BAB 5: HARAPAN

Kini mereka semua sudah berkumpul di sekitar pohon tua itu.

Pohon yang cukup besar dengan akar yang merambat dan menonjol ke luar itu begitu rimbun dan di penuhi dengan sarang laba-laba, semakin menambah kesan mistis karena energi negatif yang begitu kuat yang dipancarkan dari pohon itu.

Ada sebuah desas-desus yang berseliweran di kalangan masyarakat bahwa jenis pohon seperti ini merupakan sarang makhluk tak kasat mata dan jika di tebang maka beberapa saat kemudian akan kembali berdiri seperti posisi semula.

Sebuah fakta yang sulit di pahami secara logika itu tak ayal menjadi kewaspadaan mereka untuk melakukan hal serupa, meski ada secuil ketakutan pada ketidakberhasilan namun ada harapan nyata di wajah mereka.

Menebang pohon tua yang merupakan asal dari monster yang selama ini mengganggu dan menahan mereka di tempat ini merupakan cara agar mereka lolos dari cengkeramannya. 

Gergaji itu sudah di hidupkan, suaranya mendominasi keheningan sekitar yang masih gelap karena matahari yang tak pernah kunjung terlihat. 

Secara teknis gergaji itu tentu bisa merobohkan pohon itu dengan ketajaman geriginya, namun fakta itu tidak terjadi pada mereka. Mavin sudah hampir frustrasi saat akar itu tidak kunjung terputus, meski dalam kegelapan peluh di dahinya tidak bisa berbohong bahwa dia terlihat kelelahan dengan itu.

Ravel yang melihatnya bergegas mengambil alih gergaji di tangannya, dan menyuruhnya untuk beristirahat.

“Sial! Kenapa sulit sekali”, pekik Danzel, anak itu memang gemar sekali mengumpat dan tak jarang berkata kasar.

Padahal dua orang yang sedang bekerja hanya diam saja, tetapi Danzel begitu sibuk dengan mulutnya.

Dia menghampiri Zaleanna yang juga sedang berdiri tak jauh darinya. 

“Alea, bisakah kamu kembali melakukan perjalanan lintas dimensi itu dan dapatkan jawaban untuk menghancurkan pohon itu?”

Zaleanna terdiam, cukup terkejut dengan permintaan tiba-tiba Danzel.

“Tidak”, sambil terus berusaha menggergaji akar pohon itu, Ravel mendengar percakapan mereka dan segera menyahutinya dari sana. 

“Perjalanan lintas dimensi itu terlalu berbahaya, jangan lakukan lagi”, dia mengatakannya dengan sedikit berteriak, di khawatirkan tidak terdengar karena tertutup suara bising mesin itu.

Danzel menatap Zaleanna, entah apa yang dia pikirkan dan keberanian dari mana atau keputusasaan seberat apa yang sedang dia alami hingga membuatnya mengatakan sesuatu yang cukup berani untuk seseorang seperti dirinya yang penakut, “Kalau begitu, aku saja yang melakukannya”

Seketika saja Zaleanna menatapnya terkejut, bukan berniat melarangnya untuk melakukan itu tetapi Danzel bukan seseorang yang bisa melakukan hal itu. Dia sendiri tidak menginginkan kelebihan itu ada pada dirinya, karena itu memberikan beban tersendiri baginya. Juga, ada resiko yang cukup berbahaya setelah melakukan hal itu. 

Dia meraih tangan Danzel, yang tempo hari terluka berkat cengkeramannya.

“Ini salah satu resiko dari melakukan hal itu”, Zaleanna menunjuk tepat di pergelangan tangannya ke arah pemiliknya. Bekas kemerahan yang memanjang masih terlihat disana, mengingat luka itu tidak di obati dengan benar karena terhambat persediaan medis yang mereka bawa.

Danzel menelan ludah, diam-diam dia mengingat kembali kengerian yang dia rasakan saat Zaleanna mencengkeram kuat lengannya.

Zaleanna kembali menurunkan tangannya, kemudian berjalan menghampiri Aurevy yang juga sedang berdiri tidak jauh darinya. Anak itu sedari tadi hanya diam, tidak bicara, dan tatapannya kosong seperti tidak ada kehidupan disana.

“Aurevy, dimana kamu menemukan gergaji itu bisakah kamu memberitahuku?”, dia sudah curiga dengan awal kedatangannya yang tiba-tiba dan tanpa ekspresi apapun di wajahnya, juga dengan gergaji yang dia bawa. Mungkinkah seseorang dengan sengaja menaruhnya di tempat terbengkalai seperti ini ataukah itu turun dari langit begitu saja. Jelas itu mustahil, maka patut di curigai. 

Ravel kembali setelah mematikan mesin itu, sama seperti Mavin, dia juga sepertinya frustrasi pada keberhasilan yang mereka tunggu-tunggu. Akar pohon itu tidak mudah dipatahkan, bahkan gergaji itu berkali-kali hilang keseimbangan begitu dia arahkan pada akarnya.

Aurevy tidak mengatakan apapun tetapi dia tiba-tiba berjalan, dan itu langsung mendapat respon terkejut dari teman-temannya.

“Aku rasa dia ingin menunjukkan tempat dia menemukan gergaji itu”, Elzilio mencoba menduganya. 

“Aku akan menemaninya”, Zaleanna mengajukan diri. 

“Tidak, kamu tetap disini bersama yang lain. Aku yang akan pergi dengannya”, tiba-tiba Mavin maju dan menawarkan diri dengan mantap, untuk mengikuti Aurevy.

Tidak banyak yang bisa mereka katakan sehingga membiarkan Mavin melakukan itu.

Tak lama setelah kepergian mereka, Zaleanna menarik tangan Elzilio begitu saja.

“Kamu, ikut denganku”

Tindakan tiba-tiba itu tidak sempat Elzilio respon, karena Zaleanna telah menariknya menjauh dari dua temannya yang lain, dengan tergesa-gesa. Mau tidak mau dan tanpa berniat menanyakannya, dia dengan patuh mengikutinya.

Tersisa dua orang yang kini sedang saling menatap. Di tinggalkan hanya berdua seperti ini membuat Danzel kebingungan harus melakukan apa, mengingat orang-orang yang sering bersinggungan dengan hal-hal semacam itu sudah pergi.

Akhirnya dia ingin mencoba memotong akar pohon itu karena cukup penasaran setelah melihat Ravel dan Mavin tidak berhasil melakukannya, namun saat dia berjalan untuk mengambil alat itu yang sebelumnya Ravel taruh di dekat pohon, ternyata tidak ada.

“Oh? Kemana gergaji itu?”

Mavin mengikuti Aurevy dalam diam, hanya ada keheningan diantara mereka sejak awal kepergian. Aurevy membawanya ke jalan setapak, dengan dia yang berjalan di depan dan Mavin di belakangnya, dia bisa melihat tampilan Aurevy sedikit berbeda. 

Ada sesuatu yang terasa janggal, Mavin tidak yakin untuk menanyakannya.

Saat setelah mereka tidak lagi berjalan di jalan setapak langsung saja dia merubah posisinya, menyejajarkan dirinya dengan Aurevy disampingnya.

“Aurevy kemana kamu pergi saat itu?”

Namun tidak ada respon apapun dari yang bersangkutan.

Melihatnya yang seperti itu Mavin cukup memahami untuk tidak menanyakan lebih lanjut mengenai hal itu, barang kali dia tidak ingin mengingat kembali kejadian itu.

“Kita mau kemana?”, setelah cukup lama akhirnya Mavin kembali bersuara.

Mungkin karena Mavin perlu tau tujuan mereka atau karena dia yang memang bersedia untuk menjawab pada pertanyaannya yang itu, Aurevy menghentikan langkahnya.

“Mencari tubuhku”

Dalam perjalanan lintas dimensi Zaleanna berhasil mematahkan akar pohon itu tetapi mengapa di dunia nyata akar itu begitu sulit di hancurkan, ini menjadi pertanyaan besarnya. 

Elzilio yang tidak tau kemana arah tujuan mereka dan apa yang hendak di lakukan Zaleanna hanya mengetahui satu hal bahwa sekarang mereka berada di sebuah danau, yang saat itu dalam penglihatannya hanya ada banyak gundukan tanah dengan beragam makhluk aneh berdiri di atasnya.

Itu cukup membuatnya terkejut, sekali lagi dia memastikan kebenaran penglihatannya, untuk menemukan gundukan tanah yang dia lihat waktu itu. Namun nihil, itu benar-benar sebuah danau.

“Ada alasan kenapa aku membawamu”, Zaleanna menatap Elzilio, tampak serius.

Elzilio yang sedang dalam kebingungan tersadarkan oleh suara Zaleanna. Dia hanya diam, ekspresi wajahnya seakan menginginkan Zaleanna untuk melanjutkan kalimatnya dan memberitahu alasannya.

“Ada berapa banyak gundukan tanah yang kamu lihat saat itu?”

Di hadapkan pertanyaan seperti itu mau tidak mau membuatnya mengingat kembali kejadian yang cukup menyeramkan baginya itu, namun dia tidak benar-benar berhasil mengetahui ada berapa banyak gundukan yang dia lihat.

“Aku tidak begitu mengingatnya dengan jelas, tapi aku yakin itu ada banyak”, dia menjeda sebentar kalimatnya, “Tunggu..”, kemudian pandangannya menyelidik, tak berselang lama dia menutup matanya dan berpikir dengan keras, “Di antara gundukan itu ada satu gundukan tanah yang lebih besar dari yang lain, dan hanya gundukan itu yang tidak ada makhluk di atasnya”, dia kembali membuka matanya. 

Dan terkejut karena sudah tidak ada Zaleanna di dekatnya.

Elzilio panik, hingga akhirnya dia menangkap Zaleanna yang sedang berlari, sontak saja dia langsung mengejarnya.

Gundukan tanah yang terlihat berbeda dari yang lain dan tidak ada makhluk aneh berdiri diatasnya, itu jelas merupakan petunjuk pasti untuk menemukan keberadaan Aurevy.

Ketika seseorang disemayamkan maka hanya rohnya yang bebas berkeliaran, tidak dengan jasadnya yang berada di dalam tanah. Aurevy berbeda dengan mereka, rohnya masih menyatu dengan tubuhnya. Untuk itu, tidak ada makhluk yang berdiri di atas gundukan besar itu.

Seperti tidak ada kata menyerah ataupun takut, Zaleanna menerobos semak belukar kering dan tajam yang jika mengenai kulit maka akan menimbulkan kemerahan ataupun goresan. 

Elzilio yang sudah berada dekat dengannya tidak bisa untuk tidak menanyakan situasi yang terjadi, “Alea, ada apa sebenarnya?”

“Gundukan besar yang kamu lihat itu, ada Aurevy di dalamnya!”

Sontak Elzilio terkejut dan membeku.

Bagaimana bisa?!

Tidak ingin tinggal diam dan tanpa ingin bertanya lebih lanjut, Elzilio menambah kecepatan tindakannya. Di raihnya semak belukar itu ke dalam genggamannya dan menariknya dengan kuat hingga terputus, dilakukannya hal itu terus-menerus hingga akhirnya menemukan gundukan besar yang berantakan.

“Aurevy!”

Keduanya langsung bergegas menghampirinya.

Seluruh tubuhnya hampir tertutup tanah, hanya terlihat sedikit wajah Aurevy yang sudah berlumuran tanah dan bercak darah yang sudah mengering.

Dengan hanya mengandalkan kekuatan tangannya mereka membongkar gundukan tanah itu dan mengeluarkan Aurevy dari sana.

Setelah berhasil menyelamatkannya, Zaleanna membersihkan wajah Aurevy, meski itu tidak benar-benar bersih tetapi setidaknya dia bisa lebih jelas melihat keadaannya.

Elzilio mendekatkan jarinya ke hidung Aurevy, dan bernafas lega saat merasakan hembusan angin menyapu kulit jarinya.

“Dia masih hidup”

Beberapa saat kemudian Elzilio teringat sesuatu hingga membuatnya beranjak berdiri dengan cepat.

Wajahnya membeku dan terlihat pucat seakan darah di nadinya berhenti mengalir.

“Siapa yang sedang bersama Mavin...”, dalam keterkejutannya, dia mengatakan itu sambil menenangkan dirinya yang sudah tak karuan.

Sedangkan saat ini Mavin sedang berlari tunggang-langgang sesaat setelah Aurevy mengatakan itu dengan wajah menyeringai.

Masih terlintas dalam ingatannya wujud menyeramkan itu, yang tadinya terlihat seperti Aurevy namun perlahan berubah menjadi sesosok yang mengerikan. 

Sebenarnya dia sudah merasa aneh saat melihat seekor serangga menyengat belakang leher Aurevy, dengan dia yang berjalan di depannya tentu saja Mavin melihat itu dengan jelas dari belakang. Mana mungkin ada manusia yang tahan dengan sengatan serangga, tapi Aurevy sama sekali tidak terganggu dengan keberadaan serangga itu di kulitnya. Namun karena saat itu Mavin masih tidak percaya dengan yang dia lihat dia tetap mengikutinya untuk memastikan. Dan kebenaran itu terungkap saat sosok itu berubah wujud, Mavin tau dia tidak bisa melawannya untuk itu dia berlari dengan segera.

Awalnya sosok itu tidak membiarkannya pergi dan berusaha menjeratnya, akan tetapi saat itu Mavin teringat pesan dari mendiang kakeknya bahwa makhluk sejenis itu bisa di hadapi dengan melawannya balik. Hanya perlu hilangkan ketakutan dan bersikap seolah-olah berani padanya.

Mavin dengan sedikit ketidakpercayaan akan keberhasilan akhirnya dia menggunakan saran itu, saat makhluk itu mengejarnya dan berhasil menghempaskan tubuhnya dia bangkit dengan meraih batu di sekitarnya lalu mendekatinya dan melemparkan dengan kencang batu itu ke wajahnya hingga membuat makhluk itu terhuyung ke belakang, dia menggunakan kesempatan itu untuk berbalik mengejarnya dengan terus melemparkan batu ke arahnya sambil mengeluarkan makian terus-menerus hingga makhluk itu menyerah dan hilang seketika.

Itulah pertama kalinya dia memaki dengan sangat begitu kasar. 

Mavin masih tidak percaya cara itu berhasil melumpuhkan makhluk itu.

Mavin telah kembali menemui teman-temannya, namun betapa terkejutnya dia melihat keadaan Ravel dan Danzel yang sudah berlumuran darah dan tak sadarkan diri di dekat pohon tua itu.

“Ravel! Danzel!”, dia berteriak dengan histeris.

Dalam kekalutannya melihat keadaan teman-temannya, dia menyadari bahwa sesuatu sedang bergerak dan mengintainya.

Ragu-ragu dia melirik ke belakang, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat akar pohon itu bergerak meliuk-liuk.

Mavin bangkit berdiri, mengambil sesuatu yang ada disana untuk dia gunakan menghalau akar pohon itu yang kini sedang berusaha menyerangnya.

Naas, akar pohon itu dengan cepat melilit kakinya erat dan membanting tubuhnya dengan kasar hingga terdengar dentuman keras saat tubuhnya ambruk menyentuh tanah.

Kini, Mavin pun turut menjadi korban keganasan pohon tua itu.

Dengan tertatih-tatih dan wajah yang amat lelah, mereka bertiga kembali ke bangunan tua itu untuk bertemu yang lainnya.

Elzilio memapah tubuh tak sadarkan diri Aurevy, sedangkan Zaleanna membawa tongkat besi yang berhasil dia temukan di danau. 

Bukan dengan begitu saja dia menemukan benda itu, melainkan itu adalah petunjuk yang dia dapatkan dari perjalanan lintas dimensi yang diam-diam dia lakukan. 

Saat Mavin sedang menjaga Aurevy dan membuatnya tersadar, saat itu Zaleanna pergi menjauh dari mereka.

Melakukan perjalanan lintas dimensi untuk mencari tau apa yang terjadi di danau itu.

Gundukan tanah yang Elzilio lihat di tempat danau itu berada sebenarnya menunjukkan bahwa itu tempat dimana keberadaan mereka berada.

Mereka mencoba menunjukkan eksistensinya pada Elzilio, bahwa tubuh tak bernyawa mereka telah di buang ke danau itu dan mereka menginginkan tempat persemayaman yang layak untuk ketenangan arwah mereka.

Dalam penglihatannya saat melakukan perjalanan lintas dimensi untuk ketiga kalinya itu dia mendapatkan sesuatu, bahwa mereka telah di bunuh menggunakan tongkat besi itu setelahnya menancapkan tubuhnya di dalam danau menggunakan besi itu.

Mereka menginginkan balas dendam tak berkesudahan pada orang-orang yang telah melakukan itu, kemudian Zaleanna menangkap kesimpulan bahwa dengan menggabungkan semua energi negatif mereka dalam tongkat besi itu maka dia akan melumpuhkan monster akar pohon itu.

Ruangan begitu hening dan senyap, mereka tidak menemukan keberadaan yang lainnya.

Elzilio membawa tubuh Aurevy berbaring di lantai, sampai saat ini dia belum sadarkan diri. Jika dia mendapatkan perawatan medis yang layak di rumah sakit mungkin dia adalah pasien dengan kategori kritis.

Elzilio dengan sabar dan telaten merawat Aurevy, dia mencoba membuat tubuhnya berbaring dengan nyaman, meski itu tidak akan mungkin, karena selain Aurevy yang tidak sadarkan diri sehingga tidak bisa merasakannya lantai disana juga sangat tidak layak menjadi alas untuk tidur.

Tiba-tiba jeritan Zaleanna mengejutkannya, tubuhnya menegang. Dia langsung bergegas mencari keberadaannya, dan betapa terkejutnya dia melihat ketiga temannya terkapar tak berdaya.

Zaleanna menangis histeris, ini untuk pertama kalinya Elzilio melihat Zaleanna menangis sekeras itu.

Dia sendiri juga sangat terpukul dengan apa yang dia lihat di depannya, namun dia harus tetap tegar agar tidak semakin membuat situasi semakin memburuk. Setidaknya harus ada seseorang yang bisa menenangkan Zaleanna saat ini.

Di hampirinya teman-temannya lalu mengangkatnya satu persatu ke dalam ruangan.

Empat orang terbaring tak berdaya, dengan tampilan yang menyakitkan.

Zaleanna tak kuat melihat pemandangan itu, dia masih terisak.

Elzilio menghampirinya dan memberikan botol minum padanya, Zaleanna hanya menatapnya sebentar kemudian memalingkan wajah. Dia bahkan tidak sanggup untuk menelan air.

Elzilio duduk di sampingnya, dengan sedikit ragu-ragu dia menepuk-nepuk pundaknya seraya menenangkannya.

Setelah sedikit membaik, Zaleanna menatap Elzilio, "Elzilio, kita harus segera membunuh monster gila itu"

Setelahnya, dia bangkit dan mengambil tongkat besi.

Mereka telah kembali ke pohon tua itu, berdiri di sana dengan kesiapan untuk bertempur layaknya prajurit yang siap mati untuk membela kebenaran.

Tanpa mereka sadari akar pohon itu diam-diam kembali bergerak, melingkari tempat dimana mereka berdiri.

"Aarrgh!", Mavin berteriak saat dengan ganas akar pohon itu melilit kakinya hingga mengeluarkan percikan darah.

Itu membuat Zaleanna panik, dia segera menolongnya, namun naas kakinya juga turut terjerembab dalam lilitan akar itu.

Bersusah payah dia membebaskan dirinya, saat lilitan akar itu mengenai luka-luka yang dia dapatkan saat menyelamatkan Aurevy di semak belukar, itu semakin terasa sakit.

Dia melihat Elzilio yang juga sedang bertarung dengan akar pohon itu, dan tidak menyadari bahwa sesuatu tengah mengincar di belakangnya.

"Elzilio!", teriak Zaleanna.

Terlambat menyadari dan tidak sempat menghalaunya tubuh Elzilio terpelanting saat tangan dari monster itu melemparkan tubuhnya.

Zaleanna masih terjerat dengan akar pohon itu, kekuatannya semakin menipis hingga membuatnya ingin menyerah. Dan melihat keadaan Elzilio semakin membuatnya berputus-asa.

Elzilio sudah tak sadarkan diri dengan banyak darah di tubuhnya.

Buliran bening lolos dari sudut matanya, Zaleanna kembali menangis.

Emosinya kian memuncak ketika melihat keberadaan monster itu, dikerahkannya semua kekuatan yang masih tersisa.

Dia berhasil meloloskan diri dari jeratan pohon itu, berkat tongkat besi yang dia tancapkan pada akar yang melilit kakinya.

Zaleanna berdiri. Wajahnya mengeras, kedua matanya memerah memancarkan emosi yang tak terkira jumlahnya.

Di genggamnya tongkat besi itu dengan sangat erat, seakan-akan tidak boleh ada yang merampasnya.

Rintik hujan mengenai dirinya, yang sedang berdiri kokoh di bawahnya.

Zaleanna tidak kenal lelah, dengan air mata yang bercucuran dan dengan kekuatan yang masih tersisa dia terus mengarahkan besi itu ke akar pohon, menghancurkannya hingga remuk tanpa sudi meninggalkan kepingan yang utuh. 

Setelah cukup lama, akar pohon itu akhirnya hancur berkat keganasannya menggunakan besi itu. Rintik hujan tidak lagi dia hiraukan kehadirannya yang kini sudah menjadi deras dan membasahi tubuhnya. Pikirannya hanya satu, membunuh monster itu dan menyelamatkan teman-temannya.

Setelah akar pohon itu benar-benar hancur, dia beralih menghampiri batang pohon, matanya memerah, menahan gejolak emosi pada penyebab dirinya terkurung di tempat ini, diarahkannya besi itu ke tubuh pohon besar itu.

Teriakan keras dia lontarkan ketika dengan seluruh kekuatannya dia menancapkan besi itu ke batang pohon.

Hujan semakin deras, rembesan darah merah keluar dari dalam batang pohon itu, tepat dimana dia menancapkan besi itu.

Dia terus menancapkannya berulang-ulang tanpa henti, seakan derasnya hujan semakin membuatnya bersemangat akan keberhasilan yang telah lama dinantikan. 

Guyuran hujan telah membawa secercah harapan akan penantiannya pada kehadiran cahaya mentari. 

Pohon itu tumbang.

Kekuatan angin yang menyertai hujan telah membantunya dalam pertempuran.

Zaleanna berhenti, menyaksikan pohon itu benar-benar tidak lagi berdiri kokoh.

Dia membuang besi itu dengan kasar, kemudian terisak pilu. 

Di usapnya wajah yang telah lama basah itu, dia berlari menghampiri teman-temannya yang kini terkapar tak berdaya.

Tubuh tak berdaya Elzilio dibawanya ke dalam ruangan, membaringkannya bersama yang lainnya.

Zaleanna menangis sejadi-jadinya, seakan tak ada yang bisa menghentikannya.

Untuk apa dia berhasil jika tidak bisa keluar dari tempat ini bersama dengan teman-temannya, keberhasilan ini tidak lain adalah untuk mereka. Telah banyak yang telah dia lalui dengan mereka, hingga membuatnya begitu menyayangi mereka.

Dalam kekalutannya yang hampir menyerah karena tidak kunjung menemukan cara untuk mengatasi masalah itu, sebuah bunyi yang tidak asing dalam pendengarannya menyelinap diantara guyuran hujan yang lebat itu.

Layar tembus pandang dengan cahaya yang menyertainya terpampang jelas di depannya. Seakan ingin memberitahukannya bahwa akan selalu ada titik cahaya pada harapan yang telah dilantunkan dengan sepenuh hati.

[ Nama Lengkap : Zaleanna ]

[ Nama Panggilan : Alea ]

[ Genre yang disukai : Romantis ] 

Zaleanna membeku, dinginnya malam dengan iringan hujan yang mendinginkan semakin menusuk tubuhnya begitu dalam. 

Bagaimana bisa?

Bahkan di saat seperti ini layar itu memerintahkan sesuatu yang sulit dia lakukan!

Pikirannya membawanya mengingat banyak hal yang telah dia lalui, dihadapkan tulisan seperti itu membuatnya semakin tak berdaya.

Dia ingin menyelamatkan mereka, tetapi tidak dengan cara seperti ini yang mungkin saja tidak akan berhasil, bahkan sekalipun berhasil itu hanya akan meninggalkan luka samar yang cukup membekas dihatinya.

Memikirkan bagaimana jika setelahnya dia tidak bisa bertemu dan tidak lagi melihat wajah-wajah yang dia kagumi itu, cukup menyayat hatinya.

Di tatapnya semua teman-temannya yang terbaring itu dengan perasaan yang berkecamuk.

Jika itu memang satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka maka dia akan melakukannya. Tidak peduli pada kenyataan seperti apa yang akan dia hadapi nanti, yang pasti dia ingin menyelamatkan mereka. Itu adalah suatu hal yang pasti. 

Perlahan direngkuhnya tubuh itu, dia memejamkan matanya hingga membuat buliran bening di sudut matanya menetes dengan bebas, detik berikutnya dia mendaratkan bibirnya pada seseorang yang tak berdaya yang berada dalam rengkuhannya itu, menciumnya dengan lembut. Begitu lembut hingga tidak akan bisa membangunkan seseorang yang sedang tertidur.

Begitu seterusnya, dia melakukan hal yang sama pada semua teman-temanya.

Air mata semakin deras dia keluarkan.

Setelah itu dia menatap mereka, sebuah harapan besar terpancar dalam sorot matanya. Berharap itu akan benar-benar berhasil membuat mereka membuka mata.

Tentu Zaleanna tidak ingin mengambil kesempatan itu dengan melakukan hal yang tidak benar, mencium bibir seseorang saat sedang tertidur bukanlah tindakan yang tepat, untuk itu dia mendaratkan bibirnya di pipi mereka. 

Sinar mentari pagi merambat perlahan menyinari apapun yang berada di bawahnya, udara segar berhembus dengan lembut dan menenangkan, kicauan burung yang hidup di alam bebas bagaikan alarm untuk membangunkan siapapun yang masih terlelap tidur. 

Perlahan mata itu terbuka, menyesuaikan cahaya yang menerobos masuk begitu penglihatannya menangkap pemandangan di depannya.

Saat mata itu sepenuhnya terbuka, saat itulah dia melihat teman-temannya telah berada di depannya. Tersenyum hangat padanya, dengan tatapan yang begitu lembut.

Sejenak dia ingin melihat semua keindahan ini dalam waktu lama dan menangkap semuanya dengan rakus untuk menjadi kenangan dalam penyimpanan memori ingatannya, lalu mengingatnya kembali saat keindahan itu tak lagi terlihat.

“Alea...”

Suara itu dengan jelas menerobos masuk melalui pendengarannya, membangunkan dirinya yang benar-benar telah jatuh pada pesona mereka.

Dengan dibantu oleh mereka, Zaleanna beranjak bangun dari tidurnya.

Dia tidak ingat kapan dia mulai tertidur, seingatnya dia menangis seorang diri di bawah guyuran hujan dan menunggu teman-temannya terbangun.

Matanya berkaca-kaca, senyum di bibirnya adalah pancaran dari bagaimana perasaannya sekarang, yang begitu bahagia dengan kenyataan ini.

Harapan yang dilantunkan dengan sepenuh hati ternyata tidak mengkhianati.

Akhirnya mereka masih bisa bersama-sama, dalam keadaan selamat.

Di raihnya seseorang yang berada dekat dengannya, dia menumpahkan semua perasaan bahagia bercampur haru di dalam pelukannya, menangis tersedu-sedu seakan tidak ingin kehilangan apapun lagi dalam hidupnya.

Ravel menepuk-nepuk pelan punggungnya, seraya menenangkannya.

Dengan senang hati dia membiarkan Zaleanna menggunakan sandarannya untuk menumpahkan semua perasaannya. Karena dia tau perjalanan seperti apa yang telah gadis itu lewati.

Hangatnya tubuh orang itu membuat dingin di hati Zaleanna melunak, dia sudah sangat kedinginan sejak lama, sehingga membutuhkan sedikit kehangatan untuk menyamarkan rasa dingin yang menusuk itu. 

Setelah menumpahkan semua perasaannya, dia melepaskan pelukan itu.

Zaleanna mengedarkan pandangannya ke sekitar, ternyata dia sedang berada di lahan kosong yang begitu luas, tanpa ada apapun yang terlihat disana selain dia dan teman-temannya.

Kemana perginya semua bangunan tua dan seisinya itu?

Bahkan danau yang menyembunyikan tubuh salah satu temannya sama sekali tidak terlihat disana.

Seketika Zaleanna menyadari, ternyata semua itu adalah ilusi.

Selama ini mereka berada di tempat ilusi, terjebak di dalamnya, terluka bersama, dan keputus-asaan adalah hal yang mereka rasakan setiap detiknya, hingga akhirnya berhasil keluar dari ilusi itu setelah melewati banyak hal yang menyakitkan.

Tiba-tiba sebuah layar yang hanya Zaleanna yang bisa melihatnya, muncul di depannya.

[ Nama Lengkap : Zaleanna ]

[ Nama Panggilan : Alea ]

[ Status : Selamat! Orang-orang asing yang baik itu telah menjadi teman Anda. Nikmati perjalanan bersama mereka ]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!