Pagi itu Zaleanna terbangun dengan berbagai macam perasaan di hatinya, pun dengan pikirannya yang masih hanyut dalam kekalutan akan mimpi yang baru saja dia alami. Entah itu bisa di katakan mimpi buruk atau bukan tetapi dia bisa mengatakan bahwa itu sangat amat mengharukan sekaligus membekas dalam ingatannya.
Baru kali ini dia mendapatkan mimpi secara runut seperti itu.
Melihat bahwa ternyata ada orang-orang yang berdiri untuk menegakkan keadilan bagi kemaslahatan banyak orang rela mengorbankan hidupnya bahkan nyawanya demi sebuah niat baik, akan tetapi di sisi lain perjuangannya itu di penuhi dengan konflik yang kejam dan tidak manusiawi.
Bagaimana dia harus memahami mimpi-mimpi itu secara bersamaan dan dalam waktu yang singkat? Belum lagi ketika ada suatu hal yang juga harus dia selesaikan di wilayah istana ini.
Namun terlepas dari itu semua, ada sesuatu yang membuatnya cukup bertanya-tanya dan begitu penasaran, yaitu pada sosok La Viera Diero. Bagaimana bisa para pengawal dan pelayan istana ini menganggap dirinya, sebagai Zaleanna, mirip dengan tuan putri itu?
Zaleanna begitu penasaran pada sosoknya, seberapa mirip mereka berdua hingga terjadi kesalahpahaman seperti ini?
Zaleanna terus berkutat dalam pemikirannya mengenai hal itu.
Sampai dia tidak menyadari bahwa kini Mavin sedang berjalan ke arahnya dan bahkan sudah lebih dekat dengannya. Laki-laki itu berdiri dengan tegap seperti biasanya, menandakan bahwa dirinya telah benar-benar sembuh dan pulih dari rasa sakitnya yang dia alami beberapa hari kebelakang ini.
“Hei, apa yang sedang kamu pikirkan?”, Mavin menggerakkan tangannya di depan wajah Zaleanna, membuat gadis itu menyadari keberadaannya, karena sedari tadi Mavin perhatikan Zaleanna hanya melamun.
“Oh? Mavin...”, Zaleanna terperanjat dan segera tersadarkan begitu Mavin berusaha menyadarkannya dan menampakkan keberadaannya padanya.
“Kamu sudah sembuh?”, Zaleanna merengkuh bahu Mavin dengan kedua tangannya, diperhatikannya laki-laki itu lekat-lekat, berusaha percaya bahwa itu bukanlah mimpi. Melihat Mavin berada di depannya dengan keadaan yang terlihat baik.
“Em”, Mavin bergumam sebagai responnya, dan mengangguk pelan.
Seketika sebuah senyuman terulas di bibirnya, Zaleanna sungguh senang dan merasa lega.
Obat-obatan yang di konsumsi Mavin, yang diberikan oleh dokter perawat istana, cukup ampuh dan memberikan efek yang baik bagi kesembuhan tubuhnya.
“Dimana yang lain?”, tanya Zaleanna.
“Mungkin masih berada di kamar mereka”
“Kalau begitu, apa yang akan kamu lakukan sepagi ini?”
“Aku ingin berjalan-jalan pagi, kamu mau ikut?”
Zaleanna mengangguk setuju pada tawaran itu begitu saja.
Keduanya berjalan-jalan di sekitar istana. Mavin yang baru sembuh dari sakit ingin me-rileks-kan tubuhnya dengan bergerak lebih pagi. Karena pada dasarnya, Mavin adalah seorang pemain basket jadi dia tidak terbiasa untuk tidak berolahraga pagi untuk kebugaran tubuhnya.
Namun karena Zaleanna ikut bersamanya, dia tidak lari, yang merupakan niat awalnya. Melainkan hanya berjalan-jalan ringan menghirup udara segar di pagi hari. Selain itu, mengingat bahwa tubuhnya masih harus beradaptasi dengan perlahan setelah sembuh dari rasa sakit yang cukup menyiksa.
“Mavin”
“Alea”
Mereka berbarengan menyebut nama lawan bicaranya, sehingga kini keduanya saling bertatapan dan tidak bisa menghindari sedikit kecanggungan yang tidak di sengaja itu.
“Kamu dulu”, Mavin mempersilahkan Zaleanna untuk berbicara terlebih dahulu.
Zaleanna menghembuskan nafas perlahan, sambil terus melanjutkan perjalanannya dengan tempo langkah yang di buat lambat.
“Ada banyak hal yang akhir-akhir ini terjadi, dan tak jarang membuat kita semua terluka”
Mavin masih senantiasa mendengarkannya.
“Tapi aku tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan semua itu, hingga akhirnya hanya membuatku tidak berdaya dan gelisah”
“Mavin. Aku masih harus memenuhi janji untuk menyelamatkan para penduduk desa itu, atau mereka akan terus terjerat dan menjadi korban dari keganasan sihir itu”
Mavin menghentikan langkahnya, dan membuat Zaleanna juga spontan menghentikan langkahnya.
“Alea, jangan memaksakan diri. Ada beberapa hal yang memang tidak bisa kita kendalikan, maka biarkan itu berjalan sebagaimana mestinya. Jangan gelisah hanya karena kamu tidak menjadi sesuai ekspektasimu”
Zaleanna : “...”
“Aku tau kamu memiliki niat baik, tapi kita tidak bisa dengan sembarangan kembali lagi ke desa itu. Di sana tidak aman untuk kamu masuki dengan terburu-buru. Jadi, kita akan mencari jalan keluarnya bersama-sama nanti, ya?”
Perkataannya begitu hangat, meski itu adalah sebuah larangan tetapi terdengar lembut dan penuh pengertian.
Zaleanna tersipu dengan kedewasaan cara berpikir Mavin dan cara dia mengatakannya.
Mereka melanjutkan perjalanan pagi itu, udaranya memang terasa menyegarkan, bahkan riuh angin yang ringan menggoyangkan dedaunan hijau dengan lembut.
Zaleanna bimbang, haruskah dia mengatakan mimpi yang dia alami itu pada Mavin lalu kemudian mencari jalan keluar dari petunjuk itu bersama-sama? Ataukah harus dia pendam dan selesaikan sendiri tanpa sepengetahuan teman-temannya?
Alasan utamanya, jelas dia tidak ingin membuat teman-temannya kembali terluka akibat ‘sesuatu’ yang mengancam keselamatan mereka. Tetapi dia sendiri tidak yakin akan bisa menyelesaikannya seorang diri, karena minimnya akses yang dia miliki di wilayah ini juga kebebasannya terbatas karena para pengawal dan pelayan istana selalu mengawasinya setiap saat.
Dan tentang festival bunga itu...
“Mavin”
Mavin memetik bunga kecil di perkebunan bunga dan kembali menghadap Zaleanna setelahnya, sehingga membuat gadis itu mengerjapkan matanya.
Bukan tanpa alasan, melainkan karena perlakukan Mavin yang membuatnya terkejut dan tersipu.
Dengan menggunakan tangannya, bunga yang dia petik sebelumnya itu di selipkan di salah satu telinga Zaleanna dengan lembut dan hati-hati.
Bagaimana Zaleanna harus menggambarkan situasi ini!
Ini terlalu romantis untuknya yang hatinya sangat mudah tersipu dan terpaku.
Zaleanna diam-diam mengulas senyuman di bibirnya, tidak bisa mengendalikan perasaannya.
Darimana Mavin mempelajari hal-hal seperti ini.
Tetapi tidak ada apapun yang Mavin katakan setelah menyelesaikan tindakan tiba-tiba itu, dan membuat Zaleanna bingung sendiri pada harapan yang aneh yang tiba-tiba menjalar di hatinya.
Mengesampingkan perasaan aneh yang tidak bisa dia jelaskan itu, Zaleanna beralih untuk membawa suasana kembali ke arah fokus.
“Mavin, aku ingin mengatakan sesuatu”
“Hm?”, Mavin sedang menatap jauh ke depan di tempatnya berdiri, di jembatan kecil dan pendek yang berada di perkebunan bunga, tanpa mengalihkan atensinya pada Zaleanna yang juga sedang berdiri di sampingnya, dia meresponnya dengan bergumam ringan.
“Mata merah...”, cicit Zaleanna, entah mengapa dia menjadi tersendat saat akan membahas itu, kejadian mencekam beberapa waktu yang lalu.
Hal itu membuat Mavin menengok ke arahnya dan menatapnya, menunggu dia melanjutkan perkataannya.
Sebenarnya dengan Zaleanna mengatakan ‘mata merah’, itu sudah cukup membuat Mavin menaruh rasa penasaran yang dalam.
“Tapi.. ini terserah padamu untuk percaya atau tidak. Malam hari saat di desa itu, aku melihat mata merah yang sedang menatap dan mengawasiku. Dan, mata merah itu...”, dia menjeda sebentar kalimatnya kemudian menatap Mavin lekat-lekat, “Adalah arwah dari orang-orang tak bersalah yang menjadi korban dari keganasan sihir itu, abu hitam itu adalah milik mereka”
Mavin membeku di tempatnya.
Dimana Zaleanna mendapat semua kemungkinan seperti itu, yang memang terdengar masuk akal jika di pikirkan secara mendalam.
Tetapi, malam saat dia melihat mata merah itu dirinya juga ada di sana, kenapa Zaleanna tidak mengatakan itu padanya?
Bukankah tidak apa-apa untuk takut dan merasa terancam oleh hal-hal mistis seperti itu dan mengatakannya pada seseorang yang sedang bersamanya? Mengapa Zaleanna harus memendam kejadian mengerikan itu seorang diri...
Mavin sejujurnya ingin mengatakan itu, akan tetapi dengan segera dia tersadar, bahwa Zaleanna tidak selemah itu. Gadis di sampingnya itu bahkan tidak takut pada hal-hal yang biasa orang-orang takuti pada umumnya.
Selama yang mengatakan adalah Zaleanna, gadis kuat yang berdiri diantara dia dan teman-temannya, maka tidak ada kata tidak percaya padanya.
Jadi, Mavin mempercayainya.
“Berarti kita harus memberikan mereka tempat yang layak untuk peristirahatan terakhirnya”
Zaleanna mengangguk, membenarkan.
Sebenarnya dia tidak menyangka respon Mavin akan secepat ini, alih-alih sesuai prediksinya yang mengatakan bahwa Mavin akan bertanya banyak hal dan menginterogasinya tentang bagaimana dia bisa mendapatkan petunjuk itu, tetapi Mavin langsung memahaminya segera.
Salah satu sikap lainnya dari Mavin adalah ini, tidak banyak bertanya tetapi berusaha memahaminya sendiri tanpa harus membuat seseorang yang mengutarakan informasi itu mengatakan semuanya secara detail dan rinci.
Alangkah bahagianya jika dia memiliki seseorang dengan kepribadian dan sikap seperti Mavin dalam sepanjang hidupnya.
“Ya, kita harus memakamkan mereka dengan baik”
Dengan begitu, keduanya tidak lagi bisa untuk saling menutupi sesuatu antara satu sama lain. Zaleanna mengatakan semuanya tentang petunjuk yang dia peroleh dari mimpi itu dan Mavin menawarkan diri untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang dia dan teman-temannya alami di tempat asing ini.
Saat pagi secara perlahan sudah tergantikan dengan kedatangan mentari, keduanya kembali ke istana.
Teman-temannya sudah berada di meja makan dan menyantap makanan yang di hidangkan para pelayan istana.
Sejujurnya bohong jika Zaleanna merasa baik-baik saja karena dia sedikit merasa bersalah pada orang-orang yang bekerja di istana. Mereka melayani dia, yang mereka anggap sebagai tuan putri mereka, dan melayani teman-temannya tanpa menanyakan siapa mereka dan mengapa bisa mengenal tuan putri mereka.
“Oh! Kalian sudah kembali?”, Danzel menyapa dengan mulut yang penuh oleh makanan.
“Kemarilah, kita sarapan pagi bersama”, ujar Ravel yang sudah menyiapkan dua piring baru untuk Zaleanna dan Mavin yang baru saja tiba.
“Kemana kalian pergi sepagi itu? Ey, jangan bilang kalian melakukan kencan pagi?”, Danzel tidak henti-hentinya menggoda keduanya, sambil terus menyantap makanannya.
“Telan dulu makananmu. Tidak ada kencan pagi, darimana kamu mendapatkan istilah seperti itu?”, Elzilio menyerangnya dengan tidak suka, dia jengkel melihat Danzel yang sibuk bicara padahal mulutnya sedang penuh oleh makanan. Betapa jorok untuk dilihat, ketika seseorang sedang makan namun tidak berhenti bicara.
Dan setelahnya bisa di tebak, Danzel mengalah dan pasrah jika Elzilio sudah menegurnya. Dia melanjutkan aktivitas makannya.
Sedangkan yang lainnya hanya menyaksikan itu dalam diam, karena sudah tidak aneh dengan pemandangan keduanya yang seperti serial kartun yang suka bertengkar dan tidak pernah akur satu sama lain.
Adapun Zaleanna dan Mavin, yang menjadi objek pembahasan Danzel dan pusat perhatian teman-temannya yang lain, memilih diam dan makan dengan tenang.
Kencan pagi?
Ah, tidakkah itu terlalu berlebihan untuk disebut seperti itu.
Mereka hanya secara kebetulan bertemu saat pagi hari di ruangan tamu dan secara tidak direncanakan memutuskan berjalan-jalan pagi di sekitar istana.
Tapi... mungkin itu hanya perasaan Zaleanna saja, tidak dengan Mavin yang menangkap hal itu dengan cara yang... mungkin, sedikit berbeda?
“Kemana kita pergi setelah ini?”, Aurevy tiba-tiba mengeluarkan suara di tengah-tengah kegiatan makan yang tenang itu.
Membuat mereka bertanya-tanya, apa maksud perkataan anggota termuda itu?
Aurevy sendiri bisa dikatakan cukup bosan dengan rutinitas yang sama dan terlihat biasa-biasa saja di istana ini. Selain karena tempat ini asing baginya, juga dia tidak memiliki banyak hal yang bisa dia lakukan di tempat asing ini, mungkin jika di tempat tinggalnya sendiri dia tidak akan bingung dengan kesehariannya sebab Aurevy selalu memiliki kegiatan terencana untuk dia lakukan di kesehariannya.
Aurevy memang cukup produktif, selain banyak belajar hal-hal baru di istana ini dia juga menerapkan kebiasaan positif dan produktifnya di istana ini seperti di rumahnya sendiri.
“Ravel, apa kita tidak bisa segera keluar saja dari tempat ini dan melanjutkan perjalanan pulang kita yang sebelumnya sempat tertunda?”
Itu tidak akan mudah.
Mengingat bahwa orang-orang istana sudah menganggap Zaleanna adalah bagian dari keluarga istana, membuat mereka tidak bisa bertindak sembarangan, agar keselamatan Zaleanna tetap dalam keadaan aman.
Dia sebagai ketua dan sekaligus bertanggungjawab pada anggota-anggotanya harus mengambil langkah tepat untuk semuanya.
Ravel meletakkan garpunya dan menatap mereka dengan teduh dan penuh ketegasan.
“Ada sesuatu yang harus kita selesaikan terlebih dahulu di tempat ini”
Sontak mereka semua menatapnya, kini semua atensi tertuju pada Ravel.
“Apa?”, Aurevy bertanya dengan penasaran.
Jarak tempat duduk Zaleanna dekat dengan tempat dimana Ravel berada, dia menggunakan tangannya yang berada di bawah untuk memegang tangan Ravel yang juga ada di bawah.
Zaleanna bermaksud menahan Ravel untuk tidak sembarangan mengatakan apapun di istana ini, yang mana mungkin saja akan terdengar oleh orang-orang istana.
Dia menggeleng pelan, hampir tidak ada yang menyadarinya selain oleh Ravel sendiri.
Zaleanna melepaskan tangannya yang menyentuh tangan Ravel kemudian dia melirik sekitar, melihat keberadaan para pelayan istana yang sedang berada tidak jauh dari mereka berada, dan sedang tertunduk, bentuk kesopanan untuk tidak menatap keluarga istana di posisi mereka sebagai seorang pelayan.
“Kita selesaikan dulu sarapan, setelahnya kita akan membicarakan hal itu”
Mendengar Zaleanna mengatakan itu, semuanya mengangguk dan melanjutkan sarapan pagi hingga selesai.
Keadaan sudah tidak terkendali sejak keberadaan bunga berwarna biru dengan kelopak terbuka itu yang membuat Aurevy menderita sakit. Jadi Zaleanna harus melangkah dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan agar tidak lagi di rugikan dalam hal apapun.
Setelah mereka selesai dengan kegiatan sarapan pagi, nyatanya mereka tidak bisa kembali bertemu dan membicarakan hal yang sebelumnya sempat tertunda itu. Karena Zaleanna dipanggil kepala pelayan istana untuk berbicara.
Pembicaraan itu adalah tentang festival bunga yang akan berlangsung sebentar lagi di istana ini. Karena setiap tahun perayaan itu cukup meriah maka istana bertanggungjawab mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh agar tidak mengecewakan rakyat mereka.
Meskipun kini yang mereka sebut rakyat itu hanyalah segelintir orang yang terbebas dari sisa korban keganasan sihir yang tidak mereka ketahui.
Benar bahwa istana tidak sekalipun membocorkan rahasia gelap istana pada rakyatnya, dan hingga kini para penduduk yang masih selamat dan berkehidupan cukup layak di wilayah istana tidak menaruh curiga ataupun meragukan kepercayaan mereka terhadap istana.
Setelah berbincang sebentar dengan teman-temannya, Ravel kembali ke kamarnya untuk mengambil sesuatu. Namun alangkah terkejutnya dia ketika sudut matanya menangkap benda bulat berwarna hitam yang berada di dalam kantong plastik yang dia letakkan di salah satu sudut ruangan kamarnya, mengeluarkan bau tidak sedap.
Dia melangkah untuk mendekati itu, tangannya terulur untuk membuka kantong itu.
Dadanya berdegup tak beraturan dan keringat dingin seketika dia rasakan, ketika melihat benda berwarna hitam yang sebelumnya hanya berbentuk bulat dan polos itu kini telah berubah menjadi tengkorak yang seluruh bagiannya sudah retak.
Ravel terlonjak kaget setelah berhasil sadar dari keterpakuannya, dia terjatuh sedikit menjauh ke belakang dengan ekspresi yang bingung sekaligus terkejut tak percaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments