Hari-hari berlalu, mereka hidup dengan baik di dalam istana itu. Sampai suatu hari Zaleanna berpikir untuk menanyakan perihal istana ini pada salah satu pelayan yang cukup dekat dengannya. Sejauh ini hanya wanita itu yang selalu mengikuti Zaleanna, untuk itu dia berharap bisa mendapatkan informasi darinya.
Akan tetapi dia tidak ingin salah bertindak, dia harus menemukan cara agar rasa penasarannya tidak terlihat mencurigakan.
Sebenarnya itu cukup aneh melihat orang-orang di istana, kecuali dia dan teman-temannya, tidak terlihat di malam hari. Pernah suatu hari dia tidak sengaja melihat mereka keluar dari bangunan itu pada sore hari menjelang malam dan membawa sesuatu di tangannya. Meski pada awalnya dia tidak ingin mencurigai hal itu dan berniat menghiraukannya tetapi kejadian yang dia lihat itu tidak hanya sekali, tetapi terjadi setiap malam sejak kedatangan dia dan teman-temannya ke istana ini.
Selain itu tidakkah seorang putri pasti memiliki kedua orang tua, akan tetapi dia tidak melihat keberadaan mereka sama sekali.
“Bisakah kamu menceritakan sebuah kisah padaku?”
“Kisah seperti apa yang ingin Anda dengar?”, tanya wanita itu dengan lembut.
Zaleanna kelimpungan, mencoba mencari alasan untuk menutupi kegugupannya. Langkahnya mendekati pembatas bangunan, pandangannya menyusuri rumah-rumah penduduk yang berada di bawahnya.
“Aku tidak tau.. hanya saja aku sedang bosan, dan tidak ingin melakukan apapun”
Terdengar helaan nafas ringan dari wanita di belakangnya, kemudian dia berjalan menghampiri Zaleanna dan turut berdiri di sampingnya, “Baiklah. Ada satu kisah yang saya rasa akan menarik untuk Anda dengar”
Zaleanna menantikannya.
“Dahulu, ada sepasang ksatria yang berjuang untuk rakyatnya. Mereka berdua terlahir dari keluarga bangsawan di bawah kepemimpinan yang sangat otoriter. Keduanya akan turun untuk membela rakyat dan memberikan keadilan jika sang pemimpin mengeluarkan keputusan yang memberatkan rakyat. Tindakannya itu tentu saja di tentang oleh sang pemimpin, dia merasa telah di khianati oleh anggota keluarganya sendiri. Tetapi hal itu tidak mengurungkan niat mereka untuk menyebarkan kebaikan dan menegakkan keadilan bagi rakyatnya, dimata rakyatnya mereka berdua adalah sosok pahlawan yang mengagumkan. Hingga suatu hari pasangan muda itu di karuniai seorang anak. Pemimpin senang mendengar itu, tetapi ketika mengetahui bahwa itu adalah seorang anak perempuan, dia murka dan mengusir sepasang suami istri itu. Namun karena kegigihan mereka dan kontribusi mereka terhadap istana, anaknya itu dibiarkan tetap tinggal di istana, sebagai sedikit rasa hormat untuk menghargai jasa mereka”
“Dalam hidupku, itu adalah kisah yang paling mengesankan hingga aku tidak akan pernah bisa untuk melupakannya. Karena berkat perjuangan mereka berdua, aku rakyat biasa yang terlahir dari keluarga miskin terpilih untuk bisa berdiri disini dan melayani putrinya”
Zaleanna terpaku.
Wanita itu menatap Zaleanna, terukir senyuman yang penuh kebahagiaan dan rasa haru di dalamnya.
“Itu berarti..”
“Ya, ini pertama kalinya aku mengatakan kebenaran itu”
Zaleanna tidak bisa tidak terkejut, setelah mendengar wanita itu bercerita dengan panjang lebar membuatnya semakin penasaran akan banyak hal.
Dia berpikir bahwa mereka telah salah paham padanya dan mengira dia adalah putri itu, namun dia mungkin akan bertahan sedikit lebih lama sampai dia memperoleh banyak hal yang bisa membebaskannya dan teman-temannya dari tempat ini.
Dia ingin menemui teman-temannya. Karena ruang kamar mereka tidak berada di lantai yang sama untuk itu Zaleanna perlu menuruni tangga untuk menemui mereka. Itu cukup melelahkan, karena dia juga harus melewati lorong yang cukup panjang setelahnya.
Begitu sampai disana, dia segera mengetuk salah satu pintu kamar mereka. Namun meski sudah ketukan ketiga kali pintu itu tak kunjung terbuka. Dia beralih dari pintu satu ke pintu selanjutnya, dan terakhir berakhir di pintu kamar Aurevy.
Dia tau semua letak ruang kamar mereka karena permintaannya pada orang-orang berpakaian hitam itu untuk membiarkannya mengetahuinya dengan alibi bahwa mereka telah di bawa olehnya setelah menemukannya tersesat dalam hutan.
Dia sempat berpikir bahwa mungkin saja kelima temannya itu dengan berjalan-jalan di luar, jika saja pintu itu tidak terbuka, dan menampakkan sosok Mavin.
“Alea? Masuklah”
Begitu dia masuk ke dalam betapa terkejutnya saat melihat mereka sedang mengerubungi Aurevy yang terbaring lemah di ranjangnya. Lantas dia mendekatinya, ruam-ruam kemerahan terlihat di wajah dan tangannya, bahkan wajahnya terlihat pucat.
“Aurevy!”
“Apa yang terjadi? Bagaimana bisa seperti ini?”, dia sangat panik.
“Pagi ini saat kami akan mengajak Aurevy keluar, dia terbangun sudah dalam keadaan seperti itu”
“Kita bawa ke ruang kesehatan istana”, perintah Zaleanna.
Teman-temannya membopongnya dengan hati-hati, karena jika sedikit saja menimbulkan gesekan pada kulitnya maka ruam kemerahan itu akan terasa perih dan gatal.
Aurevy telah mendapatkan perawatan di ruangan kesehatan istana, setelah seorang pelayan disana memberikan beberapa salep dan obat untuk mengurangi rasa sakitnya.
“Itu adalah reaksi alergi. Tanyakan padanya apakah dia telah salah memakan sesuatu”, jelas perawat itu.
Mereka semua serempak menatap Aurevy, menunggu jawaban darinya. Itu cukup mengejutkan karena di usianya dia tidak mengetahui alerginya sendiri.
Setelahnya pelayan itu pamit undur diri setelah sebelumnya berpesan agar membiarkan Aurevy berada di ruangan itu untuk sementara waktu sampai keadaannya membaik.
“Makanan di istana semuanya enak, bagaimana itu bisa membuat alergi?”
“Otakmu benar-benar hanya memikirkan makanan saja”, Elzilio mengatakan itu sambil memincingkan matanya pada Danzel.
Zaleanna duduk di samping Aurevy yang terbaring, dia menaruh telapak tangannya di dahinya untuk merasakan suhu tubuhnya. Itu cukup membaik karena demamnya turun, tidak setinggi sebelumnya.
“Aurevy. Apa yang telah kamu makan, coba ingat-ingat”
“Aku tidak tau, sejauh ini aku tidak memiliki reaksi apapun pada banyak jenis makanan”
Mereka tidak bisa melakukan banyak hal untuk itu, hanya menginginkan kesembuhan untuk anggota termudanya.
“Baiklah, kalau begitu beristirahatlah”, Zaleanna menarik selimut sampai ke dadanya.
Dia beranjak berdiri dan menghadap ke empat temannya.
“Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian”
Dengan hanya melihat ekspresi wajahnya Ravel sudah menduganya pasti sedang terjadi sesuatu, mengingat bahwa keberadaan mereka dan apa posisinya di istana besar ini patut dipertanyakan.
Lantas mereka pergi dari sana.
Sebenarnya di dalam bangunan istana itu tidak benar-benar ada tempat untuk mereka bisa berkumpul sambil membicarakan banyak hal yang hanya mereka yang boleh mengetahuinya, jadi mereka pergi ke taman bunga, tempat seperti biasanya yang sering mereka gunakan untuk berkumpul.
Mereka semua duduk di atas rerumputan hijau yang halus yang dinaungi oleh pohon yang rindang, berdaun hijau, dan lebat, namun tidak berbuah.
Semilir angin kian menyejukkan ketika dedaunan pohon itu terseok, menciptakan suara khas alami dari gemericik helaian daun yang bersentuhan.
“Aku merasa tidak seharusnya kita disini”, pandangannya terjebak pada hamparan luas tanaman bunga di depannya, Zaleanna duduk dengan memeluk kedua lututnya yang ditekuk, terlihat begitu nyaman dengan posisinya.
Tidak ada yang berniat segera meresponnya, mereka sedang berkelana ke dalam pikiran masing-masing, mencari alasan untuk situasinya saat ini.
Jika di pikir-pikir setelah terjebak di bangunan tua terbengkalai itu hanya satu yang mereka inginkan, yaitu pulang. Namun kini mereka berada dalam bangunan lain, hanya berpindah tempat namun masih terjebak, sama halnya dengan sebelumnya, hanya saja perbedaannya terletak pada keadaan yang berbeda.
“Benar, kita sedang mencari jalan pulang pada awalnya”, Ravel menimpali.
Danzel dengan enggan mencabuti sembarang rumput-rumput liar yang tumbuh sedikit lebih tinggi dari yang lainnya, tatapannya masih berpusat ke depan, “Tapi kemana kita harus pergi setelah ini? Apa yakin akan dengan mudah menemukan jalan pulang yang bisa membawa kita kembali ke rumah masing-masing? Tetapi kita bahkan tidak memiliki apapun. Bagaimana itu akan berhasil?”
“Tinggal kamu lakukan lagi ramalan konyolmu itu”, Elzilio melemparkan potongan rumput liar pada Danzel.
“Tidak, itu tidak akan berhasil. Kita berada disini bukan karena ramalan itu”
Elzilio membuang nafas kasar, dan memutar bola matanya malas, “Bagus. Akhirnya kamu menyadarinya juga”
Danzel menatap Elzilio, tidak ada ekspresi apapun di wajahnya, dia hanya menatapnya setelah itu kembali memalingkan wajah, dengan tenang.
Kini dia menyadari bahwa harapan apapun itu yang coba dia lantunkan tidak akan terwujud jika takdir berkehendak lain. Danzel menghela nafas, kefrustrasiannya membuat dia merasa lebih bodoh dari biasanya.
“Ravel apa yang harus kita lakukan?", Danzel balik bertanya pada Ravel.
“Apapun yang akan kita lakukan nanti, bisa kita lakukan. Tetapi setelah menunggu kesembuhan Aurevy”, sebagai ketua tentu tidak akan melupakan salah satu anggotanya, sudah tugasnya untuk bisa selalu membuat timnya bisa bersama-sama.
Semuanya mengangguk setuju.
“Alea, bunga-bunga yang kamu petik dengan banyak itu di gunakan untuk apa?”, tanya Danzel tiba-tiba, memecah keheningan.
“Awalnya aku berniat untuk membuat buket bunga dan beberapa hiasan bunga untuk di taruh di kamarku, tetapi sayang sekali begitu aku bawa ke dalam istana bunga itu sudah layu. Mungkin itu jenis bunga yang tidak bisa bertahan lama”, Zaleanna menjelaskannya dengan sedikit murung, itu cukup membuatnya sedih karena keinginannya tidak bisa terwujud.
“Tapi semua jenis bunga bisa bertahan sedikit lebih lama meski kamu petik tidak dengan tangkainya, apalagi jarak perkebunan dan istana tidak begitu jauh”, Danzel dengan sembarang mengatakan itu, dan kini posisinya telah berubah menopang tubuhnya dengan kedua tangan berada di belakang dan kaki yang dibiarkan berselonjor.
Danzel tidak menyadari bahwa perkataannya itu cukup terdengar logis hingga membuat Zaleanna berpikir dan merenung, dia juga merasa itu cukup aneh. Bagaimana mungkin semua bunga yang dia petik berubah menghitam sesaat setelah dia memasuki istana. Tidak mungkin paparan sinar matahari yang membuatnya menjadi seperti itu dalam waktu cepat.
Sontak dia berdiri, dan membuat teman-temannya seketika memandangnya.
Dia mengedarkan pandangan pada perkebunan bunga, di sana hanya terlihat beberapa petani bunga dan burung-burung yang sedang berterbangan di atasnya dengan jarak yang tidak terlalu tinggi.
“Alea, kamu mau kemana?”, teriak Ravel saat Zaleanna tiba-tiba pergi.
Tindakan itu tentu saja membuat teman-temannya dengan otomatis mengikutinya.
Setelah sampai disana, tidak ada yang terlihat aneh. Semua petani yang terlihat disana sedang fokus pada kesibukannya masing-masing.
Pandangannya menangkap burung kecil yang sedang menuju tanaman bunga, tetapi burung itu tidak lantas hinggap disana melainkan langsung kembali terbang setelah mendekatkan tubuhnya pada ujung kelopak bunga yang mekar itu.
Zaleanna mengira mungkin karena itu bukan jenis bunga yang di sukai burung itu sehingga aromanya tidak cukup mengalihkan perhatian burung itu untuk menghinggapinya.
Lantas dia mengedarkan kembali pandangannya ke sekitar.
“Apa yang terjadi dengan burung itu?”, suara Elzilio di belakangnya membuatnya mengalihkan perhatiannya. Dia berbalik dan melihat teman-temannya ternyata menyusulnya.
“Sepertinya kelaparan”, Mavin mencoba menduganya.
Zaleanna lantas menghampiri mereka, disana dia melihat burung berbulu putih sedang terkapar dengan tubuhnya yang terlihat kejang-kejang.
“Apa yang burung itu lakukan sebelumnya?”, Zaleanna hanya bertanya sekenanya, tetapi tidak menyangka itu akan mendapat respon tak terduga dari temannya yang menemukan burung itu.
“Aku melihatnya. Sepertinya dia mendapatkan luka di tubuhnya setelah menyentuh bunga-bunga itu. Kasihan sekali”, Elzilio menatap nanar burung itu, tiba-tiba merasa iba
“Apakah bunganya memiliki duri? Aku akan pergi mengeceknya”, Danzel sedikit berlari menerobos hamparan tanaman bunga itu untuk memastikan apa yang telah dia duga.
“Danzel berhenti!”
Tiba-tiba suara Zaleanna menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya.
Dia menatap teman-temannya, “Ini sepertinya bukan bunga biasa”
Sontak mereka semua menatapnya bingung.
“Saat aku memberikan bunga itu apakah kalian menghirupnya?”
Semuanya mengangguk, seketika ada ketakutan di raut wajah mereka, karena mereka semua telah menghirupnya, apalagi Danzel yang paling banyak menghirupnya.
Zaleanna mengecek semua tangan, leher, kaki dan terakhir mengamati wajah mereka satu persatu. Akan tetapi tidak ditemukan ruam kemerahan atau apapun yang terlihat mencurigakan. Dia juga mengecek pergelangan tangan dan kakinya, disana juga tidak terlihat ada sesuatu yang aneh.
Dia berpikir keras, tentang apa yang membuat Aurevy seperti itu, dan burung yang tak bersalah juga turut terkapar seperti itu oleh paparan bunga itu.
Jika bukan karena aromanya, mungkin yang cukup masuk akal adalah serbuknya.
Maka, ruam-ruam kemerahan yang dialami Aurevy bukan karena reaksi alergi tetapi karena bunga itu.
Jika memang benar kondisi burung itu disebabkan karena bunga-bunga itu, dan jika penyebab ruam-ruam merah di tubuh Aurevy adalah hal yang sama maka tidak menutup kemungkinan Aurevy juga akan mengalami hal yang sama.
Tidak!
Dia harus menghentikannya sebelum situasinya bertambah darurat.
Setelah Zaleanna memberikan arahan kini semuanya berpencar di hamparan bunga itu, dia hanya meminta mereka untuk mencari bunga yang terlihat berbeda dari yang lain, setidaknya bunga itu harus memiliki serbuk yang terbuka dari kelopaknya. Karena dia masih mengingatnya bahwa hanya ada satu jenis bunga yang saat itu dia petik yang terlihat berbeda dengan yang lain dan memiliki ciri-ciri seperti itu, dan kemungkinan bunga itu yang dia berikan pada Aurevy.
Tak sedikit dia terjatuh karena tanah yang tidak mulus, apalagi para petani beberapa saat lalu baru saja menyirami tanaman bunga itu sehingga membuat tanahnya licin.
Di arahkannya pandangannya dengan cepat menyusuri sekitar, dia bahkan harus menajamkan penglihatannya agar tidak ada sedikit pun yang terlewat.
Para petani bunga itu sudah pergi beberapa saat yang lalu setelah selesai dengan kegiatan menyiram, kini hanya dia dan teman-temannya yang tersisa di sana, ini cukup membuat leluasa dan juga terhindar dari kecurigaan mereka.
Zaleanna terus mencari, hingga bahkan dia menyusuri sudut dimana dia memetik bunga saat itu.
Langkahnya berhenti tepat saat menemukan letak keanehan itu berada, hal itu bukan terletak pada bunganya melainkan pada sesuatu yang ada di bawahnya.
Dia mendekat untuk melihat itu, itu adalah bubuk hitam seperti pupuk tanaman namun baunya sangat menyengat hingga dia menutup hitungnya.
Seekor lebah terbang dan hinggap di dahan tanaman bunga itu kemudian terbang ke atas puncak bunga, tepat di kelopaknya yang terbuka.
Dan pemandangan setelahnya benar-benar membuatnya membeku di tempat.
Begitu lebah itu hinggap disana tak lama kemudian lebah itu terjatuh dan terkapar, persis seperti apa yang terjadi pada burung itu.
Zaleanna benar-benar syok, dia kelimpungan, dadanya bergetar hebat. Di arahkannya padangannya ke sekitar, ada beberapa lebah lain yang juga hinggap di atas bunga dengan kelopak terbuka yang menampakkan sebuknya itu, namun lebah-lebah itu masih berada disana tidak ada tanda-tanda terjatuh. Dengan cepat dia langsung mengarahkan pandangannya ke bawah tanaman bunga itu, dan disana tidak terlihat serbuk hitam yang dia lihat di tanaman bunga yang dihinggapi lembah hingga membuatnya terkapar.
Sontak dia berlari, memberikan instruksi pada teman-temannya untuk berhenti dan kembali berkumpul.
“Aurevy dalam bahaya!”
Lantas, mereka melesat kembali ke istana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments