Zaleanna memijat kepalanya karena rasa sakit yang begitu kuat tiba-tiba menyerangnya. Ravel yang dengan cekatan menyadari itu meminjamkan bahunya untuk Zaleanna bersandar, kemudian dia beralih mengambil air mineral dari dalam tasnya.
Ravel membuka tutup botol itu dan memberikannya padanya, “Minumlah”
Lantas Zaleanna meraih air itu dan meminumnya perlahan.
Dia menyadari energinya telah habis setelah melakukan perjalanan lintas dimensi itu, kini tubuhnya terasa begitu lemas.
Akhirnya, Ravel membantu membaringkannya dengan posisi yang lebih nyaman.
Melihat kondisinya yang seperti itu muncul perasaan khawatir dalam hatinya, dia begitu menyesal karena membiarkan salah satu anggota timnya melakukan sesuatu yang berbahaya bahkan mengancam keselamatan.
Hidup di tengah-tengah keluarga yang masih menghargai tentang hal-hal spiritual, membuat Ravel tentu saja memahami bagaimana konsekuensi yang akan di alami setelah berkomunikasi dengan makhluk di dunia lain. Kakek dan neneknya yang telah memberitahunya.
Membiarkan Zaleanna beristirahat, dia beralih pada teman-temannya dan menangkap gerak-gerik Danzel yang terlihat sedang mencari sesuatu.
“Danzel, apa yang sedang kamu lakukan?”
Danzel yang mendengar panggilan itu langsung menghampiri Ravel, di wajahnya tergambar jelas ekspresi serius sekaligus penasaran, “Sesuatu berusaha keluar dari tempat ini. Tidakkah kamu penasaran dengan itu?”
Pemuda yang terkenal karena gemar becanda itu kini nampaknya sedang serius, terlihat dari bagaimana dia sudah beralih duduk kembali bersama teman-temannya yang lain.
“Lalu apa yang barusan kamu lakukan?”
“Tentu saja mencarinya, aku pikir itu akan tersembunyi di sudut-sudut ruangan”
Kini, teman-temannya merasa sia-sia karena telah mengira Danzel berhenti bermain-main dan berubah serius. Nyatanya dia masih sudi menggunakan energinya untuk melakukan lelucon yang kekanak-kanakkan di situasi seperti ini.
“Ey, kalian tidak mempercayaiku?, dia terlihat tidak terima karena respon yang ditunjukkan teman-temannya di luar ekspektasinya.
“Aku rasa itu sesuatu yang tidak terlihat, jadi tidak akan bisa ditemukan hanya dengan mencarinya di sudut ruangan”, Mavin menimpalinya.
Mavin memiliki sedikit kepekaan terhadap hal-hal misterius yang memiliki korelasi dengan hal lainnya yang cukup logis, dia yang selalu bertindak logis mencoba berpikir lebih mendalam, menyambungkan petunjuk yang telah diperoleh Zaleanna dengan situasi yang ada.
“Sesuatu yang tidak terlihat? Apa itu?”
“Danzel, berapa umurmu? Haruskah di usiamu yang sekarang perlu diberikan pemahaman mengenai hal itu? Sudah jelas itu adalah hantu, apa lagi yang kamu harapkan?”, Elzilio yang sangat tidak bisa toleran dengan sesuatu yang memicu tingkat kesabarannya itu akhirnya bersuara.
Semua tatapan mata mengarah padanya, bagaimana bisa Elzilio mengatakan kata ‘hantu’ dengan begitu santai.
Danzel yang sepertinya menganggap malam ini adalah hari sialnya, hanya bisa berpasrah diri ketika teman-temannya menyerangnya secara verbal.
Adapun Ravel, dia hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap teman-temannya itu. Sebagai yang paling tertua, dia cukup terbiasa dengan karakteristik masing-masing dari mereka. Tak sedikit dirinya dibuat marah karena ulah sembrono mereka, namun lagi-lagi dia tak sampai hati memarahi mereka, yang biasa dia lakukan adalah memberinya teguran dengan penuh pengertian. Seperti itulah seharusnya seorang ketua bersikap.
Malam sudah begitu larut saat Zaleanna terbangun dari tidurnya. Setelah rasa sakit yang hebat di kepalanya itu, secara naluriah dia mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur. Begitu terbangun, meski kepalanya masih sedikit terasa sakit namun itu tidak seburuk sebelumnya.
Dia melihat sekitar, namun betapa terkejutnya dia saat menyadari bahwa teman-temannya tidak ada disana.
Kemana mereka semua pergi?
Zaleanna tidak berpikir mereka meninggalkannya, karena tas dan perlengkapan lainnya milik mereka masih berada disana.
Dia bangkit, sambil dengan menyesuaikan tubuhnya yang sedikit limbung, penglihatannya perlahan dia sesuaikan selaras dengan pemandangan sekitar yang remang-remang dan berdebu.
Langkahnya terus berjalan, mencari keberadaan mereka. Karena posisinya masih ada di belakang area gedung, lebih tepatnya dekat area bilik toilet, dia berniat mencarinya disana.
Namun dia tidak menemukan apapun.
Perasaannya kian berkecamuk, berbagai kekhawatiran menghantui pikirannya, namun Zaleanna tidaklah begitu lemah untuk mengontrol dirinya sendiri. Setelah mendapatkan kekuatan berkat dari kegiatan tidur yang dia lakukan, energinya cukup untuk melawan desakan negatif di sekitarnya.
Dia mencoba berpikir dengan hati-hati, menemukan cara yang tetap, namun tiba-tiba...
Bunyi notifikasi terdengar di depannya disertai dengan layar transparan bercahaya yang menampilkan beberapa teks disana.
[ Nama Lengkap : Zaleanna ]
[ Nama Panggilan : Alea ]
[ Informasi tambahan : Berteman dengan orang asing tapi baik atau berteman dengan orang yang sudah di kenal tapi jahat ]
Apa maksudnya?
Dia begitu bingung sekarang, kepalanya berusaha mencerna apa yang tertulis di layar itu. Tiba-tiba sebuah ingatan terlintas di kepalanya.
Bukankah itu teks yang pernah dia kirim kepada salah seorang teman asing yang dia temui di aplikasi chatting itu?!
Dia kembali berpikir dengan keras, berusaha mencari jawaban dari kebingungannya saat ini.
Dan berhasil.
Setelah layar itu hilang dari pandangannya, saat itu pula dia berlari mencari keberadaan teman-temannya.
Pencarian itu dia lakukan hingga ke semak belukar, juga mengelilingi bangunan itu. Saat kembali tiba di belakang, entah dari mana asalnya tiba-tiba asap tebal melingkupi area sekitar. Pandangannya seketika terganggu, dia tidak bisa melihat dengan jelas area di sekitarnya.
Sayup-sayup dia mendengar suara dari arah belakang, sontak dia berbalik untuk melihatnya. Meski masih terhalang oleh kabut, dia berusaha menghalaunya dengan mengibas-ngibaskan mengunakan tangannya.
Dia terbatuk karena asap yang semakin tebal itu menyelimuti dirinya, nafasnya sedikit tersenggal tetapi dia berusaha untuk mengontrol dirinya tetap dalam keadaan sadar.
Pendengarannya menangkap suara rintihan seseorang, lantas dibawanya tubuhnya menerobos kabut tebal itu.
BOOM!
Lemari kaca tiba-tiba saja meledak, pecahan kacanya mengenai tubuhnya dan membuat beberapa luka disana. Dia mendesis menahan rasa sakit yang menusuk itu.
Hanya beberapa luka kecil seperti itu tidak lantas membuatnya menyerah ataupun menangis, dia terlahir sebagai anak tunggal yang terbiasa mandiri, sehingga dia menghiraukan dirinya yang terluka dan melanjutkan mencari keberadaan teman-temannya.
Tolong, aku hanya ingin menemukan orang-orang asing yang baik itu. - Suara hatinya
Meski dia berusaha kuat, dengan apa yang dia alami, cukup membuatnya frustrasi.
Kabut itu perlahan menghilang, kegelapan kian terasa saat dengan seketika area sekitar kembali seperti keadaan semula.
Saat itulah dia bisa melihat mereka dalam keadaan terikat dengan tampilan yang sangat menyakitkan.
Dengan tidak sabar dia membuka tali yang mengikat mereka, tali itu begitu kuat hingga dia harus menggunakan tenaga ekstra untuk membukanya.
“Alea..”, rintih Ravel dengan lesu, karena telah di ikat cukup lama.
Dengan tertatih-tatih mereka saling memapah satu sama lain untuk kembali ke ruangan yang mereka singgahi sebelumnya. Dan Zaleanna memapah Ravel dengan hati-hati.
Disana mereka kembali berkumpul. Itu cukup membuatnya lega karena tidak ada yang kurang apapun dari mereka. Hanya beberapa luka yang meninggalkan goresan, namun itu tidak sampai begitu parah.
Dengan sisa persediaan air yang ada, Zaleanna memberikan pada mereka secara bergantian.
Dilihat dari luar, itu jelas bahwa wajah mereka pucat dengan beberapa lebam disana. Zaleanna meringis melihat itu, namun dia lupa bahwa dirinya sendiri juga tengah terluka.
Namun, saat ini hanya Zaleanna yang secara keseluruhan masih dalam keadaan sadar dan baik-baik saja, untuk itu dia dengan inisiatif membantu membersihkan luka mereka.
Setelah keadaan dirasa cukup membaik, dengan hati-hati dia bertanya pada mereka.
“Apa yang terjadi?”
Ravel yang masih dalam posisi bersandar, kini beranjak untuk berusaha duduk. Zaleanna yang melihat itu pun membantunya.
"Luka mu juga harus diobati", dengan salah satu tangan yang sudah menggenggam alkohol, dia membawa satu tangan lainnya mengusap lembut luka di tangan Zaleanna menggunakan selembar tisu.
Tindakan itu, sedikit membuat Zaleanna terpaku ditempatnya.
Setelah selesai dengan itu, Ravel kembali memposisikan dirinya untuk menjawab pertanyaannya.
Nampak raut wajah teman-temannya sedikit ketakutan, seperti tidak siap dengan apa yang nanti akan Ravel katakan.
Setelah kejadian tiba-tiba itu, cukup membuat mereka trauma. Saat bagaimana makhluk itu dengan paksa menyeret tubuh mereka ke semak-semak dan membantingnya dengan kasar, menyakiti hingga sempat tak sadarkan diri kemudian mengikatnya.
“Di bangunan ini, ada sesosok makhluk aneh”
“Seperti apa?”, dengan ragu-ragu Zaleanna bertanya, ingin memastikan sesuatu.
Sejujurnya Ravel tidak ingin menjelaskan secara rinci perwujudan makhluk itu, dia hanya tidak ingin Zaleanna mengetahuinya. Meski dia tau Zaleanna adalah individu terpilih yang bisa melihat makhluk-makhluk seperti itu tetapi tetap saja ada perasaan tidak ingin gadis satu-satunya di tim nya itu merasakan ketidaktenangan karena terus membayangkan sosok mengerikan itu. Lantas, Ravel hanya menunduk.
Zaleanna menyadari perubahan itu.
Danzel yang gemar becanda, namun saat ini juga sedang terluka dan tidak memiliki kekuatan untuk membuat lelucon apapun, mengatakan dengan rasa takut yang masih tertinggal di dalam dirinya, “Itu benar-benar mengerikan. Bukan makhluk seperti hantu yang sudah jelas bentuk dan statusnya, tapi lebih seperti monster tanpa kulit dengan tubuh yang melengkung. Anggota tubuhnya berserat seperti terbentuk dari lilitan akar pohon yang sudah sangat tua, begitu cokelat namun juga hitam pekat. Tangan dan kakinya elastis, bisa memanjang juga bisa kembali seperti keadaan semula. Hanya ada sedikit helaian rambut di kepalanya selebihnya itu terlihat seperti tengkorak hidup, dengan kedua bola mata menonjol dan memerah”, Danzel berhenti sebentar untuk membuang nafas, mengerucutkan ekspresi wajahnya dan menggeleng, “Aku tidak sanggup untuk menjelaskannya lagi”
Zaleanna membeku.
Kini, bukan hanya dirinya yang telah melihat makhluk itu tetapi teman-temannya juga telah diperlihatkan wujud makhluk yang tidak pernah ingin dia lihat ataupun ceritakan pada mereka itu. Tetapi setelah mengetahui bahwa sosok itu juga menampakkan wujud pada teman-temannya, sejenak membuatnya berpikir bahwa dugaannya benar, makhluk itu sengaja menyesatkan mereka dan mempermainkan mereka.
Tepat setelah dia melakukan perjalanan lintas dimensi beberapa jam yang lalu, itu adalah kali pertamanya dia melihat sosok makhluk yang baru saja Danzel jelaskan.
Sekarang dia mengerti, sosok itu adalah jawaban dari terjebaknya dia dan teman-temannya di bangunan kosong ini.
Malam hari yang terasa begitu panjang, bahkan sudah dia lewati dengan tertidur tetapi mentari pagi tak kunjung menyinari tempat ini.
Jelas ini aneh.
Dia mencoba mengingat kembali semua yang telah dia lalui di bangunan tua ini dan mengaitkannya satu sama lain, mencoba mencari titik jawaban untuk bisa keluar dari jebakan ini.
Api digunakan untuk membakar, dan meski bilik toilet ada begitu banyak tetapi tidak sedikitpun terlihat air di dalamnya, lantai yang hancur dan retak hanya terdapat di area belakang dan toilet, bangunan yang di design melingkar seakan berusaha membuat seseorang sulit menemukan jalan keluar dan terpaksa kembali ke tempat semula, pohon tua yang semua akarnya menonjol ke luar seakan berusaha menjerat sesuatu untuk masuk ke dalamnya. Semua kebetulan itu begitu tersusun dengan rapi dan saling keterkaitan satu sama lain, semakin menyadarinya semakin itu terasa aneh.
Sontak Zaleanna melebarkan matanya, tubuhnya sedikit mengejang, bibirnya terasa kelu untuk mengeluarkan suara.
Semua ini jelas menggambarkan pada aktivitas pembakaran, dan sesuatu yang di bakar tersebut berlari ke dalam toilet untuk menghentikan api yang menyelimuti tubuhnya, kemudian entah apa yang terjadi setelahnya pada akhirnya membuat begitu banyak kekacauan di toilet hingga menyebabkan lantainya retak dan hancur. Ada alasan dibalik tubuh sosok itu yang terlihat seperti akar yang melilit tubuhnya, itu menjelaskan bagaimana sesuatu itu telah keluar dari tempatnya. Apakah ini alasan mengapa pohon tua itu mengatakan bisikan padanya bahwa jangan ada yang menyentuh benda-benda disini.
Zaleanna menatap nanar teman-temannya, tepat di sorot mata mereka.
“Apa ada diantara kalian yang menyentuh barang-barang di tempat ini?”, itu adalah sebuah pertanyaan akan tetapi terdengar seperti sebuah perintah yang menuntut seseorang yang melanggar himbauannya itu mengatakan yang sejujurnya.
Masih tidak ada yang bersuara, mereka saling menatap satu sama lain.
Hingga akhirnya seseorang terlihat mengangkat tangannya dengan sedikit ragu-ragu.
Semuanya membeku.
Tidak ada yang berani bersuara ataupun mengangkat kepalanya untuk menghadap ke depan, setelah Mavin mengangkat tangannya dengan kepala yang tertunduk.
Seakan ada dorongan negatif di belakangnya, Zaleanna melangkah mendekati Mavin, dan berdiri tepat di depannya.
Dia berusaha menghalau energi negatif yang berusaha untuk masuk ke dalam tubuhnya, dia tau bahwa sesuatu sedang berusaha membuatnya melukai Mavin sebagai akibat dari larangan yang sudah dia langgar. Setelah berhasil, dia menetralkan kembali perasaan dan emosinya.
“Mavin, barang apa yang kamu sentuh?"
Itu adalah sebuah guci antik peninggalan kuno berukuran kecil yang terdapat huruf yunani yang terukir dengan rapi disana. Jika bukan karena guci itu akan terlihat jatuh, Mavin tidak akan menyentuhnya. Karena dia juga masih mengingat himbauan Zaleanna untuk tidak menyentuh apapun. Akan tetapi pada akhirnya bukan hanya menyentuhnya, Mavin membawa benda itu bersamanya.
Dia mengeluarkan itu dari dalam tasnya.
“Kita dalam masalah”, Zaleanna harus mengatakan itu dengan menyesal.
“Gila! Apa kamu mau kita semua mati?”, Elzilio yang tersulut emosi langsung naik pitam melihat fakta itu dan menyambar kerah baju Mavin. Dia yang paling membenci tempat ini dan begitu sering mengatakan keinginan untuk pulang, harus menerima kenyataan bahwa keinginannya terpaksa kembali terhambat.
Elzilio melepaskannya dengan kasar. Dia mengusak rambutnya gusar dan berlalu dari hadapan mereka.
“Elzilio!”, Aurevy mengejarnya.
Zaleanna meminta Mavin untuk berbicara dengannya untuk menjelaskan semuanya.
Setelah mendapatkan keterangan itu, dia tau bahwa itu tidak sepenuhnya kesalahan Mavin.
Ketidaksengajaan memang sering dilakukan manusia, karena manusia tidak pernah bisa memprediksi apa yang akan terjadi di waktu berikutnya. Adapun mengenai guci itu dibawa bersamanya, tentu saja itu karena manusia menyukai keindahan secara visual, dan Mavin telah menggunakan kesempatan itu untuk bisa memiliki keindahan yang ditangkap panca indranya.
Dengan penuh pengertian dia membuat Mavin untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri, dan dia akan membantu menyelesaikan masalah ini.
Adapun Mavin, tidak mempedulikan jika dirinya mendapatkan kesialan karena mengambil benda itu, tetapi yang membuatnya semakin merasa bersalah adalah ketika Zaleanna dengan sikapnya yang dewasa mencoba mengatasi masalah yang telah dilakukan olehnya dengan tetap tenang.
Detik ini, Mavin menyadari bahwa Zaleanna adalah seseorang yang benar-benar membuktikan bahwa menjadi dewasa dalam mengatasi masalah itu sangat penting.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Mar Briyith ER
Hati terharu.
2023-09-08
0