BAB 8: BUNGA KEMATIAN

Bunga berwarna biru terang dengan kelopak terbuka hingga menampakkan serbuk sebening kristal di dalamnya itu memang sepintas terlihat indah, bagaimana pun itu seperti jenis bunga pada umumnya. Namun siapa sangka bunga yang terlihat mempesona itu menyimpan racun di dalamnya. Burung berbulu putih dan lebah itu telah menjadi korban dari keganasan bunga itu, Zaleanna masih teringat bagaimana tubuh keduanya terkapar dan kejang-kejang tak berdaya.

“Alea, kita harus bagaimana?”

Zaleanna tidak langsung meresponnya, dia sedang dalam kekalutan yang nyata atas situasi ini.

Aurevy yang terbaring di depannya belum mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini, dia masih memejamkan matanya karena beberapa saat yang lalu perawat istana memberikannya obat yang memiliki efek samping mengantuk.

Dia menelusuri tubuh Aurevy, ruam kemerahan itu masih nampak jelas bahkan lebih banyak dari pertama kali dia melihatnya. Dengan luka seperti itu dia tidak sanggup membayangkan bagaimana rasa sakit yang Aurevy rasakan. 

Zaleanna bertekad untuk mencari penyebab temannya mengalami itu dan menyelamatkannya.

“Sepertinya tidak akan mudah untuk menemukan jalan keluarnya. Tapi aku akan mencobanya”, Zaleanna sudah beralih berdiri dan menghadap teman-temannya. 

Mavin terlihat ingin mengatakan sesuatu namun dia ragu-ragu, akhirnya setelah menemukan waktu yang tepat untuk mengatakan itu dia langsung melakukan tujuannya.

Zaleanna meminta teman-temannya menjaga Aurevy sampai dirinya kembali, dan dia akan pergi menghadap pelayan istana yang cukup dekat dengannya itu, dengan harapan akan mendapatkan informasi darinya.

Mavin mengikuti Zaleanna sedikit lebih jauh di belakang, kemudian dia menutup pintu ruang kesehatan istana itu.

“Alea!”

Merasa terpanggil, Zaleanna berbalik dan melihat Mavin di belakangnya.

“Mavin?”, dia tidak mengira Mavin akan mengikutinya.

“Ada yang ingin aku katakan padamu”

Zaleanna mengangguk, dan menunggu, “Bicaralah”

“Setelah kami mendapatkan kamar masing-masing, orang-orang berpakaian hitam itu sempat tidak mengijinkan kami keluar dari sana. Mereka mengatakan untuk tidak banyak melakukan pergerakan, jadi itulah mengapa saat Aurevy demam kami tidak langsung memberitahumu segera. Saat itu kami berpikir Aurevy terkena demam biasa, tetapi setelah melihat ruam-ruam kemerahan di kulitnya kami semua panik, tidak tau harus meminta bantuan pada siapa karena pintu yang menghubungkan ke luar ruangan terkunci, selain itu tidak ada persediaan medis apapun yang bisa digunakan, hingga akhirnya kamu datang menemui kami”

Zaleanna baru mengetahui itu, juga terkejut karena Mavin mengatakan yang sebenarnya. Perasaannya senang, dia merasa kini semua teman-temannya sudah lebih terbuka untuk mengatakan apapun yang terjadi. 

Dia menyentuh pundak Mavin dengan salah satu tangannya dan tersenyum, dia hanya ingin memberikan sedikit kekuatan agar teman-temannya tidak merasa bersalah atas situasi ini dan ingin memberinya kekuatan untuk tetap optimis, “Mavin, terima kasih sudah mengatakannya. Aku akan segera mencari jalan keluar dari situasi ini dan membuat Aurevy sembuh”

Mavin merasa tak pernah ada kata menyerah dalam diri Zaleanna, semangat dalam dadanya tidak pernah pudar sekalipun tindakannya akan membahayakan dirinya sendiri. Itu cukup mengejutkan ketika seorang gadis mampu memimpin dalam banyak hal.

Dengan lembut Mavin melepaskan tangan Zaleanna yang bertengger di bahunya, kemudian beralih menggenggamnya, ada harapan besar dalam rengkuhan tangannya.

“Aku akan ikut bersamammu”, Mavin mengatakannya dengan mantap.

Awalnya Zaleanna ingin menolak tetapi melihat ekspresi Mavin yang begitu yakin dengan perkataannya, juga tangan yang menggenggam tangannya erat,  maka dia tidak memiliki kekuatan untuk menolaknya.

Dengan begitu, mereka berdua bergerak bersama-sama untuk melakukan misi.

Sesuai arahan Zaleanna, Mavin pergi mencari keberadaan bunga-bunga yang telah Zaleanna buang karena sudah membusuk, dia mencarinya di belakang bangunan istana. Berharap menemukan tempat pembuangan sampah atau semacamnya. Sedangkan Zaleanna pergi menemui pelayan kepercayaannya di kamar pelayan.

Sebenarnya tidak di perbolehkan bagi tuan putri untuk memasuki area yang memang tidak di maksudkan untuk di kunjungi tuan putri istana, tetapi karena di dalam istana ini tidak ada siapapun yang memiliki kuasa lebih tinggi untuk melarang hal itu maka dia memberanikan diri untuk melakukan itu.

Dia mengetuk pintu kamar itu begitu sampai disana, dan menunggu dengan harap-harap cemas. Namun hingga ketukan ketiga pintu tak kunjung terbuka.

Tiba-tiba beberapa saat kemudian, suara seseorang menginterupsinya di belakang.

“Tuan putri?”

Wanita itu baru saja tiba dari luar dan sepertinya akan memasuki kamarnya.

Zaleanna melihat wanita itu memegang keranjang untuk bunga, keranjang yang memang biasa di gunakan untuk memetik bunga, beberapa hari lalu dia juga menggunakan keranjang dengan model yang sama untuk memetik banyak bunga.

“Apa ada sesuatu yang Anda inginkan?”, tanya wanita itu begitu sampai tepat di depan Zaleanna.

“Apa kamu tau kalau salah satu teman yang ku bawa kesini sedang sakit?”

Wanita itu mengangguk, sepertinya ekspresi wajahnya juga menunjukkan sedikit kesedihan akan kemalangan yang menimpa teman tuan putrinya itu.

“Aku mendengarnya dari pelayan yang lain. Lalu bagaimana keadaannya sekarang?”

Zaleanna tidak langsung mengatakan yang sebenarnya, dia masih memiliki kewaspadaan pada semua penghuni istana ini.

“Itu sudah cukup membaik, perawat istana mengatakan dia hanya perlu beristirahat untuk beberapa waktu”

Seakan tidak lagi bisa menahan rasa penasaraannya, Zaleanna mengutarakan isi pikirannya, “Apa kamu baru saja memetik bunga?"

Wanita itu melihat keranjangnya, kemudian mengangguk.

“Untuk apa?”, tanya Zaleanna.

Wanita itu tidak langsung menjawabnya, dia bergeser untuk membuka pintu ruang kamarnya dan memberikan instruksi untuk Zaleanna masuk ke dalam bersamanya.

Ruangan yang cukup luas dengan desain simpel dan interior yang biasa namun terlihat terjaga dengan baik itu cukup membuat Zaleanna merasa nyaman. Rasanya ini seperti dia sedang berkunjung ke rumah neneknya. 

Wanita itu mempersilakan Zaleanna duduk di alas berbentuk bundar yang empuk, sedangkan dia duduk tidak beralaskan apapun, langsung menyentuh lantai yang dingin.

Tentu akan tidak sopan jika dia duduk lebih tinggi ataupun duduk menyamakan dengan tuan putrinya, maka sebagai seorang pelayan dia cukup sadar diri untuk tidak bertindak di luar batas.

Dengan pembawaannya yang tenang, dia memulai bicara, “Putri. Saya memahami keingintahuan Anda pada apapun yang terjadi di istana ini, ini istana Anda maka sangat mungkin untuk Anda mengetahui yang membuat Anda penasaran. Nyonya juga dulu seperti ini, rasa ingin tahunya begitu besar hingga pengetahuan apapun dia serap, dari kemampuan dan pengetahuan itu dia berdiri di kaki sendiri dan memiliki pilihan hidupnya sendiri”

Zaleanna masih mencerna setiap kata itu, dia belum benar-benar memahami arah pembicaraan wanita di depannya itu.

“Dulu nyonya, yang merupakan ibu Anda, sangat menyukai keindahan. Untuk itu dia bersama suaminya menanam bunga-bunga itu. Setiap tahun akan selalu ada perayaan bunga yang dimana penduduk akan memanen besar-besaran bunga-bunga itu. Berkatnya, itu merupakan festival terbesar satu-satunya yang ada di istana ini. Kami para pelayan juga turut dalam kegiatan tersebut. Aku adalah pelayan kepercayaan nyonya, untuk itu aku tau jenis bunga yang ibu Anda sukai. Jadi ini sudah lama menjadi tugasku, memetik bunga-bunga itu”

Pelayan wanita itu memalingkan wajahnya ke arah keranjang bunga itu berada, itu terletak di salah satu meja di dekat lemari, “Bunga yang ada di dalam keranjang itu adalah bunga-bunga yang nyonya sukai”

Kini Zaleanna cukup memahami kemana arah pembicaraannya yang sempat membingungkannya itu.

Ada sedikit keragu-raguan untuk bertanya, tetapi rasa ingin taunya mengalahkan keraguan itu, “Boleh aku melihatnya?”

Zaleanna berpikir mungkin akan sulit untuknya mengetahui lebih dalam tentang apapun yang ingin dia ketahui, mengingat bahwa dirinya bukan benar-benar tuan putri yang asli. Jadi dia pikir wanita itu tidak akan menghiraukan permintaannya dan memberikan alasan untuk menolaknya.

Namun tanpa di duga, wanita itu berdiri dan mengambil keranjang bunga itu.

Kemudian dia menaruhnya di atas meja yang berada di antara mereka berdua.

Tangan Zaleanna terulur untuk membuka keranjang bunga itu, dan benar di dalamnya memang terdapat beberapa jenis bunga seperti yang wanita itu katakan sebelumnya.

Bunga berwarna merah, hijau, orange, kuning, ungu, putih, kuning keemasan.

Dari semua bunga itu dia tidak melihat keberadaan bunga berwarna biru yang saat itu dia petik, bunga berwarna biru yang menyebabkan satu hewan berdarah panas dan satu hewan berdarah dingin itu terkapar dan kejang-kejang.

Rasa penasaran dan kejanggalan pada situasi ini kian memuncak dalam dirinya.

Zaleanna menutup kembali tutup keranjang itu.

Pelayan wanita itu tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya pendapatnya, “Bagaimana menurutmu?”

“Selera ibuku sangat baik, itu adalah jenis bunga yang cantik dan indah”, Zaleanna mengatakan yang sejujurnya, bunga-bunga itu memang cantik. Sejak dia datang ke tempat ini hal pertama yang membuatnya terpesona hingga berhasil mengalihkan perhatiannya adalah hamparan tanaman bunga di depan istana. 

Bunga yang berwarna biru itu juga cantik, hanya saja tidak memiliki aroma seharum bunga-bunga yang lainnya. Meski warnanya lebih menonjol dari bunga lainnya, fakta bahwa bunga berwarna biru itu berbeda, membuat dia semakin yakin ada sesuatu di balik tumbuhnya bunga itu.

Kemudian Zaleanna keluar dari ruangan itu, pelayan itu mengantarnya hingga pintu pembatas area yang menghubungkan kamarnya dengan area luar.

Istana itu memiliki semacam pembatas yang menjadi batasan untuk membedakan area satu dan area lainnya. Setiap kamar, kecuali kamar Zaleanna yang berada di lantai dua, akan memiliki sekat pembatas berpintu yang menjadi batas antara lorong yang akan menuju istana dan lorong untuk menuju ruangan kamar para pelayan, sama halnya dengan area ruangan kamar teman-temannya. Hal itulah yang terkadang membuat Zaleanna tidak bebas untuk bertemu teman-temannya karena tidak jarang pintu pembatas itu akan di kunci oleh para pengawal, mereka adalah orang-orang berpakaian hitam yang membawa dia dan teman-temannya ke istana ini.

“Tuan putri jika Anda menginginkan sesuatu katakan saja, dan jika Anda ingin mengetahui sesuatu jangan ragu untuk bertanya”

Zaleanna mengangguk, dan memberikan senyuman ringan. Itu cukup membuatnya senang karena wanita itu bisa terbuka padanya.

Saat dalam  perjalanan, masih tidak jauh dari sana, Zaleanna berhenti, dia tiba-tiba teringat sesuatu.

Lalu apa yang pelayan wanita itu lakukan setiap malam sambil membawa keranjang bunga?

Zaleanna berbalik, hanya untuk menyaksikan pelayan wanita itu sudah masuk ke dalam kamarnya.

Dia menghela nafas frustrasi, sepertinya dia harus sedikit lebih bersabar dalam menahan rasa penasarannya.

Zaleanna melanjutkan langkahnya karena teringat Mavin yang sedang pergi ke area belakang istana, dia berniat menyusulnya.

Di belakang bangunan itu, Mavin sedang gencar mencari sesuatu. Kondisi disana cukup terawat sehingga sulit baginya menemukan sesuatu yang terlihat di buang.

“Mavin!”

Di tengah-tengah kefokusannya, suara Zaleanna mengalihkan perhatiannya.

Setelah berjalan cukup lama untuk sampai ke bagian belakang istana, akhirnya Zaleanna tiba disana.

Zaleanna berlari mendekat padanya, “Apa kamu menemukan sesuatu yang terlihat aneh?”

Mavin menggeleng lemas.

Mereka berdua terus menelusuri area itu, hingga di tengah-tengah pencariannya, layar tembus pandang berkilau muncul di depannya, lantas Zaleanna mendongkak untuk melihatnya.

Kini dia sudah terbiasa dengan kemunculan layar itu jadi begitu layar itu muncul di hadapannya dia akan langsung mengerti, tanpa banyak bertanya, bahwa dia bisa melakukan sesuatu dengan petunjuk yang terpampang disana.

[ Nama Lengkap : Zaleanna ]

[ Nama Panggilan : Alea ]

[ Informasi Tambahan : Menyukai kebersihan ] 

Zaleanna berpikir keras, apa yang terlihat kotor selama dia dan teman-temannya berada disini. Sesuatu yang harus segera di bersihkan, dia ingat betapa kamarnya selalu dalam keadaan rapi dan bersih. 

Apa yang harus dia bersihkan di tempat ini?

Zaleanna terus tenggelam dalam ingatannya, mencari tau jawaban untuk petunjuk itu. Hingga tidak menyadari Mavin yang sedang berjalan menghampirinya dengan membawa plastik berisi bunga yang sudah menghitam.

Langsung saja keduanya membongkar plastik itu dan menemukan bunga yang sudah menjadi bangkai, menghitam dan sudah tak berbentuk.

“Ini persis seperti penampakan bunga yang aku petik beberapa hari lalu berubah menghitam begitu aku bawa masuk ke dalam istana”

“Apa dari petunjuk ini kita bisa menyembuhkan Aurevy?”, sambil mengorek-ngorek kumpulan bunga-bunga busuk itu menggunakan batang pohon berukuran kecil yang sudah mengering, Mavin bertanya tanpa tau apakah ada jawabannya atau tidak.

“Bisa”, Zaleanna mengatakan itu dengan penuh keyakinan.

Mereka berdua saling bersitatap.

Meski Zaleanna tidak bisa memastikan apakah semua petunjuk yang sudah dia peroleh akan membantunya dalam menyembuhkan Aurevy, tetapi dia yakin bahwa itu pasti akan membawanya pada keberhasilan.

“Bunga yang pernah aku berikan padamu, kamu taruh dimana?”

“Oh benar, kami lupa memberitahumu. Saat itu ketika seorang pelayan menyuruhmu untuk segera kembali ke istana, kami masih disana beberapa saat dan bunga yang kamu berikan itu kami menaruhnya di gubuk kecil itu dan menanamnya secara sembarang. Sebenarnya itu ide Danzel, dia berpikir bahwa bunga akan selalu berhasil tumbuh tidak peduli dimanapun kamu menanamnya, dan bodohnya kami malah mengikutinya begitu saja”, Mavin mengatakan itu sambil mengingat kembali tindakan dia dan teman-temannya yang cukup konyol karena mendengarkan ide dari Danzel, yang jelas-jelas Elzilio pernah mengatakan bahwa perkataan Danzel tidak perlu di hiraukan karena semuanya hanya berisi candaan.

Terkadang Mavin ingin tertawa ketika melihat keduanya dengan mudah akan cepat berselisih hanya karena beberapa hal sepele.

“Apakah Aurevy juga menaruh bunganya disana?”

“Seingatku dia awalnya menolak ide itu dan bersikeras ingin membawa bunga itu ke dalam istana. Tetapi karena aku tidak terlalu memperhatikannya, jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu”

Zaleanna mengerti sekarang, ada sebuah petunjuk yang mengarah pada kemungkinan itu. Kemungkinan pertama, jika Aurevy turut menaruh bunga miliknya disana bersama dengan bunga teman-temannya maka dia tidak akan bersikeras mempertahankan bunga itu. Dan kemungkinan kedua adalah Aurevy memutuskan membawa bunga itu bersamanya, maka kemungkinan yang terjadi adalah bunga itu sekarang ada bersamanya.

Zaleanna melebarkan matanya, jantungnya berpacu mengikuti keterkejutan yang mulai menjalar di tubuhnya. Seakan menemukan setitik harapan pada permasalahan yang tak kunjung menemukan jalan keluar.

Dia berdiri, diikuti Mavin yang juga berdiri setelah melihatnya berdiri.

Zaleanna menarik tangan Mavin, “Kita harus kembali ke kamar Aurevy sekarang!”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!