Dengan membuat sosok itu kembali ke sarangnya, maka harus melakukan sesuatu untuk mewujudkan itu. Sesuai arahan Zaleanna kini mereka semua tengah mempersiapkan kayu bakar untuk menyalakan api.
Api itu dengan cepat melahap kayu bakar kering yang sudah mereka susun dengan teratur, kobarannya menghangatkan dinginnya malam yang terasa begitu panjang.
Tiba-tiba terdengar jeritan yang menyeramkan dari balik bangunan itu. Meski berdurasi sebentar tetapi itu cukup membuat mereka semua terperanjat, bahkan Danzel sempat memaki. Hanya Ravel dan Mavin yang terlihat tetap tenang, tidak bergitu terpengaruh dengan suara yang tidak jelas keberadaannya itu.
Zaleanna mengedarkan pandangannya menerawang sekitar, “Sepertinya ini cukup berhasil”
Dari buku yang pernah dia baca, itu mengatakan bahwa perapian dapat memicu entitas negatif. Meski tidak benar-benar menghilangkannya tetapi itu cukup mampu menghalau keberadaannya.
Beberapa dari mereka terlihat menghangatkan tubuh dengan berdiri di sekitar api sambil menunggu proses selanjutnya dilakukan. Kecuali Zaleanna, yang kini sedang memandangi guci yang berada ditangannya.
Mavin mendekatinya dan turut melihat guci itu, “Apa ada sesuatu?”
Zaleanna menggeleng lesu, dia sudah memeriksa keadaan guci itu dan mencoba berkomunikasi dengannya jika memang tersimpan energi negatif, akan tetapi tidak ada entitas negatif di dalamnya. Sejenak dia bingung, mengenai alasan tidak diperbolehkannya menyentuh barang-barang di gedung ini yang padahal itu tidak terdapat apa-apa.
Sekilas, guci itu terlihat biasa saja seperti guci pada umumnya. Hanya terdapat retakan kecil namun tidak sampai membuatnya pecah.
Dengan sedikit kecewa dia menaruh kembali guci itu dan beralih menghampiri yang lainnya.
Zaleanna menangkap pemandangan itu. Teman-temannya terlihat lelah, terpatri jelas di wajah mereka sebuah harapan untuk pulang namun juga terdapat semburat keputusasaan yang tak dapat dijelaskan.
Dia bertekad bahwa ritual yang cukup aneh ini harus dilakukan dengan baik. Mungkin ini merupakan salah satu jalan keluar untuk saat ini, setelah apa yang energi tempat ini perlihatkan padanya.
Zaleanna mengambil tempat, dia menginstruksikan yang lainnya untuk duduk. Kini mereka duduk melingkari perapian itu.
Hanya ada enam orang disana namun bayangannya lebih dari itu, Zaleanna yang menyadari itu hanya diam agar tidak membuat kepanikan.
Tetapi...
Mengapa perasaan ini terasa familiar baginya, Zaleanna menautkan kedua alisnya. Perlahan matanya terpejam. Dan akhirnya dia menemukan apa yang dia pertanyakan.
Situasi sekarang ini, di depan perapian yang panas itu...
Jarak mereka cukup dapat dikatakan dekat dengan letak perapian itu, namun tidak sedikit pun dia ataupun yang lainnya merasakan tidak nyaman karena api besar yang berkobar itu yang sesekali menyembur ke arah mereka.
Situasi ini seperti...
Sekarang dia paham maksud dari penglihatannya pada bukit yang tinggi itu, ketika orang-orang itu tidak merasakan panas padahal api sedang membara di dekatnya.
Karena, saat ini dia sendiri telah merasakannya. Udara di tempat itu benar-benar berbeda.
Zaleanna mengeluarkan suara, “Aku tidak bisa menjamin keberhasilan dari aktivitas ini”, dia menjeda kalimatnya sejenak, “Tapi aku yakin kita bisa melewatinya”
Mereka menaruh harapan padanya, semburat harapan itu terpancar dari balik cahaya api yang menerangi wajah mereka.
Pemandangan yang tidak terduga itu cukup membuat Zaleanna menelan ludah. Betapa dirinya kini tengah menjadi pusat tatapan dari sorot mata teman-temannya.
Di tatap seperti itu seketika perasaan asing menjalar ke seluruh tubuhnya.
Zaleanna kembali fokus, kemudian dia menyuruh teman-temannya untuk menggenggam tangan satu sama lain.
“Aku akan melakukan perjalanan lintas dimensi, dan mencari keberadaan monster itu untuk aku arahkan ke tempat asalnya”
“Dimana tempat asalnya?”, Danzel bertanya dengan polos.
“Itu baru akan dimulai pencariannya. Ada apa dengan pertanyaanmu?”, Elzilio yang begitu mudah terdistraksi melayangkan kalimat sinis untuk menyadarkan si penanya.
Zaleanna menanggapi itu dengan tersenyum, membuat agar Danzel tidak merasa sia-sia dengan pertanyaannya, “Aku akan mencarinya”
Danzel mengangguk.
“Seperti sebelumnya, jika aku mulai bereaksi kalian hanya perlu menggenggam tanganku. Dan jika nanti ada suara-suara aneh jangan sampai terpengaruh, tujuan mereka adalah mengganggu kita, maka tugas kita untuk tetap fokus pada tujuan kita. Dan ingat, jangan lepaskan pegangan tangan kalian selama aku belum bereaksi”
“Kami mengerti”, Aurevy mengangguk dengan penuh keyakinan di hati, seraya mewakili teman-temannya.
Lantas, Zaleanna mempersiapkan dirinya sebelum akhirnya memejamkan mata. Saat baru saja dia akan melakukan itu, seseorang bersuara.
“Alea, hati-hati..”, Ravel menatapnya, terpancar kekhawatiran disana.
Zaleanna meresponnya dengan anggukan lembut.
Kapan terakhir kali seseorang mengatakan hal-hal seperti itu padanya? Ah, dia rasa ini pertama kalinya.
Zaleanna tersenyum hangat dalam hatinya.
Dalam perjalanan yang cukup tenang itu, dia melihat-lihat sekitar, pandangannya tidak berhenti pada satu titik saja tetapi menyebar ke segala arah.
Lagi-lagi dia kembali dibawa ke tempat dimana dia melakukan perjalanan lintas dimensi, saat pertama kali ke bangunan terbengkalai itu bersama teman-temannya.
Dia melihat memang sedang ada pertunjukan teater, yang diperankan oleh objek bernama manusia. Awalnya tidak ada yang aneh namun begitu sampai pada adegan yang memperlihatkan beberapa orang tengah mengelilingi satu orang sambil mengeluarkan nyanyian yang sama sekali tidak dia mengerti, cukup mengeluarkan rasa penasarannya. Setelahnya adegan berlanjut pada tungku perapian dengan bentuk memanjang itu dinyalakan dan orang yang dikelilingi tadi diangkat dan di taruh diatas perapian itu. Meski itu hanyalah adegan rekaan dan semua properti terbuat dari bahan yang lunak dan tidak berbahaya akan tetapi itu terasa begitu nyata.
Ekspresi orang-orang yang memerankan terlihat datar dan biasa saja, bahkan tidak ada sedikit pun rona merah di wajah pucat mereka.
Itu membuatnya bergidik ngeri.
Melihat para penonton yang masih tenang menyaksikan teater itu membuatnya sedikit yakin bahwa itu hanyalah teater biasa. Namun semua itu seketika berubah saat seseorang dari balik layak keluar dengan terbirit-birit dan keringat yang sudah membasahi wajahnya.
Dia berlari ke arah penonton dan mengatakan sesuatu yang membuat penonton seketika panik dan berhamburan keluar, hingga menciptakan kegaduhan di dalam ruangan pertunjukkan teater itu.
Sesuatu telah bangun dan berusaha menyerang!
Begitulah teriakan orang itu.
Zaleanna membeku di tempatnya. Sesuatu seperti apa itu?
Tak ingin lama-lama berpikir, dia bergegas berlari. Ke belakang panggung itu, tempat seseorang yang berlari itu berasal.
Karena itu di dunia lain, maka dia akan dengan mudah melewati orang-orang yang berdesakan itu.
Para pengunjung teater itu beragam, anak kecil hingga orang tua semuanya ada dalam tangkapan penglihatan Zaleanna.
Apakah pihak teater tidak membatasi umur dalam menonton pertunjukkannya? Kenapa anah kecil di suguhkan tontonan yang terkesan men-trigger itu.
Menghiraukan pemikiran itu, dia melanjutkan langkahnya.
Tempat itu begitu gelap dan tidak ada orang disana, dia terus mencari kemungkinan yang terasa janggal.
Dalam pencariannya, dari balik kegelapan yang begitu pekat itu, sesosok makhluk terlihat keluar dari sana. Dengan memperlihatkan bayangannya terlebih dahulu sebagai pertanda kemunculannya, sosok itu berjalan perlahan memunculkan wujud aslinya.
Zaleanna tidak bisa berkata-kata saat dia menyadari sepenuhnya bahwa sosok itu adalah monster yang mengganggu dia dan teman-temannya di bangunan tua itu. Adapun ciri-cirinya, persis seperti yang Danzel jelaskan.
Lalu beberapa orang datang di belakangnya dan menarik paksa monster itu menggunakan tali pengikat yang mereka lemparkan tepat ke leher berurat monster itu.
Itu tidak berhasil.
Mereka semua terpelanting menjauh.
Zaleanna kalut, apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan monster itu. Apalagi dirinya terlihat sangat kecil dibandingkan wujud monster itu.
Namun semakin melihat bentuk tubuh monster itu semakin dia teringat sesuatu.
Pohon itu!
Ya, dia meningatnya, monster itu seperti tumbuh dan terbentuk dari lilitan akar pohon tua.
Seketika dia berlari ke area pohon tua yang berada di belakang bangunan itu.
Tepat setelah dia menjejakkan kakinya disana, saat itu pula dia terkejut setengah mati. Jika tidak segera mengontrol dirinya, mungkin dia akan kehilangan kesadaran saat itu juga.
Betapa tubuh dari monster itu tersambung dengan akar-akar pohon tua itu dan memanjang ke dalam gedung teater.
Disini dia melihat dua kemungkinan. Pertama, jika dia membuat monster itu kembali ke tempat asalnya, pohon tua itu, maka keberadaannya akan tetap ada dan hanya terperangkap saja. Kedua, adalah kemungkinan yang sudah pasti merupakan jawabannya, pohon tua itu harus di tebang.
Dia hendak segera kembali ke dunia nya namun begitu berbalik, monster itu berada tepat di depannya.
Zaleanna terperanjat, jantungnya berpacu begitu cepat.
Teman-temannya yang senantiasa berada di sekitarnya melihat tubuh Zaleanna mengejang, sesuai arahannya, mereka menggenggam tangan Zaleanna.
Mereka panik melihat Zaleanna tidak kunjung membuka mata, ini tidak seperti saat dia melakukannya sebelumnya. Tangannya yang sedang digenggam itu berbalik menggenggam kuat tangan teman-temannya hingga meninggalkan kemerahan disana.
“Aarrgh!”, Danzel berteriak karena tangannya di cengkeram begitu kuat.
Kembali ke Zaleanna yang sedang bertarung dengan monster itu, setelah dengan susah payah merabut salah satu akar pohon tua itu, cukup membuat monster itu kelimpungan, itu adalah kesempatannya untuk melarikan diri.
Dia berlari secepat mungkin, mengerahkan semua kekuatannya.
Kini dia merasa ada bagusnya juga pernah menjuarai kompetisi lari cepat, karena itu akan terpakai bahkan di dimensi lain.
Adapun mendapat ide untuk mematahkan akar itu adalah, karena ketidaksengajaan yang dia lakukan, menginjak akar pohon itu dan ternyata membuat monster itu mengeluarkan jeritan.
Zaleanna telah kembali kepada kesadarannya.
Setelah membuka mata betapa kagetnya dia melihat teman-temannya yang sepertinya telah melewati suatu hal.
“Apa yang terjadi?”, dia panik.
Lalu dia melihat Danzel yang memegang salah satu tangannya, dan melihat kemerahan yang sedikit mengeluarkan luka disana.
Dengan tatapan nanar dia melihat bekas cengeraman ditangan Danzel, pasti itu menyakitkan.
Dia menghampirinya dan meraih tangannya perlahan.
“Apa aku mencengkeramnya?”
Mereka diam, enggan mengatakan iya ataupun tidak. Karena mereka tau itu adalah ketidaksengajaan yang tanpa perencanaan tiba-tiba terjadi, diluar kendali.
Melihat respon mereka membuat Zaleanna yakin bahwa dia secara tidak sadar telah melukainya saat dalam perjalanan lintas dimensi. Dia menyesal akan hal itu.
Hal seperti ini memang terkadang bisa terjadi dalam perjalanan lintas dimensi, karena apa yang tubuh lakukan di dunia asal adalah respon dari apa yang sedang dilakukan di dimensi lain.
Dia telah mematahkan salah satu akar pohon tua itu, dan ternyata di dunia asal dia sedang mencengkeram tangan seseorang.
Melakukan perjalanan lintas dimensi begitu beresiko.
“Aku akan mengobatimu”, diraihnya tangan Danzel dan mengobatinya dengan hati-hati.
Danzel yang diperlakukan seperti itu hanya diam dan patuh.
Melihatnya yang dengan telaten mengobati lukanya dengan penuh kelembutan, dan tanpa banyak bicara, Danzel merasakan sesuatu yang berbunga dalam dirinya. Itu adalah hatinya.
Bagaimana mungkin Alea melakukannya dengan tenang seperti itu di hadapan teman-temannya yang kini sedang menatapnya dingin.
Diam-diam dia tersenyum, ternyata saingannya bukan hanya satu orang.
Setelah selesai dengan itu, Zaleanna kembali berkumpul dengan mereka, dan menjelaskan semua yang terjadi selama perjalanan lintas dimensi itu.
Untuk kali ini dia menjelaskannya semuanya, tanpa terlewat. Karena dia rasa itu cukup logis untuk di pahami teman-temannya, tidak seperti saat pertama kali dia harus menjelaskan perjalanan lintas dimensi sebelumnya, yang mana mereka semua belum terbiasa dengan itu, dan kini dia rasa dengan semua yang sudah mereka lewati, mereka akan paham dengan apa yang terjadi.
Untuk menebang pohon itu di butuhkan alat yang mumpuni yang mampu melakukannya, mengingat bahwa pohon itu cukup besar dengan akar yang menjalar kemana-mana.
Dia saja harus mengerahkan seluruh kekuatannya hanya untuk mematahkan satu akar pohon, dia tidak bisa membayangkan bagaimana kuatnya pohon itu.
Segera setelah mendengar itu, mereka semua berpencar mencari peralatan untuk digunakan dalam menebang pohon. Namun sayangnya di lantai yang mereka singgahi saat ini tidak ada sesuatu seperti itu, disana hanya terdapat barang-barang kecil yang sudah rusak dan kotor.
Dalam peralatan yang mereka bawa juga tidak ada perkakas atau semacamnya yang bisa digunakan untuk menebang pohon.
Mereka frustrasi.
Jauh disana, seseorang terlihat akan menaiki tangga ke lantai atas. Dan seseorang lain terdengar berteriak memanggilnya.
“Aurevy!”
Aurevy berhenti dipersimpangan tangga yang menyambungkan ke lantai atas.
“Apa kamu akan naik ke atas?”
Danzel memposisikan dirinya tepat di depannya, “Lebih baik jangan. Ravel sudah melarangnya”
Dia terlihat cemas saat Aurevy hanya diam dan tidak menghiraukannya, tetapi memandang ke lantai atas itu, dari bawah tangga.
Aurevy menatapnya, “Kita tidak menemukan alat untuk menebang pohon itu di lantai satu. Aku ingin mengeceknya di lantai atas, siapa tau menemukannya. Dan bukankah belum pernah ada yang mencoba kesana?”
Danzel menghela nafas, “Baiklah jika kamu tetap bersikeras, aku akan mengatakannya terlebih dahulu pada Ravel. Lalu, kita bisa pergi ke sana bersama-sama”
Kemudian dia menyentuh pundak anggota termuda, “Tunggu disini dan jangan kemana-mana”
Danzel meninggalkannya, dan bergegas menemui yang lain.
Di area belakang, mereka masih sibuk mencari sesuatu. Sangat sulit untuk menebang pohon besar itu jika tidak menggunakan alat yang memadai. Disana hanya terlihat bebatuan dan potongan kayu yang sudah kering.
Begitu mustahil menebang pohon menggunakan kedua benda itu.
Danzel menghampiri mereka dan menyampaikan keinginan Aurevy yang ingin pergi ke lantai dua gedung itu. Meski itu sedikit mengejutkan, terutama bagi Ravel yang sudah memberi himbauan untuk tidak pergi kesana, karena melihat tangga itu sudah rapuh dan berkarat, mereka akhirnya bersama-sama menemui Aurevy.
Namun begitu sampai disana, tidak terlihat keberadaan Aurevy.
Mereka semua belum bereaksi seterkejut yang dialami Danzel saat ini.
Bagaimana Aurevy bisa melupakan pesan yang dia amanatkan padanya, bahwa jangan pergi kemana-mana dan cukup menunggunya disana.
Semuanya menatap Danzel.
“Dimana dia?”, tanya Ravel memastikan
“Aku sudah mengatakan padanya untuk tetap berada disini, tetapi sepertinya dia tidak menghiraukannya”, sungguh, Danzel benar-benar tidak menyangka ini akan terjadi.
Selama ini dia merasa Aurevy cukup penurut dan baik, itu cukup membuatnya terkejut mengetahui Aurevy berbeda dengan kepribadiannya yang sebelumnya.
Kepanikan mereka bukan hanya tertuju pada suara-suara yang aneh yang saat ini sudah terdengar, tetapi juga tertuju pada Aurevy yang tiba-tiba menghilang.
Mereka berhamburan mencari keberadaannya, akan tetapi Aurevy tidak ditemukan di lantai satu gedung itu. Bahkan meski sedikit ketakutan, Danzel dan Elzilio berkeliling di bangunan itu seraya mencari keberadaanya, siapa tau Aurevy sedang berada di luar.
Namun nihil.
Mereka tidak lagi menghiraukan jam, yang pasti di tempat ini hari akan selalu malam. Seberapa pun mereka mengharapkan melihat sinar mentari pagi dengan embun yang membasahi dedaunan di tempat itu, begitu mustahil, hanya ada kegelapan disekitarnya.
Setelah pencarian cukup lama, mereka kelelahan. Bahkan Zaleanna saat ini sudah benar-benar tidak memiliki tenaga, mengingat bahwa beberapa saat yang lalu dia telah berusaha menahannya agar tidak menunjukkan kehilangan energi setelah melakukan perjalanan lintas dimensi, karena dia tidak ingin kembali merepotkan teman-temannya.
Dia tidak ingin kejadian saat itu terulang kembali, ketika dia terbangun namun tidak melihat keberadaan teman-temannya, yang ternyata mereka telah di lukai oleh monster itu.
Namun kini, sisa energinya telah benar-benar habis. Pertahanannya untuk tetap dalam keadaan baik-baik saja telah lenyap, yang akhirnya membuatnya hampir tak sadarkan diri.
Kemudian dia menjadi sepenuhnya tak sadarkan diri saat balok kayu yang tidak diketahui darimana asalnya itu, terjatuh dari atas dan mengenai tubuhnya.
“Alea!”
Ravel dan Mavin yang saat itu sedang bersamanya seketika terkejut melihat tubuhnya yang limbung, untung saja itu segera ditahan oleh Ravel. Mereka membawa Zaleanna untuk beristirahat.
Sedangkan Danzel dan Elzilio masih berada di luar, mencari Aurevy.
Diam-diam Ravel kembali menyalahkan dirinya sendiri. Dia sudah tau dampak dari perjalanan lintas dimensi yang Zaleanna lakukan tetapi dia tidak melarangnya saat Zaleanna akan kembali melakukan itu untuk kedua kalinya.
Sebagai ketua, dia merasa dirinya tidak berguna. Karena membiarkan anggotanya terluka hanya karena dia tidak tanggap dalam menganalisis keputusan yang ingin diambil oleh mereka.
“Kamu disini, jaga Alea. Aku akan pergi ke lantai atas”
“Tidak”, sontak saja Ravel menolak permintaan Mavin yang ingin naik ke lantai atas, yang belum benar-benar diketahui ada apa disana.
Tatapannya beralih pada tangga yang sudah rapuh dan berkarat itu.
“Kita akan pergi bersama-sama setelah semuanya berkumpul”
“Ravel, kita tidak memiliki banyak waktu. Monster itu kapan saja bisa kembali melukai kita, dan aku rasa menemukan sesuatu untuk menebang pohon itu semakin cepat semakin baik. Aku pergi”
Ravel tidak bisa menahannya lagi, jika Mavin sudah bersikeras maka dia hanya bisa memahami itu. Kepribadiannya yang tak kenal takut, membuatnya tampil sebagai sosok yang tegas dan pemberani.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Madan Ramadhan
ksbhdoi arybzjmoniRjsvs
2024-01-22
0
Armin Arlert
Juara banget! Ceritanya menyentuh hati dan membuatku merasa seperti ikut terlibat dalam petualangan tokoh-tokohnya.
2023-09-09
0