Malam itu Abigail benar-benar ingin pergi dari rumah itu, tapi Abigail bingung harus kemana?
Tiba-tiba saja ponselnya berdering, akhirnya seseorang yang dibutuhkannyapun menghubunginya.
"Halo Mia, untung saja kau menelpon kembali. Apa kau sudah tidur?" Abigail berucap sambil berbisik pelan.
"Maaf Abigail tadi aku sedang bekerja, di restoranku sedang menyiapkan acara pertunangan antara anak pengusaha terkenal untuk besok jadinya aku sedikit sibuk," jelas Mia pada sahabatnya.
"Kau tidak perlu minta maaf seperti itu, aku yang salah karena menghubungimu diwaktu yang tidak tepat," Abigail merasa tak enak hati karena telah mengganggu pekerjaan sahabatnya.
"Jangan berkata seperti itu. Kau tidak pernah menggangguku, sekarang ceritakan padaku apa kau butuh bantuanku?" tebak gadis itu padanya.
"Bantu aku untuk keluar dari tempat terkutuk ini," pinta Abigail dengan suara sedikit gemetar karena takut percakapannya dengan Mia akan kedengaran oleh Diego atau Hany.
"Malam ini?" tanya Mia, sedikit heran.
"Jangan sekarang, ini sudah terlalu larut bagaimana jika besok pagi-pagi sekali aku menghubungimu?"
"Okay tidak masalah aku tunggu." Percakapan itu terhenti kala Abigail mendengar derap langkah seseorang menuju kamarnya.
"Mia, aku tutup dulu telponnya."
Tanpa mendengarkan jawaban dari sahabatnya itu, Abigail segera mematikan ponselnya kemudian menutupi wajahnya dengan selimut agar terkesan sedang tertidur lelap.
Tak berapa lama, pintu kamar itu terbuka.
Seorang lelaki menuju ke kamar Abigail, lelaki itu memperhatikan sekujur tubuh Abigail yang sedang terlelap, kemudian duduk disisi ranjang mencoba menyentuhnya dengan lancang.
Abigail merasakan ada sesuatu yang aneh, lelaki itu memeluknya dari belakang sambil menggerayangi tiap bagian tubuhnya. Tangan lelaki itu bergerilya kesana kemari mencari kenikmatan ditiap jengkal tubuh gadis muda itu.
Gadis itu mencoba tak bersuara agar lelaki itu tidak mencurigainya, tapi lelaki itu semakin bertindak kurang ajar dan mencoba menyentuh area sensitifnya.
Tapi, tiba-tiba saja satu suara menghentikan aktifitas terkutuk lelaki itu.
"Diego!!! Dimana kau!" suara seorang wanita yang sangat dikenalnya membuat lelaki itu tersentak dan segera menghentikan perbuatan busuknya pada Abigail.
"Aaargh sial, kenapa wanita tua itu selalu saja mengganggu kesenanganku?" Gerutunya dalam hati sambil bergegas merapikan pakaiannya, kemudian keluar dari kamar Abigail.
Ada rasa lega menyelimuti hati gadis muda yang hampir saja dijamah oleh lelaki jahat itu. Untung saja Diego tidak berhasil melakukan aksi bejatnya. Abigail benar-benar bersyukur karena malam itu Tuhan telah menyelamatkannya dari dosa.
"Kemana saja kau? Aku mencarimu dari tadi?" Hany merasa kesal karena sudah sejak tadi dia memanggil Diego tapi pria itu baru muncul.
"Aku hanya ke kamar mandi," ucapnya asal untuk menutupi perbuatannya.
"Benarkah?" Hany menaikkan satu alisnya merasa tak percaya.
Dia merasa curiga, jika Diego memang baru saja dari kamar mandi mengapa terlihat dari arah kamar Abigail? Apa yang dilakukan pria jahat itu pada pionnya?
"Kau, apa kau sedang membohongiku?" Cecarnya pada lelaki yang berada dihadapannya sambil berjalan memutari tubuh lelaki itu, menyelidiki kebenaran ucapannya.
"A ... aku tidak bohong sayang? Masa kau tidak percaya padaku?" Diego mencoba merayu wanita itu.
"Baiklah, aku percaya padamu. Awsa saja kalau sampai aku tahu kau mencoba bermain dibelakangku," ujar wanita itu sambil menyipitkan matanya menatap tajam pada Diego.
Lelaki itu hanya tersenyum kecil sambil menelan salivanya. Dia cukup takut dengan ancaman wanita itu. Kalau Hany tahu akan perbuatannya tadi pasti dia akan ditendang dari rumah itu.
***
Oricon baru saja ingin memejamkan matanya, tapi sulit sekali untuk sekedar tidur saja. Padahal dia telah berada dikasur empuk dengan fasilitas mewahnya. Namun, matanya tak mau terpejam sedikitpun.
"Ada apa ini? Mengapa mataku tidak bisa tidur begini?" monolognya dalam hati.
Tiba-tiba dirinya teringat pada seorang gadis yang melewati malam bersamanya tadi malam.
Oricon membayangkan betapa manis dan indahnya gadis belia yang bersamanya. Memang yang dilewatinya bersama gadis itu seperti sebuah pelepasan dahaga saja, tapi entah mengapa ada rasa menghangat dihatinya saat bersama gadis itu. Untuk pertama kalinya dia merasa nyaman bersama seorang gadis. Memang Abigail itu spesial baginya.
Namun, seketika kebahagiaannya tiba-tiba menghilang saat dia mengingat kalau esok hari adalah hari pertunangannya dengan Emily. Itu artinya dirinya akan segera terikat dengan gadis yang telah menjadi kekasihnya dalam satu tahu belakangan ini.
Pasti hari-harinya akan membosankan karena harus bersama satu wanita saja untuk selamanya.
Oricon benar-benar tidak bisa membayangkan semua itu, terlebih lagi hubungan pernikahan yang akan mereka jalani itu atas dasar hubungan menguntungkan antar perusahaan mereka, meskipun sebenarnya Oricon dan Emily saling mencintai tapi hatinya tidak bisa berbohong saat ini yang benar-benar diinginkannya hanya Abigail. Entah mengapa semenjak pertemuannya dengan gadis itu dirinya semakin penasaran siapa sebenarnya Abigail. Mengapa dia begitu ingin tahu tentanf gadis itu? Padahal dirinya hanya satu kali bertemu dengan gadis itu, namun rasanya sudah sangat dekat dengan gadis itu. Tatapnnya itu membuat dirinya merasakan ada keteduhan hati didalamnya.
Merasa tidak ingin menunggu pagi tiba, Oricon segera menghubungi gadis itu.
Dirinya mencoba memberanikan diri untuk menghubungi gadis itu. Hanya dengan satu kali panggilan dari ponselnya, langsung mendapatkan jawaban.
"Halo, Abigail apa kau sudah tidur?
"Tuan, kaukah itu? Ada apa menghubungiku malam-malam begini,"
suara wanita muda itu terdengar serak karena dia baru saja akan memejamkan matanya untuk melupakan kejadian buruk yang baru saja dialaminya.
"Apa kau baik-baik saja Abigail? Kenapa suaramu terdengar seperti orang yang baru saja menangis?" Oricon merasa khawatir pada gadis belia itu.
Apa yang sedang terjadi padanya? Apakah gadis itu sedang dalam bahaya? Oricon mulai mencemaskannya.
"Tidak tuan, saya tidak apa-apa. Hanya sedikit mengantuk," kilah wanita itu menutupi rasa sesak didadanya.
"Ya sudah kalau begitu kau tidur saja."
"Kenapa tuan tiba-tiba menelponku?, selidik Abigail merasa ingin tahu.
"Tidak, aku hanya tidak bisa tidur dan tiba-tiba saja teringat padamu. Apa kau merasa terganggu?"
"Tidak tuan, apa kau ingin aku menemanimu seperti malam kemarin?" godanya pada lelaki itu.
"Kau sedang mengejekku ya?"
Abigail terkekeh mendengar suara lelaki itu.
"Maaf aku hanya bercanda,"
Akhirnya malam itu mereka lewati dengan percakapan yang tidak begitu penting. Hanya untuk saling mengenal satu sama lain, disela-sela percakapan itu Abigail merasa ada kenyamanan begitu juga sebaliknya dengan Oricon. Sepertinya mereka menemukan apa yang mereka cari selama ini.
Meskipun pertemuan mereka saat itu sebatas partner ranjang, tapi seakan ada kekosongan dihati mereka yang saling terisi setelah pertemuan itu. Entahlah apa itu hanya sebatas rasa ingin tahu, atau mungkin mereka sedang ingin menemukan kecocokan antara satu sama lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments