil memperhatikan pasiennya dari balik kaca ICU.
"Anda harus bisa menyelamatkannya dokter, karena ini berkaitan dengan karyawan saya. Saya tidak ingin salah satu dari orang saya terlibat dengan insiden ini," tandas Javes pada sang dokter.
Sang dokter mengangguk pelan memahami ucapan Javes.
"Menurut anda apa faktor utama dari insiden ini?" timpalnya lagi.
"Menurut hasil diagnosa yang saya lihat tadi, ketika mengoperasi pasien ada beberapa keganjilan. Dari hasil uji coba laboratorium pasien terdeteksi menggunakan zat adiktif sejenis anfetamin," ujar dokter itu sambil mengernyitkan dahinya. Berpikir keras tentang kasus ini.
"Jadi menurut anda tuan Brady over dosisb dokter Xander?"tanya Javes sambil memperhatikan name tag dokter itu.
Dokter Xander mengangguk pelan, "ya seperti yang saya jelaskan tadi, tuan Brady sepertinya overdosis hanya saja ada keanehan dari dirinya," dokter muda itu sedikit meragukan argumennya.
"Keanehan macam apa? Bisakah anda jelaskan pada saya?" Javes semakin penasaran dengan penjelasan dokter itu.
"Dari beberapa luka memar yang ditemukan ditubuh pasien, sepertinya pasien mengalami penganiayaan dan dipaksa untuk meminum anfetamin, sehingga terkesan pasien seperti seorang pengguna obat-obatan terlarang," jelas dokter itu lagi.
Tercengang! Javes cukup merasa bingung dengan penjelasan sang dokter. Sebenarnya apa yang terjadi pada lelaki yang berada di ruang ICU itu? Apa dia memiliki musuh?
Dari kejauhan Hary dan Mia bergegas menghampiri Javes.
"Tuan Javes anda sudah sampai?" Hary menyapa sang atasan.
Javes menganggukkan kepala sambil memperhatikan Mia. "Ya, Hary begitu mendengar kabar insiden tuan Brady aki langsung menemui dokter Xander,"
"Kebetulan tuan, perkenalkan ini karyawan baru hotel kita, namanya Mia,"
Javes mengulurkan tangannya.
"Mia, beliau ini adalah tuan Javes Frederick pemilik Stary Hotel," Mia menyambut uluran tangan sang atasan sambil menunduk hormat.
"Langsung saja tuan, saya ingin melaporkan pada anda, teman dari Mia yang juga bekerja di hotel kita terlibat dalam insiden tuan Brady, dia dituduh melakukan percobaan pembunuhan terhadap tuan Brady," jelas Hary pada sang atasan.
"Bagaimana bisa itu terjadi dan siapa karyawan itu?" Javes terkesiap mendengar penuturan HRD hotelnya itu.
"Menurut keterangan polisi, dari hasil forensik menjelaskan ada sidik jari Abigail di botol obat yang diduga anfetamin," imbuh Hary lagi.
Abigail? Gadis itu bukankah gadis yang pernah bertemu dengannya di rumah kuning? pikirnya dalam hati. Tapi bagaimana mungkin? Bisa saja hanya kebetulan itu adalah nama yang sama. Bukankah setiap orang bisa memiliki nama yang sama? Lelaki paruh baya itu masih tertegun dengan pemikirannya. Sungguh ini sangat membingungkan sekali. Insiden Brady dengan kaitannya pada Abigail.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments