BAB 15: MISTERI BERMUNCULAN

Zaleanna di panggil oleh kepala pelayan istana, dia mengatakan bahwa ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan dengannya. 

Segera Zaleanna menemuinya di ruang rapat, karena di situlah pertemuan itu akan berlangsung.

Di dalam sana sudah ada beberapa pelayan istana dan kepala pelayan yaitu wanita yang bertanggungjawab menjaganya.

“Tuan putri, setiap tahun istana mengadakan festival bunga. Jadi kami memanggil Anda untuk mempersiapkan hal itu”

Festival bunga?

Ah! Itu benar. Tempo hari kepala pelayan istana pernah memberitahunya bahwa ibunya, yang merupakan ibu dari tuan putri istana, sangat menyukai bunga dan karenanya lah festival itu ada di istana. Tetapi dia tidak pernah berpikir bahwa itu harus melibatkan dirinya sebagai pusat dari terselenggaranya festival itu.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”, cicitnya. 

Sebenarnya dia sedikit ragu bertanya hal itu karena dia tau mereka masih menganggap dirinya adalah tuan putri yang sering mereka maksud itu, akan tetapi jika dia tidak bertanya dia tidak akan tau seperti apa mekanisme festival itu dan apa perannya.

Terlihat para pelayan saling bersitatap satu sama lain, menyiratkan sedikit kebingungan namun tidak begitu kentara. 

Mereka paham bahwa Zaleanna sempat hilang begitu lama dan mungkin tuan putri itu masih belum terbiasa dengan kebiasaan istana sehingga dia perlu memastikan hal-hal yang membuatnya ragu.

Maka para pelayan itu memberitahukan semuanya, bahwa nanti saat festival berlangsung, Zaleanna sebagai perwakilan istana akan memimpin kegiatan itu dan yang pertama kali menyambut kedatangan festival tahunan itu dengan melemparkan berbagai macam bunga ke udara. 

Zaleanna mengangguk paham. 

Setelah selesai dengan itu, mereka mengijinkan Zaleanna pergi.

Di perjalanan dia tidak berhenti berpikir tentang banyak hal, salah satu yang mengganggunya adalah mengenai janjinya untuk kembali ke desa itu dan menyelamatkan penduduk desa yang terperangkap oleh yang mereka sebut ‘sihir’ itu. 

Di sisi lain keadaan Mavin masih belum benar-benar baik jadi dia tidak bisa dengan cepat kembali ke desa itu, dia harus kembali ke desa itu bersama Mavin sebab Mavin lah yang saat itu pergi bersamanya. 

Tetapi apakah dia terlalu egois dengan mengajak laki-laki itu kembali bersamanya ke desa itu yang padahal sebelumnya Mavin terluka oleh hambatan yang mereka temui disana.

Baik! Untuk itu dia akan pergi sendiri dan menyelesaikannya sendiri tanpa harus membawa siapapun agar tidak ada yang terluka.

Saat dia akan kembali ke ruangan Aurevy dan menemui keduanya, dia melihat Ravel yang juga sedang berjalan ke arah sana. Jadi mereka bertemu di persimpangan.

“Ravel”

Ravel tersenyum hangat dan menghampirinya.

“Kamu dari mana saja?”, Zaleanna bertanya seperti itu karena nyatanya memang itu yang ingin dia ketahui setelah sebelumnya pergi ke kamar Aurevy namun tidak melihat Ravel dan dua temannya yang lain.

“Aku--”

Ravel tidak sempat melanjutkan perkataannya karena Zaleanna sudah lebih dulu memotongnya.

“Oh? Apa yang kamu bawa itu?”

Benar.

Dia bahkan melupakan hal itu, tidak menyadari bahwa dirinya saat ini sedang membawa kantong plastik berisi bola hitam yang dia temukan di area belakang istana dan yang sebelumnya dia tunjukkan pada Elzilio dan Danzel. 

Jika sudah seperti ini maka tidak ada jalan keluar selain mengatakan yang sebenarnya. Toh, dia tidak bisa menyembunyikan hal ini dari teman-temannya.

Niat awal untuk melindungi teman-temannya dari rencana yang ingin dia lakukan harus diurungkan.

“Ikut aku, nanti aku jelaskan padamu”

Dengan demikian mereka akhirnya kembali ke kamar Aurevy. 

Entah bagaimana mulanya hingga pada akhirnya ruangan kamar Aurevy menjadi tempat mereka berkumpul dan mendiskusikan banyak hal. 

“Malam saat kalian tidak ada di istana, tubuh Aurevy tiba-tiba kejang dan panasnya meningkat. Aku berlari dan mencari pertolongan, karena ruangan kesehatan istana memiliki seorang tenaga medis maka aku pergi kesana. Namun di perjalanan, aku tidak sengaja menangkap sesuatu. Aku melihat seorang pengawal istana melakukan sebuah ritual di ruangan kosong dengan sekat yang sedikit terbuka, yang berada di pojok lantai satu dekat pintu yang menuju ke area belakang”

Semuanya menantikan setiap kalimat selanjutnya yang Ravel katakan dan memberikan atensi sepenuhnya padanya. 

Mereka sudah was-was sejak awal, mengingat bahwa mereka telah melewati banyak hal menyakitkan selama di istana ini jadi mendengar pengakuan Ravel semakin membuat kekhawatiran menjalar dalam diri mereka. Mereka takut keselamatannya akan terancam dalam bahaya.

“Ritual seperti apa?”, tanya Zaleanna penasaran.

Ravel menyiapkan diri untuk mengatakannya, dia menghembuskan nafas perlahan dengan sedikit cemas.

“Menggunakan benda hitam ini”, Ravel membuka kantong plastik yang dia bawa, benda berbentuk bulat dan berwarna hitam pekat yang berbahan kasar dan cukup ringan itu ada lebih dari satu.

Sontak semua mata tertuju pada benda aneh itu.

“Benda apa ini?”

Jika dikatakan tempurung kelapa tapi itu tidak mirip karena bentuknya tidak seperti itu, kalaupun dikatakan semacam bola yang biasa digunakan untuk bermain juga tidak sebesar itu. Bentuknya tidak bisa digambarkan atau di samakan dengan keduanya, dan sepertinya tidak ada benda yang mirip dengan itu.

“Jangan gunakan tanganmu”, Zaleanna sontak menepis tangan Danzel yang ingin menyentuh benda itu. 

Zaleanna tidak ingin ada masalah lain yang menimpa mereka, jelas bahwa keadaan rumit mereka akhir-akhir ini karena dia dengan sembarangan memetik bunga yang berakhir membuat semuanya menderita karena mendapatkan dampak dari hal itu, dia hanya tidak ingin ketidakhati-hatian akan kembali membawa mereka mengalami hal-hal buruk.

Danzel yang memang dasarnya selalu penasaran, menyentuh benda itu begitu saja dengan sembrono tanpa mempedulikan kemungkinan-kemungkinan apapun. 

“Mulai sekarang sepertinya kita harus berhati-hati dengan benda apapun yang berada di istana, dengan semua yang sudah kita alami disini, itu membuktikan bahwa pasti ada sesuatu dibaliknya”

“Jaga diri kalian baik-baik”

Mendengar kekhawatiran sekaligus himbauan Zaleanna, semuanya mengangguk mengerti. Sebenarnya mereka mengkhawatirkan hal yang sama, tetapi tidak menduga bahwa Zaleanna akan dengan cepat mengutarakan himbauan itu dan menjadi sangat waspada.

“Bagaimana mereka menggunakan benda ini?, Aurevy bertanya penasaran, tatapannya masih terpaku pada benda itu. 

Tidak ada yang langsung menjawabnya, ini karena mereka juga tidak tau harus mengatakan apa, terkhusus bagi Elzilio dan Danzel yang melihat benda itu berada di perkebunan bunga berubah menjadi asap yang kemudian menyerang keduanya. Meski itu tidak di tunjukkan tetapi jelas bahwa hingga kini keduanya masih menyimpan perasaan trauma atas kejadian itu.

Zaleanna berusaha mengaitkan semua hal guna menemukan petunjuk untuk dapat menjawab rasa penasarannya.

“Tapi, Ravel. Kenapa kamu mengambil benda itu? Maksudku, kenapa kamu hanya menaruh curiga pada benda itu?”, tanya Zaleanna.

Ada alasannya. 

Malam pada saat pengawal istana itu melakukan ritual, benda bulat berwarna hitam itu mengeluarkan asap hitam yang mengepul. Adapun yang membuat dia menaruh penasaran pada benda itu adalah ketika benda yang awalnya hanya diam dan mengeluarkan asap itu perlahan terbang melayang-layang, sedangkan pengawal itu tetap melanjutkan ritualnya dengan memejamkan kedua matanya seakan tidak terganggu dengan pergerakan benda itu.

Setelah dia mengatakan itu, semuanya semakin menaruh rasa penasaran yang mendalam terhadap benda itu. Apa kiranya yang dilakukan istana dan apa yang sedang terjadi di sini?

Pada akhirnya Ravel bisa mengatakan apa yang sebelumnya dia sembunyikan dari teman-temannya, namun Zaleanna masih enggan untuk mengatakan tentang desa itu. 

Dia ingin terlebih dahulu memastikan petunjuk-petunjuk yang dia peroleh di istana barulah kemudian bisa mengatakan itu pada teman-temannya yang lain.

Dia melirik Mavin, sepertinya Mavin juga tidak terlihat tanda-tanda akan mengatakan hal yang dia khawatirkan.

Zaleanna bangun dan menghampiri Mavin, “Ini sudah hampir malam, aku akan mengantarmu ke kamarmu”

Demikian perdiskusian itu berakhir, semuanya kembali ke dalam kamar mereka masing-masing.

“Maaf telah merepotkanmu”

Zaleanna menyandarkan Mavin pada ranjang kamarnya, kemudian dia duduk disampingnya dan memberi Mavin senyuman hangat, “Aku tidak merasa di repotkan”

“Alea, apa kamu akan pergi?”

“Hm? Kemana?”

“Kembali ke desa itu”

Zaleanna terdiam. 

“Biarkan aku ikut denganmu. Kamu jangan pergi sendiri”

Inilah yang dia khawatirkan.

Keadaan Mavin belum sepenuhnya membaik, meski luka-luka itu telah mengering dan berangsur-angsur membaik tetapi daya tahan tubuhnya belum sekuat individu sehat pada umumnya, Mavin masih harus membutuhkan banyak istirahat.

Ini membuatnya serba salah, jika dia jujur maka siap-siap kekhawatirannya akan terwujud, dan jika dia mengelak maka dia harus siap pula untuk kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi.

“Mavin, kesembuhanmu adalah yang paling terpenting sekarang jadi jangan memikirkan hal itu, tubuhmu membutuhkan banyak istirahat. Jangan terlalu banyak yang dipikirkan, ya?”

Tangannya terulur menyingkirkan helaian rambut Mavin yang mencuat menghalangi pandangannya.

“Tidurlah”, dia menarik selimut hingga ke dadanya.

Setelahnya dia berdiri dan akan pergi, saat setelahnya suara Mavin menghentikan langkahnya sejenak.

“Selamat malam, Alea”

Tidak ada kata yang terucap disana melainkan hanya anggukan kecil dan senyuman hangat sebagai balasan untuk bentuk perhatian kecil yang manis itu.

Zaleanna mematikan lampu kamar Mavin kemudian menutup pintu kamarnya.

Dia tidak langsung menuju kamarnya di lantai atas tetapi mampir ke kamar Ravel untuk membicarakan sesuatu.

Pintu ruang kamar itu dia ketuk pelan, setelah ketukan ketiga barulah pemilik kamar membuka pintu untuknya.

Ravel mempersilakan Zaleanna masuk, keduanya duduk bersampingan di sofa.

“Ravel, ada yang ingin aku bicarakan denganmu”

Ravel telah siap mendengarkannya, posisi tubuhnya sedikit bergeser untuk menghadap Zaleanna sepenuhnya. Dia sendiri juga masih menantikan tanggapan-tanggapan Zaleanna terkait situasi yang mereka hadapi akhir-akhir ini.

“Aku harus memastikan sesuatu, dan itu bisa di ketahui hanya jika secara diam-diam mengikuti kemana perginya seorang pelayan setiap malam hari sambil membawa keranjang bunga di tangannya”

Persis seperti kecurigaan Ravel.

Dia juga sudah lama merasakan kejanggalan yang sama seperti Zaleanna, setiap malam saat hanya ada dirinya dan Aurevy, dia beberapa kali secara tidak sengaja menangkap seorang pelayan istana pergi pada malam hari dengan membawa sesuatu di tangannya. Tentu saja hal itu cukup mencurigakan dan membuat penasaran, pasalnya apa yang akan dilakukan seseorang di malam hari di luar istana dengan membawa keranjang bunga yang sudah terisi bunga?

Tidak mungkin dia pergi ke perkebunan bunga dan memetiknya beberapa, karena hal itu bisa saja di lakukan saat matahari terbit, mengapa harus menunggu malam hari.

Itulah sumber dari kecurigaannya pada aktivitas janggal itu.

Ravel belum menceritakan hal itu pada siapapun, dan kini sepertinya sudah waktunya untuknya menceritakan semuanya, saat ada salah satu temannya yang juga merasakan kecurigaan yang sama. 

“Aku tidak bisa memastikan ini, tetapi aku menaruh kecurigaan pada benda yang kamu bawa itu. Aku rasa jika itu memang digunakan untuk melakukan ritual persembahan seperti itu berarti benda itu memiliki sesuatu dibaliknya”

“Jadi, apa kamu mau bekerja sama denganku untuk memecahkan misteri itu?”

Ravel mengangguk yakin. 

Ini sudah lama sejak mereka keluar dari bangunan tua terbengkalai itu dan masuk ke dalam istana ini, dia tidak memiliki banyak percakapan empat mata dengan Ravel, dan melihatnya dari jarak dekat seperti ini membuatnya merasakan perasaan rindu yang samar.

“Ravel...”

“Hm?”

“Apa kamu mengalami kesulitan selama merawat Aurevy seorang diri?”

Tiba-tiba saja dia ingin menanyakan hal itu.

“Itu sudah tanggungjawabku untuk menjaga kalian, jadi aku tidak merasa kesulitan sama sekali”, Ravel menatap Zaleanna lembut, dia bisa merasakan bahwa kini gadis itu mengkhawatirkan banyak hal.

Dia tau ada banyak hal yang tidak terprediksi yang terjadi selama mereka semua kecuali Aurevy, tidak ada di istana. Tetapi dia tidak ingin membahas itu, melihat mereka semua dalam keadaan baik itu sudah cukup membuat perasaannya tenang.

Selama mereka semua ada disisinya, maka tidak ada kesulitan yang dia alami.

Ravel mengubah topik secara alami, dan bertanya pada pembahasan Zaleanna untuk memecahkan misteri.

“Jadi, kapan kita akan bergerak?”

“Tidak malam ini”

Ravel mengangguk paham.

“Ravel hati-hati dengan benda itu”

Zaleanna mengkhawatirkan Ravel yang saat ini memiliki benda yang digunakan untuk ritual itu ada padanya.

Ravel melirik benda yang masih terbungkus kantong plastik yang diletakkan di sudut kamarnya itu, “Jangan khawatir. Selama benda itu tidak sedang digunakan dalam ritual maka itu akan baik-baik saja, tidak akan ada reaksi apapun yang ditimbulkan dari sana”

Zaleanna mengangguk, jika memang begitu dia sedikit lega mendengarnya.

Dia kembali ke kamarnya, di buka nya buku catatan miliknya. Dan menuliskan kembali petunjuk-petunjuk baru yang dia peroleh. 

Tiba-tiba terlintas dalam ingatannya tentang mata merah yang dia lihat di desa itu. 

Saat itu mata merah yang dia lihat hanya memunculkan keberadaannya ketika dia berada di desa itu dengan masih membawa bubuk hitam bersamanya. Setelah bubuk hitam itu tidak lagi ada bersamanya, mata merah itupun tidak lagi menunjukkan eksistensinya. 

Dia berpikir, apakah itu ada hubungannya?

Jika ada, apa itu? Tetapi itu cukup membuatnya penasaran, siapa sosok di balik mata merah menyala itu, bukan hanya sepasang tetapi beberapa pasang mata merah menyala sedang melihat ke arahnya. 

Mengingat kembali kejadian itu cukup membuatnya merinding. 

Kemudian dia menambahkan ke dalam catatannya ‘misteri mata merah itu”, yang harus segera terkuak. 

Setelah menutup bukunya, dia langsung merebahkan dirinya di ranjang empuknya.

Itu benar-benar empuk, lembut, dan nyaman saat mengenai tubuhnya. Jika saja dia benar-benar seorang tuan putri yang hidupnya serba enak, juga tidak harus bangun untuk memecahkan misteri, mungkin dia akan berada di dalam kamarnya dan terus terbaring di ranjangnya, dan bangun sedikit lebih lama. 

Perlahan matanya terpejam, pergi ke alam mimpi, dan melupakan kesadarannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!