Abigail dan Mia segera merapikan meja dan kursi di restoran. Tak lupa mereka membersihkan ruangan tersebut karena memang hari ini adalah tugas mereka untuk membersihkan.
Setelah menyelesaikan pekerjaan mereka, Abigail dan Mia segera bersiap-siap untuk kembali pulang.
"Eh Mia, aku mau ke dalam dulu sepertinya aku melupakan sesuatu," Abigail mencari-cari suatu ponselnya disaku dan di dalam tasnya tapi dia tak menemukan ponselnya. Mungkin tertinggal didalam locker.
Dirinya bergegas menuju ke loker dan mencari ponselnya, akhirnya dirinya menemukan apa yang dicarinya. Abigail tersenyum sumringah saat mengetahui ponselnya terletak didalam lockernya. Segera dirinya mengambil benda itu kemudian kembali ke pada Mia yang telah menunggunya.
Namun, saat dia akan kembali tiba-tiba mulutnya dibekap oleh seseorang sehingga membuatnya kehilangan kesadaran dan pingsan.
"Halo tuan muda, aku sudah mendapatkan wanita yang anda cari,"
"Benarkah? Cepat bawa dia kepadaku sekarang juga!" titah lelaki itu pada orang suruhannya.
"Baik tuan muda," lelaki itu segera mengangkat tubuh ramping Abigail kemudian memasukkannya ke dalam mobil untuk dibawa ke hadapan bosnya.
Sudah setengah jam Mia menunggu Abigail kembali tapi gadis itu tidak muncul juga. Mia mulai khawatir. Dirinya segera menghubungi Abigail.
Beberapa kali ponselnya panggilan masuk tapi tidak ada. Mia mulai khawatir.
"Abigail ... Abi dimana kau? Ayolah dear, ini sudah malam kita harus segera pulang.
Mia mulai panik karena sahabatnya tiba-tiba menghilang. Mia benar-benar panik saat ini.
"Pergi kemana dia?" pikiran Mia mulai kacau karena Abigail menghilang.
Sementara itu lelaki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai.
Lelaki itu sampai disalah satu apartemen dan mengetuk pintu apartemen itu.
"Tuan, saya telah membawa gadis itu kepadamu, apalagi yang anda butuhkan?
"Jackob, bawa gadis itu ke dalam. Dari kau ke sini tidak ada yang mencurigaimu kan?"
"Sejauh ini tidak tuan muda," jelasnya lagi.
"Baguslah, kalau begitu kau boleh pergi. Terimakasih telah membantuku Jackob,"
Jackob tersenyum kemudian membungkukkan tubuhnya untuk berpamitan.
Oricon begitu bahagia melihat gadis pujaannya berada disisinya saat ini. Dirinya segera membawa gadis itu kekamarnya.
Sengaja Oricon pergi ke apartemennya karena ingin menemui gadisnya. Dia tidak ingin ada yang mengganggunya saat bersama gadis itu.
Oricon menatap gadisnya yang tengah tertidur lelap. Sungguh manis bagai bayi tak berdosa. Dirinya mengusap pelan wajah gadis itu sambil mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.
Semakin dekat dia memperhatikan Abigail hasrat didalam dirinya semakin membara. Jiwa kelaki-lakiannya mulai bergairah dan bibirnya mulai mengecup bibir merah apel Abigail yang begitu ranum.
Tak ingin sebentar dirinya memperdalam ciumannya dan ******* dengan penuh gairah. Abigail yang masih belum sepenuhnya sadar melenguh membuat Oricon semakin tidak karuan.
Dirinya mengecup tiap inci wajah mungil itu hingga pundak gadis itu, membuat menggeliat. Oricon kembali mengecup bibir indah itu namun kini semakin dalam dan gadis itu tersedak karena membutuhkan oksigen.
Menyadari Abigail tersadar Oricon menatapnya penuh senyuman.
"Hai sayang kau sudah bangun? Apa tidurmu nyenyak?"
Abigail mrngerjapkan matanya berulang kali drmi mendapatkan kesadaran sepenuhnya. Saat membuka mata, betapa terkejutnya dia melihat wajah tampan di depan matanya.
"Tu ... tuan, bagaimana bisa anda bersamaku?" Abigail berusaha bangkit dari tidurnya namun dengan cepat tangan kekar Oricon mencengkram lengan gadis itu sehingga dia tak bisa bergerak.
"Kau tidak akan kemana-mana sayang. Tetaplah disini bersamaku," senyum seringai terlihat diwajah pria itu.
"Ta ... tapi tuan, bagaimana bisa aku berada disini?" Abigail mulai ketakutan melihat tatapan Oricon yang seakan ingin menerkamnya.
Bukannya menjawab Oricon menyerangnya dengan mendaratkan bibirnya ke bibir Abigail. Sontak saja gadis itu berontak. Dirinya menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri menghindari serangan Oricon, tapi lelaki itu tidak memberinya celah untuk bergerak dan kini malah mengungkung tubuh gadis muda itu.
"Pak, aku mohon hentikan semua ini dan biarkan aku pergi," lirih Abigail memohon dengan mata sayu.
Oricon yang tengah berada dalam kabut gairah semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sayang," geramnya dengan suara serak.
Lelaki itu benar-benar telah kehilangan akal sehatnya. Dirinya sudah tidak sanggup menahan gejolak didalam dirinya yang semakin menggebu.
Dalam hitungan detik tangannya mulai merobek pakaian yang dikenakan Abigail dan tangannya bergerilya pada tubuh gadis itu.
"Jangan!!! Lepaskan aku!" Teriak gadis itu dengan suara tercekat.
Lelqki itu tidak mendengarkan teriakan Abigail justru hal itu membuatnya semakin bersemangat untuk mengecup bagian tubuh gadis itu yang merupakan tempat favorit para lelaki.
Abigail berusaha mendorong tubuh lelaki gila itu namun dirinya kalah kuat dibanding lelaki itu sehingga dengan mudah dirinya terus menyiksa gadis itu dengan gairahnya. Abigail kehabisan tenaga untuk melawan hingga akhirnya dirinya menyerah membiarkan Oricon menyentuhnya.
Tiba-tiba Oricon merasakan ada sesuatu yang hangat jatuh ke atas bahunya. Ia terkejut dan saat dirinya melihat itu adalah air mata gadis pujaannya, dirinya langsung berhenti.
"Sayang, kenapa menangis? Kau bersamaku dan aku akan melindungimu," ujarnya sambil menangkup kedua pipi Abigail.
Gadis muda itu masih saja menangis sambil menutupi tubuhnya yang nyaris polos dengan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya.
Ini benar-benar hari terburuk baginya. Mengapa dia harus bertemu dengan penculik setampan lelaki yang berada dihadapannya? Ada rasa gugup dan malu membuatnya semakin bingung. Apakah dia harus bahagia atau menyesal bertemu dengan pria ini?
Sementara Oricon yang merasa bersalah mendekap gadis itu kepelukannya. Membiarkan gadis itu menyelusup kedada bidangnya.
Oricon mrnyesal mengapa dia berbuat gegabah pada gadis yang dicintainya itu?
Oricon mengecup kepala gadis yang masih menangis itu.
Sungguh dia tidak bermaksud menyakitinya tapi Oricon benar-benar tidak bisa menahan dirinya saat melihat gadis itu dihadspannya.
"Maafkan aku. Aku akan memperbaiki semua ini,"
Oricon segera bangkit dari ranjangnya dan mengambil kemejanya yang bertebaran di lantai lalu memakaikannya pada Abigail.
Gadis belia itu hanya diam mematung tapi air matanya tak mau berhenti mengalir dan itu membuat Oricon semakin tersiksa. Tangisan itu membuatnya frustasi.
Dirinya mengusap kasar rambutnya menyesalu perbuatan bodohnya. Dia benar-benar sudah keterlaluan pada gadis muda itu. Meskipun mereka pernah melakukannya tapi hari ini terasa sangat buruk.
Dirinya merasa bersalah pada Abigail.
"Jangan menangis lagi. Aku mohon, aku tidak akan memaksamu lagi. Aku janji tidak akan menyentuhmu. Berhentilah menangis," bujuknya pada Abjgail
Abigail ingin berhenti menangis tapi air matanya tak mau berhenti mengalir. Bersamaan dengan hatinya yang kacau saat ini.
Sementara Mia yang sedari tadi panik menghubunginya tidak direspon karwna ponsel abigail tidak aktif. Menambah ketakutan pada Mia saat ini. Kemana sahabatnya menghilang?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments