BAB 13: ARTI PENGORBANAN

Setelah bubuk hitam itu mengenai tubuhnya, mayat hidup itu terkapar tak berdaya dengan luka cakaran di wajahnya yang kini sudah sepenuhnya terkoyak.

Baik Zaleanna maupun Mavin masih terdiam seribu bahasa, tidak ada rasa takut lagi pada sosok mengerikan itu melainkan berganti dengan menaruh rasa penasaran pada penyebab terkaparnya. 

Angin tertiup di sekitar mereka, memunculkan suara riuh gemuruh yang menakutkan, membawa tubuh sosok itu perlahan menghilang setelah sebelumnya meledak terpecah berai.

Kini tak lagi nampak keberadaan sosok lain selain keduanya yang berdiam diri menyaksikan peristiwa itu.

Di aspal tanah tidak rata itu, yang tersisa hanyalah abu tanpa tulang.

Zaleanna memutar kembali semua peristiwa yang terjadi belakangan ini, sebuah degupan kencang dirasakan jantungnya.

“Mavin, kita harus kembali ke desa itu”

Zaleanna hanya harus memastikan asal usul sosok itu pada pria paruh baya yang mereka temui di desa itu, barangkali dia mengetahuinya, mengingat bahwa area ini masih dekat dengan desa itu. Selain itu disana juga Zaleanna melihat mata merah yang sedang mengawasinya, maka pasti ada sesuatu yang mendesak untuk segera di benahi.

Sejauh perjalanannya yang tidak mudah, dia meyakini bahwa selalu ada keterkaitan antara satu hal dengan hal lainnya.

Mavin menyetujui itu, keduanya bergegas kembali ke desa yang sebelumnya secara tidak sengaja mereka singgahi itu.

Akan tetapi niat tersebut tidak berjalan mudah bagi mereka, karena kini hambatan lainnya sedang mengintai mereka dan siap untuk menyerang. 

Seperti sebuah komet yang jatuh dari langit dan melintasi gelapnya malam, kilatan cahaya berwarna oranye dan merah saling berhimpitan menyerang apapun yang ada di bawahnya. Tentu saja objek sasarannya adalah dua orang manusia yang kini sedang panik dan terkejut menyaksikan fenomena itu.

Bunyi yang di keluarkan sangat menyakiti telinga, dan keadaan seketika berubah chaos. 

“Apa yang terjadi?!”

Mereka waspada, berlarian menghindar dari serangan tiba-tiba itu, kalau-kalau kilatan itu mengenai mereka maka akan bisa di hindari jika tidak lengah.

Tetapi kilatan itu semakin menjadi-jadi.

Setelah berhasil menyambar bebatuan hingga terpecah berai, kilatan itu menyambar area sekitar mereka hingga membuat keduanya terhempas jauh dan tubuhnya terkena pecahan bebatuan yang tajam.

Mavin tidak bisa untuk tidak berteriak saat pecahan itu mengenai bahunya hingga mengakibatkan pakaiannya robek dan kulitnya tersayat. Sama halnya dengan Zaleanna yang kini sedang meringis kesakitan akibat tubuhnya terpental dengan cukup keras mengenai tanah dan bebatuan, dia mendapatkan luka di pelipisnya. 

“Alea awas!”, nalurinya sebagai seorang laki-laki, Mavin langsung berlari menghampiri Zaleanna begitu melihat kilatan itu mengarah padanya, dia melindungi gadis itu dari kilatan cahaya yang akan mengenai tubuhnya. 

“Aakkhh!”, pekikan yang sangat keras lolos dari bibir Mavin. 

Punggung yang dia gunakan untuk menghalau kilatan itu menjadi sasaran amukan kilatan yang belum diketahui asal-usul dan penyebabnya itu. 

Zaleanna aman dalam dekapan tubuh kokoh Mavin, tetapi sang pelindung itu harus merelakan dirinya menjadi sasaran objek kilatan itu hingga terluka.

Zaleanna sudah tidak karuan, dia benar-benar syok atas apa yang dia saksikan. Kedatangan kilatan cahaya itu tak terduga dan masih sulit dia percaya, kini dia harus melihat teman baiknya terluka karena melindungi dirinya.

Di sisi lain dia ingin berteriak pada Mavin yang memilih melindunginya dengan tidak menghiraukan dirinya sendiri yang juga sedang terluka. Tetapi bahkan mulutnya tak bisa berkata-kata, semua yang terjadi dengan tiba-tiba itu menghancurkan pikirannya.

Selain air mata yang kini sudah mengalir dengan deras tidak ada lagi yang Zaleanna bisa lakukan.

Dengan tatapan nanar dan berkaca-kaca serta deraian air mata menghiasi wajah putihnya, tangannya gemetar menyentuh bahu mavin yang terduduk tak berdaya di depannya.

“Tidak. Mavin...”, bahkan suaranya gemetar. 

Kilatan itu terus menyambar tak tentu arah, mengeluarkan suara bising yang hampir menulikan telinga, juga di sertai dengan gemuruh angin yang tiba-tiba bertambah kencang, menjadi iringan malam yang tragis untuk dua sosok manusia yang sama-sama sedang terluka.  

Tangannya perlahan beralih ke belakang punggung Mavin, punggung yang selalu terlihat kokoh dan tegar yang dimiliki oleh sosok yang selalu siap untuk marabahaya apapun, kini tak berdaya dan telah basah oleh sesuatu yang mengalir dari sana.

Zaleanna menarik kembali tangannya dengan gemetar, dan mendapati bahwa tangannya telah di penuhi darah merah.

Zaleanna menjerit sejadi-jadinya, kesedihan dan kepanikan sudah tidak lagi bisa di jelaskan bentuknya. Dia benar-benar ingin menghabisi apapun yang ada di sekitarnya, dan membunuh setiap inci sumber kekacauan ini tanpa sudi meninggalkan bekas. 

Di rengkuhnya tubuh Mavin ke dalam pelukannya, setelah sebelumnya dia merobek kain yang merupakan bagian dari gaun selutut yang dikenakannya, kemudian di rentangkannya kain itu mengelilingi punggung Mavin dan mengikatkannya dengan gemetar dan air mata yang bercucuran, tidak tega melihat luka sebesar dan sesakit itu hanya di tangani oleh kain seadanya yang bahkan tidak memiliki manfaat medis sedikit pun. 

Simpul yang tidak rapi itu cukup bisa menekan sedikit aliran darah dari punggungnya, setidaknya itu cukup untuk membuat Mavin bertahan selama dia akan bertarung dengan sumber dari kekacauan ini.

Dia akan membalaskan dendam atas luka yang dialami teman baiknya.

Nafas Mavin menderu, meski hanya ada sedikit kesadaran yang kini dia miliki, Mavin cukup menyadari apa yang berada dekat di sekitarnya. 

Di raihnya tangan Zaleanna ketika melihat gadis itu akan pergi dari hadapannya.

“Alea...”, Mavin menggeleng, mengisyaratkan padanya untuk tidak melakukan perlawan apapun. Sebenarnya alasannya hanya satu, dia tidak ingin Zaleanna terluka. Merasakan betapa sakitnya sambaran kilat yang mengenai punggungnya itu dia tidak bisa membayangkan gadis itu akan merasakan sakit yang luar biasa seperti ini.

Dengan lemah dia terus menggeleng, rasa sakit di punggungnya itu telah membuatnya kesulitan mengeluarkan suara dari bibirnya selain melakukan gerakan-gerakan ringan tak berdaya.

Zaleanna juga tidak tega meninggalkannya bersandar tak berdaya seperti itu, tetapi dia harus melawan hambatan itu agar tidak ada korban selanjutnya. 

Di genggamnya tangan Mavin yang menggenggam tangannya kemudian dia lepaskan perlahan dengan lembut.

Tidak banyak yang dia katakan pada Mavin, bibirnya hanya mengeluarkan sebuah kata untuk menjadi penguat, “Bertahanlah sedikit lagi, aku mohon...”

Setelah mengeluarkan isakan terakhirnya, Zaleanna pergi dengan semangat menggebu di dadanya.

Jika boleh sedikit egois, dan jika dengan bebas manusia diperbolehkan menentukan apa yang diinginkan untuk membantu perjalanan hidupnya maka dengan sepenuh hati Zaleanna mengharapkan layar tembus pandang yang bercahaya itu kembali muncul di depannya dan membantunya menyelesaikan permasalahannya.

Tidak apa-apa meski hanya sedikit petunjuk setidaknya ada setitik harapan agar tidak berputus asa. 

Akan tetapi meski dia sudah lama menunggu, apa yang dia harapkan tak kunjung datang. 

Akhirnya dengan hanya bermodalkan kekuatan dan keyakinan hati, Zaleanna akan mengerahkan semua kemampuan dalam dirinya sendiri.

Sebelum mereka pergi ke desa itu untuk pertama kalinya, sebuah dentuman hebat tertangkap oleh pendengarannya dan itu berakhir di desa itu. Dari mana datangnya kilatan itu masih menjadi misteri hingga saat ini, dan Zaleanna percaya bahwa dia harus menemukan awal dari munculnya kilatan itu. 

Dibawanya langkahnya berlari mengikuti sambaran kilatan yang mengenai daratan itu, pecahan benda apapun akibat dari kilatan itu tidak dia hiraukan meski itu mengenai tubuhnya. 

Dia tidak membawa apa-apa selain dari keyakinan dalam hati bahwa apapun yang terjadi merupakan takdir yang semesta berikan padanya, jadi dia tidak takut pada apapun meski itu adalah kemungkinan buruk sekalipun.

Namun, sejauh dia melangkah dan sekencang apapun berlari mengejar sambaran kilatan itu, tidak ada apapun yang dia temukan sebagai jalan keluar. 

Saat ada kesempatan untuk lebih dekat dengan sumber kilatan itu, rambatan cahayanya menyengat kulitnya dan membuatnya berteriak menahan rasa sakit yang menyengat. 

Meski itu tidak berdarah tetapi kekuatannya cukup membuat tubuhnya lemah, kekuatannya semakin menipis dan akan habis jika dia tetap memaksakan menyerang kilatan itu. 

Akhirnya dengan langkah gontai dia kembali menemui Mavin, air matanya kembali menetes ketika melihat Mavin yang benar-benar tak berdaya. Tubuhnya yang lemah dan berdarah bersandar dengan terkulai di sebuah bebatuan yang terbelah.

Tangannya mengepal kuat dan benaknya menyerang dirinya sendiri. Harusnya dia yang berada disana dan menerima luka-luka itu, bukan Mavin!

Zaleanna menyalahkan dirinya sendiri.

Dia tidak memiliki apapun untuk melihat jam berapa sekarang, tetapi karena sudah terlihat tidak banyaknya lampu yang menerangi area istana, itu artinya para pelayan dan pengawal sudah di pastikan sedang beristirahat di dalam ruangannya masing-masing, maka dia berpikir bahwa ini sudah benar-benar lebih dari larut malam.

Dengan tertatih-tatih dia membawa Mavin dalam rengkuhannya. Satu tangan Mavin dia sampirkan di bahunya dan tangannya sendiri dia gunakan untuk memapahnya dengan memeluk kuat pinggang Mavin.

Namun naas, pintu gerbang utama istana telah terkunci, keduanya tidak bisa masuk ke dalam.

Alhasil Zaleanna membawa dirinya dan Mavin untuk bersandar pada tembok luas istana yang berada di samping pintu gerbang. 

Dia lelah, bukan hanya fisiknya tetapi juga hati dan pikirannya. 

Zaleanna masih ingat benar bahwa keduanya telah mengatakan bahwa akan kembali ke desa itu untuk memastikan apakah dia bisa keluar dari sana atau tidak lalu kemudian kembali ke desa itu dan memberikan kabar pada pria paruh baya itu bahwa mereka bisa keluar dari desanya segera, akan tetapi situasi telah berubah dan tidak seperti sebagaimana niat awalnya. 

Dia melirik Mavin disampingnya yang sedang bersandar pada tembok, di arahkannya kepalanya untuk bersandar pada bahunya dengan perlahan, kemudian dia mengusap lembut kepalanya.

“Maafkan aku...”

Dia tidak tau meminta maaf untuk hal apa tepatnya, tetapi hanya satu yang dia yakini saat ini, bahwa Mavin terluka adalah karena untuk melindungi dirinya, jadi dia meminta maaf karena telah membuat Mavin seperti itu.

Zaleanna terlalu lelah untuk mengatakan kalimat lagi selain dari itu, perlahan matanya terpejam, mencoba melupakan kenangan pahit yang baru saja keduanya alami. 

Dalam diam, hanya Zaleanna yang tau, bahwa saat ini dia sedang menahan rasa sakit yang teramat menusuk di lengan dan kakinya.

Itu adalah efek dari sambaran kilat yang berusaha dia lawan itu, menyebabkan kulitnya melepuh, memerah, dan perih menusuk.

Keesokan paginya, saat suara burung istana berkicau dengan nada yang lembut, Zaleanna membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya mentari pagi yang menyelinap dari balik jendela melewati titik kecil dari celah yang ada di sana. 

Rasa pusing tiba-tiba menyerang kepalanya, tangannya refleks menyentuh kepalanya, berusaha menghalau sedikit rasa sakit itu.

Dia belum sepenuhnya tersadar sehingga masih terbayang sisa-sisa kekejian kilatan itu tadi malam yang menyerang dirinya dan Mavin.

Seseorang mengetuk pintu dan mendorongnya pelan. Seorang wanita dengan nampan di tangannya berjalan masuk ke kamarnya.

“Tuan putri, Anda sudah bangun?”, sapanya dengan lembut, kemudian dia menaruh nampan yang berisi makanan untuk sarapan dan minuman itu di atas meja di samping ranjang.

Mendengar panggilan yang biasa dia dengar dari para pelayan dan pengawal yang berada di istana membuatnya segera sadar sepenuhnya bahwa dia benar-benar sudah berada di dalam istana.

“Dimana Mavin?”, dia bertanya dengan tidak sabar.

“Anda harus makan terlebih dahulu”

“Dimana Mavin, aku ingin melihatnya!”, bahkan kini tangannya menggenggam tangan wanita yang berprofesi sebagai seorang pelayan istana itu dengan kuat, seakan keinginannya harus segera terpenuhi.

Wanita itu akhirnya mengalah dan hanya bisa pasrah akan kemauan tuan putrinya.

“Mari, saya akan mengantarkan Anda”

Begitu sampai disana, bukan Mavin yang dia temukan, namun betapa terkejutnya dia ketika melihat dua temannya yang lain juga memiliki luka di tubuhnya.

“Apa yang terjadi dengan kalian?!”, Zaleanna bergegas berlari ke arah mereka dan memeriksannya satu-satu.

Tidak ada yang memulai untuk bicara dan menjawab pertanyaannya.

Sedetik kemudian Zaleanna langsung mengerti, dia berbalik menghadap pelayan wanita itu.

“Kamu, pergilah dulu. Aku akan bicara dengan teman-temanku”

Pelayan itu mengangguk, kemudian menutup pintu.

Dengan begitu tidak ada lagi yang harus teman-temannya khawatirkan. 

Elzilio menceritakan semua yang dia dan Danzel alami malam itu di taman bunga, yang pada awalnya berniat mencari Zaleanna dan Mavin namun berakhir mendapat gangguan dari sesuatu yang tidak di ketahui dengan jelas asal-usulnya.

Zaleanna mendengar cerita itu dengan luka di hatinya, perasaannya yang sebelumnya berkecamuk kini kian berkecamuk, setelah mengetahui niatan baik mereka yang pergi malam hari untuk mencari dirinya dan Mavin. 

Tetapi Zaleanna tidak ingin bersedih sekarang, dia harus kuat, agar bisa memberikan kekuatan bagi teman-temannya. Sebab dia sudah berjanji untuk mencari jalan keluar dan segera membenahi permasalahan yang menimpa mereka setelah datang ke istana ini.

“Sesuatu yang tidak di ketahui asal usul dan sumber tepatnya, aku dan Mavin juga mengalami hal yang sama semalam”

Lantas Zaleanna juga menceritakan semuanya pada mereka apa yang terjadi pada dirinya dan Mavin, tetapi dia tidak membicarakan tentang desa itu. Untuk saat ini biarlah hanya dia dan Mavin yang mengetahuinya, dia hanya tidak ingin menambah kekhawatiran mereka dan membuat situasi menjadi lebih sulit.

Mereka sudah cukup dekat jadi ada sebuah perasaan kepercayaan dari dalam diri pada masing-masing dari mereka bahwa terbuka terhadap sesama teman tidak terlalu buruk, sehingga saat yang lain bercerita, lainnya mendengarkan dengan seksama.  

Pikiran mereka telah kalut ke dalam banyak kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi setelah masing-masing mereka mengalami kejadian yang mengenaskan. 

Akan tetapi, hanya ada satu orang yang nampaknya masih belum terbuka untuk menceritakan apa yang tidak sengaja dia saksikan pada malam hari dimana teman-temannya pergi dan hanya dia yang tersadar seorang diri, di area ruangan mereka.

“Bagaimana keadaan Aurevy?”, Zaleanna bertanya pada Ravel.

Namun sebelum Ravel menjawabnya, yang bersangkutan sudah lebih dulu merespon pertanyaan yang dilontarkan untuk dirinya.

“Aku baik-baik saja, Ravel dan yang lainnya merawatku dengan sangat baik”, Aurevy menghampiri mereka yang sedang duduk di atas alas lembut karpet lantai ruangan itu.

Aurevy menaruh minuman beserta gelasnya untuk masing-masing mereka.

Selama di istana ini dia sudah banyak belajar cara membuat teh, dan yang dia suguhkan itu adalah salah satu jenis teh herbal yang berkhasiat untuk memberikan ketenangan pada diri yang meminumnya.

Aurevy cukup penasaran pada banyak hal di dalam istana ini, jadi dia meminta pelayan untuk mengajarinya cara membuat teh. 

Dia sudah belajar membuat dan menyajikan teh selama kurang lebih tiga hari, dan itu artinya kepergian teman-temannya juga sejumlah hari itu.

Itu benar, bahwa Zaleanna, Mavin, Danzel, dan Elzilio telah pergi dari istana selama tiga hari.

Namun, diantara keempatnya belum ada yang mengetahui itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!