Seketika Devano jadi ingat dengan temannya. Mereka berteman sejak kecil dan saling berbagi cerita dan pengalaman. Namanya Naura, dia sudah seperti saudaranya, bahkan keluarganya sudah seperti keluarga sendiri.
Tanpa di sadari, Devano tertangkap basah memandangi wajah Luna. Padahal Devano sangat anti memperhatikan lawan jenis, apalagi sampai memandangnya dengan waktu yang cukup lama.
Bukan tanpa alasan, Devano hanya memastikan kemiripan Luna dengan temannya Naura. Merasa dirinya di perhatikan terus menerus, Luna menjadi salah tingkah.
"Aduh, kenapa pak Devan memandangi saya terus. Apa ada sesuatu yang aneh menempel di wajahku, atau jangan-jangan dia ... ah saya jadi geerrr ... " batin Luna yang salting.
Lalu Luna berusaha bersikap profesional, walaupun jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. "Pak Devan barangkali ada yang mau di tanya, dengan senang hati saya akan menjawabnya," kata Luna mencoba mengalihkan perhatian Devano.
Seketika lamunan Devano menjadi buyar ketika Luna mengajaknya berbicara. "Eh, gak ada Bu. Saya rasa sudah cukup jelas," kata Devano yang sedikit kaget. Padahal penjelasan bagian akhir, Devano sama sekali tidak mendengarkannya karena saking fokusnya memperhatikan wajah Luna.
"Dia yang kaget, kok aku yang salting sih. Ah ... ini benar-benar tidak aman buat jantungku," batin Luna.
"Baik pak Devan, kalau tidak ada pertanyaan, apa pak Devan sudah membawa KTP?" tanya Luna.
"Ya, sudah." Lalu Devano mengeluarkan dompet di saku celananya. Devano mengeluarkan KTPnya dan menaruhnya di meja Luna. "Ini bu Luna!"
"Bentar yah pak Devan, saya fotokopi dulu KTPnya," ucap Luna mengambil kartu KTP Devano dan mengcopynya di mesin scanner di samping meja kerjanya.
Bu Luna bertugas mengumpulkan data-data para pegawai yang bekerja di perusahaan ini. Setiap karyawan memiliki file data dalam satu map mulai dari biodata, fotokopi ijazah dan KTP, dan sebagainya.
Sembari Luna mengcopy KTPnya, Devano memperhatikan meja Luna yang bersih dan tertata rapi. Matanya pun tertuju pada sebuah brosur berisi desain rumah. Dia jadi teringat rencananya untuk merenovasi rumahnya yang ada Surabaya.
"Bu Luna, bolehkah saya lihat brosur itu?" tunjuk Devano.
"Silahkan pak Devan, ini brosur desain rumah." Luna memberikan brosur tersebut kepada Devano.
"Terima kasih banyak bu Luna."
"Sama-sama pak Devan. Kalau brosurnya mau di bawa, silahkan saja Pak."
"Kalau mau lihat sketsa desain rumah yang lebih jelas juga, boleh kok nanti di tanya-tanya," tambah Luna sambil tersenyum.
"Kenapa bu Luna jadi tambah mirip dengan Naura kalau lagi senyum, ada lesung pipi sedikit. Apa ini di namakan manusia kembar yang serupa tapi tak sama," batin Devano.
Melihat Devano kembali menatapnya, Luna mencoba mengusap wajahnya, mungkin ada sesuatu yang menempel di wajahnya.
"Astaga, kenapa pak Devano menatapku terus, bikin salting aja. Kenapa sih ... memang ada apa dengan wajahku, ku rasa tidak ada sesuatu yang menempel di wajahku," batin Luna setelah selesai mengusap kedua tangannya ke mukanya.
"Wajahku kan cuma di poles bedak dan pakai lipstik sedikit. Apa dia tertarik denganku? semoga aja, hihihi .... Eh apaan sih Luna, pak Devan pasti sudah punya pacar. Tapi tidak salahnya kan aku berharap," gumam Luna.
Devano langsung mengarahkan pandangannya ke brosurnya yang ada di tangannya. "Saya bawa brosurnya yah bu Luna, siapa tahu nanti perlu."
"Silahkan pak Devan."
Setelah Luna selesai mengcopy KTP milik Devano, dia pun mengembalikannya. "Nih KTPnya pak Devan, terima kasih. Sekarang kita ke tempat finger print dulu di lantai bawah. Jadi, mulai besok pak Devan harus finger print saat datang ke kantor dan saat pulang dari kantor," jelas Luna.
"Mari Pak!" ajak Luna dengan ramah.
Mereka pun berjalan menuju lift. Luna menekan nomor di lift untuk turun ke lantai satu. Sepanjang berada dalam lift, mereka hanya saling diam dan larut dalam pikiran masing-masing.
"Naura harus tahu jika dia punya kembaran di tempat kerjaku berada. Naura pasti gak percaya, tapi kalau di buktikan dengan foto pasti dia percaya," pikir Devano.
Lalu Devano mencoba menoleh ke arah Luna yang berada tak jauh di sampingnya. "Mau gak yah bu Luna saya foto? atau nanti saya diam-diam foto bu Luna deh," pikir Devano seraya senyum-senyum sendiri melihat Luna.
"Ish ... kenapa sih? Kenapa pak Devan senyum-senyum sendiri, apa dia menyukaiku? Kalau suka bilang saja, jangan di pendam gitu. Kalau terus di pendam kan, bisa-bisa gue terserang diabetes karena senyuman manisnya," batin Luna.
Lalu Luna melihat ke kaca dinding lift di depannya, bermaksud melihat wajah dan penampilannya. "Gak ada yang aneh kok dengan penampilanku, tapi ada gerangan apa pak Devan senyum-senyum sendiri yah?" pikir Luna.
Beberapa detik kemudian, pintu lift pun terbuka lebar. Luna keluar lebih dulu, lalu Devano mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di tempat finger print, Luna menjelaskan bagaimana cara melakukan cek absensi dengan finger print. Setelah semua selesai, Devano dan Luna berjalan menuju lobi.
"Baik pak Devan semuanya sudah selesai, maaf telah menganggu waktunya. Pak Devan bisa melanjutkan pekerjaannya, maaf saya mau keluar dulu sebentar," ungkap Luna.
"Baik bu Luna, saya akan kembali ke ruangan saya. Terima kasih."
"Sama-sama pak Devan," ucap Luna dan langsung pergi meninggalkan Devano.
****
Di sebuah kampus, terlihat seorang gadis berambut panjang sedang menikmati makan siangnya di sebuah kantin kampus. Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponselnya pertanda ada pesan masuk.
"Mas Devan!" ucap gadis bernama Naura kala melihat nama pengirim pesan yang tertera layar ponselnya.
Naura segera membuka pesan WAnya dan langsung membaca dan membalasnya sambil senyum-senyum.
"Siang Naura. Apa kabar Nau ...?" pesan dari Devano yang di kirimkan ke kontak Naura.
Naura langsung membalas chat Devano. "Siang Mas Devan. Naura sehat Mas."
"Saya ganggu gak?"
"Nggak kok Mas, lagi istirahat di kantin. Baru habis bimbingan," balas Naura.
"Gimana bimbingannya lancar kan?" tanya Devano lewat pesan chat.
"Lancar kok, Mas. Tinggal beberapa teori lagi yang harus di bahas. Rencananya habis dari kantin, Naura mau langsung ke perpustakaan nyari referensinya," balas Naura sambil senyum-senyum sendiri.
Entah kenapa hati Naura sepertinya berbunga-bunga saat membaca dan membalas chat dari Devano, mungkin karena Naura memang sedang menunggu kabar dari Devano karena empat hari kemarin sama sekali tidak tahu kabarnya.
Sewaktu Devano masih di Surabaya dan belum pindah ke Jakarta, mereka biasa hampir tiap hari ketemu. Ya minimal saling bertegur sapa karena rumah Naura persis di depan rumah Devano.
Tapi sejak Naura mendapat kabar kalau Devano ingin merantau ke ibu kota untuk urusan pekerjaan, komunikasi di antara mereka berdua mulai renggang. Devano terlihat sibuk mempersiapkan diri untuk pekerjaan yang akan dia lamar.
Tiba-tiba ponsel Naura kembali berbunyi pertanda pesan masuk dari Devano. "Ting ...."
"Nau ... kamu pasti tidak percaya kalau saya baru saja ketemu kembaran yang mirip denganmu!"
"Kembaran?" balas Naura dengan emot bingung.
"Iya, Naura. Di tempat saya kerja, ada yang mirip dengan kamu. Persis banget denganmu, hanya rambut saja yang membedakan. Rambutmu lebih panjang darinya. Apa kamu punya saudara di ibu kota?" tanya Devano.
"Masa sih, Mas. Naura gak punya saudara di ibu kota, lagian yang mirip kan banyak Mas," balas Naura yang tidak bersemangat mendengar bahwa ada perempuan yang mirip dengannya.
"Iya sih, Nau ... tapi ini mirip banget sama kamu. Jika saja kalian ketemuan pasti serasa melihat kamu sendiri deh," pesan Devano dengan emot menggelitik.
"Huft ... Mas Devan ada-ada aja. Semirip apa sih, yang kembar aja ada yang gak mirip. Apalagi ini saudara bukan, keluarga juga bukan." Pikir Naura sambil membayangkan wanita yang di kata mirip dengannya.
...~ Bersambung ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Maya●●●
aduh🤣🤣
2023-11-16
1
Maya●●●
tapi kenapa bu luna tidak mengingat sama devan ya
2023-11-16
1
Maya●●●
hahaha tenang luna tenang
2023-11-16
1