Mia dan abigail duduk bersama para pelamar kerja lainnya disebuah ruangan menunggu giliran untuk diwawancarai. Hingga pada akhirnya nama mereka dipanggil dalam satu kesempatan.
Kepala HRD itu sengaja memanggil mereka berdua untuk menghemat waktu
Giliran pertama adalah Mia, selama wawancara berlangsung cukup lama.
"Hai silakan duduk, beri tahu saya tentang diri Anda," sapa kepala HRD pada keduanya.
"Terima kasih, senang bisa ada di sini, saya Mia Revalia,"
"Saya Abigail Mahira,"
"Baiklah, saya adalah kepala HRD disini. Nama saya Hary Orizon. Orang-orang biasa memanggilku Hary. Beri tahu saya tentang diri kalian," ujar sang HRD memperhatikan keduanya.
"Saya pernah bekerja di salah satu restoran masakan Cina yang besar di kota dan sangat akrab dengan masak-memasak serta makanan Asia, saya juga bisa membuat masakan eropa, saya pernah menerima pesanan katering dari orang-orang dan untungnya mereka selalu puas dengan yang saya hidangkan," jelas Mia dengan hati-hati.
"Apakah Anda bersekolah di bidang boga?" HRD itu cukup tertarik dengan penjelasan Mia.
"Tidak. Namun, saya selalu bekerja paruh waktu sebagai pembantu koki di banyak restoran setiap liburan sekolah,"
"That's interesting," HRD itu
menganggukkan kepala merasa senang.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanyanya pada Abigail.
"Saya hanya tamatan SMA pak, tapi saya mempunyai basic berbahasa jepang dan inggris, karena saat sekolah saya mengambil jurusan bahasa. Waktu sekolah saya sering menjadi pemandu para turis, oleh karena itu saya cukup mahir dalam beberapa bahasa," Abigail memberikan penjelasan tentang dirinya.
"Apakah anda mempunyai pengalaman kerja di perusahaan atau di tempat kerja lainnya?" tanyanya lagi pada Abigail.
"Saya fresh graduate pak," jawab Abigail.
"Oh that's good,"
Setelah melakukan wawancara, Kepala HRD itu mencoba memperhatikan ijazah mereka sambil menimbang kembali untuk memutuskan siapa diantara kedua remaja itu yang akan diterimanya, karena menurutnya baik Mia maupun Abigail sama-sama menarik. Meskipun dengan basic dan skill yang berbeda, namun keahlian mereka sangat dibutuhkan direstoran itu.
"Berhubung restoran ini merupakan restoran internasional dan setelah memperhatikan skill yang kalian miliki, saya rasa saya tertarik untuk memberikan pekerjaan ini kepada anda berdua," pungkas Kepala HRD itu dengan seulas senyuman dibibirnya.
"Benarkah pak?" Kedua gadis itu bertanya untuk meyakinkan diri mereka.
Kepala HRD itu menganggukkan kepala dengan penuh keyakinan. Membuat kedua gadis belia itu begitu bahagia karena kegirangan. Mereka saling menatap penuh dengan rasa bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Ternyata begini rasanya mendapatkan pekerjaan dengan menunjukkan kemampuan dan kualitas diri. Benar-benar kebanggaan yang luar biasa mereka rasakan dalam diri mereka. Terlepas dari masalah dan masa lalu yang telah mereka lewati. Pekerjaan ini sungguh memberikan makna tersendiri dalam hidup mereka.
Sang Kepala HRD itu memperhatikan mereka dengan rasa haru, dia ikut merasakan kebahagiaan kedua gadis yang ada dihadapannya.
"Well, mulai hari ini kalian telah diterima di Stary Hotel's dan selamat bergabung," ketua HRD itu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Mia dan Abigail. Kedua gadis belia itu langsung menyambut uluran tangan itu dengan hangat sambil menundukkan kepala menunjukkan rasa hormatnya pada lelaki berusia dua puluh lima tahun itu.
***
"Hei Hany, mau berapa lama lagi kau akan memberi janji padaku? Ayo cepat lunasi hutang-hutangmu padaku sekarang juga, atau aku akan mengambil rumahmu secara paksa?" Seorang lelaki berumur empat puluh tahun, menagih hutang pada Hany dengan sangat kesal.
Dirinya begitu marah pada Hany, karena telah beberapa hari ini Hany tidak membayar hutangnya ditambah lagi dengan bunga-bunga hutangnya yang semakin menumpuk membuat lelaki itu menjadi murka.
"Jangan tuan Vinsent, jangan ambil rumahku. Kalau anda mengambil rumahku, aku akan tinggal dimana? Ini satu-satunya rumah peninggalan mantan suamiku," lirihnya pada lelaki paruh baya yang merupakan lintah darat itu.
"Kau terlalu banyak berjanji, tapi semuanya omong kosong. Apa kau tidak bisa menyuruh para wanita ini bekerja lebih keras lagi?" Sarkas lelaki itu pada Hany.
Jelas saja dia berkata seperti itu, karena siapa yang tidak tahu sepak terjang Hany, seorang mucikari pemilik rumah kuning (alias rumah bordil), tentunya dia bisa menghasilkan uang dari para wanita yang dimilikinya.
"Maaf tuan, dalam beberapa waktu ini usahaku agak sedikit mandet. Ditambah lagi aku baru saja kehilangan pion andalanku," ucap wanita itu dengan nada memelas.
"Maksudmu putrimu yang bernama Abigail itu?"
"Dia bukan putriku, dia hanya anak yang aku besarkan untuk dapat aku manfaatkan membayar hutang-hutangku," cicit Hany pada lelaki itu.
Vinsent berdecih sambil menggelengkan kepala mendengar ucapan Hany.
"Ngomong-ngomong bagaimana bisa gadis itu kabur dari sini? Bukankah pengawalmu sangat banyak?" nada meremehkan terdengar dari ucapan lelakj itu.
"Hm, jangan mengejekku tuan. Aku tahu ini benar-benar terkesan bodoh. Aku lupa, gadis itu sangat licik. Dulu saat aku melarangnya untuk bersekolah, dia malah diam-diam pergi ke sekolah tanpa sepengetahuanku lalu meminta tinggal di asrama dan sekarang dia malah membuat masalah dengan pergi dari sini," keluh Hany dengan wajah kesalnya.
"Aku dengar dia bersama seorang pengusaha besar di kota saat ini?" selidik lelaki itu lagi padanya.
"Ya, aku dengar di bersama tuan Oricon tapi aku di media sedang hangat dibicarakan tentang pertunangannya dengan gadis yang bernama Emily,"
"Apa kau yakin dia bersama tuan muda Oricon?" tandas Vinsent merasa tak yakin.
"Aku juga tidak terlalu yakin tuan. Saat ini aku sedang mengerahkan anak buahku untuk mencari keberadaan gadis itu. Aku mau dia membayar semuanya, akan kuberi dia pelajaran!" Hany benar-benar dibuat beranf oleh gadis yang bernama Abigail itu.
"Kau harus ingat, jika kau mendapatkan gadis itu kau harus berikan dia padaku. Aku rasa itu bisa mengurangi hutang-hutangmu padaku," ujar lelaki itu padanya.
"Apa kau sedang mencoba membuat kesepakatan denganku?" mata Hany menatap intens kepada Vinsent.
"Kenapa tidak? Jika kau mau aku tidak mengambil rumahmu ini untuk menutupi seluruh hutangmu, kau bisa menggantinya dengan memberikan gadis itu padaku," lelaki itu memberikan penawaran pada Hany.
Hany cukup terkesiap dengan penuturan Vinsent padanya. Pasalnya, dia sendiri tidak ingin kehilangan Abigail karena dia bisa memanfaatkan gadis itu untuk kepentingannya, tapi jika dipikir kembali ada benarnya si tua bangka itu. Jika dia memberikan gadis itu padanya dia akan terlepas dari beban yang berat. Setidaknya hutangnya pada rentenir itu akan segera terlunasi.
Tidak perduli bagaimana keadaan gadis itu nantinya akan seperti apa bersama lelaki brengsek itu. Toh, Abigail juga bukan anaknya jadi perduli apa dia pada anak itu? Anak yang tidak jelas asal usulnya.
Asalkan dia bisa terbebas dari jerat hutang, dia bisa memanfaatkan gadis lugu seperti Abigail.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments