BAB 20: PENANTIAN

Festival berjalan dengan lancar, saat ini sedang ada pertunjukkan yang dipersembahkan oleh pihak istana untuk menghibur banyak orang.

Mereka adalah sekumpulan orang-orang terpilih khusus yang dilatih untuk memiliki keterampilan dalam menari dan pertunjukkan untuk perayaan-perayaan yang diselenggarakan istana.

Semua orang terhibur, begitu pun dengan orang-orang istana yang juga turut membaur bersama dengan rakyat. Namun raut bahagia tidak nampak di wajah Zaleanna yang saat ini hanya duduk diam di kursinya, dia terus memandangi jalan utama istana, yang merupakan satu-satunya gerbang untuk masuk dan keluar istana.

Rasanya baru kemarin dia sempat sedikit berbahagia karena bisa berkumpul, berbagi cerita, dan bercanda tawa dengan teman-temannya dalam keadaan yang baik-baik saja. Namun kini harus kembali merasakan kehilangan yang teramat sangat.

Malam nanti adalah puncaknya, jika masih belum nampak keberadaan teman-temannya dia akan turun tangan untuk mencarinya sendiri di malam itu juga. Lupakan dia akan melanggar aturan istana atau akan merusak reputasi tuan putri, dia hanya ingin mencari teman-temannya, sumber kebahagiaan dan kekuatannya dalam petualangannya di dunia yang asing ini.

Tanpa dia sadari Ravel sedang berjalan mendekatinya, dan membawa dua buah gelas minuman untuk keduanya.

“Alea”

Zaleanna sedikit tersentak, dia kembali pada kesadarannya akan lamunan yang cukup lama dia lakukan seorang diri.

“Kamu tidak kesana?”, Ravel mengarahkan pandangannya ke area dimana pertunjukkan seni itu sedang dilakukan, dan semua orang nampaknya sedang berbahagia bersama dalam momen itu.

Dia cukup sedih melihat Zaleanna yang hanya berdiam diri dan tidak terlibat dengan mereka, untuk itu dia menghampirinya untuk memastikan keadaannya.

Zaleanna menggeleng lesu, bahkan sorot matanya tidak menunjukkan perasaan antusias sama sekali. Berbeda sekali dengan saat pembukaan awal festival itu.

“Kamu mau ini?”, Ravel menyerahkan satu gelas minuman padanya, dia juga memegang satu gelas untuknya sendiri. 

Itu adalah suguhan istana untuk festival ini, selain ada banyak jenis minuman juga ada banyak jenis makanan yang menggugah selera. Tetapi bahkan Zaleanna tidak tertarik untuk mengambil satu dari semua itu. Untuk itu, Ravel berinisiatif menawarinya.

Zaleanna menerima gelas itu tanpa mengeluarkan perkataan apapun, sepertinya dia enggan untuk bicara karena suasana hatinya tidak mendukungnya untuk melakukan itu.

Ravel menghelas nafas, memahami. Kemudian dia mengambil posisi duduk tidak jauh di sampingnya, namun di kursi yang tentu saja berbeda.bDia hanya tidak ingin keberadaannya malah mengganggu Zaleanna yang memang sedang ingin sendiri, untuk itu menjaga jarak dalam situasi ini sangat diperlukan. 

Ada keheningan yang cukup lama menyelimuti keduanya, sebelum akhirnya Ravel mengambil inisiatif untuk sedikit memecah keheningan.

“Saat itu, bukan hanya ritual yang aku lihat. Tetapi pelayan istana yang dekat denganmu itu pergi setiap malam ke jalan belakang istana dan seperti menaburkan sesuatu disana”

Zaleanna sontak terkejut kemudian di tatapnya Ravel penuh telisik.

Ravel menatap Zaleanna, dia tau bahwa apa yang dia katakan akan membuat Zaleanna memusatkan atensi dan perhatiannya pada apa yang dia katakan.

Awalnya dia tidak ingin membawa orang lain untuk mengetahui hal ini, juga tidak ada niatan untuk menceritakan hal seperti itu, sebab dia tidak ingin keselamatan teman-temannya terancam. Namun karena mengatakan atau tidak akan sama saja, maka dia hanya perlu mengatakannya. Lagipula sepertinya memang ini saat yang tepat untuk mengungkapkan semua itu, mengingat bahwa teman-temannya hilang secara misterius dan dia berharap akan menemukan jalan keluar setelah dari pengakuannya ini.

“Setelah pelayan itu pergi aku diam-diam menghampiri apa yang sebelumnya dia taburkan itu, dan ternyata itu adalah bunga-bunga berwarna biru yang ditaburi bubuk hitam diatasnya, bubuk yang sama yang kita lihat dalam guci-guci itu”

Zaleanna : “...” 

“Dengan petunjuk-petunjuk yang sudah ada kemudian aku kaitkan dengan hal itu, dan aku menyakini bahwa ritual itu berhubungan dengan tindakan pelayan istana itu. Ini membuktikan bahwa sesuatu harus selalu dilakukan sebagai kebiasaan di istana ini, dan jika tidak maka akan ada marabahaya yang menanti...”

“Ravel. Kenapa kamu memendam semua ini sendiri?”

Ravel : “...”

“Tidakkah kamu mempercayai kami?”

Ravel diam terpaku. 

Pertanyaan Zaleanna sukses membuatnya membeku dan kehilangan kata-kata.

Tidak ada niatan sama sekali untuk menyembunyikan apapun dari mereka semua, itulah yang selama ini Ravel pikirkan.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?", tanya Ravel dengan penuh harap.

"Sudah terlambat”

Perkataan itu sukses menghantam hati dan jantungnya begitu kuat hingga dia tak mampu berkata-kata bahkan untuk sekedar mengatakan alasan dari pengakuannya tersebut.

Dia tau Zaleanna marah padanya.

Maka dia hanya bisa menunduk dan mengakui kesalahannya, tidak berusaha menyangkal ataupun membela diri.

“Kenapa kepalamu tertunduk? Seorang ketua tidak boleh melakukan itu”

Zaleanna bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Ravel dan berdiri tepat di depannya. Dia sedikit menunduk untuk melihat Ravel yang sedang duduk di depannya, yang dengan otomatis membuat posisinya lebih pendek darinya.

“Jangan menunduk. Beri temanmu ini kekuatan untuk bisa menyelesaikan semua permasalahan, hm?”

Ravel mengulas senyum di bibirnya, dia benar-benar tidak menduga Zaleanna akan merespon seperti itu. Begitu lembut, penuh pengertian, dan tidak mendiskriminasi. 

Keduanya memandang satu sama lain, menelisik ke kedalaman netra masing-masing. Dan dengan posisinya yang seperti ini sontak saja kecanggungan begitu saja menghujam tanpa henti.

Zaleanna juga tidak pernah menduga bahwa tindakannya itu akan membawa mereka pada posisi yang terlihat... sedikit... aneh?

“Tuan putri”

Keduanya dengan segera kembali pada posisinya masing-masing, menjauh dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa diantara keduanya sebelumnya.

Syukurlah pelayan itu datang di waktu yang tepat, jika tidak mungkin keduanya tidak akan tau bagaimana cara terbebas dari kecanggungan itu.

“Maafkan aku telah mengganggu kalian.Tapi bisakah kalian ikut denganku? Ini sudah waktunya bagi tuan putri untuk menerbangkan bunga-bunga sebagai tanda syukur atas terlaksananya festival tahun ini”

Keduanya saling menatap, sedikit kikuk namun segera menetralkan perasaan masing-masing. 

Zaleanna, Ravel, dan beberapa pelayan serta pengawal istana pergi ke taman bunga yang terhampar dengan luas itu. Terlihat bagaimana upaya istana dan juga para rakyat yang begitu memelihara dan merawat semua tanaman bunga itu hingga selalu tumbuh dengan sempurna.

“Perhatian!! Tuan putri akan menerbangkan bunga-bunga itu untuk rasa syukur atas terlaksananya festival bunga tahun ini. Harap semuanya menyaksikan dengan tertib dan damai”

Setelah seorang pengawal menginstruksikan himbauan itu, para rakyat mendengarkannya dengan seksama dan mematuhi himbauannya. Ini memang sudah menjadi tradisi ketika festival ini terlaksana dengan lancar tanpa hambatan, maka semua jenis bunga yang ditanam di taman bunga itu akan dibuat seperti turun dari langit dan mengiasi apapun yang ada di bawahnya. 

Demikian ketika Zaleanna melemparkan bunga-bunga itu ke udara maka disusul dengan semburan bunga yang ditembakkan oleh pengawal-pengawal yang sudah ditugaskan untuk melakukan hal itu. 

Bunga-bunga itu terus ditembakkan ke udara tanpa henti, langit sore itu bagaikan keindahan dunia yang tersembunyi dan baru terlihat saat ini. 

Zaleanna tidak menduga hal ini akan terjadi, dia berdiri terpaku di bawahnya. Menjadi objek berlabuhnya sepihan kelopak bunga-bunga cantik yang turun dari atasnya.  

Wajahnya menengadah ke langit, matanya akan terpejam kala serpihan kelopak bunga-bunga itu mengenai wajahnya. Senyumnya menghangat, itu jelas-jelas perasaan yang lembut, hingga berhasil menyentuh hatinya yang cukup lama dirundung derita dan pilu menantikan harapan yang terus dia gaungkan.

Hembusan angin yang lembut membawa helaian bunga itu berterbangan dengan bebas, menyelimuti dirinya yang sudah tampil dengan baik kini kian sempurna dengan hiasan tak terduga itu. 

Tangannya perlahan terulur, menggapai bunga manapun yang berhasil dia sentuh. Telapak tangannya terbuka dengan lembut dan membiarkan bunga-bunga itu bertengger di dalam telapak tangannya. Dia sangat ingin menyentuh dan menggenggam bunga itu, sebagai harapan yang telah lama dia nantikan namun tak kunjung menemukan jawaban.

Kala berhasil mendapatkan apa yang dia harapkan, saat itu pula harapan yang telah dia gaungkan terwujud tanpa aba-aba.

Tubuhnya mengejang, irama nafasnya tersendat, jantungnya berdetak dengan hebat, dan hatinya mendesir lembut.

Dari arah sana, tepat di depan pandangannya, teman-temannya yang beberapa hari ini hilang secara misterius telah kembali dengan lengkap. 

Bulir bening lolos dari sudut matanya, meski tidak ada isakan, hatinya telah menjerit menangis penuh kegembiraan.

Digenggamnya bunga yang berhasil menyentuh telapak tangannya itu, sambil mengangkat sedikit gaun panjangnya, Zaleanna berlari menghampiri mereka. 

Dia ingin menggapai orang-orang itu, dia ingin membawanya ke dalam pelukannya, dan tidak lagi melepaskannya agar mereka tidak pergi dengan tiba-tiba.

Zaleanna terus berlari, menghiraukan Ravel yang berteriak memanggilnya. 

Melihat Zaleanna yang tiba-tiba berlari di tengah-tengah perayaan itu membuatnya terkejut dan kemudian berlari begitu saja, Ravel segera menghampirinya dan menanyakan apa yang sedang terjadi padanya.

Mungkin orang-orang tidak ada yang menyadarinya bahwa tuan putri itu tiba-tiba pergi ditengah perayaan festival, tetapi sedari awal pandangannya tidak pernah lepas dari gadis itu. Sebenarnya Ravel sudah menyadari keanehan itu ketika melihat Zaleanna mengeluarkan air mata, awalnya dia berpikir mungkin Zaleanna terharu atas kebahagiaan ini akan tetapi melihatnya yang tiba-tiba berlari tentu saja dia langsung bergegas mengikutinya dan merasa yakin bahwa telah ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.

“Alea!!”, nafasnya memburu, dadanya bergemuruh, karena lari dengan cepat mengejar Zaleanna. 

Zaleanna berlari dengan cepat, dan di tengah keramaian seperti ini, itu adalah suatu keberuntungan bagi Ravel bisa dengan cepat menemukan keberadaanya dan kemana arah tujuannya. 

Ravel melihat Zaleanna di depannya yang sudah menghentikan langkahnya, gaunnya kembali turun ke bawah, dan tangannya masih menggenggam bunga.

Melihat itu segera Ravel menghampirinya.

Setelah lebih dekat padanya, dia tidak bisa untuk tidak terkejut melihat Zaleanna sudah banyak mengeluarkan air mata yang membasahi wajahnya, tatapan gadis itu kosong, seperti melamun sekaligus terkejut di saat yang bersamaan. Tetapi Ravel tidak tau kenapa dan apa yang terjadi dengannya, selain itu di depan sana juga tidak terlihat ada sesuatu apapun. Itu hanya sebuah jalan yang biasa orang-orang lewati ketika keluar masuk istana. 

Tidak ada yang aneh disana.

“Alea, ada apa?”, tanya Ravel khawatir.

“Tadi mereka ada di sini...”, dia mengatakan itu dengan air mata yang bercucuran.

“Mereka? Siapa?”, Ravel semakin khawatir melihatnya yang bersikap seperti itu.

Zaleanna menatap Ravel di sampingnya sebentar, hanya untuk meyakinkan Ravel bahwa dia baru saja melihat teman-temannya datang dari arah sini.

“Mavin, Aurevy, Danzel, Elzilio... tadi aku melihat mereka disini, Ravel...”, Zaleanna sudah tidak bisa lagi menahan air mata dan isakan kecilnya.

Ravel berasumsi bahwa Zaleanna mungkin saja berhalusinasi dan melihat keberadaan teman-temannya.

“Alea. Tidak ada mereka disini, aku pikir mungkin kamu salah lihat”

“Tidak!”, pekik Zaleanna tak terima dan membuat Ravel terkejut.

“Aku yakin aku melihat mereka disini! Itu sangat jelas, aku tidak mungkin salah lihat. Aku benci kamu Ravel, kenapa kamu tidak percaya padaku?!”, Zaleanna berteriak di sela-sela tangisnya.

Melihat kekacauan itu Ravel membawa Zaleanna ke dalam pelukannya, menenangkannya. Namun Zaleanna memberontak dalam pelukannya, dia terus menerus memukul-mukul Ravel dan bersikeras bahwa dia melihat teman-temannya.

“Ssstt, Alea... tenangkan dirimu!”, Ravel juga turut bersikeras menyamai kekuatan Zaleanna yang berusaha berontak padanya.

“Aku melihat mereka Ravel, aku melihat mereka!! Aaarrgh”, Zaleanna berteriak dan menangis sejadi-jadinya.

Namun karena kekuatannya lebih kecil dari kekuatan laki-laki yang memeluknya, maka akhirnya Zaleanna berhenti berontak karena Ravel terus mencoba menenangkan dirinya. 

Dia benci bahwa itu hanya halusinasinya, dia benci bahwa pikirannya tidak terkendali seperti ini, dia benci dirinya... dia benci semuanya!

Zalenna menangis di pelukan Ravel.

Malam setelah perayaan festival tahunan itu akhirnya berakhir, Zaleanna langsung pergi ke dalam kamarnya, mengunci pintu dan tidak ingin bertemu siapapun untuk sementara waktu.

Meski Ravel begitu mengkhawatirkannya, dia tetap tidak bisa menemuinya karena Zaleanna bersikeras dengan keputusannya.

Ravel mengunjungi satu persatu kamar teman-temannya untuk melihat-lihat dan jika ada yang berantakan dia berniat merapikannya. 

Hingga kini dia tidak memiliki petunjuk kemana perginya mereka, orang-orang istana juga seakan sudah menyerah mencari keberadaan teman-temannya itu. Selain itu Ravel juga secara diam-diam sering keluar istana di saat-saat tertentu, semingguan ini, untuk mencari mereka. 

Kamar mereka selalu terlihat rapi, jadi dia tidak memiliki alasan untuk merapikannya. Kamar terakhir yang dia kunjungi adalah kamar Mavin.

Sama seperti yang lainnya kamar Mavin juga terlihat rapi jadi dia ingin keluar dan menutup pintu kembali, namun niatnya sedikit diurungkan karena pandangannya menangkap sesuatu. 

Itu berada di dekat ranjangnya, tepat di atas meja dimana lampu tidurnya berada.

Sebuah mahkota dari bunga?

“Apakah ini bunga hidup?”, Ravel bertanya secara sembarang, melihat bahwa mahkota itu terbuat dari sambungan bunga-bunga yang sepertinya bunga asli.

Apa bunga memang seperti ini? Tidak layu meski sudah beberapa hari di petik dari tangkainya?

Tunggu! Kalau begitu siapa yang membuat benda ini? Mavin?

Tetapi dia tidak ada di istana selama seminggu ini.

Ravel menaruh kembali mahkota bunga itu ke tempatnya.

Dia tau untuk tidak bertindak berlebihan di kamar orang lain, namun sesuatu telah membuatnya membeku ditempat. Ravel yang awalnya berniat segera pergi setelah meletakkan kembali mahkota bunga itu ke tempatnya, dia kembali dikejutkan dengan hal lain.

Secarik kertas tertulis sesuatu di dalamnya.

“...Alea..?”

Ravel membeku di tempat. 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!