BAB 9: MATA MERAH

Sesuatu yang kotor harus segera di bersihkan, itu membuat Zaleanna yakin bahwa keadaan Aurevy tidak lain adalah karena keberadaan bunga biru itu bersamanya.

Dia ingin memastikan sesuatu, apakah bunga itu juga terpapar pupuk hitam sama seperti yang saat itu dia lihat di taman bunga.

Di dalam ruangan kamar Aurevy, Zaleanna bergegas mencari keberadaan bunga biru dengan kelopak terbuka itu. 

Pada mulanya, teman-temannya terlihat bingung dan terkejut melihat kedatangan Mavin dan Zaleanna dengan tergesa-gesa dan langsung berpencar mencari sesuatu, jika saja Mavin tidak menjelaskan tujuan mereka mungkin sampai saat ini teman-temannya itu masih bingung dengan tindakannya, karena saat ini Zaleanna belum mengatakan sepatah kata pun melainkan terus membawa dirinya bergelut dengan pencariannya. 

“Aku pikir kita harus menunggu Aurevy terbangun agar bisa mengetahui dimana tepatnya bunga itu berada”.

Saran Danzel memang masuk akal, tetapi melihat Aurevy yang masih belum kunjung terbangun membuat mereka tidak terlalu menghiraukan itu dan langsung mencarinya alih-alih menunggunya, sebab Zaleanna mengatakan bahwa bunga itu harus segera ditemukan jika tidak ingin kondisinya semakin parah.

Namun tanpa mereka sadari kini Aurevy terlihat menggerakkan jari tangannya, pergerakan itu pelan dan cukup halus, seakan menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki kesadaran.

Ruam kemerahan itu sudah menjalar sampai ke telapak tangannya.

Tubuh rampingnya dan kulit yang putih itu secara menyedihkan harus mengalami penderitaan seperti itu, danbsakit yang di deritanya membuatnya tidak bisa banyak bergerak karena jika sedikit saja bergerak maka hanya ada rasa sakit yang akan menusuknya.

Aurevy membuka kedua matanya, di sesuaikannya pencahayaan ruangan kamarnya dengan perlahan.

Pergerakan itu di sadari oleh Ravel yang memang sesekali melihat keadaannya meski dia juga sedang melakukan pencarian di kamarnya, dia langsung mendekatinya begitu melihat Aurevy telah sadarkan diri.

“Aurevy, kamu sudah bangun?”

Mendengar itu, mereka langsung mendekat padanya. Dan itu menciptakan semacam perasaan lega karena akhirnya Aurevy terbangun.

Mavin bergerak lebih dekat padanya dan menangkap sesuatu yang sepertinya baru dia sadari itu, “Ruam kemerahan itu semakin banyak saja rupanya”

“Jelas ini tidak seperti reaksi alergi. Beberapa obat akan bisa menekan gejala alergi dan membuat ruam-ruam itu berangsur-angsur membaik. Aurevy telah banyak mendapatkan obat dan bahkan suntikan dari perawat istana, tapi bagaimana bisa semua itu sama sekali tidak berpengaruh pada tubuhnya”, Ravel mengutarakan keresahannya.

Semuanya juga sepertinya berpikir demikian, menganggap bahwa itu bukan reaksi alergi biasa. 

Zaleanna bergeser lebih dekat padanya, dan dengan lembut dia bertanya, “Aurevy. Bunga yang pernah aku berikan padamu saat itu, apakah masih ada padamu?”

Aurevy tidak begitu paham akan situasinya, dia hanya merespon seadanya pada pertanyaan Zaleanna, dengan lemas.

“Pintu kanan lemari, paling bawah”

Tanpa berlama-lama lagi Zaleanna bergerak menghampiri lemari itu dan mencari keberadaan sesuatu yang baru saja pemiliknya tunjukkan.

Benar saja, disana ada bunga yang di maksud, berada di dalam vas bunga tanpa tanah dan air. 

Tetapi dia merasa ada yang aneh.

Bagaimana bisa bunga itu masih tetap hidup meski tanpa bantuan tanah dan air?

Zaleanna mengeluarkannya dengan hati-hati, dia membawa bunga beserta vas nya itu ke hadapan teman-temannya.

Sekarang bukan hanya Zaleanna yang terkejut, mereka juga sama terkejutnya melihat keanehan itu. Jelas itu bukan tanaman palsu yang akan tetap berdiri menghiasi keindahan ruangan rumah karena bahannya terbuat dari plastik, tetapi bunga itu adalah tanaman hidup yang di petik di hamparan tanaman bunga. Melihatnya yang bahkan masih hidup tanpa air dan tanah meski sudah lewat beberapa hari saat bunga itu di petik, cukup meninggalkan perasaan janggal yang aneh.

“Bunga ini tidak memiliki harum sama sekali”, Zaleanna memberitahukan teman-temannya akan keresahannya pada bunga itu, yang tidak memiliki harum seperti bunga-bunga lainnya, khususnya yang dia petik bersamanya saat itu.

Aurevy terlihat akan beranjak duduk, teman-temannya membantunya untuk bersandar pada kepala ranjang. Kemudian memberinya minum.

“Apa kamu sempat mencium aroma bunga ini? Apakah memiliki aroma?”, tanya Zaleanna dengan tak sabar, pada Aurevy.

Aurevy mengangguk lemah.

Tanpa perlu di buktikan lagi, Zaleanna merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dia dan teman-temannya tidak mencium aroma harum dari bunga itu, jadi bukankah ini merupakan petunjuk yang cukup jelas bahwa itu menjadi penyebab Aurevy menderita seperti itu.

Di ambilnya paper bag yang ada di kamar itu dan memasukkan bunga itu ke dalamnya.

“Aku akan menyelesaikan ini dan segera kembali”, tanpa menunggu respon teman-temannya ataupun meminta mereka bersedia menemaninya, Zaleanna langsung pergi begitu saja dari ruangan itu. 

“Aku akan ikut dengannya”

Dengan langkah cepat dia bergerak menuju tanaman bunga itu, dia harus memastikannya dengan mata kepalanya sendiri tentang hubungan antara bunga itu dan pupuk hitam yang berada di bawah salah satu bunga biru yang tertanam disana.

Itu sudah sore ketika dia melancarkan aksinya, dan para petani bunga sudah kembali ke rumah mereka masing-masing.

Dia terus membawa langkahnya menyusuri hamparan bunga itu saat sebuah suara tertangkap oleh pendengarannya.

Dia berbalik untuk memastikan sumber suara itu namun tidak ada apa-apa di belakangnya, kemudian dia melanjutkan perjalanannya dengan paper bag dalam pelukannya.

Sebenarnya dia keluar istana secara diam-diam, jika saja kemampuan menyelinapnya buruk mungkin dia akan dengan mudah ketahuan oleh para pelayan ataupun para penjaga yang berjaga disana. Sebagai seorang tuan putri sudah sebuah keharusan jika kemanapun dia berjalan dan dimanapun dia berpijak maka akan selalu di awasi oleh orang-orang yang berjaga untuknya. 

Tetapi bukan itu yang dia khawatirkan, yang saat ini menjadi kekhawatiran terbesarnya adalah kondisi Aurevy yang semakin memburuk. Betapa dia ingin menjaga anggota termuda itu.

Sekali lagi, dia mendengar suara di belakangnya, namun ketika dia memastikannya itu benar-benar tidak ada.

Sesuatu sepertinya sedang menyelinap diantara semak-semak di sekitarnya, kali ini dia bukan hanya membalikkan tubuhnya untuk menghadap belakang tetapi juga berusaha mengendap-endap menyelinap menelusuri semak-semak itu, mencari keberadaan sesuatu yang mengganggu pendengarannya.

Tetapi tetap nihil. Kini wajahnya di tekuk kesal, dia menyerah melakukan itu.

Begitu dia membalikkan tubuhnya, sesuatu mengejutkannya.

“WAAA!!!”, Zaleanna tidak bisa tidak berteriak saat seseorang berdiri menjulang di depannya, hingga tubuhnya sedikit limbung ke belakang.

Jika saja Mavin tidak segera menangkap tubuhnya, maka dapat di pastikan Zaleanna akan terjerembab ke dalam semak-semak itu.

Mereka berdua sejenak terpaku, menatap ke dalam netra masing-masing.

Namun tak lama Zaleanna kembali tersadar dari lamunan dan keterkejutannya itu, segera dia mengatakan sesuatu, “Mavin?”

Zaleanna telah kembali berdiri kokoh diatas kakinya sendiri.

“Kamu mengikutiku?”

Mavin mengangguk, “Ayo kita selesaikan masalah ini segera”

Alih-alih menunggu respon Zaleanna, dia sudah berjalan pergi mendahuluinya.

Zaleanna masih terpaku di tempatnya, sedikit terkejut dengan situasi ini. Jika saja seekor burung yang terbang di atasnya tidak menimbulkan suara dengan intonasi tinggi mungkin dia akan terus berdiam diri disana.

“Jadi, suara-suara yang aku dengar itu dari persembunyiannya? Sejak kapan dia bertingkah menggemaskan seperti ini, dan menakutiku?”, Zaleanna tidak bisa menyembunyikan kekehannya, melihat sikap Mavin yang tidak sedingin dan secuek seperti sebelum-sebelumnya itu cukup berkesan baginya, dan merubah pandangannya terhadap laki-laki itu.

Mereka berdua sudah berada tepat di depan tanaman bunga itu dan bau menyengat semakin kuat menusuk indra penciumannya, sontak mereka berdua menutup hidungnya dengan telapak tangan kuat-kuat. Bau nya lebih menyengat dari sebelumnya.

Tanpa di duga, tiba-tiba aroma menyengat juga timbul dari dalam paper bag yang berada di tangannya.

Zaleanna tersentak hingga membuat paper bag itu terjatuh hingga mengeluarkan bunga yang berada di dalamnya.

Timbul pertanyaan baru dalam benaknya.

Bagaimana bisa bunga itu sekarang memiliki aroma, dan itu bau busuk yang sangat menyengat?

Sesuatu yang memiliki kesamaan tentu akan langsung menyeruak, menampakkan kondisi yang sebenarnya dari apa yang terlihat, ketika bertemu dengan jenis yang sama. Dan bunga itu telah menunjukkannya.

Mereka tidak memiliki apapun untuk menutup hidungnya sedangkan mereka harus menggunakan kedua tangannya untuk melakukan beberapa pekerjaan.

Mereka harus menanam bunga yang Zaleanna bawa dan menyingkirkan bubuk hitam yang bertaburan di sekeliling salah satu tanaman bunga berwarna biru itu.

Bau nya yang menyengkat membuat kepala Zaleanna pusing hingga dia terbatuk karena kini aroma busuk menyeruak ke dalam tenggorokannya. 

Mavin khawatir melihat keadaannya, kemudian dia merogoh-rogoh sakunya, untuk mencari keberadaan sesuatu yang selalu dia bawa jika tidak sedang melupakannya.

Benar saja, di dalam saku celananya ada sebuah layer tipis berwarna merah yang biasanya dia gunakan untuk keadaan darurat. Dia terbiasa membawa itu bersamanya, club basket di tempatnya dulu mengenyam pendidikan hampir rata-rata anggotanya memiliki itu bersamanya. Mereka biasanya menggunakan itu untuk membuat masker darurat untuk menutup mulut agar terhindar dari debu dan polusi, untuk menutup luka, menekan pendarahan sambil menunggu petugas medis tiba, mengikatkannya di dahi agar rambutnya tidak menghalangi kegiatan permainan, dan kegunaan lainnya.

Dia memberikannya pada Zaleanna, “Pakai ini”

Zaleanna tersentak sejenak, tidak berpikir bahwa Mavin memiliki itu ditangannya.

“Untuk mu?”

“Aku tidak memerlukannya”

Setelah mengenakannya menjadi masker darurat, meski tidak menangkal aroma busuk itu secara menyeluruh, tetapi setidaknya kini Zaleanna lebih leluasa melancarkan aksinya.

Tentu saja awalnya Zaleanna menolak, dia tidak ingin terlihat egois dengan memakai itu dan membiarkan Mavin, yang merupakan pemilik syal itu, tersiksa dengan aroma busuk itu, tetapi Mavin tetap pada pendiriannya, memaksa Zaleanna mengenakan itu. Jadi Zaleanna tidak memiliki pilihan lain.

“Hati-hati dengan tanganmu, batang pohonnya berduri”

Mereka sudah hampir menyelesaikan tujuannya, menyingkirkan bubuk hitam itu dan menanam bunga yang berada di dalam paper bag, yang Zaleanna bawa dari kamar Aurevy.

Dia tidak percaya meski bubuk hitam itu sudah tidak lagi berada di sekitar bunga, tetapi bunga itu tetap tidak mengeluarkan aroma apapun, hanya aroma busuk samar-samar yang masih tercium disana.

Sepertinya bunga itu telah benar-benar terkontaminasi bubuk hitam itu.

Namun nampaknya perjalanan mereka tidak berhenti hanya sampai situ, karena kini beberapa pasang mata merah tengah mengamati gerak-gerik mereka, dalam kegelapan.

Di dunia nya yang sekarang ini ponsel tidak dapat digunakan, jadi meskipun Zaleanna ingin segera mengetahui perubahan yang terjadi pada Aurevy setelah bubuk hitam itu disingkirkan, dia tidak bisa melakukannya. Hal ini ingin dia lakukan kalau-kalau perubahan tersebut mengarah pada kondisi yang tidak diinginkan maka dia akan segera menyelesaikannya disini, di tempat ini. Tetapi, pada akhirnya mereka harus tetap kembali ke dalam istana dan memastikannya secara langsung.

Misi untuk membersihkan sesuatu yang kotor itu dia rasa sudah selesai dan itu berjalan dengan baik, kini tidak ada lagi bubuk hitam yang mengelilingi letak tumbuhnya pohon bunga berwarna biru itu. Dan dia harap kamar Aurevy juga kembali bersih, dalam artian tidak ada lagi kontaminasi dari keberadaan bunga beracun itu.

Tetapi mereka berdua mendapat masalah lain sekarang, bubuk hitam yang berada di plastik yang di taruh dalam paper bag itu harus di kemana kan?

Mengingat bahwa mereka belum mengetahui dan belum memastikan bubuk itu terbuat dari apa. Jika itu adalah bubuk yang biasa digunakan untuk memupuk tanaman agar cepat subur, tetapi Zaleanna tidak berpikir seperti itu, karena bau yang di keluarkan dari bubuk itu tidak seperti bau pupuk tanaman pada umumnya, bubuk hitam itu baunya benar-benar busuk dan menyengat.

Sekarang dia tidak heran mengapa lebah dan burung itu bisa terkapar hanya karena mencium aromanya saja, itu cukup beruntung karena dirinya dan Mavin tidak sampai tak sadarkan diri meski cukup lama terpapar aroma menyengat itu. 

“Alea, apa benar kita melewati jalan ini sebelumnya?”, tanya Mavin tiba-tiba, di tengah perjalanan pulang mereka. 

Zaleanna mengerutkan keningnya, bingung. Dia menghentikan langkahnya dan pandangannya melihat-lihat sekitar.

Dia menyadarinya sekarang, jalan ini terasa sedikit asing. Dia tidak merasa pernah menginjakkan kakinya di jalanan ini sebelum-sebelumnya, padahal dia begitu sering pergi ke taman bunga untuk memetik bunga bersama para pelayan istana.

Dan juga dimana gubuk kecil yang dia lihat saat hari masih terang? Apa karena hari sudah gelap jadi penglihatannya sedikit kabur? Tetapi dia tidak memiliki riwayat rabun pada matanya. Dia memastikan kembali pandangannya, dan yang terlihat adalah hamparan bunga, bunga berwarna biru...

Tunggu!

Jelas itu aneh, mengapa bunga-bunga itu semuanya berwarna biru? Bukankah hanya ada sedikit lahan dimana bunga itu di tanam, dan itu pun hanya beberapa tangkai saja. Dia jelas sudah memperhatikannya saat siang hari, selama dia berkunjung ke tanaman bunga-bunga itu.

Zaleanna berbalik menghadap Mavin, meski tetap bersikap tenang namun raut wajahnya jelas menunjukkan kepanikan, “Kita tersesat”

Hari memang sudah sangat sore ketika mereka melancarkan misinya, dan begitu selesai dengan misinya hari sudah berganti malam. 

Mengapa perputaran waktu bisa secepat ini?

Timbul berbagai macam kebingungan juga pertanyaan dalam diri mereka masing-masing.

Sedangkan di dalam istana, di dalam kamar Aurevy, teman-temannya mengkhawatirkan mereka berdua. 

“Ini sudah malam kenapa mereka belum juga kembali?”, Ravel mulai panik, terlihat kekhawatiran dalam ekspresi wajahnya.

“Aku akan mengeceknya”

“Aku ikut denganmu”, Danzel menyusul Elzilio.

Kini hanya tersisa Ravel dan Aurevy yang sedang tertidur lemas.

Aurevy sudah lama kembali ke kamarnya, dan perawat istana meresepkan obat untuk dia konsumsi dalam beberapa harike depan hingga kondisinya membaik.

Ada begitu banyak obat-obatan yang harus Aurevy minum, perawat itu tidak berhenti memberikannya padanya. Bahkan ketika perawat itu hanya memeriksa kondisinya, setelahnya dia meresepkan obat baru untuk Aurevy, yang padahal obat-obat sebelumnya belum habis. 

Ravel memeriksa obat-obatan itu yang semuanya berada dalam sebuah kotak, dia bukan seseorang yang sedang atau pernah mendalami keilmuan medis jadi dia menganggap itu adalah obat medis biasa yang sebagaimana seorang dokter resepkan pada pasiennya. 

Ravel kembali menaruh kotak obat itu, dan beralih duduk di samping Aurevy.

Dia banyak melantunkan harapan untuk kesembuhan Aurevy, juga untuk keselamatan teman-temannya.

Elzilio dan Danzel sedang berusaha keras membuka pintu pembatas yang terkunci itu.

“Ini bahkan belum larut malam, kenapa mereka sudah menguncinya? Sial!”, pekik Danzel tidak bisa menahan amarahnya.

Dia merasa begitu tertekan karena terkurung di sebuah tempat, yang sialnya telah memberikan banyak kenyamanan, itu.

“Apa ada seseorang di luar? Tolong buka pintunya! Kalian tidak sedang berniat mengurung kami dan merencanakan sesuatu yang buruk, kan?”

“Diamlah!”, Elzilio mulai kesal padanya, dia terganggu hingga bahkan tidak bisa berpikir tenang karena Danzel yang terus menerus berteriak tanpa henti.

“Daripada kamu berteriak seperti itu, lebih baik memikirkan jalan keluarnya. Ini tidak seperti kita tidak pernah di kunci seperti ini dari luar, jadi bersikaplah sedikit lebih tenang”

Tidak ada yang bisa Danzel lakukan selain diam dan mendengarkannya.

Atas saran dari Elzilio kini mereka berdua berlari mencari keberadaan pintu lainnya, sangat tidak mungkin istana seluas itu tidak memiliki banyak pintu. Untuk itu mereka berlari ke belakang area itu, berharap menemukan lubang yang bisa mereka lewati untuk ke luar, menyusul Zaleanna dan Mavin.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!