Obrolan Devano dan Luna

Setelah selesai berbicara dengan ibunya di telpon, Devano berencana untuk mengirim pesan untuk Luna. Dia menanyakan tentang brosur yang kemarin dia ambil di meja kerjanya.

Devano membuka ponselnya, lalu mengirim pesan WA ke kontak 'Bu Luna'. "Selamat malam, maaf mengganggu bu Luna," tulis Devano.

Sedangkan di tempat yang berbeda, Luna sedang rebahan di tempat tidurnya sambil membaca buku. Mendengar notifikasi di ponselnya, Luna langsung membukanya sambil senyum-senyum serasa mendapat sesuatu yang ia nanti-nantikan. Tanpa pikir panjang, dia langsung membalas pesan dari Devano.

"Selamat malam juga pak Devan. Nggak ganggu kok, ada yang bisa saya bantu pak Devan?" tulis Luna.

"Aduh ... kenapa jantung ini selalu berdebar-debar yah?" batin Luna dengan setia menunggu balasan pesan dari Devano.

Devano pun langsung menulis chat, lalu kembali mengirimkannya. "Saya mau tanya-tanya soal brosur yang kemarin bu Luna. Saya ingin merenovasi rumah yang ada di kampung. Apa saya boleh melihat brosur dengan desain rumah yang lebih detail?" Pesan Devano.

"Boleh pak Devan, saya memiliki brosurnya."

"Baiklah, besok saya ke ruang bu Luna di jam istirahat, bisa kan?" tanya Devano lewat pesan.

"Bisa pak Devan," balas bu Luna sambil senyum-senyum.

"Terima kasih bu Luna. Selamat malam."

"Sama-sama pak Devan. Selamat malam juga," balas Luna.

****

Keesokan pagi.

Seperti biasa jam delapan pagi, Devano bersiap-siap menuju kantornya. Setelah selesai di rasa sempurna, dia langsung berangkat ke kantor menggunakan motor maticnya.

Di tempat yang berbeda di kediaman Luna, dia terlihat tidak biasanya. Luna sibuk menyiapkan bekal makanan untuk nantinya di bawa ke kantor. Setelah semuanya siap, Luna segera berangkat ke kantornya. Tidak lupa brosur desain rumah sudah di siapkan di dalam tasnya.

Entah kenapa pagi ini Luna terlihat bersemangat, mungkin hari ini dia punya kesempatan untuk bertemu dengan Devano. Walaupun ngobrolnya seputar dengan informasi desain-desain rumah, itu sudah membuatnya senang bukan kepalang.

Saat ingin memasuki ruangannya, dia berpapasan dengan Dhea yang sedang bertugas di meja kerjanya. "Pagi bu Dhea, apa kabar?" tanya Luna.

"Eh ... bu Luna, tumben nanya kabar nih. Dan kelihatannya bu Luna tampak bahagia sekali, apa bu Luna memenangkan arisan?" tanya Dhea.

"Emang kelihatan yah, ya sudah aku masuk ke ruanganku dulu. By bu Dhea," pamit Luna.

"Ada apa dengan bu Luna?" tanya Dhea kebingungan.

Tepat jam 12 siang saatnya jam istirahat, tampak Luna terburu-buru menuju ruangannya setelah menemui pak Ridwan di ruangan sebelah. Luna tidak ingin membuat Devano menunggunya.

Saat keluar dari pintu ruangan pak Ridwan, Luna berpapasan dengan Devano yang akan menuju ke ruangannya. Entah kenapa jantung Luna tiba-tiba berdebar lebih kencang.

"Eh, kenapa jantung ini selalu berdebar kencang saat bertemu dengan pak Devan. Padahal pak Devan sudah lebih dua bulan di sini, tapi rasa ini masih sama seperti pertama kali bertemu dengannya. Apa ini pertanda kami berjodoh ya Tuhan?" batin Luna yang menatap wajah Devano.

"Bu Luna baru selesai dari ruangan pak Ridwan yah?" tanya Devano mengalihkan pandangan Luna.

"Iya pak Devan, ada hal yang saya urus dengan pak Ridwan di ruangannya. Apa pak Devan jadi datang ke ruangan saya, eh maksudnya nanya-nanya soal yang kemarin?" tanya Luna.

"Jadi dong bu Luna, tapi jika bu Luna mau ke kantin dulu, silahkan ... mumpung masih jam istirahat. Aku akan menunggu bu Luna di ruang tunggu."

"Oh, gak apa-apa tiap hari saya gak istirahat, asal bisa ngobrol sama pak Devan. Astaga Lun ... sadar, kendalikan dirimu. Kamu harus tetap terlihat profesional di depan pak Devan. Lagian jika pak Devan nunggu di ruang tamu, dia pasti asik berbincang dengan bu Dhea," pikir Luna.

"Gak usah pak Devan, kebetulan saya bawa bekal makan siang jadi gak perlu ke kantin. Kebetulan tadi pagi saya bikin bekal sekolah buat adik saya, jadi sekalian bawa bekal saya juga," ucap Luna.

"Padahal saya sengaja loh bawa bekal makan siang ke kantor, biar pak Devan nyicipin hasil karya saya. Siapa tahu tahun depan, aku bisa masak setiap hari buat pak Devan, jika seandainya kita berjodoh. Hihihi," batin Luna.

"Oh, baiklah kalau begitu."

Lalu mereka sampai di ruangan Luna, tampak tinggal dua rekan kerja Luna yang masih stand by di ruangan. Kemudian Luna mempersilahkan Devano duduk di kursi di depan mejanya.

"Silahkan duduk pak Devan. Kita ngobrolnya santai saja, anggap aja seperti ruangan sendiri," ucap Luna.

"Terima kasih bu Luna," sahut Devano sambil menarik kursi kosong dan langsung mendudukinya.

Terlihat Luna mengambil brosur gambar desain rumah dari dalam tasnya. "Ini brosurnya pak Devan."

"Iya bu Luna, doain semoga impian membangun rumah di kampung dapat di mudahkan," ucap Devano mengambil brosur di tangan Luna.

"Amin ... semoga di mudahkan rencana pak Devan."

Sementara Devano mengamati brosur tersebut, Luna mengeluarkan minuman kemasan botol dan menaruhnya di meja kerjanya.

Dua orang rekan kerja Luna, tampak beranjak dari tempat duduknya. "Lun ... mau ke kantin gak?" tanya salah satu rekan kerjanya bernama Lilis.

"Nggak teman, saya udah bawa bekal dari rumah. Saya makan di sini aja," sahut Luna.

"Oke, kami ke kantin dulu yah."

Setelah selesai mengamati brosur tersebut dan sedikit Devano membuat sketsanya, serta melontarkan beberapa pertanyaan pada bu Luna, akhirnya dia pun mempunyai gambaran desain bentuk rumahnya.

"Semoga lancar sampai waktunya ya pak Devan, ibu dan adik-adikmu selalu di berikan kesehatan. Oh ya pak Devan, silahkan minum," ujar Luna menyodorkan minuman botol kepada pak Devan. Tampak juga beberapa snack yang telah di sediakan oleh Luna.

"Wah kayak tamu saja di suguhin, gak usah repot-repot Bu Luna," kata Devano.

"Gak repot kok, saya biasanya nyetok minuman dan snack di ruangan saya. Hehehe."

"Terima kasih banyak bu Luna." Lalu Devano membuka tutup botol minuman dan langsung meminumnya.

"Oh yah pak Devan, mau nyobain bekal saya gak? Saya bawa banyak nih, gak sanggup habisin sendiri. Boleh yah pak Devan." Luna langsung mengeluarkan bekal makan siangnya dan membuka kotak makan siangnya.

Tampak ada 15 potong ayam crispy lengkap dengan saus cabe dan mayones. Tampak juga beberapa lauk lain seperti sayur kangkung, tempe dan tahu. Luna membawanya secara terpisah agar tidak ambruk aduk.

"Kenapa bu Luna bawa bekal sebanyak ini?" tanya Devano.

"Em ... sebenarnya saya mau bagi makanan dengan teman rekan kerja lainnya, tapi mereka udah duluan ke kantin. Cobain deh, ini asli saya yang bikin," kata Luna bersemangat menyediakan tempat untuk makan Devano, dengan harapan Devano akan tertarik dan mencicipinya.

"Baiklah saya akan nyobain deh," kata Devano menghargai usaha Luna, walaupun tadi dia sudah mengisi perutnya.

Tampak Devano mengambil garpu, kemudian dia memotong kecil ayam crispy lalu di celupkan dengan sambal dan mayones. "Hmmm ... ini enak banget, ternyata bu Luna pintar masak juga," puji Devano.

"Apa sih yang gak bisa buat mas Devan," batin Luna.

"Terima kasih pak Devan. Ibu saya di rumah yang mengajarkannya," sahut Luna tersenyum sambil menyantap makan siangnya juga.

"Ayo pak Devan tambah lagi, kita habiskan berdua saja." Luna menambah makanan untuk Devano. "Apa seperti ini gambaran seorang istri yang makan bersama dengan suaminya," batin Luna tersenyum dalam batin.

Mereka berdua akhirnya menikmati bekal makan siang Luna sambil berbincang ke sana ke mari sampai tidak terasa bekal Luna pun habis.

Satu persatu rekan satu ruangan Luna kembali dan duduk di tempat kerjanya. Saat masuk ruangan mereka melihat ke arah Luna dan merasa aneh, jarang-jarang Luna bawa bekal siang di ruangan. Apalagi di temanin oleh Devano yang terkenal dengan kegantengan dan keramahannya.

Lilis yang merupakan teman kerja Luna hanya senyum-senyum sendiri saat melihat temannya Luna masih berduaan dengan Devano.

...~ Bersambung ~...

Terpopuler

Comments

վմղíα | HV💕

վմղíα | HV💕

itu namanya kamu suka sama devano

2023-09-17

3

Ucy (ig. ucynovel)

Ucy (ig. ucynovel)

ngarep.com 😂

2023-09-16

1

Ucy (ig. ucynovel)

Ucy (ig. ucynovel)

jgn terlalu banyak berharap lun, entar lu jd sadgirl

2023-09-16

2

lihat semua
Episodes
1 Menuju Kantor
2 Ruangan Kerja Baru
3 Senior bagaikan Sahabat
4 Menikah?
5 Keinginan Ibu
6 Wanita yang Mirip
7 Berkhayal
8 Jalan Bareng
9 Presdir
10 Calon Pendamping Hidup?
11 Obrolan Devano dan Naura
12 Ruangan Presdir
13 Curhatan Presdir
14 Tidak Terduga
15 Putri Presdir
16 Obrolan Devano dan Luna
17 Ajakan Renatta
18 Obrolan Devano dan Renatta
19 Jawaban Devano
20 Berita Bahagia
21 Pulang Kampung
22 Kehangatan Keluarga
23 Mimpi
24 Gelisah
25 Ada dengan Ibu?
26 Rumah Sakit
27 Saling Menguatkan
28 Merasa Tenang
29 Membaik
30 Kembali Memburuk
31 Ikhlas
32 Rindu Ibu
33 Jabatan Baru
34 Makan siang bersama Keluarga Presdir
35 Permintaan pertama Stephanus
36 Permintaan kedua Stephanus
37 Pilihan yang Sulit
38 Acara Syukuran
39 Jalan-jalan
40 Kembali Bertemu
41 Kecemasan Diva
42 Pilihan Devano
43 Jawaban Devano
44 Reaksi Keisha
45 Memberi Pemahaman
46 Keisha Kabur?
47 Keberadaan Keisha
48 Kekhawatiran Stephanus
49 Mencari Keisha
50 Membatalkan Perjodohan
51 Melihat Naura
52 Bersedia Menikah
53 Ibunya Keisha Sadar
54 Obrolan Keisha dengan Ibunya
55 Rencana Pernikahan
56 Acara Pernikahan
57 Cincin Pernikahan
58 Akrab
59 Pelukan
60 Siapa yang Telpon?
61 Saling Diam
62 Rasa Benci
63 Tersadar
64 Belajar Melayani Suami
65 Pisah Rumah
66 Pisah Kamar
67 Memberi Pemahaman
68 Kehidupan Terbalik
69 Kedatangan Seseorang
70 Merahasiakan
71 Ada Apa dengan Keisha?
72 Bertukar Pesan
73 Pemandangan yang Baru
74 Tugas Dadakan
75 Bantuan Devano
76 Kemana Keisha?
77 Mau Sampai Kapan?
78 OTW ke Surabaya
79 Dia adalah Istriku
80 Berjanji
81 Jatuh dalam Pelukan
82 Tantangan
83 Lagu untuk Seseorang
84 Perihal Naura
85 Minta di Temanin
86 Merasa Nyaman dalam Pelukan
87 Surat Cinta
88 Berkunjung ke Sebuah Tempat
89 Terharu
90 Suami Idaman
91 Kejutan
92 Pulang terlambat
93 Minta Maaf
94 Salah Sangka
95 Kecemburuan Naura
96 Kecemburuan Keisha
97 Putus
98 Kedekatan Naura dan Luna
99 Rindu
100 Video Call
101 Kisah yang Terulang
102 Perubahan Sikap Devano
103 Acara Gathering
104 Belum Saatnya
105 Lomba Kreasi Seni
106 Tunangan?
107 Cinta Segitiga
108 Di Pijitin?
109 Devano Sakit?
110 Perubahan Sikap Keisha
111 Perasaan Naura
112 Modus
113 Pertemuan yang tak diharapkan
114 Takdir Jodoh
115 Patah Hati
116 Ingin Bertemu
117 Bertemu di kafe
118 ID Card siapa?
119 Cemburu
120 Sahabat terbaik
121 Keisha Berulah
122 Marah
123 Butik
124 Kakaknya Tiara
125 Nasihat
126 Video call
127 Konveksi
128 Berbagi Pengalaman berumah tangga
129 Malu
130 Dia Suami Aku
131 Pulang
132 Nginap di Hotel
133 Siapkah Keisha?
134 Berusaha Bersabar
135 Masalah datang
136 Kedatangan Nuelman
137 Kekecewaan Devano
138 Pulang ke Rumah
139 Maafkan aku
140 Ada Apa dengan Keisha?
141 Rumah Sakit
142 Akur
143 Istri yang Sesungguhnya
144 Malam yang Berharga
145 Kesakitan
146 Ketagihan
147 Rindu
148 Devano ketemu Nuelman?
149 Bertemu dengan Nuelman
150 Rencana apa lagi?
151 Kembali ke Rumah
152 Lega
153 Mandi Bareng
154 Pertanyaan Keisha
155 Siapa yang Datang?
156 Rencana Resepsi Pernikahan
157 Cucu?
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Menuju Kantor
2
Ruangan Kerja Baru
3
Senior bagaikan Sahabat
4
Menikah?
5
Keinginan Ibu
6
Wanita yang Mirip
7
Berkhayal
8
Jalan Bareng
9
Presdir
10
Calon Pendamping Hidup?
11
Obrolan Devano dan Naura
12
Ruangan Presdir
13
Curhatan Presdir
14
Tidak Terduga
15
Putri Presdir
16
Obrolan Devano dan Luna
17
Ajakan Renatta
18
Obrolan Devano dan Renatta
19
Jawaban Devano
20
Berita Bahagia
21
Pulang Kampung
22
Kehangatan Keluarga
23
Mimpi
24
Gelisah
25
Ada dengan Ibu?
26
Rumah Sakit
27
Saling Menguatkan
28
Merasa Tenang
29
Membaik
30
Kembali Memburuk
31
Ikhlas
32
Rindu Ibu
33
Jabatan Baru
34
Makan siang bersama Keluarga Presdir
35
Permintaan pertama Stephanus
36
Permintaan kedua Stephanus
37
Pilihan yang Sulit
38
Acara Syukuran
39
Jalan-jalan
40
Kembali Bertemu
41
Kecemasan Diva
42
Pilihan Devano
43
Jawaban Devano
44
Reaksi Keisha
45
Memberi Pemahaman
46
Keisha Kabur?
47
Keberadaan Keisha
48
Kekhawatiran Stephanus
49
Mencari Keisha
50
Membatalkan Perjodohan
51
Melihat Naura
52
Bersedia Menikah
53
Ibunya Keisha Sadar
54
Obrolan Keisha dengan Ibunya
55
Rencana Pernikahan
56
Acara Pernikahan
57
Cincin Pernikahan
58
Akrab
59
Pelukan
60
Siapa yang Telpon?
61
Saling Diam
62
Rasa Benci
63
Tersadar
64
Belajar Melayani Suami
65
Pisah Rumah
66
Pisah Kamar
67
Memberi Pemahaman
68
Kehidupan Terbalik
69
Kedatangan Seseorang
70
Merahasiakan
71
Ada Apa dengan Keisha?
72
Bertukar Pesan
73
Pemandangan yang Baru
74
Tugas Dadakan
75
Bantuan Devano
76
Kemana Keisha?
77
Mau Sampai Kapan?
78
OTW ke Surabaya
79
Dia adalah Istriku
80
Berjanji
81
Jatuh dalam Pelukan
82
Tantangan
83
Lagu untuk Seseorang
84
Perihal Naura
85
Minta di Temanin
86
Merasa Nyaman dalam Pelukan
87
Surat Cinta
88
Berkunjung ke Sebuah Tempat
89
Terharu
90
Suami Idaman
91
Kejutan
92
Pulang terlambat
93
Minta Maaf
94
Salah Sangka
95
Kecemburuan Naura
96
Kecemburuan Keisha
97
Putus
98
Kedekatan Naura dan Luna
99
Rindu
100
Video Call
101
Kisah yang Terulang
102
Perubahan Sikap Devano
103
Acara Gathering
104
Belum Saatnya
105
Lomba Kreasi Seni
106
Tunangan?
107
Cinta Segitiga
108
Di Pijitin?
109
Devano Sakit?
110
Perubahan Sikap Keisha
111
Perasaan Naura
112
Modus
113
Pertemuan yang tak diharapkan
114
Takdir Jodoh
115
Patah Hati
116
Ingin Bertemu
117
Bertemu di kafe
118
ID Card siapa?
119
Cemburu
120
Sahabat terbaik
121
Keisha Berulah
122
Marah
123
Butik
124
Kakaknya Tiara
125
Nasihat
126
Video call
127
Konveksi
128
Berbagi Pengalaman berumah tangga
129
Malu
130
Dia Suami Aku
131
Pulang
132
Nginap di Hotel
133
Siapkah Keisha?
134
Berusaha Bersabar
135
Masalah datang
136
Kedatangan Nuelman
137
Kekecewaan Devano
138
Pulang ke Rumah
139
Maafkan aku
140
Ada Apa dengan Keisha?
141
Rumah Sakit
142
Akur
143
Istri yang Sesungguhnya
144
Malam yang Berharga
145
Kesakitan
146
Ketagihan
147
Rindu
148
Devano ketemu Nuelman?
149
Bertemu dengan Nuelman
150
Rencana apa lagi?
151
Kembali ke Rumah
152
Lega
153
Mandi Bareng
154
Pertanyaan Keisha
155
Siapa yang Datang?
156
Rencana Resepsi Pernikahan
157
Cucu?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!