BAB 12: KEMUNCULAN ASAP HITAM

Di taman bunga, Danzel dan Elzilio menyusuri hamparan bunga yang luas itu hingga masuk lebih dalam, mencari keberadaan Zaleanna dan Mavin yang dia yakini sedang berada di tempat itu. Namun nyatanya sejauh mereka menapaki kaki, tidak ada keberadaan orang lain selain mereka berdua.

Tetapi mereka tidak menyerah begitu saja dan terus menjelajahi perkebunan yang luas itu.

Dengan hanya mengandalkan penerangan dari cahaya senter berukuran kecil yang mereka bawa, tidak banyak membantu perjalanan mereka. Mereka tidak banyak memiliki akses untuk melihat sekitar secara keseluruhan, hanya memfokuskan pada cahaya senter yang mereka arahkan.

Senter milik Danzel menangkap sesuatu di depan, itu adalah gumpalan hitam yang tersembunyi diantara tanaman bunga, tidak bergerak, dan bentuknya seukuran bola basket. 

“El, Elzilio”

Elzilio yang merasa terpanggil segera menghampirinya, “Ada apa?”

“Di sana”, Danzel mengarahkan senternya dengan tepat ke arah benda bulat itu agar Elzilio bisa melihatnya dengan jelas.

“Apa itu?”, Elzilio berniat mendekatinya untuk melihat benda itu.

Karena keduanya tidak memiliki prasangka apapun jadi menghampiri benda itu begitu saja. Karena akses jalan yang hanya setapak dan tidak rata, membuat mereka berhati-hati saat berjalan. 

Tepat setelah tiba disana, rasa penasarannya kian memuncak, jadi di ambil lah batang pohon kering yang tergeletak disana dan diarahkan pada benda itu, seraya membuatnya memastikan keamanan benda itu.

Saat batang kering itu menyentuh benda hitam berbentuk bulan itu, tiba-tiba kepulan asap keluar dari benda itu dan membumbung tinggi ke udara. Sontak mereka terperanjat, dari posisi jongkoknya kini telah berubah jatuh terduduk dengan kaki yang lemas. 

Gumpalan asap itu semakin tebal, menghitam, dan bergerumul di depan mereka, seakan siap menutupi apapun yang ingin mereka lingkupi.

“Shit! Benda apa itu? Kenapa berubah menjadi asap hitam?! Elzilio ayo pergi dari sini!”, teriak Danzel tak karuan.

Meski dia mengatakan itu nyatanya tubuhnya masih terpaku di tempat, seluruh anggota tubuhnya tiba-tiba sulit bergerak. Sama halnya dengan Elzilio, yang masih terdiam menganga melihat kejadian yang mengerikan itu.

Gumpalan asap itu berpencar, dan seakan ingin menarik mereka berdua ke dalamnya.

Diantara mereka, jarak yang paling dekat dengan gumpalan asap hitam itu adalah Danzel, jadi dia yang lebih dulu terkena cengkeraman asap itu. 

“Elzilio, bantu aku! Aaaaaarrrgggh”, teriaknya meminta bantuan.

Meskipun asap itu tergolong sesuatu yang ringan tetapi kini asap itu seakan memiliki tangan di belakangnya yang menggerakkan untuk menarik-narik kaki Danzel.

“Sialan! Asap apa itu sebenarnya? Kaki ku sakitt aaarrrrrgggh!!!”

Elzilio yang sangat syok dengan kejadian itu, kini sudah kembali tersadar dan berusaha bangkit menghampiri Danzel. Tetapi tepat saat akan meraih tubuh Danzel, tangannya dililit oleh pohon bunga yang berada disampingnya, batang hijau itu melilit pergelangan tangannya dengan kuat, seakan menghentikannya untuk menolong temannya.

Elzilio berteriak kesakitan, tangannya mengepal kuat saat merasakan rasa sakit itu kian menusuk dan menjalar hingga ke bagian terdalam kulitnya.

Kini kedua sahabat itu sedang berjuang dengan dirinya masing-masing.

Di tengah-tengah kebrutalannya melepaskan diri dari cengkeraman asap itu, Danzel melirik Elzilio yang berada tidak jauh di sampingnya.

“Elzilio, bertahanlah!”

Danzel ingin membantu Elzilio tetapi dirinya sendiri sedang keadaan yang tidak memungkinkan untuk melakukan niat baiknya pada temannya itu.

Elzilio mendengar suaranya, tetapi dia tidak melihat Danzel saat ini, ada kepulan asap hitam di depannya.

Dengan menggunakan tangan lainnya yang terbebas dia berusaha keras melepas batang bunga yang berduri yang melilit tangannya itu.

Beberapa tanaman bunga disana memiliki batang yang berduri, dari duri halus hingga yang berduri sedikit kasar. Dan yang melilit lengan Elzilio adalah batang bunga dengan duri yang tajam, meski bentuknya kecil-kecil tetapi ketajamannya cukup mampu meninggalkan robekan pada apa yang dia lilit. 

“Aaarrgh!”, Elzilio terus berusaha melepas lilitan itu meski kini tangan yang dia gunakan untuk melepas batang itu juga turut terluka.

Lilitan itu akhirnya berhasil terlepas setelah Elzilio menarik paksa, dengan sangat keras, batang bunga itu dari tangannya.

Dia terengah-engah, mengatur nafasnya, peluh di wajahnya sudah tidak terhitung lagi jumlah bulirannya.

Bekas lilitan itu nampak jelas terlihat di tangan mulusnya, dia tidak memiliki sesuatu untuk menekan rembesan darah dari luka-luka itu jadi dia menghiraukannya dan bergegas menolong Danzel.

“Danzel, kamu dimana?”, di tengah-tengah gumpalan asap yang kini menyerangnya itu, menutup pandangannya hingga tidak bisa melihat keberadaan Danzel.

“AAARRRRRGH!!”

Itu suara teriakan Danzel, terdengar sangat kesakitan.

Elzilio kalang-kabut mengedarkan pandangannya ke mana pun dia bisa, hingga akhirnya sebuah tangan menyentuh kakiknya. Sontak Elzilio melihat ke bawah, dan itu adalah sebuah tangan. Langsung saja Elzilio meraih tangan itu dan melihat ternyata dia menemukan Danzel.

Keadaan anak itu benar-benar memprihatinkan, air mata sudah berderai membasahi wajah putihnya, kakinya terus bergerak tak beraturan seraya menghindari cengkeraman tangan dari balik asap hitam yang tebal itu.

Elzilio berpikir keras, tentang bagaimana dia menyelamatkannya. Mengingat bahwa sekuat apapun dia menarik tubuh Danzel untuk membantunya terlepas dari cengkeraman itu, tidak sedikit pun membuahkan hasil, kabut itu malah semakin kuat menarik kaki temannya.

Elzilio benar-benar frustasi sekarang, luka di tangannya semakin sakit dia rasakan.

Dan tiba-tiba, dia teringat sesuatu.

Di samping gubuk anyaman bambu itu ada sebuah mata air yang mengalir, meski itu hanya aliran kecil tetapi sepertinya dia melihat para petani bunga sering mengambil air dari sana untuk menyiram perkebunan mereka, berarti persediaan air disana cukup banyak.

“Danzel, apa kamu bisa bertahan? Aku akan pergi sebentar dan mengambil air untuk memadamkan kabut asap itu”, Elzilio berteriak dengan keras agar dapat di dengar jelas oleh Danzel, karena suara riaknya pepohonan yang entah ada dimana terdengar begitu membisingkan, juga dengan suara angin yang meliuk dari kepulan asap yang kini berbentuk seperti tornado itu.

“Berpeganglah pada ini”, Elzilio mengarahkan tangan Danzel ke akar pohon yang cukup besar yang timbul dari balik tanah.

Sebelumnya dia sudah membuat agar akar itu memiliki lubang yang berjarak antara tanah dan akar sehingga akan mudah bagi Danzel untuk menggenggam kuat akar itu.

Elzilio sudah mengeceknya, dan akar itu cukup kokoh. Kemudian setelah Danzel mengikuti arahannya, Elzilio bergegas pergi dengan cepat ke arah mata air itu.

Baik Danzel maupun asap hitam itu, kini keduanya saling menarik dan mempertahankan pendiriannya masing-masing, Danzel yang menggenggam kuat akar pohon itu, dan asap tebal itu menarik paksa kakinya. 

Setelah sampai disana, Elzilio langsung mencari keberadaan benda yang bisa dia gunakan untuk menampung air itu. Dan berhasil, karena disana ada satu buah ember yang cukup besar untuk menampung lebih banyak air.

Dia tidak tau apakah hanya dengan seember air akan mampu melenyapkan kabut asap itu, tetapi dia tidak bisa berhenti jika sudah menjalankannya. 

Setelah dia berhasil menampung air bersih itu ke dalam ember, kakinya terpeleset dan membuat tubuhnya limbung sehingga tergelincir masuk ke dalam air.

Tepat saat cipratan air itu mengenai luka di tangannya sontak Elzilio melenguh. Matanya terpejam kuat-kuat, bibirnya terkatup rapat menahan sakit yang menusuk, hingga tidak tahan lagi menahan rasa sakit yang amat menusuk itu Elzilio akhirnya tersentak dan ember yang berisi air itu jatuh dari tangannya. Tubuhnya terjerembab ke dalam aliran air itu, dan dia masih mengejang kesakitan. Tangannya terkepal erat hingga bergetar hebat, menahan rasa sakit itu.

Ternyata luka di lengannya itu tidak seringan apa yang dia pikirkan sebelumnya, luka itu telah membuat kulitnya menganga robek pada setiap sayatan yang batang berduri itu lilitkan pada lengannya. Dan kini ketika semua luka itu terkena air, tentu saja akan semakin membuat luka itu terbuka sehingga memperjelas robekannya yang terus mengalirkan darah segar dari sana.

Dia ingin menekan luka itu dan merobek kain bajunya, tetapi itu tidak bisa. Dia beralih ke celananya, bahkan bahan celana nya pun tidak bisa dengan mudah di robek.

Elzilio putus aja, ada seseorang yang saat ini membutuhkan bantuannya tetapi dia sendiri kesulitan mengatasi kesulitannya. Dia tidak bisa membiarkan luka di lengannya terbuka, atau darah akan terus keluar dari sana.

Elzilio bersusah payah naik ke permukaan, tubuhnya basah dan kotor karena dampak dari tanah basah yang mengenai tubuhnya.

Dia berjalan ke dalam gubuk kecil itu berharap menemukan sesuatu di dalam sana.

Dengan besar harapan yang dia miliki untuk bisa segera menyelesaikan kesulitannya, tertangkap oleh pandangannya sebuah kain yang digunakan untuk menutup jendela kecil yang berada di gubuk itu.

Langsung saja Elzilio menarik kain itu secara paksa, setelah berhasil merobek sebagian, dia langsung melilitkannya pada tangannya yang terluka. 

Meski itu tidak berhasil membalut lukanya dengan sempurna tetapi itu cukup mampu menekan sedikit rasa sakitnya, setidaknya itu tidak akan mengganggunya dalam melancarkan aksinya.

Saat Elzilio sudah menyelesaikan membalut lukanya dan akan kembali mengambil air, sudut matanya tidak sengaja menangkap sesuatu yang cukup aneh.

Dia berbalik dan berjalan mendekati benda itu.

Itu adalah bubuk berwarna hitam, mirip seperti pupuk buatan untuk memupuk tanaman agar cepat subur. Dia tidak tau kegunaan pupuk itu disini, tetapi melihat letaknya berada di perkebunan maka dia berpikir bahwa itu adalah pupuk yang biasa di gunakan para petani itu untuk menumbuhkan perkebunannya. 

Mungkin benda itu akan berguna untuk sedikit memberi tekanan agar asap itu lenyap. Mengingat bahwa kebakaran gas akan padam jika menutupnya dengan kain tebal yang basah, jadi dia berpikir mungkin bubuk itu bisa membantu menghalau asap lembut itu, jika dia lempar berbarengan dengan air. 

Elzilio telah kembali menghampiri Danzel, dia melihat Danzel yang sedang berusaha menghindar dari asap yang masih menyelimuti kakinya itu.

Danzel adalah orang yang paling tidak bisa menyembunyikan apapun yang sedang dia rasakan ataupun sesuatu yang mungkin akan terlihat memalukan bagi beberapa orang, tetapi baginya menunjukkan emosi yang sebenarnya adalah suatu keharusan untuk dia lakukan.

Karena sekarang, bukan hanya air mata yang berderai seperti yang terakhir kali dia lihat, tetapi Danzel mengeluarkan suara di setiap tangisannya.

Ya, benar. Danzel menangis.

“Elzilio kamu sudah kembali? Cepat bantu aku, kakiku sangat sakit huuaaaaa haaaaa”, dia bahkan tidak malu merengek padanya sekarang.

Dengan mencampur bubuk itu ke dalam air itu sebelumnya, Elzilio menyiram dengan kuat ke arah asap tebal yang hitam itu.

Tanpa di duga, perlahan asap itu lenyap dari pandangan mereka dan hilang begitu saja entah kemana.

Elzilio terpaku sesaat ditempatnya.

Bagaimana bisa itu berhasil?

Langsung saja dia beralih pada Danzel yang sudah terbaring tak berdaya, namun air matanya masih mengalir melalui sudut matanya.

Dan betapa kagetnya dia saat melihat kaki Danzel terluka, itu begitu parah, hingga cengkeraman merah nampak jelas di kaki mulusnya, yang kini sudah sangat memerah.

Rupanya asap itu telah menyakiti kakinya dengan begitu parah.

“Aku akan membantumu berdiri”, tangan Elzilio sudah berada di bahunya dan siap untuk membantunya.

Danzel menggeleng, dia tidak bisa bangun. Kakinya benar-benar mati rasa, dia tidak memiliki sedikit pun kekuatan meski hanya untuk menggerakkan tubuhnya. Energinya telah hilang karena pertarungan yang cukup lama dengan asap aneh itu. 

Bahkan meski dia ingin mengutuk asap aneh yang telah menyerangnya secara membabi buta itu, dia tidak memiliki tenaga untuk melakukannya. 

Pada akhirnya, taruhan yang di tentukan secara sepihak dimenangkan sendiri oleh yang membuat peraturan tidak adil itu.

Danzel mungkin tidak menyadarinya kalau saat ini dia telah menang taruhan dengan Elzilio, sehingga dia mendapatkan keuntungannya, yaitu di gendong di punggung Elzilio selama perjalanan pulang.

Karena kedua kakinya yang tiba-tiba lumpuh akibat dari serangan ganas dari asap hitam yang tebal itu, membuatnya tidak bisa berjalan bahkan berdiri pun itu sudah sangat sulit. Akhirnya dengan kebaikan hati Elzilio, yang juga saat ini sedang terluka, dia tidak harus tinggal lebih lama lagi di perkebunan bunga itu hingga menunggu matahari terbit.

Dengan kokoh, Elzilio membopong tubuh Danzel dipunggungnya. Dia berjalan dengan tenang, seakan tidak peduli jika menghadapi hambatan lagi, dia tidak memiliki ekspresi di wajahnya. Tubuhnya juga lelah, dan rasa sakit di tangannya semakin terasa menusuk saat lengannya itu digunakan untuk menopang tubuh Danzel di belakang punggungnya.

Tetapi dibanding luka di lengannya, sepertinya Danzel terlihat lebih parah darinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang dirasakan juga harus ditahan Danzel sehingga membuatnya menangis dengan keras.

Melihat kenyataan itu tentu saja dia harus melakukan ini untuknya, dan pulang bersama ke istana. Meski tidak dalam keadaan baik sama seperti sebelum mereka berangkat tetapi setidaknya mereka berdua bisa bertahan melawan serangan itu dan kembali dalam keadaan hidup. 

Kemana perginya Zaleanna dan Mavin jika tidak ada di perkebunan bunga?

Pertanyaan itu menghantui Elzilio dalam perjalanan pulangnya, dia terdiam dan hanyut dalam lamunannya. 

Apa yang harus dia katakan nanti pada Ravel jika dia bertanya padanya, mengingat bahwa mereka berdua keluar untuk mencari keberadaan kedua temannya yang lain. Dia berpikir mungkin Ravel hanya akan mendengar kekecewaan darinya, apalagi kondisi dirinya sendiri dan Danzel yang jauh dari kata baik-baik saja.

Dalam sekejap, kabut hitam itu telah mengacaukan segalanya dan membuat dia dan Danzel mendapatkan luka. 

Danzel yang berada di punggungnya belum bergerak sama sekali, sepertinya dia sudah tidak sadarkan diri. 

Elzilio menatap langit, mengharapkan secercah harapan untuk keluar dari situasi yang sedang di hadapi dia dan teman-temannya di wilayah ini. 

Sedari awal dia sudah menaruh curiga pada keberadaan istana ini dan kepada orang-orang berpakaian hitam yang dengan tiba-tiba membawa dia dan teman-temannya ke istana.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!