BAB 16: RAHASIA GELAP ISTANA

Hembusan angin menyibak untaian bunga yang terhampar begitu luas, burung-burung berkicau dan berterbangan dengan bebas di atasnya. Langit biru memancarkan keindahan yang ada di bawahnya, para awan pun terbentuk dengan indah. 

Perempuan berperawakan ramping dan cantik sedang berdiri menyaksikan keindahan itu, keindahan yang dia perjuangkan, keindahan yang dia ciptakan untuk melengkapi istana yang mencekam karena peraturan yang bertentangan dengan keyakinannya.

Dia adalah tuan putri istana yang berjiwa bebas dan berkepribadian pejuang, hidupnya tidak hanya berdiam diri di istana menikmati kemewahan tetapi turun ke lapangan untuk menegakkan keadilan.

Ada dua hal yang dia sayangi dan ingin dia lindungi, rakyatnya dan bunga-bunga yang dia tanam sendiri.

Betapa istana telah kejam mempekerjakan rakyatnya begitu berat dan penuh kekejaman hingga membuat air matanya sering berderai. Dia tau bahwa itu merupakan salah satu cara agar para penghuni istana dan penduduk di kota ini menikmati kenyamanan hidup, karena bekerja adalah untuk menyokong hidup berkelanjutan mereka tetapi tidak dengan cara yang tidak manusiawi. Untuk itu keputusan untuk menanam bunga, selain untuk kesenangan pribadi, juga untuk menjadi pengganti komoditas dalam mencari nafkah, sehingga para rakyat itu beralih bekerja dengan lebih manusiawi dengan meninggalkan pekerjaan yang menyakitkan pada pekerjaan yang nyaman.

Sungguh mulia niat baiknya.

Namun tidak disenangi oleh pemimpin istana, yang merupakan ayahnya sendiri.

Segala macam cara telah dia lakukan untuk menentang kekejaman peraturan ayahnya pada para rakyatnya, segala macam cara pula dia menerima penyiksaan dari pemimpin otoriter itu.

Dia adalah tuan putri La Xianna, perempuan hebat yang dimiliki istana. 

La Xianna bersama suaminya, William Van Diero, menghabiskan banyak hidupnya sebagai seorang penjelajah dan penegak keadilan. Rakyatnya memuja tuan putri dan tuan muda itu sebagai ksatria yang hebat dan tidak menyerah, ini terbukti meski mereka tidak tahan tinggal di wilayah istana namun karena ada kedua orang itu mereka bertahan meski tersiksa, karena percaya bahwa keduanya akan membawa mereka pada kebebasan. 

Berkali-kali para penduduk kota telah merasakan dampak dari niat baik pasangan suami istri itu, sehingga mereka mengabdi pada keduanya.

Suatu hari pemimpin istana, yang merupakan ayah La Xianna, yaitu George Daniel Lalion, murka besar. Mungkin itu adalah puncak dari kesabaran yang sudah sering dia tahan pada kelakuan putrinya yang selalu menentangnya. Permintaan La Xianna sangatlah sederhana, dia ingin menaman bunga di halaman yang luas dan menjadikan ladang bagi para penduduk untuk mencari nafkah melalui sumber mata pencaharian dari tanaman itu. Sebab, saat itu dia mendengar bahwa panen bunga sangat menjanjikan dan bisa memberikan keuntungan besar dalam perdagangan lintas benua.

Meski pada akhirnya La Xianna berhasil mewujudkan keinginannya itu tetapi nyatanya ayahnya masih enggan menerimanya. Dia merasa La Xianna benar-benar telah diluar batas dan menghancurkan reputasinya serta kejayaan dari istana yang dibangunnya.

George menganggap bunga adalah simbol kelemahan, dan tentu saja hal itu bertentangan dengan sikapnya yang ingin di kenal kuat dan pemberani.

Lambat laun, dengan segala pertentangan dan konflik yang terjadi antara ayah dan putrinya itu, semakin hari semakin memburuk. Bahkan berita konflik internal dalam keluarga istana tersebut telah tersebar ke seluruh kota, menjadikan reputasi istana mengalami sebuah tanda tanya, ‘Akan dikemanakan dan akan bagaimana nasib istana ke depannya?’.

George Daniel Lalion, pemimpin istana La Er Lion, akhirnya frustrasi. 

Ditengah-tengah kekalutan itu, lahirlah seorang penerus istana. Mendengar bahwa generasi baru telah lahir di istananya sontak membuat George girang, karena dia tentu akan langsung menobatkan anak La Xianna sebagai pemimpin istana La Er Lion di masa depan. Namun betapa semakin murka dan terguncangnya ketika melihat bahwa putrinya telah melahirkan seorang anak perempuan dan bukan anak laki-laki, George langsung saja mengusir mereka dari istana. Mimpinya yang telah lama dia bangun untuk masa depan dari istana ini telah hancur dan harus merelakan untuk tidak terwujud.

La Xianna dan William Van Diero di karuniai seorang putri yang cantik, mereka memberinya nama La Viera Diero.

Sebagai seorang suami juga seorang ayah, William tentu saja keberatan akan keputusan George yang terburu-buru, mengingat bahwa istrinya baru saja melahirkan dan putri mereka masih sangat membutuhkan kasih sayang dan pengasuhan dari kedua orang tuanya. Akan tetapi seberapa banyak pun dia memohon padanya, keputusan George tidak bisa di tawar dan di diskusikan sedikit pun.

Tawar menawar yang cukup sengit itu akhirnya hanya memunculkan suatu keputusan baru yang juga sama menyakitkannya bagi keduanya. 

Keduanya harus rela untuk berpisah dengan putri mereka.

Tidak ada orang tua yang ingin berpisah dengan anak kandung mereka apalagi anak itu baru di lahirkan ke dunia, tetapi karena keduanya tidak ingin jika putrinya akan terlantar dan tidak memiliki kehidupan yang layak maka keduanya sangat amat memohon pada George untuk membiarkan putri mereka hidup dengan baik di istana.

Maka, dengan sedikit perasaan iba yang masih tersisa di hatinya, dan sebagai seorang ayah yang masih memiliki tanggungjawab pada putrinya, George mengijinkan putri mereka untuk tinggal di istana. Namun syaratnya adalah sampai kapan pun meski kematian yang memisahkan sekalipun, keduanya tidak boleh kembali ke istana dan menemui putri mereka. George meminta mereka untuk melupakan hubungan darah dengan putri kandungnya dan menganggapnya bukan lagi bagian dari milik mereka.

Awalnya, baik La Xianna maupun William menolak syarat itu, tentu saja itu sangat tidak adil dan memberatkan keduanya. Akan tetapi rasa sayangnya pada anaknya agar terawat dengan baik dan memiliki kehidupan yang layak akhirnya mereka menerima keputusan itu dengan hati terluka yang dipaksakan untuk merela.

William membawa La Xianna pergi dari istana.

Dengan deraian air mata yang sudah tidak dapat lagi dia bendung karena tidak tega melihat istrinya dan putrinya mendapat perlakuan seperti itu di dalam keluarganya sendiri, hatinya benar-benar remuk dan terluka.

Mereka membangun sebuah gubuk kecil yang sederhana di pinggir sungai dekat pegunungan. Itu adalah sebuah tempat yang mereka gunakan untuk bernaung selama akhir hidupnya.

Mereka tidak membawa ataupun memiliki apapun saat di usir dari istana, jadi mereka mengandalkan tenaga dan kemampuan mereka dalam menghasilkan uang untuk menyambung hidup. 

Akhir dari kisah perjuangan dua ksatria dalam menegakkan keadilan itu sangat menyedihkan.

La Xianna meninggal dunia karena sakit, dan saat itu William sedang mengamankan daerah perbatasan istana La Er Lion yang akan diserang sekutu. Sehingga detik-detik kematian La Xianna tidak ada yang mengetahuinya. Posisinya layaknya seperti seseorang yang sedang tertidur nyenyak, matanya terpejam dengan bulu mata yang hitam panjang dan lentik, meski wajahnya pucat tetapi bibirnya seperti sedang tersenyum, kedua tangannya berada di kedua sisi tubuhnya dengan selimut lembut yang menutupi hingga perutnya, terlihat begitu rapi dan tenang. 

Kemudian tidak berselang lama, di hari yang sama dengan kepergian La Xianna, kabar duka datang dari ksatria yang sedang melawan kejahatan, William tewas di medan perang saat melawan gencatan senjata dari sekutu yang menyerang secara membabi-buta, memaksa masuk ke wilayah istana dengan tujuan menjarah harta dan meruntuhkan istana.

Meski dia bukan lagi bagian dari istana La Er Lion, tetapi naluri kuat sebagai seorang ayah yang putrinya sedang berada di istana tentu saja membuat William harus terlibat dengan para sekutu itu. Dia berniat memblokir serangan mereka selama menunggu para pengawal istana La Er Lion menyergap mereka. Selain mengkhawatirkan putri satu-satunya, juga ada rakyatnya yang harus sudah semestinya dia lindungi. Karena saat ini dia tidak memiliki kekuasaan apapun, jadi dia hanya mampu membantu melalui hal itu.

Berperang dengan mereka sebenarnya bukan pilihan yang tepat karena William hanya sendiri sedangkan mereka ada begitu banyak. Sehingga pada akhirnya hasil akhir menunjukkan kenyataan yang semestinya terjadi, William menghembuskan nafas terakhirnya ditangan para sekutu.

Kematian La Xianna dan William Van Diero menyebar dengan cepat ke segala penjuru kota, dan seketika meninggalkan perasaan kehilangan akan sosok keduanya. 

Rakyat telah kehilangan sosok yang selalu menegakkan keadilan untuk mereka, sosok yang rela merasakan sakit dan mengalami ketidakadilan ketika melanggar ketentuan istana demi kesejahteraan rakyatnya.

Tuan putri dan tuan muda yang pemberani itu benar-benar telah tiada, dan tidak bisa mereka lihat lagi. 

Keduanya telah sama-sama gugur di medan perang, dalam perjuangan menegakkan keadilan.

Rakyat tidak lagi memiliki harapan untuk hidup setelah mengetahui kedua pahlawannya telah tiada, mereka berputus asa akan kebebasan yang telah mereka impikan.

Beberapa hari setelah kematian keduanya, seorang pangawal istana menemukan sebuah tulisan tangan yang terukir di salah satu kayu di depan pintu masuk area istana. Tulisan itu mengatakan bahwa 'dia akan datang kembali dan membalaskan dendam atas perlakuan kejam istana pada hidupnya'

Sontak pengawal itu langsung memberi tahu pemimpin istana akan keberadaan tulisan misterius itu. 

George yang saat itu sedang sakit semakin bertambah sakit karena mendengar berita yang buruk seperti itu.

“Keparat mana yang berani menyerang istana ku!”, meski sedang sakit tetapi pria tua itu rupanya masih memiliki energi untuk menyumpah.

Dia mengidentifikasi tulisan itu dengan menyuruh seorang ahli pembaca tulisan tangan di istana, dan rupanya tulisan itu mirip dengan tulisan tangan milik La Xianna, putrinya.

Seketika saja jantungnya bergemuruh, otaknya berputar dengan hebat. Dia mengepalkan tangannya dan langsung memutuskan suatu hal yang berdampak buruk dan merugikan.

Setelah tulisan tangan itu diketemukan, kejadian-kejadian aneh dan merugikan terjadi di istana terus menerus dan tentu sangat mengganggu ketenangan hidupnya.

Dari mulai panen bunga yang gagal berkali-kali, bunga yang di panen dan akan di kirim untuk di jual tiba-tiba membusuk, kelelawar merusak perkebunan milik istana, musim panas yang menggersangkan sumber perairan.

Selain dari hal-hal eksternal juga terjadi hal janggal di dalam istana, seperti tikus liar yang masuk ke dalam istana dan merusak banyak persediaan bahan makanan, atmosfir istana yang terasa panas dari waktu ke waktu, dan banyak lainnya yang tiba-tiba terjadi di istana itu. 

Padahal sebelumnya tidak pernah ada apapun yang mengganggu ketentraman istana, jadi kejadian tersebut benar-benar telah menggegerkan semua penghuni istana tak terkecuali pemimpinnya, George Daniel Lalion.

Ditengah-tengah keputus-asaannya pada semua yang telah dilakukan namun tidak pernah berhasil dan berujung gagal, akhirnya dia menemukan satu cara yang dia rasa ampuh untuk melawan semua gangguan itu.

Dia menyadari bahwa semua itu adalah ulah putrinya, yang dengan meninggalkan tulisan balas dendam di tiang istana sebelum kepergiannya.

Rahangnya mengeras karena bahkan setelah kematiannya pun La Xianna masih berani berbuat di luar batas dan menyerang ayahnya sendiri.

Kemudian terjadilah sebuah perjanjian dengan ‘sesuatu tak kasat mata’, yang dia gunakan untuk menghalau gangguan-gangguan tersebut. 

Dan itu cukup berhasil.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ‘sesuatu’ itu meminta balasannya sebagai imbalan atas pekerjaannya yang cukup banyak itu, maka permintaannya tidak main-main dan bahkan bukan hal yang sepele.

Yaitu, nyawa manusia.

Tanpa berpikir panjang, George mengorbankan beberapa rakyatnya yang tidak bersalah untuk menjadi persembahan pada ‘sesuatu’ itu. 

Dia dengan cara liciknya membuat orang-orang itu percaya padanya lalu kemudian dia mengambil nyawa mereka dengan meracuninya kemudian membakar tubuhnya di tungku perapian yang khusus dia siapkan untuk setiap kali melakukan persembahan pada ‘sesuatu tak kasat mata itu’.

Sudah ada begitu banyak nyawa yang telah berkorban dalam persembahan itu, dan tindakannya begitu rapi sehingga tidak ada siapa pun selain dia dan beberapa orang-orang kepercayaannya yang mengetahui hal keji itu.

Kemudian abu mereka di berikan semacam ramuan khusus berwarna hitam yang mengeluarkan bau tak sedap, itu berguna untuk menekan energi negatif dari sesuatu yang akan menyerang. Abu itu ditaburi di sekitar tanaman bunga berwarna biru dengan kelopak terbuka, yang merupakan satu-satunya bunga favorit La Xianna. George yakin bahwa semua yang berhubungan dengan La Xianna harus dia tekan dan hambat agar tidak berani melakukan kekacauan lagi.

Karena 'sesuatu' itu terus meminta nyawa dan persediaan rakyat sudah semakin menipis dan di sisi lain dia masih membutuhkan rakyat untuk menopang sumber penghasilan istana, maka dia kehabisan cara untuk memuaskan keinginan sosok itu. Hingga akhirnya nyawanya sendiri yang secara tragis di habisi oleh ‘sesuatu’ dari perjanjiannya itu. Lambat laun di susul oleh pengikut-pengikutnya yang meninggal tak wajar secara bertahap, dan perlahan kejayaan istana mulai padam. 

Saat ketika istana tidak lagi memiliki pemimpin maka tak ada yang menduduki singgasana itu dan mengatur laju perputaran kehidupan kota. Akan tetapi karena tuan putri La Xianna telah meninggalkan generasi baru yang hanya dia yang saat ini masih tersisa di istana dan memiliki garis keturunan bangsawan maka secara otomatis tahta turun kepadanya, La Viera Diero tidak bertindak sebagai pemimpin namun keberadaannya di istana sebagai tameng istana agar istana La Er Lion tetap berdiri sehingga rakyat tidak kehilangan kepercayaan kepada istana. 

Demikian, La Viera Diero menjadi ratu istana La Er Lion.

Namun sisa dari perjanjian hitam itu meninggalkan sebuah bekas yang masih harus terus ditutupi dan di tekan keberadaannya. Dengan meninggalnya George secara tidak wajar membuat arwahnya tidak tenang dan selalu menginginkan kekejaman.

Untuk itu, para pelayan dan para pengawal yang masih tersisa harus selalu melakukan sebuah ritual untuk menenangkan dan menekan arwah-arwah tak tenang tersebut.

Sihir yang tidak sempat di tarik itu hingga kini masih menginginkan nyawa manusia, sihir itu terus berkeliaran tak tentu arah karena yang menggerakkannya telah tiada. Dia mengganas memakan banyak korban di sebuah desa yang istana persembahkan untuk imbalan pada 'sesuatu' itu.

Desa yang jauh dari perkotaan, dengan penduduk yang rukun dan sangat miskin, menjadi pilihan George dalam memenuhi keinginan dari perjanjian hitamnya. Secara otomatis desa yang tersembunyi itu tak pernah lagi terlihat keberadaannya, mereka tidak bisa keluar dari sana dan terperangkap dalam jerat sihir yang lepas kendali tanpa seseorang yang mengendalikannya dibelakangnya.

Dengan demikian, sihir yang di kirim ke desa itu adalah dari istana, karena George telah melakukan semacam perjanjian dengan ‘ilmu hitam’ untuk menekan pembalasan dendam dari seseorang yang telah tiada.

Bunga berwarna biru dengan kelopak terbuka dan menampakkan serbuk sebening mutiara adalah favorit tuan putri La Xianna, namun karena George tidak menyukai sikap pemberontaknya maka dia selalu mencari cara untuk menekan La Xianna dan William Van Diero dengan terus membuat mereka mengalami kesulitan dan hambatan di kehidupan setelah kematiannya.

Hingga pada akhirnya La Xianna meninggal dunia, dan melalui bunga favoritnya dia melakukan balas dendam pada istana dengan menyulitkan istana.

Sebelum kematiannya dia bersumpah untuk membalaskan semua rasa sakit dan penyiksaan yang istana lakukan pada hidupnya, kemudian ayahnya menaruh abu orang-orang tak bersalah pada tanaman bunga favoritnya dengan tujuan bisa menekan energi negatif bunga itu. Hal ini dia lakukan karena George merasa selama bunga itu tumbuh dengan bebas di istananya maka pembalasan dendam La Xianna akan terus menghantui istana. 

Bubuk hitam itulah yang kemudian menjadi pilihan dalam menyelesaikan masalah tersebut. Itu bukanlah sembarang bubuk, juga bukan bubuk biasa, melainkan adalah abu dari orang-orang tak bersalah yang dijadikan tumbal oleh istana, yang merupakan rakyatnya sendiri. Kemudian di taburkan ke area pohon bunga biru itu agar arwah La Xianna terus digentayangi oleh mereka-mereka yang menginginkan keadilan, sehingga La Xianna tidak memiliki kekuatan untuk terus melakukan pembalasan dendam padanya.

Sungguh licik dan keji cara istana memperlakukan tuan putrinya juga bahkan rakyat mereka sendiri, hanya demi kepuasan akan perasaan balas dendam yang begitu dalam dari sang pemimpin yang otoriter dan kejam. 

Jadi, mata merah yang Zaleanna lihat itu adalah pemilik dari abu hitam tersebut. Mereka menginginkan kebebasan dan bisa di semayamkan dengan layak agar mereka mendapat ketenangan. Mereka tidak jahat, justru mereka terperangkap dalam jerat licik perjanjian hitam yang dilakukan George, pemimpin istana La Er Lion.

Buliran bening menetes dari sudut matanya, sebuah perasaan mengharukan dan menyedihkan melingkupi dirinya. Dadanya terasa sesak seperti sudah mendapat sebuah hantaman kuat, tangannya mengepal erat.

Zaleanna terbangun dari tidurnya.

Mimpi itu telah berhasil menjawab semua pertanyaannya.

Akan tetapi mengapa dirinya tidak bisa seantusias itu, hatinya terlalu tersayat menyaksikan peristiwa kelam yang pernah terjadi di istana ini.

La Viera Diero, dialah tuan putri yang selama ini orang-orang istana cari!

Dimana dia sekarang?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!