Sulit di percaya namun nyata adanya, selama tiga hari mereka berempat tidak ada di istana setelah hari dimana mereka memutuskan untuk pergi dari istana sambil membawa bunga yang berada di dalam kamar Aurevy.
Selama tiga hari itu pula Aurevy sudah berangsur-angsur membaik, tepat setelah Zaleanna dan Mavin menyingkirkan bubuk hitam yang melingkupi tanaman bunga berwarna biru dengan kelopak terbuka itu.
Bukan hanya Ravel dan Aurevy yang bingung harus mencari mereka kemana lagi saat setelah semua area di istana sudah mereka telusuri, para pelayan dan pengawal istana juga turut mencari keberadaan keempat orang itu.
Dan pada pagi hari, di hari ke empat, Zaleanna dan Mavin di temukan tak sadarkan diri di depan gerbang istana. Mereka bergegas membawa keduanya yang penuh dengan luka itu untuk mendapatkan perawatan. Zaleanna di bawa ke dalam kamarnya sendiri sedangkan Mavin langsung di larikan ke ruangan kesehatan istana. Disana seorang dokter istana yang bertugas menangani Mavin mengatakan bahwa luka yang dialaminya cukup parah sehingga membutuhkan perawatan intensif, sehingga belum ada yang di perbolehkan untuk menemuinya sebelum keadaannya membaik.
Meski Zaleanna bersikeras ingin menemui Mavin, dia tetap tidak bisa melakukannya, penjagaan di ruangan kesehatan begitu ketat. Akhirnya dia mengalah dan berdoa untuk kesembuhan temannya itu.
Lima sekawan itu kini sedang berkumpul di kamar Aurevy, dan Aurevy dengan senang hati menjamu mereka.
Ravel masih terlihat tidak banyak bicara, dan itu tidak lepas dari pandangan Zaleanna. Dia merasa ada yang berbeda dari Ravel, tetapi dia juga tidak memiliki hak untuk bertanya banyak hal padanya, jadi Zaleanna hanya diam.
Dia menunggu Ravel yang mengatakannya sendiri padanya.
Rasanya benar-benar kurang dan sangat hambar ketika mereka berkumpul bersama namun salah satu anggota tidak hadir dalam kebersamaan ini. Meski fisik Zaleanna ada di dalam kamar Aurevy tetapi pikirannya tertuju pada Mavin.
Bagaimana kondisi Mavin sekarang?
“Alea, kamu tidak mencoba kue nya? Itu aku sendiri yang membuatnya. Cobalah, dan beritahu aku bagaimana rasanya”, Aurevy menawarkan kue buatannya pada Zaleanna, karena hanya dia yang tidak menyentuh kue itu.
Zaleanna tersadar dari lamunan murungnya, dia menatap Aurevy sebentar untuk memberikannya senyuman kemudian tangannya terulur mengambil satu potong kue.
Layaknya sedang menunggu penilaian dari juri kompetisi memasak, Aurevy menunggu dengan antusias dan menggebu-gebu, kedua bola mata terangnya melebar dan bersinar.
Zaleanna sudah mengambil satu gigitan pada kue itu kemudian tersenyum pada pembuatnya, “Kamu berbakat. Kue ini enak”
Seperti telah lolos kompetisi masak untuk bisa ke tahap selanjutnya, Aurevy terlonjak kegirangan. Dia senang mendapatkan pujian atas karya yang telah dibuatnya, menurutnya itu merupakan bentuk apresiasi terbesar yang bisa membuatnya semakin semangat dalam membuat karya-karya berikutnya.
Zaleanna tidak berbohong, apa yang dia katakan memang benar. Kue buatannya enak, teksturnya lembut dan rasa manisnya pas. Benar-benar karya yang mencerminkan karakteristik pembuatnya.
Dia ingin tertawa saat tiba-tiba membayangkan kue itu adalah kembaran Aurevy, karena ciri-cirinya mirip dengannya, yang selalu penuh dengan ide kreatif dan menyegarkan.
Danzel yang sedikit sebal dengan pemandangan itu mulai mencibir, “Kamu tidak bertanya seperti itu pada kami, padahal aku yang mencoba lebih dulu kue buatanmu. Ck ck benar-benar tidak adil”, dia melahap satu potong kue ke dalam mulutnya, alhasil membuat mulutnya penuh.
Rupanya anggota yang lebih tua itu merajuk pada anggota yang lebih muda, dan menginginkan sedikit perhatian darinya.
“Karena aku tidak percaya padamu”, Aurevy menjulurkan lidahnya pada Danzel seraya meledek, kemudian dia pergi untuk melakukan sesuatu yang lain.
Zaleanna hanya menggelengkan kepala melihat tingkah yang cukup menggemaskan itu, itu benar bahwa interaksi mereka cukup unik. Ah! Tidak, lebih tepatnya interaksi sesama anggota. Mereka memiliki cara dan ciri khas tersendiri dalam menjalin hubungan dan interaksi dengan satu sama lain, dan itu membuat hatinya menghangat. Dia merasa beruntung berada di antara orang-orang unik itu.
Setelah cukup beristirahat mereka kembali ke dalam mode serius, yang artinya pembahasan mengenai keanehan dan kejanggalan yang terjadi pada mereka selama tinggal di tempat ini.
“Bagaimana pun itu terdengar mustahil bahwa kami berempat pergi selama tiga hari. Karena aku merasa itu hanya satu hari, dari sore hari ke malam hari kemudian kembali ke istana di hari yang sama. Bagaimana hal-hal seperti itu bisa terjadi di dunia yang sudah modern ini?”, Zaleanna mencoba mengutarakan semua yang ada dalam pikirannya, dan cukup mengganggunya jika terus menerus di pendam.
“Aku juga berpikir demikian, meskipun aku menaruh curiga pada tempat ini tetapi tidak sampai memiliki pikiran ke arah sana”. Elzilio menimpali, dia juga merasakan hal yang sama. Keanehan seperti itu tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
“Ada yang namanya ilusi”
Suara Ravel menghentikan perdiskusian itu dan sontak membuat mereka mengarahkan perhatian sepenuhnya padanya.
“Ingat saat kita berada di bangunan tua itu? Kita semua terjebak dalam ilusi dan itu terbukti bahwa hari yang selalu gelap, tidak pernah terlihat sinar mentari menyelinap sedikit pun. Hal yang sama kemungkinan terjadi pada kalian”
Mereka sama-sama diam termenung, memberikan atensi penuh pada perkataan Ravel yang cukup masuk akal meski sedikit terdengar sulit di percaya.
Apa yang dikatakan Ravel benar, jadi mereka tidak perlu lagi mempermasalahkan ‘ilusi atau bukan’, melainkan harus pada inti permasalahannya agar segera menemukan jalan keluar.
“Kalau begitu pasti ada yang aneh di istana ini”, Danzel mencoba masuk ke dalam perdiskusian dan menyimpulkan hasil rapat begitu saja.
Zaleanna berlarut dalam pikirannya, ada begitu banyak hal yang secara bersamaan memenuhi pikirannya, belum lagi ada hal yang belum dia selesaikan.
Jika memang dirinya kembali berada dalam ilusi, maka ada hal yang sangat dia khawatirkan sekarang. Para penduduk minoritas di desa itu sedang dalam ketakutan yang nyata, sebuah teror sedang menghantui hidup mereka, dia tidak bisa membiarkan orang-orang desa itu tersiksa.
Dia harus segera menemukan jalan keluar!
Zaleanna bangkit berdiri hingga membuat yang lain menatapnya.
“Aku akan menemui Mavin”
Tidak ada yang menghentikannya, mereka tau bahwa Zaleanna mungkin saja mengkhawatirkannya, selain itu posisi dia di istana ini membuat dia bebas melakukan apapun yang dia inginkan, dan teman-temannya memahami itu.
“Kalian berdua ikut aku”
Kini, sudah tidak ada siapapun di kamar Aurevy sekarang, semuanya telah pergi dengan tujuannya masing-masing, yang tertinggal hanyalah pemilik dari kamar itu sendiri.
“Kemana mereka?”, Aurevy telah kembali dari urusannya.
Pertanyaan itu hanya menggantung, sebab dia sendiri tidak mendengar apapun dari teman-temannya jika mereka akan memutuskan pergi, jadi Aurevy menganggap mereka kembali ke dalam kamarnya masing-masing.
Dari balik kaca, Zaleanna berdiri mematung, memandangi tubuh Mavin yang terbaring tak berdaya di atas ranjang ruangan dingin itu.
Rasanya dia tidak berhak melihat Mavin sebab penyebab dia terbaring seperti itu adalah karenanya.
Setelah menguatkan diri, tangannya terulur membuka pintu itu.
Di tatapnya wajah yang tak pernah lesu itu, wajah yang selama ini selalu menjadi kekuatan untuknya terus melaju membasmi berbagai macam hambatan yang menyerang, dan wajah yang meskipun dingin dan acuh tetapi wajah itu pernah membuat jantungnya berdegup tak karuan.
“Mavin, aku ingin melihatmu membuka mata”
Tidak ada air mata juga tidak ada isakan tangis yang menyertainya, Zaleanna hanya terduduk di atas kursi di samping ranjangnya, dan tangannya menggenggam lembut tangan Mavin.
“Orang-orang di desa itu dalam bahaya, dan aku tidak tau harus berbuat apa...”
Karena banyaknya kejadian yang datang bertubi-tubi membuatnya sulit menemukan petunjuk tepat untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, yang dia butuhkan hanyalah percaya pada sebuah harapan.
Dan harapan itu bisa terwujud dari dukungan teman-temannya, secara lengkap.
Kepalanya tertunduk, kedua tangannya merengkuh tangan tak berdaya Mavin erat-erat, seraya mencari kekuatan untuk mengatasi kelemahannya.
Tiba-tiba jemari Mavin bergerak pelan dan itu di sadari oleh Zaleanna, langsung saja dia terkesiap.
“Mavin?”
Perlahan Mavin membuka matanya.
Saat inilah air mata yang sebelumnya tidak terlihat dan berusaha dia tekan pada akhirnya buliran bening itu mengalir melalui pipinya.
“Terima kasih...”, Zaleanna membawa tangan Mavin yang dalam genggamannya itu ke arah keningnya, seraya melantunkan rasa syukur atas jawaban yang semesta berikan padanya.
Melihat Mavin membuka mata, adalah suatu kebahagiaan yang amat berharga baginya.
Tangan Mavin yang terbebas terulur ke wajahnya, dan mengusap lembut pipi Zaleanna yang basah.
Zaleanna terisak.
Sejujurnya dia sangat malu karena menunjukkan sikap lemahnya seperti ini pada Mavin, tetapi dia tidak tahan untuk tidak menangis haru karena akhirnya bisa kembali melihat Mavin yang juga menyadari keberadaannya.
“Jangan menangis...”, ujar Mavin pelan lirih.
Berkat perkataan itu, Zaleanna kembali memposisikan dirinya untuk tegar. Dia mengusap air matanya, dan merapihkan kembali tampilan wajahnya.
“Mavin”
“...Berhenti menyalahkan dirimu, Alea”
Zaleanna tidak mengerti mengapa Mavin mengatakan demikian.
Dan yang sebenarnya terjadi adalah, dalam ketidaksadarannya yang membuat Mavin berada di alam bawah sadar dan mendapatkan mimpi, dia melihat Zaleanna terus-menerus sedang menyalahkan dirinya sendiri atas musibah yang Mavin alami. Jelas itu bukan kesalahannya, tindakannya itu adalah murni karena rasa ingin melindungi gadis yang teramat berharga baginya itu.
Dia merasa lega begitu melihat Zaleanna baik-baik saja.
Zaleanna membantu Mavin untuk bersandar, kemudian dia memberikan air putih padanya.
“Bagaimana dengan yang lain?”
“Mereka baik-baik saja. Kita semua mengkhawatirkanmu”
Mavin hanya tersenyum.
“Itu.. bagaimana dengan luka mu?”
Zaleanna bertanya untuk memastikan, mengingat bahwa luka yang Mavin dapatkan cukup parah.
“Sudah lumayan membaik. Obat yang mereka berikan sepertinya bekerja lebih cepat”
“Benarkah? Bisakah aku melihatnya?”, Zaleanna panik hingga dia tidak sadar ingin melihat luka itu, yang mana berada pada titik yang cukup sensitif jika di lihat oleh lawan jenis khususnya.
Zaleanna tidak sadar akan hal itu.
“Kamu mau melihatnya?”
“Eh?”, akhirnya Zaleanna kikuk dan hanya terkekeh dengan sedikit malu.
Sebenarnya tidak apa-apa untuk Zaleanna melihat luka itu, toh itu berada di punggung dan bahunya. Namun, Mavin hanya ingin sedikit menggodanya, melihat Zaleanna yang kelimpungan karena perkataanya sendiri terlihat menggemaskan.
“Em, maksudku, itu luka mu...”
“Aku baik-baik saja, Alea. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku”
Keduanya saling melemparkan senyuman.
Di tempat lain, Ravel membawa Elzilio dan Danzel ke belakang istana. Sebelumnya kedua orang itu tidak diberitahu maksud dan tujuan Ravel membawanya ke tempat itu jadi mereka hanya mengikuti sosok tertua yang mereka anggap sebagai ketua.
“Malam itu apa kalian berdua melihat benda seperti ini?”, Ravel mengeluarkan sebuah kantong berukuran besar berwarna putih yang tersembunyi di balik pohon yang dekat dengan sebuah lemari kayu yang sepertinya sudah tidak terpakai.
Elzilio dan Danzel mengamati itu dan sontak terkejut ketika apa yang mereka lihat itu sama persis dengan apa yang menyerang mereka tanpa ampun malam itu.
Benda keras berwarna hitam berbentuk bulat yang tidak pernah mereka kira bahwa akan keluar asap yang mengepul dari sana, kini kembali ada di depannya.
Keduanya bergidik ngeri karena otomatis teringat kejadian mencekam dan mengerikan pada malam dimana mereka berada di taman bunga.
“Bagaimana itu bisa ada padamu?”, Danzel bertanya dengan penuh penasaran, dan wajahnya sangat jelas menunjukkan ketakutan yang bersusah payah dia tekan.
“Aku menemukannya secara tidak sengaja disini saat pergi mencari kalian malam itu”
Setelah memastikan bahwa dugaan itu benar, Ravel percaya bahwa apa yang dia lihat malam itu adalah suatu hal yang saling berkaitan dan memiliki motif dibaliknya.
Hingga kini belum ada yang mengetahui apa yang sedang Ravel sembunyikan.
Dia bukannya tidak ingin segera memberitahu teman-temannya, dia hanya ingin menekan kemungkinan buruk, agar tidak ada yang dirugikan apalagi sampai menyakiti teman-temannya, sudah cukup baginya melihat teman-temannya menderita karena ulah sesuatu yang tak kasat mata, jadi dia perlu sedikit lebih berhati-hati dalam melangkah jika ingin melindungi teman-temannya namun disisi lain harus menemukan jawaban dari petunjuk yang dia peroleh.
Zaleanna memapah Mavin untuk menemui teman-temannya yang lain, ini karena Mavin yang memaksa untuk bertemu dengan teman-temannya, padahal Zaleanna sudah memberitahunya bahwa tidak apa-apa untuk beristirahat dan mereka pasti akan mengerti dengan kondisinya. Akhirnya Zaleanna hanya bisa pasrah dan menuruti keinginannya.
Setelah sampai kamar Aurevy, tidak ada siapa pun di sana selain pemilik kamar itu sendiri.
Ini tidak seperti dugaannya, yang dengan jelas masih mengingatnya bahwa saat dia pergi, mereka semua ada di dalam kamar Aurevy.
“Aurevy, dimana yang lain?”, tanya Zaleanna setelah membantu Mavin duduk di salah satu sofa yang ada disana.
“Sebenarnya aku sendiri menanyakan hal yang sama, dan ku pikir mereka sedang berada di kamarnya. Mereka pergi tanpa sepengetahuanku”
Zaleanna merasa bingung sekaligus penasaran.
Kemana perginya mereka?
Tetapi karena ada Mavin yang harus tetap di perhatikan pada kondisinya membuatnya tidak bisa berlama-lama berpikir mengenai keberadaan mereka, jadi dia hanya akan menunggunya. Karena mungkin saja mereka sedang pergi ke kamarnya masing-masing atau sedang bermain-main di luar, seperti dugaan Aurevy.
Aurevy menghampiri Mavin, dia duduk di sampingnya.
Mavin sangat senang dan merasa lega saat melihat bahwa Aurevy ternyata baik-baik saja, bahkan anak itu sudah kembali seperti kepribadiannya sebelumnya. Akan tetapi, Aurevy tidak bisa menutupi kesedihannya melihat sosok yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri sedang terluka, perasaannya berkecamuk tak karuan.
“Apa itu sakit?”
Sebenarnya tanpa harus dia menanyakan itu dia bisa memastikan bahwa itu pasti sakit, dan Mavin yang begitu hebat menyembunyikan luka separah itu. Saat pertama kali Mavin diketemukan saja dia langsung menangis histeris begitu melihat luka sayatan di punggung kokohnya jadi dia bisa tau, tanpa harus merasakannya, sakit yang Mavin alami.
Mavin terkekeh kecil, menganggap pertanyaan itu cukup terdengar lucu.
“Tidak sakit lagi setelah melihat kalian dalam keadaan baik-baik saja”
Itulah yang dia suka dari Mavin, tak pernah menganggap musibah yang menimpa dirinya sebagai hambatan ataupun sebagai sesuatu yang harus diratapi, melainkan membuatnya menjadi bagian dari hidup sehingga dia dengan mudah menerimanya tanpa banyak mengeluh.
Bagaimana dia tidak semakin kagum pada sosok dewasa seperti itu. Ah, dia jadi ingat pada kakaknya. Sedang apa ya dia sekarang?
Aurevy membawakan teh herbal hangat untuknya, dan Mavin menerimanya dengan senang hati.
Mereka semua adalah sosok kakak baginya, tidak ada perbedaan tanggapan pada masing-masing dari mereka, semuanya memiliki satu sikap yang sama yang membuatnya kagum, yaitu keberanian.
Aurevy merasa, perjalanan yang dia tempuh dan lalui bersama mereka memberikan banyak pengalaman berharga untuk menjadi dewasa dalam hidupnya.
Bagaimana perjalanan kedepannya? Dia sungguh tidak sabar menantikan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments