Curhatan Presdir

Di ruangan Presdir, tinggallah Devano dan Stephanus setelah pak Ridwan melangkah keluar dari ruangan itu. Devano pun duduk di sofa setelah di persilahkan duduk oleh Stephanus. Sengaja Stephanus memilih duduk di sofa agar terkesan lebih santai dan rileks.

Terlihat Devano duduk berhadapan dengan Stephanus yang merupakan Presdir Arkana Group. Tidak ada lagi perasaan gugup yang menyelimuti Devano. Bahkan dia lebih tenang saat berhadapan dengan Presdirnya, tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya.

Devano sendiri bisa leluasa melihat sekitar ruangan yang tampak bersih, rapi, dengan tambahan beberapa aksesoris ruangan yang tidak terlalu mencolok, sehingga memberikan kesan mewah tersendiri yang melihatnya. Pandangan Devano pun tertuju pada dua foto keluarga Stephanus yang di pajang di dinding.

Foto yang pertama terlihat Stephanus memakai kemeja batik, wajahnya tampak lebih muda dari wajahnya saat ini. Di sampingnya terdapat istrinya yang juga menggunakan dress batik dengan corak yang sama seperti suaminya. Tampak juga seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun menggunakan baju wisuda dan anak perempuan berusia sekitar 3 tahun menggunakan dress pendek dengan rambut di kucir dua, memegang boneka beruang di tangan kanannya.

"Mungkin foto itu di ambil saat wisuda TK anaknya laki-laki," batin Devano yang turut senang dengan kebahagiaan yang terpancar di foto tersebut.

Sedangkan foto kedua memperlihatkan Stephanus dengan wajahnya saat ini yang menggunakan stelan jas dan istrinya menggunakan kebaya. Tampak juga seorang gadis yang di tempatkan di tengah kedua orang tuanya, dan sedang memegang kue ulang tahun bertuliskan anniversary.

Sepertinya foto kedua di ambil saat momen penting perayaan peringatan ulang tahun pernikahan Stephanus dengan istrinya.

Pak Stephanus pun memulai percakapan untuk mengisi kekosongan. "Pak Devan, apa kabar?"

"Kabar baik, Pak."

"Syukurlah, gimana betah kerja di sini?" tanya Stephanus.

"Saya betah, Pak. Saya sangat bersyukur dapat di terima kerja di perusahaan ini. Saya juga banyak di bantu rekan kerja saya. Saya hanya mau bilang, terima kasih atas kesempatannya saya bisa bergabung di perusahaan Arkana Group," ungkap Devano dengan perasaan rileks.

"Syukurlah kalau pak Devan betah di sini. Harapan saya siapa pun yang bekerja di perusahaan ini, bisa bekerja dengan nyaman tanpa ada tekanan agar produktivitasnya bagus," jelas Stephanus dengan senyuman.

"Iya, Pak. Saya merasa nyaman bekerja di perusahaan ini."

"Ngomong-ngomong, asal kamu dari mana? Bisa ceritain sedikit tentang keluargamu, pengalaman, atau latar belakang pendidikanmu," ucap Stephanus.

"Ah ... benar kata bang Emir, pertanyaannya tak jauh dari seputar keluarga dan latar pendidikan," batin Devano.

"Saya dari Surabaya, Pak. Ayah saya dari Yogyakarta dan ibu saya dari Surabaya. Orang tua saya dulu sama-sama kuliah di Yogyakarta, mungkin itu merupakan pertemuan orang tua saya."

"Tapi ... ayah saya meninggal karena serangan jantung saat saya masih kelas 6 SD. Dulu Almarhum bekerja sebagai PNS di salah satu sekolah dan Ibu saya seorang ibu rumah tangga. Saya juga punya dua orang adik, yang pertama perempuan bernama Diva sekarang kuliah di universitas sekolah tinggi ilmu ekonomi di Surabaya dan yang kedua laki-laki bernama Kevin baru kelas 12 SMK jurusan Teknik Komputer," jelas Devano.

"Setelah ayah saya meninggal, kami pindah dari Yogyakarta ke Surabaya," lanjutnya.

Stephanus hanya manggut-manggut mendengar Devano menceritakan tentang keluarganya. "Saya salut dengan ibumu, bisa membesarkan anak-anaknya, bahkan dapat menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Ayahmu juga pasti bangga melihat kamu dan adik-adikmu," ucap Stephanus.

Seketika Devano termenung, dia merenungkan kata-kata Presdirnya yang mengingatkannya dengan ibunya. Mengingat perjuangan ibunya membesarkan dia dan kedua adiknya.

Dengan uang pensiun ayahnya yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, ibunya terpaksa berjuang mencari pundi-pundi uang dengan berkebun sayur, menjahit, membuat dan menerima orderan kue, dan sebagainya.

"Benar pak Stephan, ibu saya memang wanita yang hebat. Berkat perjuangan ibu saya, saya bisa seperti ini," batin Devano yang seketika rindu dengan ibunya.

"Saya sudah melihat ijazah dan nilai-nilai kamu, kamu hebat dan pintar. IPK mu cumlaude, dan banyak pengalaman yang di lalui. Saya yakin kamu punya skill dan potensi bagus dalam mengembangkan karirmu," ucap Stephanus.

"Tapi dari semuanya itu saja tidak cukup untuk membuat orang sukses dan berhasil dalam hidupnya. Banyak faktor lain juga yang perlu kamu pelajari," tambahnya.

"Iya, Pak. Mohon arahan dan bimbingannya," ucap Devano.

"Melihat ijazahmu, saya jadi teringat masa lalu saat saya masih kuliah. Saya waktu kuliah gak pinter-pinter amat, bahkan saya sering sekali terlambat dalam mengerjakan tugas dari dosen," ucap Stephanus sambil tertawa kecil mengingat dirinya dulu.

"Tapi takdir membawa saya sampai bisa seperti sekarang. Ternyata benar kepintaran bukanlah penentu kesuksesan, melainkan niat kita yang sungguh-sungguh dan beberapa faktor lainnya," kata Stephanus.

"Dulu saat saya kuliah di Yogyakarta, saya mempunyai seorang sahabat. Dia sangat banyak membantu dan menolong saya. Bahkan beberapa pertolongannya mengubah hidup saya menjadi lebih baik seperti saat ini. Tapi, sayang sampai saat ini saya belum pernah bertemu dengan dia. Entah di mana keberadaannya sekarang," curhat Stephanus menghela nafas dan tampak kesedihan terpencar di wajahnya.

"Itulah sahabat Pak, saling membantu dan menolong. Saya berdoa supaya Bapak dapat segera bertemu dengan sahabatnya," ucap Devano yang mengerti perasaan presdirnya.

"Amin. Dulu pak Devan, saya hampir saja tidak melanjutkan kuliah. Orang tua di kampung tidak bisa mengirim uang untuk biaya kuliah karena ada beberapa hutang yang harus orang tua saya bayar."

"Saat itu saya tidak tahu harus berbuat apa dan hampir putus asa. Tapi beruntunglah saya mempunyai sahabat, dia menawarkan saya untuk tinggal di kamarnya gratis. Dia juga menawarkan pekerjaan sampingan jasa ketik. Dia mengajariku cara mengetik laporan tugas dari mahasiswa, dan dari jasa ketik itulah cukup untuk biaya makanan sehari-hari dan biaya kuliah."

"Sejak saat itulah saya mengerti arti persahabatan, bahwa dia menerima kita di saat kita susah bahkan membantu kesusahan kita," kata Stephanus.

"Tapi setelah kami lulus kuliah, saya dan sahabat saya tidak pernah bertemu lagi," ucap Stephanus.

"Sebetulnya waktu saya bertemu denganmu di acara expo kemarin, saya agak kaget karena saya merasa bertemu dengan sahabat saya sendiri."

Seketika Devano menunjukkan wajah kebingungan. "Jadi wajah saya mirip dengan sahabat Bapak?" tanya Devano.

"Ya ... wajahnya mirip-mirip kamu Devan, hidup mancung, alis tebal, badannya tinggi tegap. Melihatmu saya langsung ingat gak mungkin kamu itu dia. Dia kan sama usianya dengan saya, sama-sama tua. Ha ... ha ... ha," ucap Stephanus tertawa kecil sambil membayangkan wajah sahabatnya saat ini seperti apa.

"Bapak ada-ada aja. Masa wajah saya mirip dengan sahabat Bapak," balas Devano tertawa kecil.

"Barangkali ada info biodatanya, Pak. Siapa tahu saya bisa cari keberadaan sahabat Bapak. Dari cerita Bapak, kebetulan ayah ibu saya juga alumni dari universitas yang sama dengan Bapak," ungkap Devano.

"Apa! orang tuamu alumni dari universitas itu juga?"

Terpopuler

Comments

Maya●●●

Maya●●●

jangan2 sahabatnya orang tua devano

2023-11-30

2

Aerik_chan

Aerik_chan

semangatttt

2023-09-19

2

Ucy (ig. ucynovel)

Ucy (ig. ucynovel)

bisa jadi bpknya devan memang sahabatnya

2023-09-14

1

lihat semua
Episodes
1 Menuju Kantor
2 Ruangan Kerja Baru
3 Senior bagaikan Sahabat
4 Menikah?
5 Keinginan Ibu
6 Wanita yang Mirip
7 Berkhayal
8 Jalan Bareng
9 Presdir
10 Calon Pendamping Hidup?
11 Obrolan Devano dan Naura
12 Ruangan Presdir
13 Curhatan Presdir
14 Tidak Terduga
15 Putri Presdir
16 Obrolan Devano dan Luna
17 Ajakan Renatta
18 Obrolan Devano dan Renatta
19 Jawaban Devano
20 Berita Bahagia
21 Pulang Kampung
22 Kehangatan Keluarga
23 Mimpi
24 Gelisah
25 Ada dengan Ibu?
26 Rumah Sakit
27 Saling Menguatkan
28 Merasa Tenang
29 Membaik
30 Kembali Memburuk
31 Ikhlas
32 Rindu Ibu
33 Jabatan Baru
34 Makan siang bersama Keluarga Presdir
35 Permintaan pertama Stephanus
36 Permintaan kedua Stephanus
37 Pilihan yang Sulit
38 Acara Syukuran
39 Jalan-jalan
40 Kembali Bertemu
41 Kecemasan Diva
42 Pilihan Devano
43 Jawaban Devano
44 Reaksi Keisha
45 Memberi Pemahaman
46 Keisha Kabur?
47 Keberadaan Keisha
48 Kekhawatiran Stephanus
49 Mencari Keisha
50 Membatalkan Perjodohan
51 Melihat Naura
52 Bersedia Menikah
53 Ibunya Keisha Sadar
54 Obrolan Keisha dengan Ibunya
55 Rencana Pernikahan
56 Acara Pernikahan
57 Cincin Pernikahan
58 Akrab
59 Pelukan
60 Siapa yang Telpon?
61 Saling Diam
62 Rasa Benci
63 Tersadar
64 Belajar Melayani Suami
65 Pisah Rumah
66 Pisah Kamar
67 Memberi Pemahaman
68 Kehidupan Terbalik
69 Kedatangan Seseorang
70 Merahasiakan
71 Ada Apa dengan Keisha?
72 Bertukar Pesan
73 Pemandangan yang Baru
74 Tugas Dadakan
75 Bantuan Devano
76 Kemana Keisha?
77 Mau Sampai Kapan?
78 OTW ke Surabaya
79 Dia adalah Istriku
80 Berjanji
81 Jatuh dalam Pelukan
82 Tantangan
83 Lagu untuk Seseorang
84 Perihal Naura
85 Minta di Temanin
86 Merasa Nyaman dalam Pelukan
87 Surat Cinta
88 Berkunjung ke Sebuah Tempat
89 Terharu
90 Suami Idaman
91 Kejutan
92 Pulang terlambat
93 Minta Maaf
94 Salah Sangka
95 Kecemburuan Naura
96 Kecemburuan Keisha
97 Putus
98 Kedekatan Naura dan Luna
99 Rindu
100 Video Call
101 Kisah yang Terulang
102 Perubahan Sikap Devano
103 Acara Gathering
104 Belum Saatnya
105 Lomba Kreasi Seni
106 Tunangan?
107 Cinta Segitiga
108 Di Pijitin?
109 Devano Sakit?
110 Perubahan Sikap Keisha
111 Perasaan Naura
112 Modus
113 Pertemuan yang tak diharapkan
114 Takdir Jodoh
115 Patah Hati
116 Ingin Bertemu
117 Bertemu di kafe
118 ID Card siapa?
119 Cemburu
120 Sahabat terbaik
121 Keisha Berulah
122 Marah
123 Butik
124 Kakaknya Tiara
125 Nasihat
126 Video call
127 Konveksi
128 Berbagi Pengalaman berumah tangga
129 Malu
130 Dia Suami Aku
131 Pulang
132 Nginap di Hotel
133 Siapkah Keisha?
134 Berusaha Bersabar
135 Masalah datang
136 Kedatangan Nuelman
137 Kekecewaan Devano
138 Pulang ke Rumah
139 Maafkan aku
140 Ada Apa dengan Keisha?
141 Rumah Sakit
142 Akur
143 Istri yang Sesungguhnya
144 Malam yang Berharga
145 Kesakitan
146 Ketagihan
147 Rindu
148 Devano ketemu Nuelman?
149 Bertemu dengan Nuelman
150 Rencana apa lagi?
151 Kembali ke Rumah
152 Lega
153 Mandi Bareng
154 Pertanyaan Keisha
155 Siapa yang Datang?
156 Rencana Resepsi Pernikahan
157 Cucu?
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Menuju Kantor
2
Ruangan Kerja Baru
3
Senior bagaikan Sahabat
4
Menikah?
5
Keinginan Ibu
6
Wanita yang Mirip
7
Berkhayal
8
Jalan Bareng
9
Presdir
10
Calon Pendamping Hidup?
11
Obrolan Devano dan Naura
12
Ruangan Presdir
13
Curhatan Presdir
14
Tidak Terduga
15
Putri Presdir
16
Obrolan Devano dan Luna
17
Ajakan Renatta
18
Obrolan Devano dan Renatta
19
Jawaban Devano
20
Berita Bahagia
21
Pulang Kampung
22
Kehangatan Keluarga
23
Mimpi
24
Gelisah
25
Ada dengan Ibu?
26
Rumah Sakit
27
Saling Menguatkan
28
Merasa Tenang
29
Membaik
30
Kembali Memburuk
31
Ikhlas
32
Rindu Ibu
33
Jabatan Baru
34
Makan siang bersama Keluarga Presdir
35
Permintaan pertama Stephanus
36
Permintaan kedua Stephanus
37
Pilihan yang Sulit
38
Acara Syukuran
39
Jalan-jalan
40
Kembali Bertemu
41
Kecemasan Diva
42
Pilihan Devano
43
Jawaban Devano
44
Reaksi Keisha
45
Memberi Pemahaman
46
Keisha Kabur?
47
Keberadaan Keisha
48
Kekhawatiran Stephanus
49
Mencari Keisha
50
Membatalkan Perjodohan
51
Melihat Naura
52
Bersedia Menikah
53
Ibunya Keisha Sadar
54
Obrolan Keisha dengan Ibunya
55
Rencana Pernikahan
56
Acara Pernikahan
57
Cincin Pernikahan
58
Akrab
59
Pelukan
60
Siapa yang Telpon?
61
Saling Diam
62
Rasa Benci
63
Tersadar
64
Belajar Melayani Suami
65
Pisah Rumah
66
Pisah Kamar
67
Memberi Pemahaman
68
Kehidupan Terbalik
69
Kedatangan Seseorang
70
Merahasiakan
71
Ada Apa dengan Keisha?
72
Bertukar Pesan
73
Pemandangan yang Baru
74
Tugas Dadakan
75
Bantuan Devano
76
Kemana Keisha?
77
Mau Sampai Kapan?
78
OTW ke Surabaya
79
Dia adalah Istriku
80
Berjanji
81
Jatuh dalam Pelukan
82
Tantangan
83
Lagu untuk Seseorang
84
Perihal Naura
85
Minta di Temanin
86
Merasa Nyaman dalam Pelukan
87
Surat Cinta
88
Berkunjung ke Sebuah Tempat
89
Terharu
90
Suami Idaman
91
Kejutan
92
Pulang terlambat
93
Minta Maaf
94
Salah Sangka
95
Kecemburuan Naura
96
Kecemburuan Keisha
97
Putus
98
Kedekatan Naura dan Luna
99
Rindu
100
Video Call
101
Kisah yang Terulang
102
Perubahan Sikap Devano
103
Acara Gathering
104
Belum Saatnya
105
Lomba Kreasi Seni
106
Tunangan?
107
Cinta Segitiga
108
Di Pijitin?
109
Devano Sakit?
110
Perubahan Sikap Keisha
111
Perasaan Naura
112
Modus
113
Pertemuan yang tak diharapkan
114
Takdir Jodoh
115
Patah Hati
116
Ingin Bertemu
117
Bertemu di kafe
118
ID Card siapa?
119
Cemburu
120
Sahabat terbaik
121
Keisha Berulah
122
Marah
123
Butik
124
Kakaknya Tiara
125
Nasihat
126
Video call
127
Konveksi
128
Berbagi Pengalaman berumah tangga
129
Malu
130
Dia Suami Aku
131
Pulang
132
Nginap di Hotel
133
Siapkah Keisha?
134
Berusaha Bersabar
135
Masalah datang
136
Kedatangan Nuelman
137
Kekecewaan Devano
138
Pulang ke Rumah
139
Maafkan aku
140
Ada Apa dengan Keisha?
141
Rumah Sakit
142
Akur
143
Istri yang Sesungguhnya
144
Malam yang Berharga
145
Kesakitan
146
Ketagihan
147
Rindu
148
Devano ketemu Nuelman?
149
Bertemu dengan Nuelman
150
Rencana apa lagi?
151
Kembali ke Rumah
152
Lega
153
Mandi Bareng
154
Pertanyaan Keisha
155
Siapa yang Datang?
156
Rencana Resepsi Pernikahan
157
Cucu?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!