Ruangan Kerja Baru

Melihat pak Ridwan menerima panggilan, Devano berusaha duduk tenang. Entah kenapa jantungnya jadi berdetak lebih kencang, sekarang kan bukan wawancara lagi, dia sudah di terima bekerja di perusahaan ini.

Devano berusaha tidak memperhatikan percakapan pak Ridwan yang menerima telfon dari Presdir perusahaan ini. Kepalanya menunduk sambil memain-mainkan pulpen di tangannya.

"Baik pak, nanti saya sampaikan kepada semua kepala divisi. Hati-hati di jalan yah pak, semoga semuanya berjalan lancar," kata pak Ridwan yang mengakhiri pembicaraan melalui sambungan telepon.

Setelah telponnya di letakkan kembali di atas meja, lalu pak Ridwan melihat Devano yang duduk di hadapannya. "Maaf Pak Devan, pembicaraan kita jadi terpotong. Barusan pak Presdir ngabarin tidak masuk kantor hari ini karena beliau ada urusan ke negara tetangga."

"Gak apa-apa, Pak."

Lalu pak Ridwan mengambil berkas yang berada di atas meja yang sebelumnya di taruh oleh sekretarisnya bu Dhea.

"Baik, sekarang kita mulai membahas kontrak kerja pak Devano. Ini draft kontrak kerjanya, silahkan pak Devan baca dan pelajari," ucap pak Ridwan yang memberikan berkas laporan mengenai kontrak kerja.

Devano hanya menganggukkan kepala sembari fokus membaca laporan berisi draft kontrak kerjanya. Sambil menunggu Devano membaca kontrak kerjanya, pak Ridwan berjalan keluar ruangan menuju sekretarisnya.

Pak Ridwan menyampaikan pesan dari Presdirnya pada sekretarisnya dan beberapa kepala divisi lainnya.

Di sisi lain, Devano masih fokus bergelut dengan laporan yang ada di depannya. Di sana tercantum waktu kontrak kerja selama satu tahun, bila kinerja bagus bisa di angkat menjadi pegawai tetap. Tapi bila kinerja tidak sesuai dengan standar, kontrak kerjanya bisa tidak di perpanjang.

Tercantum juga beberapa aturan kerja, hak dan kewajiban pegawai, aturan jam kerja dan sebagainya.

"Eh, di sini tercantum bila kinerjanya bagus maka akan mendapat bonus sebagai penghargaan. Wah, lumayan juga bonusnya, jadi tambah semangat nih," batin Devano.

Di halaman berikutnya, tercantum juga beberapa tunjangan seperti tunjangan makan, transport, dan sebagainya. "Wah, senang bisa di terima di perusahaan ini. Ya Tuhan bukalah pintu rejeki bagi hamba-Mu ini," doa Devano dalam hati.

Sepulang dari kantor, Devano ingin memberitahu ibunya. Ibunya pasti senang senang mendengarnya. Mungkin mulai bulan depan Devano bisa mengirimkan uang ke ibunya untuk biaya kuliah adiknya Diva dan uang sekolah untuk adiknya Kevin.

Devano sangat bersyukur ternyata profesi arsitek sudah di hargai dengan layak. "Ah, andaikan negara ini bisa menghargai setiap profesi dengan layak sesuai dengan beban dan resiko pekerjaannya," batin Devano.

Seketika lamunannya menjadi buyar ketika mendengar suara langkah kaki pak Ridwan memasuki ruangan.

"Maaf pak Devan menunggu lama, tadi saya mau menyampaikan pesan pak Presdir pada beberapa kepala divisi," ungkap pak Ridwan yang kembali duduk berhadapan dengan Devano.

"Gak apa-apa, Pak. Oh yah, saya sudah mempelajarinya Pak dan saya memutuskan akan mengikuti kontrak kerja ini. Saya langsung tanda tangan saja, di sini yah Pak?" tanya Devano dengan pulpen di tangannya.

"Ya di situ yang ada materainya, dan satu lagi pak Devan bisa tanda tangan yang tidak ada materainya. Nanti yang tidak ada materainya silahkan di bawa pak Devan," ucap pak Ridwan.

"Baik pak Devan, selamat bergabung di Arkana Group. Semoga Anda bisa bekerja dengan baik dan juga memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini," ucap pak Ridwan mengulurkan tangannya mengajak bersalaman dengan Devano.

"Terima kasih banyak pak Ridwan. Saya akan bekerja maksimal sesuai kemampuan saya, mohon arahan dan bimbingannya Pak," sahut Devano sambil menyambut uluran tangan pak Ridwan.

"Tadinya saya ingin memperkenalkan pak Devano kepada pak Presdir, tapi sayang beliau tidak datang hari ini. Tapi kalau beliau ada di kantor nanti, pak Devan pasti saya kenalkan," kata pak Ridwan sambil berdiri mempersilahkan Devano.

"Baik Pak!" sahut Devano sambil berdiri mengikuti pak Ridwan keluar ruangan.

"Syukurlah, kontrak kerja sudah saya tanda tangani. Semoga semuanya berjalan dengan lancar," batin Devano.

Mereka pun sampai di depan meja sekretaris, pak Ridwan meminta Dhea mengantar Devano ke ruangan kerjanya. "Bu Dhea, tolong antarkan pak Devan ke ruangannya. Nanti langsung ketemu dengan pak Niko, sebelumnya saya sudah memberitahu beliau."

"Baik, Pak. Mari pak Devan!" ajak Dhea.

Devano mulai berjalan mengikuti Dhea masuk ke dalam lift. "Ruangan pak Devan ada di lantai 15. Ruangan Presdir juga di lantai 15," jelas Dhea.

"Iya bu Dhea."

Tak berselang lama, pintu lift terbuka dan Dhea langsung mempersilahkan Devano keluar lift terlebih dahulu. Mereka pun berjalan menuju ruangan divisi projek.

Perusahaan Arkana Group bergerak di bidang kontraktor pembangunan jalan dan gedung. Devano sendiri berada di bagian rancang bangunan. Itu posisi Devano yang di jelaskan oleh pak Niko saat wawancara dua hari yang lalu.

Pak Niko adalah kepala divisi bagian projek, atasan tertinggi Devano di divisi tersebut. Tidak terasa sampailah mereka di depan ruangan pak Niko. "Permisi Pak!" kata Dhea mengetuk pintu.

"Yah, silahkan masuk bu Dhea."

"Selamat pagi Pak. Kedatangan saya ini untuk mengantar pak Devan, karena beliau sudah mulai bekerja di perusahaan ini. Tadi di ruangan pak Ridwan, pak Devan sudah tanda tangan kontrak kerja," ungkap Dhea dengan sopan.

"Oh baiklah, silahkan duduk pak Devan," sambut pak Niko.

"Saya permisi dulu, Pak. Semangat kerjanya pak Devan," kata Dhea tersenyum ke arah Devano.

Devano langsung menyambut baik dukungan yang di berikan oleh Dhea padanya. Sebetulnya Devano merasa gak enakan mendengar sebutan pak Devan, apalagi di panggil Pak oleh orang yang lebih tua seperti pak Ridwan dan pak Niko.

Tapi, Devano berusaha menerimanya dan beradaptasi dengan hal tersebut. Mungkin budaya di perusahaan seperti itu, karena sudah banyak senior.

Setelah Dhea keluar ruangan, pak Niko langsung mempersilahkan Devano duduk. "Selamat bergabung yah pak Devan. Semoga dengan kehadiran pak Devan dapat menambah kekuatan baru di perusahaan ini untuk menyelesaikan proyek-proyek."

"Terima kasih banyak, Pak. Mohon arahan dan bimbingannya," jawab Devano dengan sedikit gugup. Entah kenapa suasana gugup menyelimutinya, mungkin karena dia berada di posisi bagian penting di perusahaan ini.

"Gak usah gugup pak Devan, santai saja. Saya tidak mau pegawai yang bekerja di bawah saya dalam keadaan tertekan. Jadi, bila ada keluhan dan merasa tidak nyaman langsung konsultasi dengan saya," kata pak Niko. "Pokoknya saat bekerja harus happy biar hasilnya baik dan memuaskan."

"Baik Pak."

Pak Niko memang di kenal sebagai kepala divisi yang ramah, baik, dan juga humoris. Cocok untuk tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dengan perutnya yang sedikit buncit.

Usianya sekitar 45-50 tahun dan tentunya sudah sangat berpengalaman dalam bidang kontraktor bagian rancang bangunan.

"Dari lamaran pekerjaan pak Devan, saya percaya dengan pengalaman pak Devan yang pernah mengikuti beberapa proyek," ucap pak Niko.

Devano memang pernah ikut beberapa proyek pembangunan perumahan dalam program magang saat kuliah di tahun terakhir dan setelah dia lulus kuliah.

"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak."

"Ngomong-ngomong, pak Devan belum menikah kan, alias masih single kan?" tanya pak Niko yang membuat Devano tersentak kaget dalam hatinya.

"Kenapa pak Niko menanyakan hal ini pada saya?" pikir Devano sebelum menjawab pertanyaan pak Niko.

"Oh iya, Pak. Saya masih sendiri alias masih single Pak, hehehe."

"Syukurlah pak Devan, kalau masih single bisa leluasa untuk lembur dan gak ada yang telfon nanya jam berapa pulang. Ha ... ha ... ha ..." kata pak Niko sambil tertawa.

"Hehehe, iya Pak. Saya siap kalau harus kerja lembur demi mencapai target," jawab Devano sambil tersenyum.

"Dari gaya bicara pak Devan, saya percaya bahwa pak Devan sudah paham dengan tugasnya. Tapi, jika ada belum di mengerti jangan sungkan untuk bertanya," ungkap pak Niko. "Nanti timnya di pimpin oleh pak Emir. Kalian satu tim dalam menangani satu proyek."

"Selain punya beberapa divisi yang berbeda, ternyata di setiap divisi masih di bagi beberapa tim," batin Devano mencerna ucapan pak Niko.

"Baiklah, saya antar ke ruangan pak Emir sekaligus ruangan kerja baru pak Devano." Pak Niko beranjak dari tempat duduknya dan mengajak Devano keluar ruangan.

Sesampainya di sebuah ruangan, tampak jendela kaca yang gordennya sengaja di buka. Terlihat view menghadap jalan utama dengan gedung-gedung pencakar langit. Saat melihat ke bawah tampak jalanan pusat ibu kota di penuhi oleh beberapa kendaraan yang berlalu lalang.

Pemandangan dari lantai 15 ini lumayan bagus menghilangkan kejenuhan apalagi saat pikiran lagi buntu dan butuh asupan ide. Ruangan pun di lengkapi dengan fasilitas lengkap. Walau hari ini cuaca sedikit panas, tapi ruangan tetap terasa dingin karena adanya AC.

"Hmm ... nyaman sekali di ruangan ini. Bisa betah berlama-lama di sini," batin Devano yang merasa nyaman dengan ruangan kerja barunya.

...~ Bersambung ~...

Terpopuler

Comments

Hadi Kusumah

Hadi Kusumah

sementara aman lah...

2024-08-22

1

Maya●●●

Maya●●●

wkwkwk😄

2023-11-03

1

ⁱˡˢ ᵈʸᵈᶻᵘ💻💐

ⁱˡˢ ᵈʸᵈᶻᵘ💻💐

ceritanya seru

2023-10-11

1

lihat semua
Episodes
1 Menuju Kantor
2 Ruangan Kerja Baru
3 Senior bagaikan Sahabat
4 Menikah?
5 Keinginan Ibu
6 Wanita yang Mirip
7 Berkhayal
8 Jalan Bareng
9 Presdir
10 Calon Pendamping Hidup?
11 Obrolan Devano dan Naura
12 Ruangan Presdir
13 Curhatan Presdir
14 Tidak Terduga
15 Putri Presdir
16 Obrolan Devano dan Luna
17 Ajakan Renatta
18 Obrolan Devano dan Renatta
19 Jawaban Devano
20 Berita Bahagia
21 Pulang Kampung
22 Kehangatan Keluarga
23 Mimpi
24 Gelisah
25 Ada dengan Ibu?
26 Rumah Sakit
27 Saling Menguatkan
28 Merasa Tenang
29 Membaik
30 Kembali Memburuk
31 Ikhlas
32 Rindu Ibu
33 Jabatan Baru
34 Makan siang bersama Keluarga Presdir
35 Permintaan pertama Stephanus
36 Permintaan kedua Stephanus
37 Pilihan yang Sulit
38 Acara Syukuran
39 Jalan-jalan
40 Kembali Bertemu
41 Kecemasan Diva
42 Pilihan Devano
43 Jawaban Devano
44 Reaksi Keisha
45 Memberi Pemahaman
46 Keisha Kabur?
47 Keberadaan Keisha
48 Kekhawatiran Stephanus
49 Mencari Keisha
50 Membatalkan Perjodohan
51 Melihat Naura
52 Bersedia Menikah
53 Ibunya Keisha Sadar
54 Obrolan Keisha dengan Ibunya
55 Rencana Pernikahan
56 Acara Pernikahan
57 Cincin Pernikahan
58 Akrab
59 Pelukan
60 Siapa yang Telpon?
61 Saling Diam
62 Rasa Benci
63 Tersadar
64 Belajar Melayani Suami
65 Pisah Rumah
66 Pisah Kamar
67 Memberi Pemahaman
68 Kehidupan Terbalik
69 Kedatangan Seseorang
70 Merahasiakan
71 Ada Apa dengan Keisha?
72 Bertukar Pesan
73 Pemandangan yang Baru
74 Tugas Dadakan
75 Bantuan Devano
76 Kemana Keisha?
77 Mau Sampai Kapan?
78 OTW ke Surabaya
79 Dia adalah Istriku
80 Berjanji
81 Jatuh dalam Pelukan
82 Tantangan
83 Lagu untuk Seseorang
84 Perihal Naura
85 Minta di Temanin
86 Merasa Nyaman dalam Pelukan
87 Surat Cinta
88 Berkunjung ke Sebuah Tempat
89 Terharu
90 Suami Idaman
91 Kejutan
92 Pulang terlambat
93 Minta Maaf
94 Salah Sangka
95 Kecemburuan Naura
96 Kecemburuan Keisha
97 Putus
98 Kedekatan Naura dan Luna
99 Rindu
100 Video Call
101 Kisah yang Terulang
102 Perubahan Sikap Devano
103 Acara Gathering
104 Belum Saatnya
105 Lomba Kreasi Seni
106 Tunangan?
107 Cinta Segitiga
108 Di Pijitin?
109 Devano Sakit?
110 Perubahan Sikap Keisha
111 Perasaan Naura
112 Modus
113 Pertemuan yang tak diharapkan
114 Takdir Jodoh
115 Patah Hati
116 Ingin Bertemu
117 Bertemu di kafe
118 ID Card siapa?
119 Cemburu
120 Sahabat terbaik
121 Keisha Berulah
122 Marah
123 Butik
124 Kakaknya Tiara
125 Nasihat
126 Video call
127 Konveksi
128 Berbagi Pengalaman berumah tangga
129 Malu
130 Dia Suami Aku
131 Pulang
132 Nginap di Hotel
133 Siapkah Keisha?
134 Berusaha Bersabar
135 Masalah datang
136 Kedatangan Nuelman
137 Kekecewaan Devano
138 Pulang ke Rumah
139 Maafkan aku
140 Ada Apa dengan Keisha?
141 Rumah Sakit
142 Akur
143 Istri yang Sesungguhnya
144 Malam yang Berharga
145 Kesakitan
146 Ketagihan
147 Rindu
148 Devano ketemu Nuelman?
149 Bertemu dengan Nuelman
150 Rencana apa lagi?
151 Kembali ke Rumah
152 Lega
153 Mandi Bareng
154 Pertanyaan Keisha
155 Siapa yang Datang?
156 Rencana Resepsi Pernikahan
157 Cucu?
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Menuju Kantor
2
Ruangan Kerja Baru
3
Senior bagaikan Sahabat
4
Menikah?
5
Keinginan Ibu
6
Wanita yang Mirip
7
Berkhayal
8
Jalan Bareng
9
Presdir
10
Calon Pendamping Hidup?
11
Obrolan Devano dan Naura
12
Ruangan Presdir
13
Curhatan Presdir
14
Tidak Terduga
15
Putri Presdir
16
Obrolan Devano dan Luna
17
Ajakan Renatta
18
Obrolan Devano dan Renatta
19
Jawaban Devano
20
Berita Bahagia
21
Pulang Kampung
22
Kehangatan Keluarga
23
Mimpi
24
Gelisah
25
Ada dengan Ibu?
26
Rumah Sakit
27
Saling Menguatkan
28
Merasa Tenang
29
Membaik
30
Kembali Memburuk
31
Ikhlas
32
Rindu Ibu
33
Jabatan Baru
34
Makan siang bersama Keluarga Presdir
35
Permintaan pertama Stephanus
36
Permintaan kedua Stephanus
37
Pilihan yang Sulit
38
Acara Syukuran
39
Jalan-jalan
40
Kembali Bertemu
41
Kecemasan Diva
42
Pilihan Devano
43
Jawaban Devano
44
Reaksi Keisha
45
Memberi Pemahaman
46
Keisha Kabur?
47
Keberadaan Keisha
48
Kekhawatiran Stephanus
49
Mencari Keisha
50
Membatalkan Perjodohan
51
Melihat Naura
52
Bersedia Menikah
53
Ibunya Keisha Sadar
54
Obrolan Keisha dengan Ibunya
55
Rencana Pernikahan
56
Acara Pernikahan
57
Cincin Pernikahan
58
Akrab
59
Pelukan
60
Siapa yang Telpon?
61
Saling Diam
62
Rasa Benci
63
Tersadar
64
Belajar Melayani Suami
65
Pisah Rumah
66
Pisah Kamar
67
Memberi Pemahaman
68
Kehidupan Terbalik
69
Kedatangan Seseorang
70
Merahasiakan
71
Ada Apa dengan Keisha?
72
Bertukar Pesan
73
Pemandangan yang Baru
74
Tugas Dadakan
75
Bantuan Devano
76
Kemana Keisha?
77
Mau Sampai Kapan?
78
OTW ke Surabaya
79
Dia adalah Istriku
80
Berjanji
81
Jatuh dalam Pelukan
82
Tantangan
83
Lagu untuk Seseorang
84
Perihal Naura
85
Minta di Temanin
86
Merasa Nyaman dalam Pelukan
87
Surat Cinta
88
Berkunjung ke Sebuah Tempat
89
Terharu
90
Suami Idaman
91
Kejutan
92
Pulang terlambat
93
Minta Maaf
94
Salah Sangka
95
Kecemburuan Naura
96
Kecemburuan Keisha
97
Putus
98
Kedekatan Naura dan Luna
99
Rindu
100
Video Call
101
Kisah yang Terulang
102
Perubahan Sikap Devano
103
Acara Gathering
104
Belum Saatnya
105
Lomba Kreasi Seni
106
Tunangan?
107
Cinta Segitiga
108
Di Pijitin?
109
Devano Sakit?
110
Perubahan Sikap Keisha
111
Perasaan Naura
112
Modus
113
Pertemuan yang tak diharapkan
114
Takdir Jodoh
115
Patah Hati
116
Ingin Bertemu
117
Bertemu di kafe
118
ID Card siapa?
119
Cemburu
120
Sahabat terbaik
121
Keisha Berulah
122
Marah
123
Butik
124
Kakaknya Tiara
125
Nasihat
126
Video call
127
Konveksi
128
Berbagi Pengalaman berumah tangga
129
Malu
130
Dia Suami Aku
131
Pulang
132
Nginap di Hotel
133
Siapkah Keisha?
134
Berusaha Bersabar
135
Masalah datang
136
Kedatangan Nuelman
137
Kekecewaan Devano
138
Pulang ke Rumah
139
Maafkan aku
140
Ada Apa dengan Keisha?
141
Rumah Sakit
142
Akur
143
Istri yang Sesungguhnya
144
Malam yang Berharga
145
Kesakitan
146
Ketagihan
147
Rindu
148
Devano ketemu Nuelman?
149
Bertemu dengan Nuelman
150
Rencana apa lagi?
151
Kembali ke Rumah
152
Lega
153
Mandi Bareng
154
Pertanyaan Keisha
155
Siapa yang Datang?
156
Rencana Resepsi Pernikahan
157
Cucu?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!