Dari arah timur mereka pergi ke arah barat, tidak ada apapun yang terlihat mereka bawa, semua yang pernah mereka gunakan selama singgah di bangunan tua itu telah lenyap tak bersisa. Kondisinya benar-benar memprihatinkan, bahkan tampilannya tidak dapat dikatakan baik-baik saja.
Kerasnya perjalanan yang mereka tempuh membuatnya tahan banting untuk tidak merasakan lapar maupun haus, bukan tak ingin mengisi perut yang sudah lama keroncongan, melainkan tak ada apapun yang bisa mereka lakukan hingga membuatnya terpaksa menahan itu.
Wajah yang sebelumnya sempat terlihat terang kini kembali berubah muram, menyadari kenyataan bahwa perjalanan masih begitu panjang membuat mereka tidak benar-benar tenang.
Di singkirkannya ilalang kering yang menjuntai menghalangi gerak pandang mereka, setapak demi setapak menyusuri jalanan yang menuntunnya menemui jalan keluar.
Rasa lelah tak lagi dapat mereka rasakan, teriknya mentari yang tepat berada diatas kepala tak lagi mereka hiraukan, sebuah harapan untuk menemukan jalan pulang membuat mereka mengesampingkan kedua hal itu.
Selama perjalanan yang ditempuh tak jarang mereka mendapatkan luka dan goresan dari apapun yang berpotensi membahayakan dan melukai, tak ada waktu untuk mengeluh ataupun memaki pada rasa sakit itu melainkan hanya menerimanya dengan ketenangan hati.
“Bagaimana jika kita beristirahat sebentar, aku lelah”, suara Aurevy menghentikan langkah mereka, membuat mereka berbalik untuk melihatnya yang sudah mengambil posisi duduk, di atas hamparan rerumputan liar.
Melihatnya seperti itu mau tidak mau mereka juga mengikuti tindakannya, biar bagaimana pun mereka juga sebenarnya sudah merasakan lelah sejak lama.
Danzel mencabut helaian ilalang kering kemudian mematahkannya kecil-kecil untuk di buang dengan acuh tak acuh sambil mengatakan sesuatu layaknya sedang memilih di antara kemungkinan yang akan terjadi yang sedang menunggu di depan, “Berhasil, tidak, berhasil, tidak, berhasil, tidak...”
Dia terus mengucapkan itu hingga helaian ilalang itu habis, kemudian dia terlonjak kegirangan saat kata yang dia katakan terakhir dan ilalang itu benar-benar habis, “Berhasil!”
Sontak yang lainnya terkejut dengan teriakannya.
“Kenapa kamu berisik sekali, memangnya apa yang sedang kamu lakukan?”, Ravel bertanya untuk memastikan, setelah melihat Danzel yang terlihat sibuk sendiri dengan dunianya di saat yang lainnya tengah beristirahat untuk sedikit menghilangkan rasa lelah mereka.
“Lihat, aku telah meramal masa depan kita. Dan itu mengatakan berhasil!”
Elzilio melemparkan ilalang kering yang kecil padanya, “Tidak ada yang benar-benar bisa meramal masa depan, bodoh”
Danzel hanya mendengus sebal, sepertinya tidak pernah ada kehadiran motivasi dalam diri Elzilio.
“Bagaimana bisa kalian masih memiliki energi untuk berdebat”, Mavin mengatakannya dengan datar.
Sebuah suara menghentikan perselisihan keduanya, menyelinap di antara mereka yang sedang beristirahat.
Mereka semua serempak berdiri, untuk memastikan pendengaran mereka.
Di ujung sana terlihat siluet beberapa orang yang berpakaian hitam, jas yang membalut tubuh mereka memperlihatkan tubuh yang di bentuk dengan sangat baik melalui pelatihan kebugaran, begitu tegap dan tinggi.
Mereka terlihat sedang berpencar seperti mencari keberadaan sesuatu, salah satu dari mereka terlihat berbicara melalui sebuah alat berbentuk kotak keras berwarna hitam pekat ditangannya.
Sejenak mereka berpikir untuk tetap berdiam diri dan menunggu orang-orang asing itu pergi. Akan tetapi matahari semakin terik dan membuat mereka tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
Mereka tak punya pilihan selain tetap melanjutkan perjalanan atau mati kepanasan karena berdiam diri di bawah terik matahari yang menyengat menunggu beberapa orang berpakaian hitam itu pergi.
“Lihat disana! Itu dia!”, salah seorang dari mereka berteriak begitu keras hingga membuat orang-orang yang bersamanya berhenti bergerak dan melihat pada sumber yang berhasil membuatnya berteriak seperti itu.
Orang-orang itu menghampiri mereka, ini tidak seperti mereka akan melakukan penangkapan ataupun penyerangan, sikap mereka tidak menunjukkan itu. Melainkan seperti menunjukkan bahwa yang mereka cari telah berhasil ditemukan.
Zaleanna dan teman-temannya sama sekali tidak mengerti tentang situasi tiba-tiba ini jika setelahnya orang itu tidak mengatakan sesuatu untuk menegaskan.
“Itu melegakan ketika kami menemukan Anda disini. Apa terjadi sesuatu pada Anda? Apa Anda baik-baik saja?”, orang itu tidak berhenti bicara, rasa senangnya karena telah berhasil menemukan keberadaan sesuatu yang telah lama dia cari membuatnya sulit untuk tidak khawatir pada keadaannya.
Zaleanna masih terpaku, belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi.
Di lihatnya teman-temannya yang berada di belakangnya, tidak ada ekspresi yang berarti di wajah mereka, mungkin teman-temannya juga sama terkejutnya dengannya.
Di tengah-tengah kebingungannya sebuah suara yang sepertinya akan selalu muncul secara tiba-tiba akan senantiasa di dengarnya, pendengarannya telah terbiasa pada bunyi itu.
Lagi-lagi layar tembus pandang yang bersinar muncul di hadapannya, Zaleanna mendongkak untuk melihatnya.
[ Nama Lengkap : Zaleanna ]
[ Nama Panggilan : Alea ]
[ Status : Tuan putri ]
Tak lama layar itu kembali menghilang.
Di tatapnya orang-orang berpakaian hitam yang tidak dia kenal itu, dia bisa melihat ada sebuah harapan dalam sorot mata mereka.
Tuan putri?
Itu jelas membuatnya bingung.
Namun lagi-lagi, seperti saat pertama kali dia berdiri di bangunan tua dan harus berperan seperti apa yang tempo hari layar tembus pandang itu perlihatkan padanya, dia akan dengan senang hati melakukan petualangan selanjutnya.
Kelima orang yang berdiri di belakang Zaleanna bersitatap dengan orang-orang berpakaian hitam itu.
Berdirinya Zaleanna di tengah-tengah mereka seakan membatasi keduanya untuk tidak memulai perkelahian. Seperti di drama action yang mana akan selalu ada seseorang yang berdiri di kedua kubu alih-alih membela salah satu kubu.
Salah seorang di antara mereka bertanya pada Zaleanna dengan ragu-ragu, “Tapi, siapa mereka?”
Zaleanna menatap teman-temannya, “Mereka akan ikut denganku”
Orang-orang berpakaian hitam itu tidak banyak bertanya setelahnya, selain karena tidak memiliki pilihan lain mereka juga tidak bisa menolak perintah tuan putri mereka jika tidak ingin ada sesuatu yang terjadi pada keselamatan mereka.
“Baik”
Dengan begitu, mereka pergi bersama-sama.
Zaleanna sempat berpikir bahwa dia dan teman-temannya telah tersesat di suatu tempat yang bahkan seekor burung pun tidak akan terlihat, nyatanya dugaan itu telah terpatahkan setelah melihat kehadiran orang-orang itu.
Tentu saja dia harus bersikap seperti apa yang tertulis di layar tembus pandang itu, mulai saat ini.
Di depan sana berdiri sebuah bangunan yang begitu megah, besar, dan luas. Setiap inci dari bangunan itu dilapisi marmer kualitas tinggi, tidak terlihat celah kotor yang menempel disana, semuanya benar-benar bersinar.
Jika ini di negeri dongeng mungkin dia akan mengira itu adalah istana yang biasa di gunakan oleh para petinggi kerajaan untuk melakukan sebuah pertemuan sekaligus merupakan tempat tinggal seorang tuan putri kerajaan yang hidup dengan begitu nyaman dan tercukupi dari segala aspek.
Jika tidak dikejutkan dengan suara Danzel yang hampir menulikan telinga mungkin Zaleanna akan terus tersihir oleh apa yang dia lihat di depannya.
“Gila! Ini terlalu indah untuk menjadi tempat tinggal manusia”, mulutnya tidak berhenti menganga, ekspresi wajahnya begitu bahagia.
“Berlebihan”, suara itu mematahkan kebahagiaan kecil Danzel dan menusuk tepat di jantungnya.
Kalau bukan Elzilio siapa lagi diantara mereka yang akan bersikap seperti itu, jangan lupakan bahwa dia adalah orang yang tidak bisa menolerir sikap menyebalkan dan berlebihan, terutama pada Danzel yang sejak awal sudah sangat menyebalkan. Menurutnya Danzel telah berlebihan mengutarakan kekagumannya itu, begitulah pikirnya.
Teman-temannya yang lain hanya menggelengkan kepala, seakan sudah biasa melihat keduanya yang sepertinya sulit untuk akur.
Orang-orang itu mengantarkan mereka melalui pintu belakang, bukan tanpa alasan melainkan karena penampilan mereka yang tidak sesuai dengan aturan istana, sehingga akan sangat sesuai jika mereka membersihkan diri terlebih dahulu sebelum memasuki istana.
Meski itu tidak begitu kotor namun wajah lelah dalam ekspresi mereka menandakan bahwa mereka telah melakukan perjalanan panjang, untuk itu orang-orang itu membawanya ke sebuah ruangan yang di gunakan untuk memberihkan diri dan merias penampilan sesuai etika istana.
Mereka harus terpaksa berpisah dengan Zaleanna, karena saat ini dia di bawa ke ruangan yang berbeda dengan mereka. Tentu saja hal itu sah-sah saja, mengingat bahwa dia adalah putri istana dan tanggungjawab mereka untuk menjaganya.
Zaleanna memasuki sebuah kamar yang begitu luas, tidak terlalu begitu banyak barang di dalamnya sehingga akan sangat leluasa jika berkeliaran kemana pun, apalagi panorama yang disuguhkan dari balik jendela begitu mengagumkan.
Setelah membersihkan dan merias diri yang semua itu dia lakukan di dalam ruangan yang sama, dia kembali ke sisi ranjangnya, hanya untuk mendekat ke jendela yang terukir dengan sangat baik disana.
Dari sana dia bisa melihat pemandangan kota yang begitu luas dan indah dengan banyak bunga-bunga dan pepohonan yang melingkupinya, rumah-rumah juga tersusun dengan sangat apik dan lingkungannya terlihat bersih.
Dia jadi ingat saat dia dan teman-temannya memasuki gerbang kota, dilihatnya para penduduk begitu ramah dan murah senyum, bahkan meski itu semua terasa asing baginya, dia dengan senang hati membalas sapaan mereka.
Mungkin dia akan betah meski harus berlama-lama di tempat seperti ini, suasana seperti ini benar-benar membuat perasaannya merasakan kenyamanan yang lembut.
Bangunan itu bukan seperti kerajaan yang dimana dia harus mengenakan pakaian formal adat setempat, akan tetapi itu seperti di negeri-negeri dongeng. Ketika dia harus mengenakan dress yang cantik dan anggun.
Terlepas dari semua itu, di sini terasa modern.
Seorang pelayan memanggilnya untuk turun ke bawah untuk makan, Zaleanna turun dengan perasaan bahagia.
Ternyata teman-temannya juga ada di sana, Zaleanna cukup terpesona pada penampilan mereka. Itu benar-benar bersih dan indah. Betapa dia tidak ingin mengalihkan pandangannya pada mereka jika saja seorang pelayan perempuan menghampirinya dan mengarahkannya untuk segera duduk.
Sebenarnya dia tidak tau posisi dia seperti apa dalam kediaman ini, melihat tidak ada siapa-siapa selain dia dan teman-temannya seketika membuatnya berpikir bahwa ini terlalu mustahil untuk di percaya.
Meski dia penasaran, dia tidak ingin banyak bertanya, untuk dia hanya diam dan makan dengan tenang.
Mungkin dengan seiring berjalannya waktu perlahan dia akan menemukan jawaban dari banyaknya pertanyaan dalam dirinya.
Setelah perjamuan makan itu berakhir, Zaleanna di berikan waktu untuk berkeliling di taman sekitar istana. Itu adalah perkebunan yang di tanam dan di budidayakan oleh para penduduk disana, mereka saling bahu-membahu mengerjakan aktivitas itu. Rasanya Zaleanna ingin bergabung bersama mereka dan menanam beberapa pohon bunga disana jika saja seorang pelayan tidak melarangnya.
Dia keluar istana dengan di temani seorang pelayan perempuan, tetapi rasanya tidak pantas untuk menyebutnya seorang pelayan, jadi Zaleanna tidak menganggapnya seperti itu.
Perempuan yang sepertinya sudah memasuki usia kepala empat itu begitu baik padanya, sejak kedatangannya ke tempat itu dia merawatnya dengan baik. Zaleanna ingin berterima kasih padanya, jadi dia meminta wanita itu untuk mengambil waktu istirahat dan kembali ke istana. Meski awalnya menolak, akhirnya wanita itu mematuhi keinginan Zaleanna.
Zaleanna mengedarkan pandangannya ke sekitar, melihat keberadaan taman bunga yang terhampar dengan rapi di depannya.
Ada beragam bunga cantik disana, Zaleanna meminta keranjang kecil pada salah satu orang yang memiliki benda itu, dan dengan senang hati orang itu memberikannya padanya.
Tangannya memetik bunga-bunga itu, memasukkannya ke dalam keranjang yang berada di tangannya. Terus melakukan itu hingga memenuhi keranjang kosong itu kemudian dia keluar dari sana.
Sosoknya berjalan ditengah-tengah hamparan bunga, sambil menghirup udara yang bercampur aroma bunga, bibirnya melengkung membentuk senyuman.
Jauh di sana teman-temannya sedang melihatnya, tergambar jelas beragam ekspresi dalam semburat wajah mereka.
Dalam diri masing-masing dari mereka, diam-diam merasakan perasaan yang sulit terlukiskan perlahan menjalar ke seluruh tubuh, memberikan perasaan nyaman yang lembut.
Danzel yang paling tidak bisa menyembunyikan perasaannya dan akan secara sembarangan mengungkapkannya akhirnya mengeluarkan suara di antara keheningan itu.
“Dia begitu cantik”, sebuah senyuman yang memperlihatkan gigi putih dan rapinya terlihat semakin menambah kepolosan perasaannya.
Beberapa pasang mata mengarah padanya, yang membuatnya seketika merapatkan bibirnya kembali.
Namun alih-alih menghiraukan ancaman samar-samar dari teman-temannya itu dia berlari ke taman bunga itu untuk menghampiri Zaleanna.
Sepertinya dia ingin mati.
“Alea!”, teriaknya begitu sudah berada dekat dengannya.
Zaleanna menyadari itu dan mempercepat langkahnya menghampiri Danzel.
“Oh? Kamu disini?”, melihat Danzel yang sedang tersenyum padanya sulit baginya untuk tidak membalas sikap hangat itu, untuk itu sebuah senyuman juga terukir di bibirnya, yang semakin menambah pesona wajahnya.
Danzel melihat bunga-bunga di keranjangnya, itu bunga yang indah.
“Wah! Kamu memetik bunga sebanyak itu?”
Zaleanna melihat bunga di keranjangnya, kemudian tangannya terulur mengambil salah satunya dan memberikannya pada Danzel.
“Untukmu”
Danzel menerimanya, “Terima kasih”
“Kemana yang lain?”
Seakan tersadarkan dari lamunan setelah menghirup keharuman bunga itu, dia hendak menunjukkan keberadaan teman-temannya yang lain, jika saja sebuah suara tidak tiba-tiba muncul di belakangnya.
“Kami disini”
Mereka menghampiri Danzel dan Zaleanna, seakan tidak ingin membiarkan Danzel berduaan dengannya lebih lama.
“Kemarilah, aku akan memberi kalian bunga yang baru saja aku petik”
Saat matahari dirasakan semakin terik, mereka memutuskan untuk berteduh di sebuah saung yang terbuat dari anyaman bambu.
Sepertinya tempat itu sengaja di sediakan disana untuk tempat beristirahat bagi para penduduk yang kelelahan setelah melakukan pekerjaan di kebun, terlihat dari bagaimana tempat itu cukup baik untuk di tinggali.
“Tidak terasa itu sudah lewat beberapa hari, sejak kita berhasil keluar dari tempat itu”, Ravel mengawali pembicaraan.
“Hm. Terasa seperti mimpi”, Aurevy menimpali.
Setelah mereka membersihkan diri, itu semakin terlihat bagaimana anggota termuda itu sangat manis dengan wajah putih dan mata lebarnya. Benar-benar seperti anak kecil dengan kepolosannya, padahal jelas usianya bukan lagi anak-anak.
Sikapnya yang ceria juga sudah kembali seperti sebagaimana dirinya sebelumnya, hanya saja memang tidak terlihat terlalu sering banyak bicara. Tidak seperti Danzel yang bahkan tidak tahan dengan ketenangan dalam waktu lama.
“Sudah ku katakan, bahwa kita akan berhasil. Aku tidak percaya ramalan konyol itu cukup berguna”, dia masih memiliki euphoria terhadap tindakannya yang konyol namun berhasil itu.
“Ya, kita percaya padamu. Terima kasih sudah meramal itu untuk kami”, sebagai yang tertua, Ravel tentu saja harus mengapresiasi kerja keras yang termuda.
“Berlebihan lagi”
Gumaman itu meski pelan tapi cukup terdengar oleh mereka yang berada dekat dengannya.
“Elzilio, kamu benar-benar!”, karena dia tau itu pasti ditujukkan untuknya, untuk itu Danzel langsung bereaksi.
“Apa?”, Elzilio menantang.
Danzel hendak kembali bersuara jika saja tangan Mavin tidak menyentuh pundaknya, “Sudah”
Kini mereka semua menikmati waktu hingga cuaca kembali sejuk untuk kemudian kembali ke istana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments