Sampai hari menjelang festival bunga tiba, yang berarti sudah lewat satu minggu keberadaan teman-temannya masih tak kunjung ditemukan. Zaleanna sempat jatuh sakit, dia tidak mau makan, hingga membuatnya lemas dan pucat. Beberapa kali Ravel dan juga para pelayan istana sudah membujuknya, dan meskipun berhasil Zaleanna hanya mampu makan dan minum dalam jumlah yang sedikit, itu pun tanpa benar-benar memiliki nafsu makan.
Namun karena festival itu harus tetap dilaksanakan apapun dan bagaimanapun situasi dan kondisinya, maka Zaleanna hanya bisa pasrah untuk terpaksa bangkit dari sakitnya.
“Ravel... dimana mereka... Aurevy, Elzilio, Danzel, dan Mavin, dimana dia?”
Ravel berusaha keras menahan air matanya untuk tidak terjatuh, sungguh dia tidak sanggup melihat kondisi Zaleanna yang seperti itu.
Dia tau gadis itu telah berusaha keras mencari keberadaan teman-temannya, juga segala cara telah dia lakukan, namun usahanya nihil dan tidak membuahkan hasil. Dia tentu tau bagaimana perjuangan gadis itu yang tidak ingin menyerah mencari teman-temannya, dia sendiri tidak memiliki kekuatan untuk meminta Zaleanna beristirahat karena dia sendiri begitu hanyut dalam kekhawatiran dan tanda tanya pada keberadaan teman-temannya.
“Apa ini karena kita mengambil guci-guci dan tengkorak itu tanpa seijin istana? Dan memakamkannya tanpa tau benda apa itu sebenarnya?”
“Ravel... jawab aku...”, lirihnya.
Ravel menyentuh kepala Zaleanna lembut dan mengusap rambutnya, dia bisa melihat harapan dan semangat membara dalam sorot matanya yang senantiasa menantikan teman-temannya.
“Alea, tidak terjadi apa-apa pada mereka. Kamu percaya itu?”, hanya kalimat itu yang bisa Ravel katakan, namun dia sendiri juga tidak tau seperti apa situasi dan kondisi persisnya yang sedang dialami dan terjadi pada teman-temannya itu. Dia hanya perlu yakin bahwa selama mereka bersama maka tidak ada apapun yang tidak bisa dikalahkan, apalagi ada Mavin juga bersama mereka. Setidaknya dengan begitu, harapannya untuk melihat kembali teman-temannya masih melekat dalam hatinya. Karena sejujurnya dia sendiri merasa sangat terpukul atas apa yang terjadi.
Hari-hari menyedihkan berlalu, hingga sampailah pada hari dimana festival itu diselenggarakan.
Dengan bantuan para pelayan wanita di istana, Zaleanna tampil bak seorang tuan putri istana. Dalam pandangan istana dia memang tuan putri yang mereka maksud itu tetapi dalam pandangannya sendiri dia adalah Zaleanna, gadis biasa yang berkesempatan bisa berdiri ditempat ini dan tampil sebagai seorang tuan putri.
Selain gaunnya yang cantik dan dihiasi manik-manik mutiara yang berkilauan, rambutnya juga di gerai dengan hiasan mahkota kecil di kepalanya dan manik berbentuk kupu-kupu kecil bertengger di helaian rambutnya dengan rapi dan teratur. Hari ini tubuhnya benar-benar lebih sempurna dari biasanya, dibalut dengan segala keindahan nyata dari sesuatu yang menyejukkan mata.
Bohong jika Ravel tidak terpesona dengan kecantikannya itu, sedari tadi dia berdiri tak jauh darinya dan memandanginya dalam diam.
Ada sebuah perasaan yang diam-diam merambat menjalar ke dalam hatinya, dan berusaha keluar meraung meminta jawaban dan pengakuan. Tetapi Ravel berusaha keras untuk tidak terlihat berlebihan, dia masih bisa untuk mengontrol gejolak perasaan seperti itu.
Zaleanna terlalu sempurna untuk menjadi miliknya seutuhnya.
“Oh? Ravel!”, Zaleanna berlarian kecil ke arahnya sambil mengangkat sedikit gaunnya yang menjuntai bergelombang.
Sejujurnya Zaleanna ingin menanyakan secara langsung padanya tentang bagaimana tampilannya saat ini, namun kalimat itu terasa kelu yang akhirnya membuat kalimat itu hanya menggantung tak terucapkan.
Akan tetapi senyuman tidak sedikitpun luntur dari bibirnya.
Ravel yang memang cenderung tidak mudah peka terhadap hal-hal manis yang kecil itu akhirnya hanya diam dan menunggu Zaleanna meneruskan bicaranya jika memang ada lagi yang ingin dia ucapkan.
Hari ini bukan hanya Zaleanna yang tampil sebagai seorang tuan putri, Ravel juga turut berpenampilan layaknya seorang tuan muda istana. Dia mengenakan tuksedo dengan warna yang lembut dan selaras dengan tubuhnya.
Tubuh rampingnya semakin mempesona dengan balutan jas semacam itu, benar-benar sulit untuk memalingkan pandangan dari melihatnya.
“Kamu sudah siap?”
Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari bibir yang sebelumnya sempat kelu dan berdiam diri itu, memecahkan keheningan yang sepintas mengerubungi keduanya.
Zaleanna mengangguk antusias, dan penuh keceriaan.
Setidaknya ini yang bisa dia lakukan dan berada dalam kendalinya, meski hatinya masih terasa kosong tetapi dia harus tetap memposisikan diri agar tidak mengecewakan festival ini.
Dia masih ingat untuk membuat hal-hal baik bagi tuan putri La Viera Diero, yang saat ini keberadaannya masih belum dia ketahui.
Mungkin setelah ini, dengan bantuan mimpi yang pernah dia alami, Zaleanna akan mencari keberadaan tuan putri itu. Meskipun dia belum memastikan harus memulainya dari mana.
Kedatangan beberapa pelayan mengusir kebersamaan mereka, dan menemani keduanya untuk keluar istana dan bertemu dengan orang-orang.
“Wah! itu tuan putri. Tuan putri tiba!”, seru seseorang, yang langsung membuat banyak orang lainnya mengalihkan atensi pada kedatangan Zaleanna dari dalam istana.
Memang benar bahwa setelah kepergian pemimpin istana, George Daniel Lalion, tuan putri La Viera Diero tidak sering terlihat keberadaannya oleh para rakyatnya, bukan tanpa alasan melainkan karena istana yang meminta itu, menjaga keselamatan garis keturunan istana La Er Lion adalah tanggungjawab orang-orang yang masih hidup di istana. Selain itu juga tuan putri La Viera Diero sempat hilang dari istana dan baru akhir-akhir ini kembali ditemukan, yaitu dengan membawa Zaleanna, yang mereka anggap sebagai tuan putri itu.
Sampai saat ini tidak ada yang tau kebenaran itu, kemiripan keduanya mungkin menjadi satu-satunya alasan mengapa orang-orang istana itu mengira bahwa Zaleanna adalah tuan putri La Viera Diero.
Namun, seberapa mirip mereka?
Zaleanna sendiri sangat amat penasaran dengan hal itu.
Ini merupakan kali pertama rakyatnya secara resmi melihat tuan putri itu kembali memimpin jalannya pelaksanaan festival tahunan yang diadakan tahun ini. Dan itu membawa kebaikan untuk mereka yang telah lama menantikan sambutan seperti ini yang sudah turun temurun dilakukan oleh istana. Saat itu festival bunga di pimpin oleh La Xianna, ibunya sendiri.
“Tuan putri datang bersama pangeran?”
“Oh? Siapa dia? Aku belum pernah melihatnya. Dia terlihat cukup baik dan cocok berdiri di samping tuan putri”
“Sungguh berkah dari langit! Akankah kini kita kembali memiliki dua orang ksatria pembela kebenaran dan penegak keadilan?”
“Hidup tuan putri La Viera Diero dan calon pendamping hidupnya!!!”
“Hidup!!!”
Adapun, Zaleanna dan Ravel saling memandang satu sama lain dalam diam.
Mereka dikejutkan dengan sambutan tiba-tiba seperti itu, yang mana membuat jantung keduanya berdetak tak karuan. Hati dan pikirannya juga bertengkar dan saling menyahut tak karuan.
“Tuan putri, ayo terbangkan lampion bunga ini bersama”, salah seorang pelayan menyerahkan lampion cantik berbentuk bunga pada keduanya.
Keduanya, yang tidak tau apa-apa, dipaksa melakukan perintah dan instruksi mengejutkan itu. Bahkan sangat tidak tepat untuk membantah ataupun menolaknya sebab situasinya tidak memungkinkan untuk mendukung mereka melakukan penyangkalan itu.
Tetapi Zaleanna tidak pernah mengira bahwa akan ada sesi dimana mereka harus menerbangkan lampion.
Ini terlalu mendadak! Dia belum menyiapkan mental dan hatinya!
Akhirnya Zaleanna dan Ravel menerbangkan lampion bunga itu, sebagai awal pembukaan dari festival bunga tahun ini, setelah sebelumnya mereka melantunkan permohonan dan harapan baik kepada pemilik semesta ini. Dan tak lupa keduanya juga melantunkan permohonan agar teman-temannya segera diketemukan dalam keadaan selamat dan baik-baik saja.
Lampion itu terbang perlahan ke langit dan membumbung tinggi di udara, menyampaikan harapan dan permohonan yang telah dilantunkan sebelumnya dengan penuh harap dan sungguh-sungguh.
Zaleanna ingin meneteskan air mata, karena di momen membahagiakan ini teman-temannya tidak berdiri bersamanya dan menyaksikan ini. Namun karena ada banyak orang yang sedang memandangnya maka dia menahan sekuat tenaga untuk tidak meloloskan air matanya. Dia tidak ingin merusak citra tuan putri La Viera Diero di mata para rakyatnya.
Setidaknya melindungi reputasinya saat ini adalah salah satu hal yang harus dia lakukan untuk tuan putri itu.
“Tuan putri La Viera Diero, dimanapun saat ini kamu berada, semoga kamu bisa menyaksikan bahwa rakyatmu sedang berbahagia dalam menyambut festival bunga yang ibumu ciptakan di istana ini. Segeralah kembali dan menjadi ratu di istana La Er Lion”
Zaleanna mengatakan itu dalam hatinya, dengan penuh kesungguhan.
Di tempat lain, yang sangat jauh dari kebahagiaan yang sedang terjadi di istana. Keempat sekawan itu sedang berjuang melawan bahaya!
Teman-temannya sedang menghalau dan melawan sihir yang berupa kilatan cahaya yang Zaleanna dan Mavin pernah saksikan sebelumnya. Suatu bahaya yang akan menyerang istana dan mengancam keselamatan jiwa manusia.
Jika saja mereka tidak bertarung dengan sihir itu mungkin festival bunga tahun ini di istana akan kacau dan hancur karena ulah jahat sihir itu.
Beberapa waktu sebelumnya, yang sebenarnya terjadi adalah. Setelah mereka melihat cahaya yang amat mengganggu dan memicu rasa penasaran itu, mereka ikuti sampai ke arah dimana mereka berada sangat jauh dari istana.
Kilatan cahaya itu membawa mereka sampai pada sebuah lembah yang amat asing bagi mereka, lembah itu tampak sedikit aneh dan firasat mereka terbukti benar ketika di sekitar lembah yang gelap itu keluar kabut hitam tebal yang menyelimuti sekitarnya, dan cukup mengeluarkan bau yang sedikit busuk.
Kemudian mereka menemukan satu-satunya rumah yang berdiri disana, sebenarnya itu bukan benar-benar sebuah rumah sebab bangunannya tidak kokoh seperti rumah pada umumnya. Itu lebih mirip sebagai gubuk yang tak terawat.
Mereka masuk ke dalamnya untuk memeriksa apakah ada sesuatu yang bisa mereka gunakan untuk keluar dari lembah itu. Harapannya mereka menemukan setidaknya satu orang manusia untuk mereka tanyai jalan pulang.
Namun ketika berhari-hari mereka terjebak disana, tidak ada apapun yang bisa mengantarkan mereka kembali pulang. Selain keberadaan keempatnya nyatanya tidak ada orang lain selain mereka di lembah itu.
Mereka juga telah melakukan berbagai upaya untuk keluar dari lembah ini namun beberapa kali pun usaha mereka tetap gagal, karena mereka kembali lagi ke lembah itu dan melihat gubuk itu. Dengan keputusasaan itu akhirnya mereka menyerah dan menerima nasib mereka terjebak di lembah asing itu. Mereka bertahan hidup dari mengonsumsi buah-buahan yang ada di belakang gubuk.
Mereka tidak tau apakah itu beracun atau mungkin mengancam jiwa, setidaknya mereka tidak mati kelaparan karena berhari-hari berada disana tanpa bekal makanan sedikitpun. Itu pun cukup beruntung karena ada orang baik, yang entah siapa, menanam buah-buahan itu.
Namun ternyata dengan keberadaan mereka disana, mereka tidak menyadari bahwa mereka telah selangkah lebih dekat dengan petunjuk-petunjuk yang Zaleanna peroleh belakangan ini.
Semua yang terjadi dan mengikat istana dengan sebuah perjanjian yang mengerikan itu ada di lembah ini!
Saat mereka beristirahat setelah berpencar kembali mencari jalan keluar, sebuah dentuman hebat terdengar hampir menulikan telinga.
Mereka keluar dan betapa terkejutnya menyaksikan sesuatu yang sebelumnya mereka lihat yang kemudian menuntun mereka sampai pada tempat ini.
Sihir kilatan cahaya itu sedang bersiap menyerang mereka.
Itu pemandangan yang mengerikan, saat kilatan-kilatan tajam itu mengeluarkan suara yang keras dan mengerikan, sampai-sampai Aurevy yang tidak pernah tahan dengan hal-hal yang mengerikan dan menakutkan menutup kedua telinganya terus-menerus dengan erat, bahkan matanya sudah memerah menahan ketakutan dan kengerian itu.
Kilatan itu mirip seperti layaknya petir yang sedang menyambar bumi, berakar dan tajam, diikuti dengan suara yang mencekam.
Diantara kekalutan itu dan kecemasan mereka, hanya Mavin yang terlihat masih berdiri kokoh melihat sambaran kilatan itu.
Kilatan cahaya itu adalah yang membuat dia mengalami luka di punggungnya dan sembuh dalam waktu yang cukup lama, dan itu sangat amat menyakitkan dan menyiksa.
Gumpalan kabut hitam tebal yang berbau tak sedang juga dengan kilatan cahaya yang menggelegar menulikan telinga adalah perpaduan yang membuatnya déjà vu.
Saat itu di perjalanan keluar dari desa itu, dia dan Zaleanna di serang dengan membabi-buta oleh gangguan yang sama.
Mengingat kembali kejadian itu rahangnya mengeras, dan tangannya terkepal kuat.
Jadi ini yang harus dia hancurkan?!
Begitulah awalnya yang kini membuat mereka bertarung dengan semua gangguan itu.
Ketiga temannya sudah hampir terkapar karena terus-menerus terkena serangan membabi-buta itu, bukannya mereka tidak bisa menghindar, sebab bisa saja mereka menghindar dan bersembunyi di dalam gubuk itu untuk menghindari serangan itu. Akan tetapi mereka tidak melakukan itu karena mereka tau bahwa jika mereka mati sekalipun mereka akan mati dengan tidak sia-sia.
Sebab, ada sebuah kebenaran yang baru mereka ketahui.
Mavin berlari ke dalam gubuk itu dan mengobrak-abrik semua yang ada di dalamnya hingga akhirnya berhasil menemukan semua peralatan yang aneh dan janggal. Semua itu berkaitan dengan gangguan-gangguan yang berada di luar itu.
“Kalian! Masuklah ke dalam, cepat!!”
Mendengar perintah Mavin, ketiganya langsung menyahuti dan masuk ke dalam gubuk itu lalu menutup pintu dengan rapat, bahkan Danzel berdiri di depannya untuk memastikan bahwa gangguan-gangguan itu tidak bisa masuk dan menerobos ke dalam.
Semua nafas terdengar memburu, darah kering ataupun basah telah menyelimuti tubuh mereka, dan meninggalkan bercak yang terlihat menyakitkan.
“Mavin, apa yang ada di tanganmu itu?”, tanya Elzilio penasaran.
Suara di luar masih mengganggu obrolan mereka, bahkan siapapun yang ingin bicara harus sedikit menaikkan volume suaranya agar terdengar jelas oleh lawan bicaranya.
Mavin menggeleng, “Aku tidak tau, tapi aku menemukan ini di dalam gubuk ini”
“Semua benda itu ada di dalam gubuk ini, dan tidak ada satupun dari kita yang mengetahuinya?”, Danzel telah beralih mendekati mereka, setelah memastikan pintu itu terkunci dan dirasa aman, sehingga tidak lagi berdiri di depan pintu.
Danzel terlihat sibuk memeriksa benda-benda itu.
Benda-benda itu terdiri dari kain putih yang sepertinya sedang membungkus sesuatu di dalamnya karena itu terlihat terikat dengan kencang, satu buah guci keramik yang tertutup kain hitam, dan sebuah kotak yang masih tertutup.
Dengan berani dan tanpa mewanti-wanti kemungkinan-kemungkinan lainnya, Danzel membuka kotak yang terbuat dari kayu itu yang sepertinya tidak terkunci, dan benda yang ada di dalamnya sontak membuat mereka terkejut dan juga penasaran di waktu yang bersamaan.
Itu adalah sebuah foto!
“Siapa orang ini?”, Danzel mengamati foto itu.
Aurevy mengambil foto yang berada di tangan Danzel dan juga turut mengamatinya dengan seksama.
Seseorang yang berada dalam foto itu sedikit tidak asing baginya, dan itu terasa cukup familiar... tapi dimana dia pernah melihat orang yang sama dengan di foto itu...
Aurevy terus bergelut dan hanyut dalam pikirannya, mencoba menggali ingatan beberapa waktu ke belakang tentang situasi déjà vu tersebut.
“Aurevy, ada apa?”
Pertanyaan Mavin membuat Aurevy tersadar dari lamunannya, dia menatap teman-temannya lekat.
“Aku pernah melihat orang yang sama seperti yang ada dalam foto ini”
Sontak membuat semuanya terkesiap dan semakin membawa mereka akan rasa penasaran yang dalam.
“Dimana? Apa orang itu masih hidup?”, Danzel bertanya dengan tidak sabar.
Aurevy menggeleng, “Tidak. Pelayan itu mengatakan bahwa ratu telah meninggal”
DEG!
“Tunggu... kamu melihatnya di istana?”
Aurevy mengangguk.
Kemudian, Mavin yang cepat mengerti dengan situasi juga petunjuk-petunjuk ini akhirnya mengambil langkah berani.
“Dengarkan aku. Kita bakar semua benda-benda ini, dan hanya biarkan foto itu”
Semuanya mengangguk.
Jika Mavin, atau yang tertua sudah berbicara atau memberi arahan maka sudah selayaknya bagi mereka, yang muda, untuk mendengarkannya.
Saat akan melancarkan aksinya, namun sayangnya mereka tidak menemukan korek api atau semacamnya yang bisa mengeluarkan api.
Tiba-tiba suara pintu terbuka dengan sangat keras!
Kilatan cahaya itu menerobos masuk ke dalam bersamaan dengan kabut hitam itu.
Keempatnya terpelanting dan terhempas karena angin yang terseok dengan kencang juga karena kilatan itu menyambar-nyambar tak karuan.
Rencana mereka mungkin saja akan gagal jika saja Elzilio tidak memberanikan diri dan membiarkan tubuhnya terluka karena terkena kilatan itu, hanya untuk mengambil api dari kilatan itu agar bisa membakar benda-benda yang telah mereka rencanakan sebelumnya, mungkin saja rencana mereka tidak akan berhasil.
“Aaarrgghh!”, Pekik Elzilio cukup keras saat kilatan itu mengenai kulit tangannya dan meninggalkan bekas sayatan yang langsung mengeluarkan darah.
“Bakar benda-benda itu cepat!!, Api ini! Ambil api ini cepattt! Aargh”, Elzilio terus memberikan arahan sambil memekik dan berteriak kesakitan menahan sambaran kilatan itu yang menyerangnya tanpa henti
“Elzilio!!”
“Jangan hiraukan aku. Cepat lakukan!!!”
Deraian air mata tak bisa lagi mereka tahan, akhirnya itu meluncur dengan bebas saat melihat salah satu dari mereka rela mengorbankan diri demi untuk kepentingan bersama.
Mavin langsung melakukan arahan Elzilio, dengan bantuan Aurevy dia membawa api itu dan membakar benda-benda itu.
BUUSSSH!!
Kobaran abi seketika dengan cepat menyambar benda-benda yang sudah ditumpuk itu. Api juga telah menyambar ke segala arah di dalam gubuk itu.
“Semuanya! Cepat keluar dari sini!!!”, teriak Mavin.
Mereka semua berlari keluar sesuai arahannya.
Namun ternyata penderitaan mereka belum berakhir.
Karena gangguan lainnya telah siap menyerang di luar sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments