Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tidak terasa sudah lima bulan Devano bekerja di perusahaan Arkana Group. Dia sangat bersyukur dapat di terima perusahaan yang di penuhi oleh orang-orang baik di sekitarnya.
Kinerja Devano pun mulai ada peningkatan, dia mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi di lapangan, mengemukakan ide-ide brilian yang berdampak untuk kemajuan perusahaan, dan sebagainya.
Devano selalu mengingat pesan ibunya yang mengingatkannya untuk mengutamakan kejujuran dan rasa penuh tanggung jawab dalam melakukan pekerjaan.
Hal tersebut juga berdampak dengan teman rekan kerjanya, sehingga tidak ada yang berani bermain curang. Tahu sendiri kan pekerjaan proyek banyak sekali celah untuk curang.
Di ruangan divisi HRD, tampak Emir dan site manajer lainnya sedang meeting dengan pak Ridwan. Sedangkan Devano sedang sibuk di ruangannya membuat laporan proyek bulanan.
Terlihat pak Ridwan menyampaikan beberapa informasi kepada para pegawai yang hadir. Di akhir pembicaraannya, pak Ridwan memberi bocoran bahwa ada rotasi jabatan untuk pimpro di Sulawesi, mengganti pimpro sebelumnya karena bermasalah.
"Baik, kita sudahi meeting hari ini. Saya persilahkan untuk kembali ke ruangan masing-masing," ucap pak Ridwan mempersilahkan para pegawai untuk kembali ke ruang kerja masing-masing.
Setelah keluar dari ruangan divisi HRD, tampak Emir sangat gelisah sambil berjalan menuju ruangannya. "Semoga bukan gue yang tunjuk, gaji gue sekarang pun terbilang besar. Buat apa dapat tunjangan gede tapi harus meninggalkan keluarga gue sendiri. Gue juga gak mau jauh-jauh dari Renatta, bisa-bisa Renatta makin dekat sama Devano. Oh ... tidak, tidak!" pikir Emir sambil berjalan keluar dari lift.
Sesampainya di ruangan kerja, Emir langsung memberi tahu Devano bahwa akan ada rotasi untuk pimpro Sulawesi. "Bro, bantu doain gue supaya bukan gue yang terpilih. Gue gak sanggup jauh dari keluarga gue," kata Emir.
Seketika Devano berpura-pura batuk. "Uhuk ... uhuk. Gak mau jauh dari keluarga atau gak mau jauh dari Renatta?" tanya Devano dengan nada canda.
"Em ... dua-duanya sih, bahaya juga kalau gue jauh darinya. Bisa-bisa dia makin leluasa dekatin lu," ucap Emir canda sambil memutar-mutar kursi kerjanya.
Seketika Devano sedikit terkejut mendengar ucapan Emir. "Jangan-jangan bang Emir tahu kalau Renatta menyukaiku. Apa bang Emir tahu kalau beberapa minggu kemarin saya ketemuan dengan Renatta di kafe?" pikir Devano.
"Bang Emir ada-ada aja. Makanya bang, cepatan lamar biar hati abang tenang. Saya merasa kalian cocok," kata Devano.
"Benar kata Devan, Emir. Lebih baik kau lamar Renatta. Lumayan kan kami dapat makan gratis di acara pernikahanmu," sahut Juan dengan nada canda.
"Itulah yang gue pikir-pikirkan, Bro. Em ... tenang saja bulan depan gue lamar, hahaha," jawab Emir sambil tertawa keras.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar ruangan yang seketika membuat Emir berhenti tertawa. "Siapa yang mengetuk pintu? Apa itu Renatta?" ucap Emir yang langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu.
"Ceklek."
"Eh, bu Dhea. Ada hal apa datang ke sini?" tanya Emir yang sedikit kecewa karena yang dia harapkan tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Siang Pak, saya datang ke sini memberi tahu pak Devan untuk segera ke ruangan pak Ridwan," kata Dhea yang juga kecewa, dia mengira bahwa Devano yang akan membukakan pintu baginya.
"Oh gitu, kenapa gak di telfon aja bu Dhea?" tanya Emir.
"Saya ada urusan ke lantai atas, Pak. Sekalian saja saya datang secara langsung dan memberi tahu," ucap Dhea sambil melirik Devano yang berada di ruangan.
"Baik bu Dhea, saya ke sana sekarang. Terima kasih," kata Devano.
"Sama-sama pak Devan," ucapnya pamit setelah tersenyum ke arah Devano.
"Bang saya ke ruangan pak Ridwan dulu," pamit Devano pada Emir dan Juan dan langsung bergegas keluar ruangannya.
****
Sesampainya di ruangan divisi HRD, Devano mengetuk pintu dan membuka pintu. Terlihat pak Ridwan sedang duduk di kursi kerjanya sambil membaca sebuah berkas.
