Beberapa tahun yang lalu, sebuah kutukan jahat dikirimkan oleh seseorang ke desa itu. Namun hingga kini tidak ada satu pun yang pernah melihat bentuk dari kutukan tersebut juga orang yang telah dengan tidak bermoral mengirimkan itu.
Hanya sebuah dentuman hebat yang sering terdengar tiba-tiba dan tak lama kemudian akan ada berita hilangnya seseorang. Karena tidak ada yang tau pasti seperti apa dan bagaimana cara sihir itu melahap mangsanya, jadi warga desa menyerah untuk mencari tau.
Pernah suatu ketika salah seorang dari mereka mencoba untuk diam-diam menunggu kedatangan sihir tanpa rupa itu namun naas seseorang itu tiba-tiba hilang entah kemana. Melihat peristiwa tersebut, hingga kini tidak ada lagi warga desa yang berniat mengetahui sihir itu, atau nyawa mereka akan menjadi taruhannya jika bersikeras melakukannya.
Sesuatu tersembunyi itu terus menghantui mereka dan membuat kekacauan di desa mereka. Mengambil orang-orang tak bersalah, merusak hasil panen dan hal lainnya yang merugikan mereka.
Karena banyaknya korban yang telah dilenyapkan oleh sihir itu kini warga desa benar-benar telah pasrah pada hidup mereka, mereka berpikir jika desanya benar-benar telah di kutuk dan mengira bahwa mereka semua akan mati, dan yang masih terlihat hidup hanya sedang menunggu gilirannya.
Korban-korban yang telah dilenyapkan benar-benar tidak meninggalkan jejak, bahkan meski itu hanya secarik kain pakaiannya yang berharap masih tertinggal disana agar para warga dapat melakukan pemakaman yang layak untuk arwahnya, tetapi bahkan benda sekecil itupun tidak ada.
‘Dia’ sangat amat kejam, dengan cara bejatnya yang bahkan tidak sudi meninggalkan sedikit pun jasad tak berdaya korbannya. Semuanya hilang, lenyap, tanpa jejak.
Pria paruh baya itu tidak sanggup menceritakan lebih banyak lagi kengerian yang mereka alami sejak kedatangan hal-hal jahat itu, bahkan jika bukan karena mereka percaya bahwa suatu hari mereka akan bebas dari jeratan makhluk tak kasat mata itu, mungkin mereka sudah mengakhiri hidup bersama-sama dari dulu daripada harus menjadi mangsa makhluk bejat dan tidak berempati itu.
Zaleanna dan Mavin yang mendengar itu hanya bisa terdiam dengan keterkejutan masing-masing. Meskipun mereka tidak mengalami secara langsung penderitaan yang dialami warga desa itu, tetapi mereka bisa merasakan dan memahami bagaimana begitu menderitanya situasi yang sedang mereka hadapi.
Itu cukup membuat keduanya takjub saat mendengar bahwa para warga masih memiliki semangat untuk hidup, meski situasi sama sekali berbahaya bagi keberlangsungan hidup mereka. Karena ketika sudah yakin pada harapan yang telah dilantunkan maka tiada siapa pun yang mampu menghentikan.
Zaleanna sendiri sudah pernah mengalaminya.
Pandangannya beralih pada bubuk hitam yang di letakkan tidak jauh di sampingnya, Zaleanna masih penasaran dengan bubuk hitam yang terlihat tidak seperti pupuk pada umumnya itu.
“Apa yang kalian bawa itu?", pria paruh baya itu menaruh sedikit penasaran pada benda yang mereka bawa bersamanya.
Mavin mengeluarkan bubuk yang terbungkus plastik itu dari dalam paper bag dan meletakannya di antara mereka bertiga.
Posisi duduk mereka adalah melingkar, jadi keberadaan benda yang diletakkan di tengah sudah pasti akan terlihat oleh ketiganya.
Di depan rumah pria paruh baya itu terdapat meja yang terbuat dari kayu yang cukup kokoh, luasnya bahkan bisa muat untuk tiga sampai tujuh orang untuk duduk bersila disana.
Pria itu juga tidak lupa untuk menjamu kedua tamunya dengan suguhan air putih, sebab hanya itu yang ada. Sudah satu bulan ini panen mereka selalu di serang hama dan mengakibatkan gagal panen, sehingga pada setiap keluarga disana tidak memiliki makanan yang cukup baik untuk mereka konsumsi apalagi untuk di suguhkan pada seorang tamu. Kasarnya, mereka semakin miskin setelah kedatangan sihir itu di desa mereka.
Adapun Zaleanna dan Mavin sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, itu pun awalnya mereka tidak meminta jamuan apapun pada tuan rumah dan sudah menolak tawaran tuan rumah itu, karena mereka juga mengetahui bagaimana kondisi yang terjadi di desa tersebut.
Karena niat awal kedatangan mereka berdua ke tempat itu adalah naluri untuk mengikuti dentuman keras itu bermuara, juga jika memang memungkinkan mendapatkan tempat untuk menaruh bubuk hitam yang awalnya beraroma busuk itu, maka mereka akan menaburkannya disana.
Benar! Zaleanna hampir melupakan niat awal mereka. Dia harus segera kembali ke istana dan melihat keadaan Aurevy.
“Kami menemukan ini di taman bunga yang berada di halaman istana. Pada awalnya bubuk hitam itu mengeluarkan bau yang sangat busuk dan menyengat, tapi kini bubuk itu tiba-tiba tidak mengeluarkan aroma apapun. Kemudian saat kami sedang mencoba mencari tempat untuk menaruh bubuk itu, dentuman hebat tiba-tiba terdengar dan itu cukup membuat kami penasaran hingga kemudian mengantarkan kami ke desa ini”, Mavin menjelaskan semuanya dengan apa-adanya.
Kemudian keduanya lanjut berbincang lebih jauh mengenai hal tersebut, dan apa saja yang Mavin dan Zaleanna lihat ataupun alami dalam perjalanannya menuju ke desanya. Mengingat bahwa para penduduk desa tidak bisa keluar dari desanya, meski mereka sangat menginginkannya. Namun karena rencana itu selalu gagal, dan sihir itu langsung melenyapkan para penduduk desa yang mencoba kabur dari desa, membuat keinginan untuk membebaskan diri dari desa ini telah hilang dari dalam diri mereka.
Sedangkan Zaleanna sedang sibuk dengan isi pikirannya sendiri, dia merenungkan semua kebetulan yang telah terjadi, yang mereka lalui sejak keluar dari istana sore hari untuk pergi menanam bunga biru beracun itu.
Bunga biru yang terkontaminasi oleh bubuk hitam itu akan otomatis menjadi beracun, itulah mengapa burung putih yang dia lihat waktu itu langsung terkapar saat setelah mencoba bertengger di kelopak terbuka bunga itu, yang di bawahnya terdapat bubuk hitam.
Ini semakin menjelaskan akan satu hal, bahwa yang menjadi inti dari permasalahan yang terjadi adalah dari bubuk hitam itu. Dengan memiliki keyakinan akan kemungkian itu, Zaleanna ingin mencoba mencari tau darimana bubuk itu berasal.
Saat sedang fokus pada perancangan strategi dan pemecahan masalah, dia dikejutkan oleh sebuah tangan yang menepuk pundaknya. Awalnya dia berpikir itu adalah Mavin yang ingin berbicara dengannya, mengingat bahwa sedari tadi hanya dirinya yang diam dan tidak terlibat percakapan dengan kedua laki-laki itu.
Namun ternyata Mavin masih berbicara dengan pria paruh baya itu, bahkan raut wajah mereka terlihat serius.
Apa benar tadi Mavin yang menyentuh pundaknya?
Tidak ingin bertanya ataupun memastikan pada yang bersangkutan, karena takut mengganggu keseriusan perbincangan mereka, Zaleanna mengurungkan niatnya untuk tidak melakukan itu.
Namun saat wajahnya menoleh ke samping, yang dimana akan langsung menuju lahan kosong yang gelap, yang sebelumnya mereka rencanakan untuk menaruh bubuk hitam itu disana, betapa tubuhnya menegang dan membeku di tempat saat apa yang dia tangkap dalam pandangannya itu adalah sepasang mata merah menyala yang sedang memelototinya.
Zaleanna tidak ingin membuat keributan karena melampiaskan keterkejutannya, dia cukup sadar untuk tidak membuat kepanikan di tengah-tengah obrolan Mavin dan pria tua itu yang berada di sekitarnya. Jadi dia hanya menutup matanya dan segera memalingkan kembali wajahnya pada dua orang yang saat ini sedang berbincang di depannya.
Siapa pemilik mata merah itu?
Saat keduanya selesai bicara, itu sudah sangat larut malam.
“Jadi apa kalian akan menginap disini atau melanjutkan perjalanan pulang?”
Zaleanna dan Mavin terdiam, dan saling memandang satu sama lain.
Itu akan menjadi pilihan yang mudah jika ini siang hari, tetapi entah mengapa kedua pilihan itu berubah menakutkan ketika ditanyakan pada malam hari, dalam situasi yang seperti ini.
Mereka masih belum mengetahui kondisi Aurevy dan perubahan yang terjadi padanya setelah bunga berwarna biru itu disingkirkan dari dalam kamarnya dan tidak lupa juga menyingkirkan hal-hal kotor di sekitarnya, yaitu dengan membersihkan bubuk hitam dari sekitar tanaman bunga. Jadi dia jelas akan memilih melanjutkan perjalanan pulang ke istana daripada berdiam diri disini lebih lama dan akan sama terjebaknya dengan para penduduk desa. Namun di sisi lain, setelah mendengar masalalu desa ini beserta dengan desas-desusnya yang membuat penduduknya tidak bisa melarikan diri dari tempat ini, sepertinya dengan enggan dia akan memilih pilihan pertama, menginap di desa ini hingga menunggu matahari terbit, karena bisa saja sihir yang di katakan pria paruh baya itu berkeliaran di malam hari untuk memakan korban, buktinya sebelum dia sampai ke desa ini, keduanya mendengar dentuman hebat yang mengerikan, dan setelahnya dia mendengar pria paruh baya itu mengatakan bahwa sesuatu telah kembali memakan korban.
“Kami akan pulang”
Sontak Zaleanna terkejut sejadi-jadinya saat mendengar Mavin mengatakan itu.
Dengan tenang dan ekspresi datar, Mavin mengatakan suatu hal yang cukup tidak terdengar memungkinkan untuk dilakukan.
Benar-benar di luar prediksinya.
Zaleanna masih tidak mengalihkan pandangannya pada Mavin, yang dengan berani mengambil keputusan itu bulat-bulat tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengannya.
Zaleanna tidak sampai marah padanya, hanya saja itu pilihan yang tidak dia harapkan untuk jalan keluar di situasi seperti ini.
“Kita akan mencoba keluar dari tempat ini, dan memastikan apakah itu akan berhasil atau tidak. Mengingat bahwa penduduk desa sangat menantikan untuk bisa keluar dari desa ini sehingga tidak menjadi korban selanjutnya dari keganasan sihir yang tidak terlihat itu”
Kini, Zaleanna menatap Mavin tak percaya.
Sontak dia takjub dengan lelaki tampan itu.
Bagaimana bisa hal itu sama sekali tidak pernah terpikirkan sebelumnya olehnya? Dan Mavin berinisiatif mengambil tindakan berani pada keputusannya!
Dia mempelajari keberanian itu dari mana?
Diam-diam Zaleanna mengutuk dirinya sendiri karena dengan sembrononya telah berasumsi dengan keliru padanya. Sejenak dia berpikir bahwa mungkin jika Mavin mengetahuinya, itu pasti akan menyakiti hatinya.
Zaleanna harus lebih berfikir positif dan lebih bersabar dengan tidak melakukan asumsi yang keliru mulai sekarang!
“Alea, bagaimana?”, Mavin meminta persetujuannya, dia tau bahwa Zaleanna tidak akan menolaknya. Dia telah banyak melihat banyak keberanian dari gadis itu, dan secara tidak langsung memberikan banyak kekuatan untuknya melakukan beberapa hal yang cukup berani, seperti apa yang sering gadis itu lakukan.
“Aku mengikutimu, Mavin...”
Hanya itu yang sanggup Zaleanna katakan, sebab sebagian pikirannya masih tertuju pada pola pikir yang begitu bijak dari seorang Mavin. Jadi kini tidak ada emosi dan perasaan lain selain tentang bahagia dan merasa bangga pada laki-laki itu.
Setelah mendengar jawabannya, Mavin tersenyum.
Lantas, setelah berpamitan pada pria paruh baya itu mereka berdua pergi dari sana.
Mereka diberikan satu pesan oleh pria paruh baya itu, bawah jika mendengar sesuatu dari arah belakang maka jangan langsung berbalik, lanjutkan saja perjalanan hingga sesuatu itu berhenti mengganggu.
Pada awalnya perjalanan mereka lancar, bahkan tanpa gangguan apapun. Akan tetapi setelah benar-benar berada jauh dari desa itu, tepatnya di pertengahan jalan yang panjang dan begitu sunyi juga sepi, muncul keanehan-keanehan yang terasa janggal.
Tentu mereka masih mengingat pesan dari pria paruh baya itu, sehingga tidak lantas membuat mereka dengan mudah terdistraksi dengan gangguan-gangguan itu.
Dan entah bagaimana awalnya, kedua tangan mereka saling bertaut, berpegangan tangan.
Itu bukan semacam berpegangan tangan yang intens yang biasa dilakukan oleh pasangan-pasangan romantis pada umumnya akan tetapi lebih seperti salah satu dari mereka berinisiatif secara naluri merengkuh telapak tangan seseorang lainnya, seakan mencoba memberi kekuatan untuk tetap berjuang dan menyalurkan sebuah harapan akan keberhasilan.
Juga, jarak mereka tidak yang saling menempel, masih ada kerenggangan yang masih jelas terlihat, yang menjadi pembatas di antara mereka berdua.
Keduanya sama-sama terdiam, tidak ada yang berniat mengeluarkan suara. Selain karena sedang mendengarkan pesan dari pria paruh baya itu untuk tidak menghiraukan gangguan-gangguan di sekitar mereka, juga karena suasana yang cukup tenang itu membuat mereka ingin merasakan kesejukan angin malam lebih mendalam, hingga menyentuh hati mereka yang begitu dingin tak karuan.
Awalnya gangguan-gangguan di belakangnya terdengar kecil, seperti siulan yang parau, sebuah tiupan halus namun dingin di masing-masing tengkuk mereka, lemparan bebatuan berukuran kecil ke arah mereka. Akan tetapi semua itu berubah ketika terdengar suara langkah kaki di seret yang berada cukup dekat di belakang mereka.
Sontak keduanya tidak bisa menutupi ketakutan, keterkejutan, dan kegelisahan mereka pada keberadaan sesuatu yang belum keduanya ketahui itu.
Tetapi, baik Zaleanna ataupun Mavin, pendirian keduanya masih belum tergoyahkan. Mereka tetap melanjutkan perjalanan, tanpa ada percakapan apapun untuk menutupi situasi mencekam tersebut.
Tiba-tiba sesuatu mengalir di bawah kaki mereka, dan melewati mereka hingga nampak dengan jelas bahwa itu adalah aliran darah merah dan sangat kental.
Sontak keduanya terperanjat, pegangan tangannya terlepas, dan berbalik untuk melihat sumber dari kekacauan tersebut.
“AAAARRGH!!”
Zaleanna berteriak ketika wajahnya langsung berhadapan dengan wajah rusak yang sedari tadi berdiri di belakang mereka sambil terus mencoba memperlihatkan keberadaannya pada dia dan Mavin.
Keduanya tidak ada yang menginginkan situasi tersebut, itu hanya refleks seketika yang di munculkan dalam perilaku keduanya saat melihat situasi yang menakutkan, mengancam, dan membahayakan.
Terlepas dari itu, mereka menyadari bahwa mereka sama-sama telah melanggar pesan pria paruh baya itu.
Kini, mau tidak mau mereka harus menentukan takdir mereka atas keputusan yang telah mereka ambil dan sepakati bersama.
Tetapi mereka berdua tidak tau jika sesuatu itu ternyata mayat hidup dengan wajah yang rusak dan pakaian compang-camping.
Jika Zaleanna kembali menghubungkannya dengan film-film horor yang dia tonton, maka makhluk berjalan namun tanpa kesadaran itu adalah semacam zombie yang mencari mangsa lain untuk menjadi bagian dari kelompoknya.
Itu benar-benar mengerikan.
Sosok itu bergerak maju dengan menggeser kakinya yang penuh luka dan mengeluarkan bau tak sedap dari tubuhnya, terus berusaha mendekati mereka.
Zaleanna beberapa kali hampir tersandung dan tubuhnya limbung ketika mencoba menghindari, dan Mavin yang dengan cekatan akan merengkuh tubuhnya untuk kemudian bisa berdiri dengan benar dan bersama-sama melawan rasa takut terhadap sosok itu.
Zaleanna menatap Mavin, ada harapan yang begitu dalam dari sorot matanya. Zaleanna bisa merasakan emosi membara dari sana, bahwa sepertinya Mavin juga telah siap untuk melakukan pertarungan.
Zaleanna menyunggingkan senyum, dan menoleh pada sosok yang masih berusaha berjalan dengan terseok itu, menghampiri mereka.
“Tidak ada kehidupan disana, sepertinya dia telah benar-benar menjadi mayat yang terlepas dari rohnya. Pasti ada kekuatan di belakangnya yang sedang menggerakkannya”
Mavin menatap Zaleanna heran, “Bagaimana kamu bisa tau?”
“Lihat bola matanya”
Hitam. Terlihat seperti tidak ada keberadaan bola mata disana.
“Apa yang harus kita lakukan?”, tanya Mavin penuh kewaspadaan.
“Pancing dia untuk melakukan sesuatu”
Mavin mengambil apapun yang terlihat di sekitarnya, itu adalah batang pohon kering tetapi cukup kuat untuk dia gerakan dengan ganas, mengalau kedua tangan sosok itu yang kini sedang berusaha menggapai mereka sambil melangkah terseok.
Sebenarnya sosok yang hanya jasad rusak itu terlihat lemah, tetapi akan begitu kuat ketika sesuatu yang menggerakkan di belakangnya mencoba untuk melakukan penyerangan. Untuk itu Zaleanna harus melakukan sesuatu untuk memancingnya melakukan tindakan sedikit brutal. Dia hanya ingin tau ‘apa’ yang ada di balik mayat hidup itu.
Diambilnya bebatuan di bawah kakinya berdiri dan melemparkannya pada sosok itu secara membabi buta.
“Rasakan ini!”, Zaleanna terus menerus melempar bebatuan kecil itu ke arah sosok itu, dengan semangat.
Tetapi entah mengapa justru tindakan itu terlihat sedikit menggemaskan di mata Mavin, yang kini sedang memperhatikannya diam-diam. Jadi dia tidak bisa untuk tidak tersenyum, meski itu sangat ringan.
Batas kesabaran dari sosok itu sepertinya telah habis, jika pada awalnya dia hanya mencoba menampakkan keberadaannya pada Zaleanna dan Mavin dengan cara menakut-nakutinya, berbeda dengan sekarang yang mulai mengeluarkan energi negatif dari sosok yang sesungguhnya.
Sepertinya amarahnya sudah terpancing!
Dihalaunya lemparan batu itu, sosok itu terus berjalan menghampiri keduanya. Otomatis Zaleanna dan Mavin bergerak ke belakang, menjauh dari jangkauannya.
Namun entah kesialan dari mana, sebuah batu yang berukuran cukup besar yang berada tidak jauh dari belakang mereka menjadi penyebab tersandungnya Zaleanna hingga membuatnya terjatuh karena tubuhnya seketika limbung.
Mavin ingin menolongnya namun sosok itu sudah lebih dulu menghempaskan tubuhnya hingga mengenai bebatuan kerikil di jalanan itu yang akan cukup menyakitkan ketika itu berjumlah banyak dan tepiannya yang sedikit tajam.
“Akh!”, Mavin meringis, siku lengannya lecet dan mengeluarkan bercak darah.
Dia tidak mempedulikannya, jadi dia berusaha berdiri dan menolong Zaleanna.
“Alea, awas!”
Zaleanna lengah karena dia berniat menolong Mavin, sehingga tidak menghiraukan lagi keberadaan sosok itu yang sudah siap siaga untuk melakukan penyerangan. Dan tentu saja kesempatan itu di gunakan sosok itu untuk menyerangnya.
Kedua tangannya sudah berada di depan, dengan kuku yang panjang, kotor, dan tajam itu siap melukai apapun yang dia pegang.
Begitu dengan tidak sabarnya sosok itu akan mencakarnya menggunakan kuku tajamnya, Zaleanna tersentak kaget, jantungnya berpacu senada dengan ketakutan yang begitu besar.
Tepat saat kedua tangan itu akan menyentuh wajahnya, Zaleanna berteriak, berusaha melindungi wajahnya menggunakan kedua tangannya, yang secara otomatis paper bag yang masih berada di tangannya itu akan ikut terangkat.
Seketika...
AAARRRKKKKHHH!!!
Tubuh sosok itu limbung ke belakang, dan tangannya balik mencengkeram wajahnya sendiri dengan ganas. Hingga bentuk wajahnya semakin bertambah hancur dan berantakan, aliran darah merembes keluar dari setiap goresan luka akibat tajamnya kuku itu.
Zaleanna ataupun Mavin sontak terkejut melihat itu, mereka terpaku dan ternganga di tempatnya. Terdiam dan membeku, menyaksikan kejadian itu.
“Bagaimana mungkin?!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments