Pagi itu rumah terlihat sepi, ini kesempatan besar untuk Abigail untuk pergi meninggalkan rumah. Sangat sulit untuk pergi dengan mudah dari tempat itu, jika ada yang mengetahuinya dia bisa terkena masalah.
Abigail menatap ke sekelilingnya, terlihat sepi dan aman. Sepagi ini, orang-orang dilingkungan itu pasti masih belum beraktifitas karena mereka hanya bekerja saat malam tiba.
Benar, tempat itu adalah area prostitusi, dimana kebanyakan penghuninya wanita-wanita yang dipekerjakan untuk menjajakan cinta. Tak ada satu orangpun yang mampu keluar dari tempat itu,karena Hany memiliki anak buah yang banyak untuk mengawasi siapa saja yang bisa keluar masuk ditempat itu. Bahkan pihak kepolisian sekalipun tak mampu menyentuh tempat itu karena Hany si mucikari itu memiliki koneksi yang kuat baik dari kalangan pejabat pemerintah maupun aparat negara.
"Aku harus pergi dari tempat terkutuk ini, bagaimanapun caranya aku tidak mau tinggal disini. Aku harus keluar dari sini dan mendapatkan kehidupan yang lebih layak," tekad Abigail dihatinya sambil mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
Tidak lupa, dia segera menghubungi Mia.
"Halo Mia, kaukah itu?"
"Ya, Abigail ada apa?"
"Mia aku mau bertemu denganmu, apa kau sibuk?"
"Aku harus bekerja Abigail, bagaimana kalau kau ke restoran tempat aku bekerja saja? Kita bertemu disana?"
"Baiklah,"
"Akan kukirimkan shareloc padamu."
Pembicaraan mereka berakhir setelah Mia mengirimkan alamatnya dan menutup telponnya.
Abigail segera melihat shareloc yang baru saja dikirimkan Mia padanya. Dirinya segera memesan taxi online untuk menuju ke restoran tempar Mia bekerja.
***
Mia sedang sibuk mempersiapkan makanan di pantry restoran.
"Mia, apa kau sudah menyiapkan kue tar yang sudah dipesan oleh pelanggan kita? Jangan sampai lupa, pesta pertunangan ini harus terlihat sempurna jika tidak kau tahu sendirikan apa akibatnya?" Ucap seorang menejer yang sedang mengawasi pekerjaan karyawannya.
Mia hanya menganggukkan kepalanya sambil tetap melanjutkan pekerjaannya.
Memang, menejer di restoran tempat Mia bekerja itu sedikit rewel dan perfeksionis. Jadi setiap pekerjaan harus selesai sesuai deadline dan tidak boleh ada cacat sedikitpun. Jika tidak bersiap saja untuk dipotong gajinya atau malah dipecat tanpa menimbangkan alasan apapun.
Sementara itu Abigail yang sedang berada di taxi online terjebak dalam kerumunan sekelompok masa yang sedang ricuh.
"Ada apa ini pak? Kenapa terjadi huru hara?"
"Sepertinya ada perkelahian antar geng disana nona," ujar supir taxi itu sambil melihat ke arah depan mereka yang sangat ricuh sekali.
"Apa kita tidak bisa melewati jalan lain?" tanyanya pada supir itu.
Abigail benar-benar khawatir, kalau saja dia akan diserang oleh mereka.
"Bagaimana kalau kita putar arah saja nona? Tapi akan sedikit memperpanjang perjalanan kita."
"Ayo cepat pak. Aku tidak mau mati konyol ditempat ini," Abigail menepuk pelan bahu sang supir supaya mempercepat laju taxi yang dikendarainya.
Dengan cekatan sang supir memutar balik arah mobilnya dan terlambat, di belakang mereka telah berdiri sekelompok anggota geng yang telah menghadang mereka.
"Hei berhenti!!! Jangan coba-coba melarikan diri," salah seorang anggota geng meneriaki mereka dan menghadang mereka sambil mengacungkan stick pemukul ditangannya ke arah taxi yang ditumpangi Abigail.
"Gawat nona kita terjebak," supir itu terlihat panik dan bingung.
Abigail yang melihat kejadian itu menjadi sangat ketakutan. Dirinya bingung harus berbuat apa. Dan tiba-tiba saja seseorang mengetuk kaca mobilnya.
"Hei nona keluarlah atau aku akan memecahkan kaca mobil ini?" ancam seorang pria dengan wajah sangar yang mengenakan penutup wajah.
Abigail yang ketakutan langsung membuka kaca mobil perlahan, namun dirinya tidak kehilangan akal. Gadis muda itu membuka pintu mobil dan sengaja menghempaskannya ke tubuh pria sangar yang tak jauh dari taxi itu. Seketika tubuh lelaki itu terjungkal dan Abigail segera berlari darinya.
Namun, dengan susah payah lelaki itu mencoba bangkit dan menembakkan senjatanya ke udara.
"Berhenti!!!" Titah lelaki itu.
Mia yang sedang berlarian seketika menghentikan langkahnya dan menutupkan kedua tangannya pada telinganya sambil memejamkan mata. Suara tembakan itu terdengar sangat menakutkan baginya dan untuk pertama kalinya dia mendengar langsung suara itu.
Pria itu segera mengarahkan senjatanya ke hadapan Abigail yang berdiri tak jauh darinya. Dia tetap menodongkan senjatanya pada gadis muda itu, lalu memberikan isyarat agar gadis itu mengikutinya.
"Taruh kedua tanganmu diatas kepala dan jangan coba-coba melawan, kalau tidak peluru ini akan menembus kepalamu."
Lelaki itu tidak main-main dengan ucapannya. Abigail hanya bisa menurutinya.
"Bos, bagaimana dengan lelaki ini?" salah satu temannya menarik supir taxi keluar.
"Enyahkan saja dia," ujarnya tanpa memperdulikan lelaki itu. Dia hanya fokus pada wanita yang ada dihadapannya.
Lelaki yang sedang menarik supir taxi itu menghempaskan tubuh pria paruh baya itu.
"Cepat lari dari sini, atau aku akan menghabisimu. Aku hitung sampai tiga, jika kau tidak lari kau akan kehilangan nyawamu. Satu! Dua! Ti... " titahnya pada pria itu sambil mengarahkan senjatanya pada pria paruh baya itu.
Belum selesai lelaki itu mengakhiri hitungannya, supir taxi itu lari terbirit-birit karena ketakutan kehilangan nyawanya. Lelaki itu terkekeh melihat supir taxi itu berlari dengan terengah-engah. Tentu saja dia tidak ingin melenyapka pri tua itu. Dia hanya menggertak dan menakutinya saja.
"Ayo cepat naik, jangan melawan atau berteriak!" Titah lelaki yang menggunakan penutup wajah pada Abigail sambil mendorong tubuh gadis itu untuk naik ke mobil yang sengaja diberhentikan ditempat yang agak sepi.
Didalam mobil box itu Abigail tidak sendrian. Ada banyak gadis seumurannya yang telah berada di mobil box itu.
"Hei buka pintunya. Aku tidak mau pergi bersama kalian!" teriak Abigail manakala dia menyadari lelaki itu menutup pintu mobil itu.
"Kalian kenapa diam saja? Kenapa kalian tidak melawan mereka?" Abigail terlihat kesal sambil melihat ke arah para gadis yang berada didalam mobil box bersamanya.
"Bagaimana kami bisa melawan mereka? Mereka itu anggota gengster yang sering membuat keributan," ujar salah satu gadis padanya.
"Mereka juga mempunyai senjata api. Jika kita melawan mereka akan melenyapkan kita," timpal salah satunya lagi sambil terisak menahan tangis.
"Apa yang akan mereka lakukan pada kita?"
"Mereka pasti juga termasuk kelompok sindikat penjual anak dibawah umur. Kita akan dijual oleh mereka," jelas gadis muda yang berada didekar Abigail.
"Tenang saja, aku akan mencari jalan keluar. Ini semua tidak bisa dibiarkan."
Abigail masih mencoba melawan dengan segenap tenaganya. Menggedor-gedor pintu mobil box itu.
Mia melihat jam ditangannya sudah pukul sembilan, "mengapa Abigail belun datang juga? Bukankah dia akan menemuiku?" Gumam gadis itu merasa cemas.
Mia yang merasa khawatir langsung menelpon sahabatnya.
"Halo Mia, cepat bantu aku. Aku terjebak oleh anggota gengster."
"Apa gengster?!" Ucap Mia sedikit mengeraskan suaranya.
Membuat orang-orang disekitarnya menatap tak senang padanya karena hari itu adalah hari istimewa untuk tamunya.
Merasa mengerti dengan kondisinya saat itu, Mia segera pergi menjauh dari tempat itu.
"Halo Abigail, kau dimana sekarang?"
"Entahlah sepertinya mereka akan membawa kami keluar kota."
"Aku akan segera meminta bantuan," Mia segera membalikkan tubuhnya dan tidak sengaja menabrak bahu seseorang. Mia mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang ditabraknya.
"Tu ... tuan, maafkan saya." Mia merasa kaget saat melihat seseorang yang ditabraknya itu adalah lelaki yang sangat berpengaruh di kota itu.
"Tidak perlu minta maaf, aku yang salah. Aku terburu-buru dna tidak melihat ke arahmu."
"Silakan masuk tuan Oricon. Para keluarga sudah menunggu anda didalam," jelas wanita itu.
"Ya, aku tahu. tapi kenapa kau terlihat begitu panik?" Oricon merasa ada keanehan pada wanita yang berada dihadapannya.
"Hmm... temanku diculik anggota geng tuan," jelasnya dengan penuh keraguan.
Disatu sisi dirinya berharap Oricon mau membantunya dan disisi lain, dia takut lelaki itu akan mengabaikannya karena dia sedang ada acara penting.
"Ayo cepat kita bantu temanmu," Oricon menarik lengan gadis itu secara spontan untuk segera membantunya.
"Tapi tuan, bukankah ini hari pertunanganmu?" Mia menghentikan langkahnya sejenak.
"Sudahlah kau tidak perlu pikirkan itu, yang terpenting saat ini kita selamatkan dulu temanmu. Ayo cepat," titahnya pada gadis yang masih terpaku dihadapannya.
Gadis itu segera mengikutinya tanpa ada keraguan.
Oricon sengaja mengabaikan pertunangannya karena memang dirinya tidak ingin acara itu berlanjut. Dia akan memberikan alasan pada keluarganya dengan dalih menyelamatkan seseorang dari serangan gengster untuk mengulur pertunangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments