Mia, Hary dan Javes kini berada di ruang tunggu menunggu Brady yang masih berada diruang ICU. Hari itu sengaja aktifitas hotel dan restoran mereka hantikan, karena permasalahan Brady. Sudah hampir delapan jam lelaki itu belum juga sadarkan diri.
Setelah lama menunggu akhirnya mereka mendapatkan titik terang.
"Tuan, apa anda melihatnya? dia menggerakkan jarinya tadi," ujar Mia memperhatikan dari balik kaca.
"Benarkah? Apa kau tidak salah lihat?" Hary ingin memastikan keadaan lelaki itu.
"Iya pak, baru saja aku melihat dia menggerakkan jari tangannya,"
"Cepat panggil dokter sekarang juga, Lian" titah Javes pada salah seorang anak buahnya yang sedang berdiri didekat mereka.
"Baik tuan," Lian segera memanggil dokter dan membawa dokter itu ke ruang ICU untuk memeriksa Brady disana.
"Dokter tolong bantu periksa tuan Brady, tadi karyawanku bilang pria itu menggerakkan jarinya," pinta Javes pada sang dokter.
"Kalian semua tunggu diluar dulu, aku akan memeriksa pasien," Dokter itupun segera masuk ke ruang ICU dan memasang stetoskop diteliganya kemudian memeriksa keadaan Brady.
Ketiga orang itu kini menunggu dengan harap cemas. Tidak berapa lama kemudian, dokter keluar dari ruang ICU.
"Bagaimana dok, apa dia baik-baik saja?" tanya Javes yang khawatir dengan keadaan lelaki itu.
"Hm, setelah melalui waktu yang cukup lama akhirnya tuan Brady melewati masa kritisnya. Dia telah selamat dari kematian, ini sungguh keajaiban dari Tuhan," jelas dokter itu.
"Apa kami boleh melihat keadaannya dok?" Mia begitu penasaran dengan keadaan pria itu.
"Boleh, tapi kalian boleh melihatnya bergantian dan jangan terlalu lama, karena pasien butuh istirahat dulu," dokter itu mengingatkan pada mereka.
Mereka segera melihat kondisi Brady, lelaki itu masih terlihat pucat dan lemah karena efek obat yang telah masuk ke dalam tubuhnya. Ingin sekali rasanya Mia bertanya tentang apa yang terjadi pada lelaki itu, tapi mengingat kondisinya saat ini Mia mengurungkan niatnya dan lebih memilih diam.
***
Seseorang sedang duduk di sofa dengan mengenakan pakaian serba hitam, dirinya membuka penutup wajahnya yang sedari tadi dikenakannya. Nafasnya menderu seakan baru dikejar oleh seseorang dan kini dia menyesap minumannya sambil memejamkan mata mencoba menenangkan diri.
"Joan, dari mana saja kau? Mengapa dua hari ini kau tidak kelihatan?," seorang lelaki menghampirinya dan duduk didekatnya.
"Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku, " jelas wanita itu sambil menetralkan dirinya.
Dia tidak ingin terlihat gugup dan ketakutan saat ini.
"Memangnya pekerjaan apa yang baru saja kau lakukan sayang?" Lelaki yang didekatnya kini merangkul tubuhnya hingga si wanita harus mendekat kepadanya.
"Vano, aku hanya mengerjakan pekerjaan kantor," jelasnya sambil bersandar ke dada bidang lelaki itu dan lelaki itu dengan penuh ketenangan mengusap kepala sang wanita.
Sepertinya momen inilah yang sangat dibutuhkan oleh Joan saat ini. Momen dimana lelaki yang dicintainya itu memberikan kelembutan untuknya ditengah semua rasa lelah yang dirasakannya.
"Apa ini ada kaitannya dengan berita Brady di televisi?" Vano mencoba menebak apa yang telah terjadi pada wanitanya.
Wanita itu menelan salivanya kasar saat lelaki itu menyebut nama Brady, lalu mendongakkan wajahnya menatap lekat pada lelaki yang kini bersamanya.
"Sayang mengapa kau berkata seperti itu? Apa kau mencurigaiku?" nada suaranya sedikit memanja sambil tetap bersandar ke dada lelakinya.
"Bukankah selama ini kau begitu ingin menyingkirkannya? kau sendiri yang selalu bilang padaku tua bangka itu adalah penghalang dari hubungan kita dan juga bisnis kita?" lelaki itu memperjelas maksud dari perkataannya.
"Sayang, aku memang ingin menyingkirkannya tapi bukan berarti aku yang telah menghabisinyakan?" Joan masih berkelit tak ingin disalahkan.
"Apa kau seyakin itu?" Vano menatap intens ke netra mata wanita itu. Dirinya masih belum percaya sepenuhnya ucapan wanitanya.
Vano sangat yakin wanita itu menyembunyikan sesuatu darinya. Dia melihat ada sesuatu yang aneh dari Joan.
"Sayang, ini tanganmu kenapa bisa terluka?" Vano mengenggam tangan wanita itu. Ada semacam luka cakaran pada tangannya. Lelaki itu menatap curiga padanya.
"Ah ... ini cuma luka kecil tadi aku terjatuh karena terburu-buru keluar dari kantor dan aku terpleset hingga tanganku tergores," jelas wanita itu sekenanya.
Lelaki itu hanya mengangguk pelan, namun dirinya tidak mempercayai sepenuhnya ucapan Joan. Dia hanya tersenyum miring mendengar ucapan dari Joan.
"Baiklah sayang, tapi apa kau tahu bagaimana kabar Brady saat ini?" selidiknya lagi.
"Mengapa kau bertanya padaku tentang keadaan lelaki itu? Aku saja tidak bertemu dengannya bagaimana bisa aku tahu tentang keadaannya?" kilah wanita itu lagi, namun kali ini dirinya menjadi gugup karena jari jemarinya telah bertautan satu sama lain dan itu terlihat jelas dimata Vano.
"Kau bisa berbohong padaku Joan, tapi kau tidak bisa menutupinya dariku. Aku sangat mengenal wanita seperti apa dirimu," batin lelaki itu berbisik saat memperhatikan sikap Joan.
"Sayang aku mau mandi dulu, aku ingin menyegarkan badan, karena aku merasa lelah," tukas wanita itu padanya kemudian segera pergi ke kamar mandi.
Vano hanya menatap punggung wanita itu yang mulai menghilang dan terdengar percikan air yang mengalir dari shower. Pertanda wanita itu sedang mandi.
Lelaki itu masih penasaran dengan apa yang telah dilakukan wanita itu semalam, dia segera memastikan bahwa wanita itu tidak memperhatikannya.
Vano segera memeriksa jas yang dikenakan wanita itu tapi dia tidak menemukan apapun disana. Kemudian dia beralih ke tas yang dikenakan wanita itu dan kini tergeletak di ranjang. Dia mencoba membuka tas itu dan, dapat!. Dia menemukan apa yang dicarinya.
Sebuah botol obat dan botol itu terlihat kosong, tapi tidak ada label pada botol obat itu. Sepertinya sengaja tidak diberi label supaya tidak diketahui oleh siapapun.
Vano memegang botol obat itu dan mengguncangnya pelan, ada tersisa satu pil didalamnya. Dia mengeluarkan obat yang tersisa itu dan menyimpannya untuk mencari tahu obat apa yang dikonsumsi wanitanya? Ataukah obat itu yang digunakan si wanita untuk menghabisi mantan suaminya?
Sementara pintu kamar mandi telah terbuka dan terlihat wanita itu tampak mengenakan bathroofnya sambil menunjukkan wajahnya yang lebih segar dari sebelumnya.
Untung saja dia telah meyimpan botol obat itu ke dalam tas wanita itu dan telah merapikannya seperti sedia kala. Jadi wanita itu tidak akan mencurigainya.
Joan yang melihat Vano masih berada dikamarnya,tanpa rasa curiga sedikitpun langsung melingkarkan tangannya dileher lelaki itu dan tersenyum menggoda padanya.
Lelaki itu sangat paham dengan maksud dari wanitanya. Dirinya segera melingkarkan tangannya pada pinggang wanita itu dan memeluknya dengan erat. Lalu menghujamkan sebuah kecupan ke bibir mungil wanita itu. Joan tak mau kalah dirinya juga membalas dengan ******* bibir sang pria dan mendorongnya ke ranjang. Lalu dengan sikap menggodanya dia membuka bathrof yang dikenakannya. Hingga tubuhnya terekspos menantang dihadapan lelaki itu.
"Apa kau mencoba menggodaku?" tanya lelaki itu merasa tertantang dengan sikap wanitanya.
Si wanita hanya tersenyum menggoda sambil menggigit bibirnya dengan sensual. Seketika naluri kelelalkiannyapun bangkit dan tanpa ragu dia menarik wanita itu ke atas tubuhnya, sehingga tiada jarak diantara keduanya dan mereka larut dalam gairah. Keduanya saling memagut dalam keheningan malam. Entah berapa kali si wanita melakukan pelepasan bersamanya, tapi si lelaki masih belum juga merasa puas.
"Sayang, kamu belum keluar?"
"Sebentar lagi sayang," dirinya terus mempercepat aktifitasnya sehingga membuat tubuh siwanita meringkuk dan kini lelaki itu melakukan pelepasannya lalu tubuhnya ambruk didekat wanitanya.
Wanita itu memeluknya dengan erat dan menyandarkan tubuhnya pada tubuh sispack lelaki itu. Merekapun terlelap hingga pagi menyapa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments