Berkhayal

Naura tampak tidak bersemangat membahas perempuan yang di gadang-gadang mirip dengannya.

"Ih ... bikin mood hancur aja. Jadi gak berselera makan siangnya. Kenapa mas Devan malah membahas perempuan yang mirip denganku. Bukannya ceritain bagaimana perasaannya di tempat kerja barunya. Apa perempuan itu lebih cantik? Lebih anggun?" pikir Naura sambil menopang dagunya.

Naura pun meletakkan ponsel miliknya di atas meja dan berusaha menghabiskan makan siangnya, walau selera makan sudah tidak ada.

Selesai menghabiskan makan siangnya, lalu dia meneguk air dalam gelas dan berusaha untuk tidak terus memikirkan apa yang tadi di ceritakan oleh Devano.

"Hmmm ... gak ada lagi pesan dari mas Devan. Kirain mas Devan mau cerita gimana rasanya tinggal jauh dari keluarga, termasuk dari saya ...." batin Naura sambil tersenyum.

"Eh apaan sih Nau .... Apa hubungannya mas Devan jauh dari kamu, emang kamu siapanya Devan? Dia hanya menganggapmu teman dan tak lebih dari itu. Dia pasti biasa-biasa saja denganmu, lagian di tempat kerjanya ada seseorang yang mirip kamu. Jadi dia gak ngerasa jauh dari kamu!" lanjut Naura yang terus berpikir.

"Em, apa aku tanya aja sama mas Devan gimana kerjanya dan siapa aja temannya di sana?" tanya Naura berpikir, lalu dia mengambil ponsel miliknya dan langsung menuliskan pesan chat untuk Devano.

"Gimana kerjanya mas, lancar? Kenalin dong siapa aja teman mas di sana."

Hampir 10 menit Naura menunggu balasan chat dari Devano dan sampai saat ini tak kunjung ada balasan dari Devano.

"Kok gak di balas sih, ah ... mungkin mas Devan sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ya udah deh, mending ke perpustakaan aja sekarang," ucap Naura yang langsung beranjak meninggalkan kantin dan berjalan menuju perpustakaan.

Sesampainya di perpustakaan, terlihat ada beberapa orang yang juga sedang membaca dan mencari buku. Lalu Naura mencari buku yang di butuhkannya. Setelah menemukan buku yang di maksud, Naura lalu membawanya ke meja tempat baca.

Naura memilih duduk di tempat yang sepi di ujung ruangan. Dia pun membuka halaman demi halaman pada buku tersebut, bermaksud mencari materi untuk bahan skripsinya.

Saat dia sudah membaca beberapa halaman pada buku berjudul "Teori Akutansi" Naura malah teringat saat dia mendapatkan buku itu.

Flashback on.

Pada suatu sore hari, tampak Naura berjalan hati-hati menuju rumahnya dengan beberapa barang bawaan di tangannya.

Tiba-tiba Devano memanggilnya dari seberang jalan ketika melihat Naura hampir sampai di rumahnya. "Dari mana Nau ... banyak banget bawaannya?" teriak Devano.

Seketika Naura menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Devano. "Eh mas Devan, ini nih Naura habis dari toko buku. Belanja buku-buku untuk persiapan kuliah," jawab Naura dengan semangat 45.

"Duh ... semangatnya mahasiswa baru. Boleh lihat dong buku-buku mahasiswa akutansi," kata Devano.

"Hehe, harus semangat dong! Ayo masuk mas."

Lalu Devano yang baru pulang kuliah tidak langsung masuk ke rumahnya. Devano penasaran dengan buku yang di beli Naura.

Devano termasuk tipe orang yang suka membaca buku, bahkan sejak dia masih sekolah dasar dia sudah mulai membaca mulai dari buku pelajaran di sekolah, komik, novel, dongeng, fabel, buku-buku religi, buku motivator yang terkenal, dan lain sebagainya. Devano bahkan mengoleksi buku-buku tersebut di kamarnya.

Terlihat Devano dan Naura duduk di teras rumah milik Naura. "Ini hanya buku dasar semua mas Devan, cuma ada satu lagi yang belum dapat. Naura masih nunggu cetak edisi terbaru," ungkap Naura sambil menunjukkan beberapa buku yang telah di belinya dari toko buku.

"Emangnya buku apa yang belum dapat?" tanya Devano.

"Teori Akuntansi dengan penulis Santrick."

"Oh gitu," jawab Devano menganggukan kepalanya.

Satu minggu kemudian.

Tampak Devano membawa sebuah bungkusan dan masuk ke halaman rumah Naura. Kebetulan saat itu Naura sedang mengangkat jemuran di depan rumahnya.

"Nau ... ini buat kamu," ucap Devano sambil menyodorkan bungkusan tersebut.

"Ini apa mas Devan?"

"Ini buku yang minggu kemarin kamu cari-cari. Tadi saya gak sengaja datang ke toko buku, pas lihat-lihat eh nemu buku itu. Kamu belum dapat kan bukunya?" tanya Devano.

Lalu Naura pun membuka bungkusan plastik itu. "Wah ... ini buku yang aku tunggu-tunggu!" ucap Naura penuh kebahagiaan. "Berapa harganya mas?"

"Gak usah, anggap aja itu hadiah buat sahabatku yang baru jadi mahasiswa akutansi. Saya harap kamu jadi semangat kuliahnya," kata Devano sambil mengepalkan tangannya memberi semangat.

Flashback off.

"Wah ... dulu mas Devan ngasih hadiah buku ini dan sekarang buku itu saya hadiahkan untuk Diva adiknya mas Devan," ucap Naura senyum-senyum.

Seketika raut muka Naura menjadi sedih. "Huft, sahabat ... sahabat. Mas Devan dari dulu hanya menganggapku seorang sahabat," kata Naura.

"Sekarang kan mas Devan udah dapat kerja, pasti yang di rencanakan selanjutnya adalah memiliki pasangan hidup. Apa mas Devan sudah punya calon yah?" tanya Naura sambil memain-mainkan pulpen di tangannya.

"Tapi aku belum pernah lihat mas Devan bawa calonnya ke rumah, Diva juga gak pernah cerita samaku kalau abangnya sudah punya calon. Mas Devan juga gak pernah cerita samaku, masa sama-sama sahabat gak cerita," lanjutnya yang terus bermonolog.

"Tapi bagaimana kalau besok-besok mas Devan cerita kalau dia sudah punya calon terus ngenalin calonnya samaku. Ahhh ... tidak .... Kenapa hati ini nyesek?" tanya Naura sambil memegang dadanya.

Tiba-tiba ada tangan yang memegang bahunya. "Naura kamu gak apa-apa kan?" tanya salah satu teman kampus.

"Eh, gak apa-apa kok cuma ... " kata Naura kaget dan berhenti mencoba berpikir apa yang harus di katakannya untuk menutupi malunya.

"Ini lagi sedang baca novel horor, seram banget. Kamu mau baca?" tanya Naura beralasan.

"Oh ... tidak perlu Naura, lanjut aja bacanya. Oh yah nanti di kelas saya pinjam bukumu yah!"

"Baik teman," balas Naura dengan senyuman.

Sepeninggalnya temannya, Naura bernafas lega. "Huft ... Naura kenapa sih kamu? Ini kan perpus gak boleh berisik!"

"Apa jangan-jangan kamu suka yah sama Devano? Kalau suka emangnya kenapa? Tapi mas Devan belum tentu suka samaku," batin Naura.

"Kenapa gak kamu aja yang duluan bilang kalau kamu suka? Eh, tidak ... tidak ... gimana kalau mas Devannya gak suka? Mau taruh di mana muka gue."

"Tapi gak ada salahnya kan berharap mas Devan suka samaku. Terus gimana kalau mas Devan tiba-tiba ngajak nikah, emang kamu siap Naura? Ya harus siaplah. Gak masalah kan nikah sambil kuliah, banyak kok mahasiswi yang sudah nikah. Eh, Naura ... kalau berkhayal itu jangan tinggi-tinggi, nanti jatuhnya sakit baru tahu rasa!" Itulah perang batin Naura.

"Ting ...." Lamunan Naura pun buyar karena suara notif chat masuk di ponselnya.

"Mas Devan!" ucapnya melihat nama pengirim pesan.

"Nau ... maaf yah tadi terputus obrolan chatnya, tadi ada pertemuan sebentar di kantor," pesan dari Devano.

"Iya, gak apa-apa mas," balas Naura.

Lalu Naura melihat jam dinding perpustakaan. "Astaga ... sudah sore ternyata. Jadi, sejak tadi saya gak ngerjain apa-apa!" ucapnya menepuk jidat.

Terlihat sekitar ruangan sudah mulai sepi dan beberapa mahasiswa sudah pergi meninggalkan perpustakaan.

Lalu Naura membereskan buku di meja dan menyimpan sebagian di rak buku. Hanya dua buku yang dia pinjam dan bawa ke rumah.

"Mas Devan selalu di pikiranku. Dasar aku!"

...~ Bersambung ~...

Terpopuler

Comments

Maya●●●

Maya●●●

sebelum janur kuning belum melengkung masih bisa di usahakan naura

2023-11-20

3

Maya●●●

Maya●●●

tenang dev masih single kok

2023-11-20

1

Aerik_chan

Aerik_chan

Harus semangat dong...kan maba...kalau mahasiswa lama mah...tahu sendiri kan

2023-09-13

1

lihat semua
Episodes
1 Menuju Kantor
2 Ruangan Kerja Baru
3 Senior bagaikan Sahabat
4 Menikah?
5 Keinginan Ibu
6 Wanita yang Mirip
7 Berkhayal
8 Jalan Bareng
9 Presdir
10 Calon Pendamping Hidup?
11 Obrolan Devano dan Naura
12 Ruangan Presdir
13 Curhatan Presdir
14 Tidak Terduga
15 Putri Presdir
16 Obrolan Devano dan Luna
17 Ajakan Renatta
18 Obrolan Devano dan Renatta
19 Jawaban Devano
20 Berita Bahagia
21 Pulang Kampung
22 Kehangatan Keluarga
23 Mimpi
24 Gelisah
25 Ada dengan Ibu?
26 Rumah Sakit
27 Saling Menguatkan
28 Merasa Tenang
29 Membaik
30 Kembali Memburuk
31 Ikhlas
32 Rindu Ibu
33 Jabatan Baru
34 Makan siang bersama Keluarga Presdir
35 Permintaan pertama Stephanus
36 Permintaan kedua Stephanus
37 Pilihan yang Sulit
38 Acara Syukuran
39 Jalan-jalan
40 Kembali Bertemu
41 Kecemasan Diva
42 Pilihan Devano
43 Jawaban Devano
44 Reaksi Keisha
45 Memberi Pemahaman
46 Keisha Kabur?
47 Keberadaan Keisha
48 Kekhawatiran Stephanus
49 Mencari Keisha
50 Membatalkan Perjodohan
51 Melihat Naura
52 Bersedia Menikah
53 Ibunya Keisha Sadar
54 Obrolan Keisha dengan Ibunya
55 Rencana Pernikahan
56 Acara Pernikahan
57 Cincin Pernikahan
58 Akrab
59 Pelukan
60 Siapa yang Telpon?
61 Saling Diam
62 Rasa Benci
63 Tersadar
64 Belajar Melayani Suami
65 Pisah Rumah
66 Pisah Kamar
67 Memberi Pemahaman
68 Kehidupan Terbalik
69 Kedatangan Seseorang
70 Merahasiakan
71 Ada Apa dengan Keisha?
72 Bertukar Pesan
73 Pemandangan yang Baru
74 Tugas Dadakan
75 Bantuan Devano
76 Kemana Keisha?
77 Mau Sampai Kapan?
78 OTW ke Surabaya
79 Dia adalah Istriku
80 Berjanji
81 Jatuh dalam Pelukan
82 Tantangan
83 Lagu untuk Seseorang
84 Perihal Naura
85 Minta di Temanin
86 Merasa Nyaman dalam Pelukan
87 Surat Cinta
88 Berkunjung ke Sebuah Tempat
89 Terharu
90 Suami Idaman
91 Kejutan
92 Pulang terlambat
93 Minta Maaf
94 Salah Sangka
95 Kecemburuan Naura
96 Kecemburuan Keisha
97 Putus
98 Kedekatan Naura dan Luna
99 Rindu
100 Video Call
101 Kisah yang Terulang
102 Perubahan Sikap Devano
103 Acara Gathering
104 Belum Saatnya
105 Lomba Kreasi Seni
106 Tunangan?
107 Cinta Segitiga
108 Di Pijitin?
109 Devano Sakit?
110 Perubahan Sikap Keisha
111 Perasaan Naura
112 Modus
113 Pertemuan yang tak diharapkan
114 Takdir Jodoh
115 Patah Hati
116 Ingin Bertemu
117 Bertemu di kafe
118 ID Card siapa?
119 Cemburu
120 Sahabat terbaik
121 Keisha Berulah
122 Marah
123 Butik
124 Kakaknya Tiara
125 Nasihat
126 Video call
127 Konveksi
128 Berbagi Pengalaman berumah tangga
129 Malu
130 Dia Suami Aku
131 Pulang
132 Nginap di Hotel
133 Siapkah Keisha?
134 Berusaha Bersabar
135 Masalah datang
136 Kedatangan Nuelman
137 Kekecewaan Devano
138 Pulang ke Rumah
139 Maafkan aku
140 Ada Apa dengan Keisha?
141 Rumah Sakit
142 Akur
143 Istri yang Sesungguhnya
144 Malam yang Berharga
145 Kesakitan
146 Ketagihan
147 Rindu
148 Devano ketemu Nuelman?
149 Bertemu dengan Nuelman
150 Rencana apa lagi?
151 Kembali ke Rumah
152 Lega
153 Mandi Bareng
154 Pertanyaan Keisha
155 Siapa yang Datang?
156 Rencana Resepsi Pernikahan
157 Cucu?
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Menuju Kantor
2
Ruangan Kerja Baru
3
Senior bagaikan Sahabat
4
Menikah?
5
Keinginan Ibu
6
Wanita yang Mirip
7
Berkhayal
8
Jalan Bareng
9
Presdir
10
Calon Pendamping Hidup?
11
Obrolan Devano dan Naura
12
Ruangan Presdir
13
Curhatan Presdir
14
Tidak Terduga
15
Putri Presdir
16
Obrolan Devano dan Luna
17
Ajakan Renatta
18
Obrolan Devano dan Renatta
19
Jawaban Devano
20
Berita Bahagia
21
Pulang Kampung
22
Kehangatan Keluarga
23
Mimpi
24
Gelisah
25
Ada dengan Ibu?
26
Rumah Sakit
27
Saling Menguatkan
28
Merasa Tenang
29
Membaik
30
Kembali Memburuk
31
Ikhlas
32
Rindu Ibu
33
Jabatan Baru
34
Makan siang bersama Keluarga Presdir
35
Permintaan pertama Stephanus
36
Permintaan kedua Stephanus
37
Pilihan yang Sulit
38
Acara Syukuran
39
Jalan-jalan
40
Kembali Bertemu
41
Kecemasan Diva
42
Pilihan Devano
43
Jawaban Devano
44
Reaksi Keisha
45
Memberi Pemahaman
46
Keisha Kabur?
47
Keberadaan Keisha
48
Kekhawatiran Stephanus
49
Mencari Keisha
50
Membatalkan Perjodohan
51
Melihat Naura
52
Bersedia Menikah
53
Ibunya Keisha Sadar
54
Obrolan Keisha dengan Ibunya
55
Rencana Pernikahan
56
Acara Pernikahan
57
Cincin Pernikahan
58
Akrab
59
Pelukan
60
Siapa yang Telpon?
61
Saling Diam
62
Rasa Benci
63
Tersadar
64
Belajar Melayani Suami
65
Pisah Rumah
66
Pisah Kamar
67
Memberi Pemahaman
68
Kehidupan Terbalik
69
Kedatangan Seseorang
70
Merahasiakan
71
Ada Apa dengan Keisha?
72
Bertukar Pesan
73
Pemandangan yang Baru
74
Tugas Dadakan
75
Bantuan Devano
76
Kemana Keisha?
77
Mau Sampai Kapan?
78
OTW ke Surabaya
79
Dia adalah Istriku
80
Berjanji
81
Jatuh dalam Pelukan
82
Tantangan
83
Lagu untuk Seseorang
84
Perihal Naura
85
Minta di Temanin
86
Merasa Nyaman dalam Pelukan
87
Surat Cinta
88
Berkunjung ke Sebuah Tempat
89
Terharu
90
Suami Idaman
91
Kejutan
92
Pulang terlambat
93
Minta Maaf
94
Salah Sangka
95
Kecemburuan Naura
96
Kecemburuan Keisha
97
Putus
98
Kedekatan Naura dan Luna
99
Rindu
100
Video Call
101
Kisah yang Terulang
102
Perubahan Sikap Devano
103
Acara Gathering
104
Belum Saatnya
105
Lomba Kreasi Seni
106
Tunangan?
107
Cinta Segitiga
108
Di Pijitin?
109
Devano Sakit?
110
Perubahan Sikap Keisha
111
Perasaan Naura
112
Modus
113
Pertemuan yang tak diharapkan
114
Takdir Jodoh
115
Patah Hati
116
Ingin Bertemu
117
Bertemu di kafe
118
ID Card siapa?
119
Cemburu
120
Sahabat terbaik
121
Keisha Berulah
122
Marah
123
Butik
124
Kakaknya Tiara
125
Nasihat
126
Video call
127
Konveksi
128
Berbagi Pengalaman berumah tangga
129
Malu
130
Dia Suami Aku
131
Pulang
132
Nginap di Hotel
133
Siapkah Keisha?
134
Berusaha Bersabar
135
Masalah datang
136
Kedatangan Nuelman
137
Kekecewaan Devano
138
Pulang ke Rumah
139
Maafkan aku
140
Ada Apa dengan Keisha?
141
Rumah Sakit
142
Akur
143
Istri yang Sesungguhnya
144
Malam yang Berharga
145
Kesakitan
146
Ketagihan
147
Rindu
148
Devano ketemu Nuelman?
149
Bertemu dengan Nuelman
150
Rencana apa lagi?
151
Kembali ke Rumah
152
Lega
153
Mandi Bareng
154
Pertanyaan Keisha
155
Siapa yang Datang?
156
Rencana Resepsi Pernikahan
157
Cucu?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!