BAB 18: PENGHORMATAN TERAKHIR YANG LAYAK

Setelah melakukan beberapa persiapan untuk menyambut festival bunga beberapa hari yang akan datang, Zaleanna berniat menghampiri teman-temannya dan menyelesaikan perdiskusian mereka yang sebelumnya sempat tertunda. 

Saat sedang berjalan ke ruangan dimana teman-temannya berada, dari arah depannya ada Ravel yang sedang berjalan ke arahnya.

Dan membuat mereka akhirnya bertemu satu sama lain secara kebetulan.

Ravel terlihat sedikit tidak tenang, raut wajahnya gelisah dan nafasnya sedikit memburu. 

Zaleanna bertanya untuk memastikan keadaannya, “Ravel, ada apa?”

“Alea, kita perlu bicara sekarang juga. Dimana yang lain, apa kamu melihat mereka?”

“Aku belum melihatnya. Apa mereka tidak ada di kamarnya?”

Ravel menggeleng, sejak tadi dia sudah memeriksa semua ruangan kamar teman-temannya namun tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat keberadaannya. 

“Kalau begitu kita cari di luar”

Atas inisiatif Zaleanna, kini keduanya mencari keberadaan teman-temannya yang lain di luar istana. Mungkin saja mereka sedang bermain di luar. 

Namun keberadaan mereka tidak terlihat dimanapun, Zaleanna dan Ravel mulai panik. 

Mereka bertanya pada setiap pelayan dan pengawal istana namun mereka semua juga tidak mengetahui keberadaan teman-temannya itu.

Kemana perginya mereka?

Ravel mengusak rambutnya kasar, frustrasi dengan situasi yang tak terkendali seperti ini. Hal-hal seperti inilah yang dia benci selama tinggal di istana. Selalu saja ada hal-hal yang terjadi tiba-tiba dan membuat khawatir juga gelisah.

“Dimana kamu terakhir kali melihat mereka?”, tanya Zaleanna yang nampaknya juga sudah frustrasi, namun dia berusaha memposisikan diri dan pikirannya untuk tetap berpikir logis dan jernih.

“Taman belakang. Sebelumnya kami memang sedang berkumpul disana karena Aurevy ingin belajar menganyam bambu seperti yang para pelayan istana lakukan saat akan membuat kerajinan dari anyaman bambu. Aku pergi sebentar ke kamarku untuk mengambil sesuatu dan setelah kembali lagi mereka sudah tidak ada di sana”

Ravel bahkan melupakan kejadian mengerikan yang dia alami sebelumnya di dalam kamarnya, karena kepanikannya tidak melihat keberadaan teman-temannya membuatnya melupakan hal itu.

“Ayo. Kita kembali ke sana”, instruksi Zaleanna sambil berlari.

Nihil.

Keduanya tidak menemukan keberadaan teman-temannya di taman belakang istana.

“Cobaan apalagi ini?”, Zaleanna memejamkan matanya, berusaha meredam emosi dan kekhawatiran yang sudah menjalar dalam dirinya.

Ravel yang meyakini bahwa situasi akan terus tidak terkendali jika tidak ada satu pun yang harus di lakukan untuk menyelesaikan hal ini. Akhirnya dia menceritakan pada Zaleanna tentang apa yang dia lihat di dalam kamarnya.

“Alea”, dia mendekati Zaleanna dan menatapnya.

“Benda bulat berwarna hitam itu... berubah menjadi tengkorak”

“Apa?”, Zaleanna sempat tidak percaya pada apa yang baru saja dia dengar dari Ravel.

Akhirnya Ravel membawa Zaleanna pergi ke kamarnya dan memintanya melihat sendiri kejanggalan dan keanehan yang sulit untuk di terima, di pahami, ataupun di mengerti oleh akal.

“...Ini... bagaimana... bisa?”, Zaleanna ternganga dan syok dengan apa yang dia lihat, hingga bahkan kesulitan mengatakan kalimatnya dengan benar.

Sungguh di luar nalar. Jelas-jelas benda itu sebelumnya hanya seperti sebuah tempurung kelapa, polos, bertekstur keras, dan berwarna hitam. Namun sekarang apa yang terjadi adalah benda itu telah benar-benar berubah dari bentuk aslinya ke bentuk yang sulit terpikirkan sebelumnya.

Zaleanna di paksa mengerti dan memahami semua kejadian janggal baru-baru ini ke dalam pikirannya.

Dia berlari keluar dengan tergesa-gesa, menatap langit cerah yang tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, berharap notifikasi pesan kembali muncul di depannya.

Ini aneh baginya, sebab baru kali ini dia di buat berharap pada sesuatu yang sedikit tak masuk akal namun jika di pikir-pikir itu sangat membantu dia dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang dia dan teman-temannya alami di semua tempat asing yang pernah dia kunjungi. 

Sorot matanya penuh harap, berpikir bahwa mungkin saja harapannya akan kembali tidak terwujud ketika terakhir kali dia mengharapkan hal yang sama namun harapan itu tak kunjung dia dapatkan. 

Ajaib. 

Kali ini harapannya itu akhirnya terwujud, tepat di depan matanya.

Dentingan bunyi notifikasi terdengar oleh telinganya, dan di susul oleh layar tembus pandang yang menampilkan petunjuk seperti sebelumnya, lengkap dengan identitas umum dirinya.

[ Nama Lengkap : Zaleanna ]

[ Nama Panggilan : Alea ]

[ Kecerobohan yang tidak di sukai : menaruh sesuatu tidak pada tempatnya ]

Entah semua kalimat itu berasal darimana yang pasti untuk saat ini Zaleanna menganggap bahwa itu satu-satunya petunjuk yang menuntun dia menemukan jalan keluar dari setiap situasi sulit yang hampir membuatnya frustrasi.

Bukankah itu di maksudkan untuk sesuatu yang tidak berada semestinya pada tempatnya? Lalu, apa itu?

Zaleanna terus berpikir, memutar kembali semua kejadian belakangan ini.

Sampai akhirnya Ravel menghampirinya dan membuat dia tersadar bahwa dia telah meninggalkan Ravel begitu saja dan berlari ke luar.

“Alea, ada apa?”, tanya Ravel khawatir setelah melihat Zaleanna tiba-tiba berlari pergi. 

Sebelumnya Ravel sudah kembali mengikat kantong plastik itu, dengan tujuan agar keberadaan tengkorak itu tetap aman.

Sebenarnya dia tidak yakin dan tidak sanggup jika menganggap bahwa itu adalah tengkorak manusia, sebab kebenarannya sendiri masih belum diketahui. 

Sama halnya dengan Zaleanna yang sebelumnya juga berpikir untuk tidak langsung mengasumsikan bahwa itu adalah tengkorak manusia, namun setelah mendapat petunjuk dari notifikasi di layar tembus pandang itu barulah dia mengasosiasikan keberadaan persepsinya dengan suatu hal yang valid dan realistis.

“Ravel, jika memang ternyata itu adalah tengkorak manusia berarti bukan hak kita untuk menyimpannya begitu lama di tempat yang tidak semestinya. Namun jika memang itu hanya tengkorak rekayasa tidak ada yang akan dirugikan dalam hal ini”

“Alea, apa maksudmu?”

“Kita harus menemukan alasan keberadaan tengkorak tengkorak itu dan menaruhnya di tempat yang semestinya”

Ravel masih berusaha memahami perkataannya, sebelum akhirnya Zaleanna menarik tangannya untuk ikut bersamanya.

“Ikut aku”

Keduanya kembali ke area belakang istana, tempat dimana Ravel menemukan keberadaan benda hitam bulat itu, yang sekarang berubah menjadi tengkorak, untuk pertama kalinya.

“Dimana tepatnya kamu menemukan benda itu”, tanya Zaleanna.

Ravel menunjuk area dimana benda itu berada.

Sebuah lemari yang berbahan kayu yang terlihat kuat dan kuno dengan ukuran yang sedang, di dalamnya terdapat beberapa guci-guci kecil dari keramik yang tertutup kain hitam.

Sejujurnya keduanya tidak ada yang berani dengan sembarangan mengambil dan membuka penutup guci-guci itu lalu melihat dalamnya, sebab mereka masih khawatir jika orang-orang istana mencurigai perbuatan mereka dan malah membuat mereka marah pada sikap keduanya.

Karena biar bagaimana pun juga, mereka adalah tamu di istana ini. Jadi akan tidak sopan jika melanggar batasan sebagai seorang tamu.

Namun karena mereka tidak memiliki banyak waktu, dan Zaleanna juga sudah mendapat petunjuk, disamping itu mereka harus mencari keberadaan teman-temannya. Maka dengan sedikit keberanian yang ragu-ragu mereka membuka penutup guci-guci itu untuk melihat dalamnya.

Seketika keduanya menutup hidung dan meletakkan kembali dengan gusar guci yang sudah sebelumnya mereka buka penutupnya itu, di taruh kembali ke tempatnya.

Bau busuk tidak tertahankan menyeruak keluar dari dalam guci keramik itu begitu penutup kain hitam itu dibuka, bau yang teramat busuk hingga seketika berhasil membuat kepala merasakan pusing dan nyeri.

Mungkin jika Danzel yang menemukannya dia akan langsung mengumpat dengan kasar dan sembrono ketika di hadapkan dengan situasi yang sangat menjengkelkan, namun karena keduanya bukan Danzel, maka mereka cukup dewasa untuk tidak bertindak sembrono.

“Apa yang ada di dalam guci itu? Kenapa baunya busuk sekali”, ujar Zaleanna sambil tetap menutup hidungnya dengan tangannya.

Tunggu!

Seketika Zaleanna merasa agak familiar dengan bau seperti itu.

Benar! itu adalah bau busuk yang sama seperti bau busuk bubuk hitam yang di taburkan di area bunga berwarna biru dengan kelopak terbuka itu.

Deg!

Jantungnya bergemuruh, seakan semua petunjuk telah siap di depan matanya, berdatangan silih berganti untuk meminta segera di selesaikan.

Dihubungkan dengan mimpi yang dia alami, maka dengan pasti dia mengatakan bahwa jelas bubuk-bubuk hitam itu adalah abu dari para korban tak bersalah akibat dari keganasan sihir yang merupakan perjanjian gelap istana. Ini menunjukkan bahwa keberadaan tengkorak itu bukan tanpa alasan, bisa jadi benar bahwa itu adalah tengkorak manusia!

Seketika tangannya turun, tidak lagi menutupi hidungnya. Saat ini bau busuk bukan lagi suatu penghalang, sebab ada hal lain yang lebih penting dari sekedar melindungi indra penciumannya dari bau tak sedap itu.

“Ravel, kita bawa semua guci-guci ini”

Ravel yang tanpa berniat bertanya lebih jauh apa alasan Zaleanna memutuskan untuk mengambil semua guci-guci itu, langsung mengikuti arahannya. 

Telah banyak hal yang dia dan teman-temannya lalui dan berhasil terselesaikan oleh ide cemerlang gadis itu, maka tidak ada yang perlu diragukan lagi perihal pemikiran dan instruksi Zaleanna. 

Setelah memasukkan semuanya ke dalam keranjang dengan rapi dan tetap dalam posisi berdiri sebagaimana posisi guci-guci itu sebelumnya, mereka segera bergegas dari sana.

Namun naas, terdengar suara langkah kaki yang sepertinya sedang berjalan ke arah mereka.

Sontak, Zaleanna menarik tangan Ravel untuk bersembunyi.

“Sampai kapan kita harus melakukan ini? Bukankah kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari ini? Mengapa harus ada ritual istana jika pemimpinnya saja sudah tidak ada”

“Hussst, pelankan suaramu. Bagaimana kamu bisa mengatakan itu saat tuan putri La Viera Diero masih hidup dan berada di istana ini. Apa kamu ingin mati sia-sia, hah?”

“Hei, tuan putri jelas berbeda dengan kakeknya. Dia tidak akan sampai berani melakukan itu. Kamu tau, dia memiliki darah ayah dan ibunya, jadi tidak mungkin tuan putri tiba-tiba bersikap kejam dan bertindak bertentangan dengan sifat kedua orang tuanya”

“Bagus jika kamu tau itu. Jadi, jalankan saja peraturan yang berlaku di istana”

Dua orang laki-laki, yang merupakan pengawal istana itu melanjutkan aktivitas mereka dan pergi menjauh dari Zaleanna dan Ravel berada. 

Ravel bernafas lega karena keberadaannya tidak diketahui, setidaknya mereka tidak akan mencurigainya secepat itu, atau jika tidak maka rencana mereka akan segera di ketahui. 

Berbeda dengan Zaleanna, yang saat ini pikirannya tiba-tiba tertuju pada sosok “tuan putri” itu.

Setelah berhasil bersembunyi dari pandangan dua orang pengawal istana itu, keduanya bergegas ke kamar Ravel untuk mengambil tengkorak-tengkorak itu.

“Akan kita kemana kan benda-benda ini?”, Ravel sudah mengikat dengan rapi plastik yang berisi tengkorak itu, siap untuk dibawa.

“Ada tanah kosong di sebrang perkebunan bunga, kita akan memakamkannya disana”

Ravel mengangguk.

Kemudian keduanya lantas pergi kesana diam-diam agar tidak membuat orang-orang istana curiga.

Dengan peralatan seadanya Ravel menggali tanah dan membuat lubang untuk bisa menaruh benda-benda itu. Sedangkan Zaleanna mencari bebatuan untuk kemudian dijadikan pertanda bahwa ada pemakaman di tempat ini, sebelumnya dia juga sudah memetik beberapa bunga untuk di taburkan di atas pusara nantinya.

Beberapa saat kemudian akhirnya para korban tak berdosa itu memiliki tempat peristirahatan terakhir yang layak.

Keduanya menyeka keringat yang bermunculan, menandakan kerja keras yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Sambil menaburi bunga di atas pusara kecil dan sederhana itu, Zaleanna melamun dengan banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya.

Konflik di antara keluarga memang tidak dapat dihindarkan, namun haruskah orang-orang yang tak bersalah turut menjadi korban dan terlibat dalam sesuatu yang mereka sendiri tidak mengetahuinya?

Mimpi itu sendiri sudah begitu rumit, di tambah dengan keberadaannya yang dianggap sebagai tuan putri istana, menjadikan dia hanyut dalam perasaan penuh bersalah dan gelisah.

“Ravel, menurutmu aku ini siapa?”

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja Zaleanna bertanya seperti itu padanya, yang seolah-olah terdengar bahwa Zaleanna tidak percaya diri juga mempertanyakan dirinya sendiri pada orang yang sudah cukup lama dekat dan selalu bersamanya.

“Alea. Kamu adalah Alea, gadis cantik yang baik. Perempuan kuat diantara kami para laki-laki”

Zaleanna menundukkan kepalanya, “Begitu, yaa..”

Ravel tidak mengerti dengan respon Zaleanna yang seakan tidak puas dan kecewa, kini dia merasa bersalah pada perkataannya sendiri.

Ravel menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Alea dan menyentuh pundak gadis itu, dan berkata dengan lembut, “Kenapa kamu menanyakan itu?”

Zaleanna berpikir mungkin Ravel belum sepemahaman dengannya, pemikiran mengenai keberadaan dirinya dan hubungannya dengan tuan putri istana yang asli itu.

Mendengar jawaban Ravel dia cukup merasa lega, karena itu berarti dirinya adalah Zaleanna. Bukan sedang berilusi sebagai tuan putri istana, yang para pelayana istana sematkan padanya.

Zaleanna menggeleng, dan memberikan senyuman ringan padanya.

“Ravel, terima kasih sudah membantuku menyelesaikan ini”

Ravel juga tersenyum sebagai balasannya.

Sejujurnya dia tidak pernah meminta ataupun menyukai Zaleanna berterima kasih padanya, karena itu artinya mereka berdua belum dekat. Padahal keduanya sudah cukup lama selalu bersama di tempat yang sama pula. Menurutnya bagi orang-orang yang sudah cukup saling dekat maka tidak diharuskan ada kata ‘terima kasih’ diantaranya, sebab apa yang dilakukan di dalamnya sudah tentu karena sebuah perasaan untuk membantu. Jadi sebuah balasan tidak begitu diharapkan. Itu murni karena rasa ingin menjaga satu sama lain dan ingin terlibat di dalamnya.

Misi memberikan persemayaman yang layak telah terselesaikan dengan lancar namun fakta bahwa teman-temannya yang lain masih belum ditemukan membuat hati mereka merasa kosong dan tentu ada sesuatu yang kurang.

Sedangkan yang saat ini sedang dialami teman-temannya di tempat lain...

“Apa benar ke arah sini?”

“Ya, kilatan cahaya itu aku masih mengingatnya dengan jelas!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!