"Selamat siang, Pak." Devano mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.
"Selamat siang juga pak Devan, silahkan duduk."
"Terima kasih, Pak."
"Gimana pekerjaannya, proyeknya lancar pak Devan?" tanya pak Ridwan memulai percakapan.
"Semuanya lancar Pak," jawab Devano tersenyum.
"Syukurlah .... Mungkin pak Devan bertanya-tanya mengapa di panggil ke ruangan saya. Tenang saja bukan karena ada masalah mengenai kinerja pak Devan, melainkan saya ingin menyampaikan berita bahagia buat pak Devan," ungkap pak Ridwan.
"Berita bahagia apa Pak?" tanya Devano penasaran. Gak mungkin kan dia dapat bonus, karena baru lima bulan Devano bekerja di perusahaan Arkana Group.
"Bentar yah pak Devan," kata pak Ridwan mengambil salah satu berkas di mejanya. "Gini pak Devan, ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Sebelumnya perlu pak Devan tahu bahwa proyek perumahan yang di Sulawesi ada masalah."
"Masalahnya adalah primpro di sana sudah mengundurkan diri. Hampir dua bulan ini posisi pimpronya kosong," ujar pak Ridwan. "Nah kemarin dari hasil meeting direksi telah di putuskan bahwasanya pak Devan akan menempati posisi pimpro di Sulawesi tersebut."
Devano pun kaget mendengar apa yang di sampaikan oleh pak Ridwan. Dia menyangka yang akan di tugaskan di Sulawesi adalah para seniornya yang lebih berpengalaman, termasuk seniornya Emir. Tapi semuanya di luar dugaannya.
"Apa tidak terlalu dini Pak saya di tugaskan sebagai pimpro di Sulawesi? Karena status saya saja masih kontrak kerja," ungkap Devano yang merasa belum pantas di tempatkan sebagai pimpro.
Pak Ridwan pun memberi pengertian pada Devano. "Perlu Pak Devan tahu, bahwa kami dan direksi tidak asal saja menempatkan pak Devan sebagai pimpro. Semuanya di dasari berdasarkan penilaian kinerja dan kami sudah mempertimbangkan positif negatifnya."
"Tenang saja, pak Devan akan di bantu oleh pak Niko. Dia akan membantu dan memantau langsung sampai proyek selesai. Ini memerlukan waktu enam sampai delapan bulan lamanya. Setelah semuanya selesai, pak Devan bisa kembali lagi ke sini," ungkap pak Ridwan menjelaskan.
"Jika di pikir-pikir ini merupakan kesempatan emas buat pak Devan mengembangkan karir di sini. Apa pak Devan siap menyelesaikan proyek di Sulawesi?" tanya pak Ridwan.
Devano pun mengontrol nafasnya dan mulai berbicara. "Jika memang perusahaan menaruh kepercayaan pada saya, pasti saya siap Pak," ungkap Devano tersenyum kecil.
Sebenarnya Devano berharap di beri kesempatan untuk berpikir. Dia ingin mempertimbangkan yang di sampaikan oleh pak Ridwan, minimal dia ingin bertanya pada keluarganya. Tapi sepertinya keputusan direksi sudah bukan penawaran lagi.
"Terima kasih banyak pak Devan buat kerja samanya. Kami yakin pak Devan mampu menyelesaikan proyeknya dengan baik," ujar pak Ridwan.
"Sama-sama, Pak. Sejujurnya, saya yang patut berterima kasih di beri kepercayaan besar seperti ini," ucap Devano dengan penuh kerendahan hati.
"Seperti yang tadi Bapak bilang, ada dua hal yang Bapak ingin sampaikan pada saya. Kalau boleh tahu, berita kedua apa Pak?"
"Eh iya, saya sampai lupa. Padahal berkasnya ada di tangan saya," kata pak Ridwan. "Berita keduanya adalah tanggal 1 bulan depan, pak Devan di angkat sebagai pegawai tetap. SK nya sudah di ajukan hari ini, tinggal di tanda tangani oleh Presdir," lanjutnya.
Perasaan pak Devan saat ini campur aduk antara percaya dan tidak percaya. Dia tidak menyangka bahwa secepat ini dia di angkat sebagai pegawai tetap. Padahal saat Devano membaca kontrak kerjasamanya jelas setelah kontrak satu tahun baru akan di evaluasi sebelum di tetapkan sebagai pegawai tetap.
...~ Bersambung ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Anonim
Men🗿👍
2024-01-30
0
Maya●●●
emir tahu kalau renata deketin devan
2023-12-01
2
Aerik_chan
bucinnya sudah level up inihhh
2023-09-27
1