"Apa! orang tuamu alumni dari universitas itu juga? Wah ... mungkin saja seumuran yah," kaget Stephanus. "Setelah lulus kuliah saya langsung ke Jakarta, karena yang terpikirkan waktu itu saya harus bekerja."
"Saya cukup lama di Jakarta dan pada saat saya kembali ke Yogyakarta untuk mendatangi tempat kontrakan, ternyata sahabat saya sudah tidak tinggal di kontrakan itu lagi," ungkap Stephanus.
"Apalagi jaman dulu kan belum ada hp, jadi sampai sekarang saya belum pernah bertemu lagi. Terus terang, nama sahabat saya Alfary Wibowo."
Deg ...
Devano langsung tersentak kaget mendengar presdirnya menyebut nama Alfary Wibowo. Sebuah nama yang tidak asing di telinga Devano.
"Eh, namanya kok sama dengan nama almarhum ayah saya? Apa sahabat pak Stephan adalah ayah saya? atau hanya namanya aja yang sama. Banyakkan sekarang nama yang sama. Saat saya kuliah saja, nama Devano ada beberapa orang bukan hanya saya saja pemilik nama Devano," batin Devano yang terus berpikir.
"Tapi kenapa aku jadi penasaran yah?" Devano ingin bertanya lagi pada presdirnya mengenai sahabatnya itu.
"Barangkali Bapak masih ingat, bagaimana ciri-ciri sahabat Bapak itu?" tanya Devano.
"Saya sudah bilang tadi bahwa wajahnya mirip-mirip kamu, hanya saya dia mempunyai tanda lahir di lehernya. Saya juga tidak punya fotonya, karena saat itu ponsel pintar masih belum ada."
Lagi dan lagi, Devano tersentak kaget mendengar ucapan presdirnya. Ayahnya juga memiliki tanda lahir di lehernya seperti yang di katakan Stephanus. Apa jangan-jangan yang di maksud Stephanus sahabatnya itu adalah ayahnya Devano?
Lalu Devano pun merogoh ponselnya dari dalam saku celananya. Dia langsung menuju aplikasi album dan berniat memperlihatkan sebuah foto yang di dalamnya ada foto kedua orang tuanya dan juga dirinya beserta kedua adiknya.
Foto di mana Devano masih berumur kisaran 11 tahun dan masih duduk di kelas 5 SD. Foto di mana setelah satu kemudian ayahnya meninggalkan mereka saat Devano duduk di kelas 6 SD.
"Maaf Pak, apa sahabat Bapak itu orangnya mirip di dalam foto ini?" tanya Devano sambil mendekatkan ponselnya ke pandangan Stephanus.
Seketika Stephanus membulatkan kedua matanya melihat foto yang di tunjukkan Devano. "Apa aku sedang bermimpi? Ini memang sahabat saya Alfary Wibowo!"
Pandangan Stephanus pun tertuju pada Devano di depannya. "Apa kamu anaknya Alfary Wibowo?" tanya Stephanus dengan mulut yang sedikit bergetar.
"Ya, ini adalah foto keluarga saya. Ayah saya bernama Alfary Wibowo, itu foto saat satu tahun sebelum ayah saya meninggal," jawab Devano.
Stephanus langsung mendekatkan dan menghamburkan tubuhnya memeluk Devano. Dia tidak menyangka dia di pertemukan dengan anak dari sahabatnya itu. Tampak Devano sedikit kaget melihat presdirnya memeluknya, namun detik kemudian dia membalas pelukan Stephanus.
"Terima kasih yah Tuhan. Sudah bertahun-tahun saya mencari keberadaan sahabat saya dan akhirnya di pertemukan walaupun dengan anaknya," ucap Stephanus meneteskan air mata.
Lalu Stephanus melepas pelukannya setelah merasakan Devano agak sesak oleh pelukan eratnya. Lalu tangannya terlulur memegang kedua bahu Devano.
"Devano saya benar-benar tidak menyangka, entah mimpi apa saya semalam. Akhirnya saya di pertemukan oleh keturunannya, walaupun tidak langsung bertemu dengan ayah kamu," kata Stephanus. "Minimal saya bisa mengucapkan terima kasih banyak untuk sahabat saya melalui anaknya."
"Saya turut berduka atas kepergian ayahmu. Saya tidak menyangka orang baik seperti dia, cepat di panggil oleh Tuhan menghadap hadirat-Nya," ujar Stephanus sedih.
Ayah Devano adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Setelah lulus kuliah, Stephanus terpaksa ke Jakarta untuk urusan pekerjaan. Dia tidak sempat berpamitan dan berterima kasih banyak pada almarhum ayahnya Devano.
"Ceklek."
Tiba-tiba pintu ruangan Presdir terbuka lebar. "Dady ... " teriak seorang gadis yang menyeleweng masuk ke dalam ruangan.
"Ups ... maaf!" kata Keisha menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Kirain gak ada tamu, ternyata Dady sedang ngobrol dengan seseorang."
Stephanus yang melihat putrinya segera menghapus air mata yang tergenang di pelupuk matanya. "Keisha, sayang ... tumben datang tanpa telfon papa dulu?" tanya Stephanus sambil memanggil putrinya yang tampak mematung di tengah jalan.
Lalu Keisha pun menghampiri ayahnya dengan berjalan sopan. "Keisha udah beberapa kali telfon Dady, tapi gak di angkat. Lalu Keisha telfon mas Lucky, katanya Dady ada di kantor. Jadi Keisha langsung ke sini deh," ucap Keisha tersenyum manis.
"Oh iya, Dady lupa mengaktifkan ponsel. Ponsel Dady di silent tadi pas meeting," sahut Stephanus memandang wajah putrinya
"Di depan juga gak ada mas Lucky, jadi Keisha langsung masuk aja. Maaf yah Dad, Keisha tahu ini salah," ujar Keisha meminta maaf karena merasa bersalah.
"Oh, jadi laki-laki yang di luar itu namanya Lucky," batin Devano.
"Maafin gak yah?" kata Stephanus pada putrinya.
"Ih ... Dady, maafin saya yah," rayu Keisha dengan bergelayut manja.
"Iya, gak apa-apa sayang. Tapi jangan ulangi kembali, minimal sebelum masuk ketuk pintu dulu lalu sertakan dengan salam," tegur ayahnya dengan halus.
"Ok, Dad."
Sementara Devano hanya memperhatikan keakraban ayah dan putrinya yang berada di depannya.
"Oh yah pak Devan, ini Keisha putri saya yang paling cantik dan manja," kata Stephanus memperkenalkan putrinya.
Keisha hanya cemberut saat mendengar kata manja yang keluar dari mulut ayahnya. "Ih, Dady ...."
Tampak Devano mengangkat dan menempelkan kedua tangannya di depan dadanya sambil menundukkan sedikit kepala. "Saya Devano ...."
Keisha juga menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Keisha ...."
"Lumayan tampan juga nih karyawan dady, kaya artis Korea. Eh, siapa namanya yah ... aduh Keisha lupa!" batin Keisha mengingat-ingat nama salah satu artis Korea yang mirip dengan Devano.
"Tapi, masih gantengan kak Nuel deh ... " lanjutnya membandingkan Devano dengan kakak kelasnya waktu SMA, yang saat itu dia idolakan.
Ini merupakan pertemuan kedua kalinya Devano melihat putri presdirnya, yang pertama dua hari yang lalu saat ketemu di acara expo.
Keisha memang terlihat sangat cantik dengan rambutnya yang hitam lebat dan bibirnya yang kecil, sehingga saat tersenyum dia begitu manis. Keisha memang terlihat seperti gadis yang manja, tepatnya anak yang manja saat bicara dengan papanya.
"Ada angin apa yang membawa putri cantikku datang ke sini?" tanya Stephanus memandang putrinya.
"Memang gak boleh yah Keisha datang ke kantor Dady. Keisha kan kangen sama Dady," ujar Keisha dengan suara manja sambil memijit pundak ayahnya.
"Ehem, ehem. Biasanya kalau bersikap manis kek gini pasti ada maunya. Sini mana kwintasi yang harus Dady tanda tangani," ucap Stephanus yang menebak maksud sang anak.
"Hehehe, Dady sangat cerdas." Keisha langsung mengambil proposal dan kwintasi dari tasnya.
"Ini panitianya gak jelas, masa panitia yang menentukan nilai donasinya," kata Stephanus sebelum membubuhkan tanda tangannya.
"Udah Dady tanda tangan aja. Keisha mau balik lagi ke kampus, mau lanjut rapat."
"Yeahh ... terima kasih pak Direktur yang baik dan dermawan. Semoga Tuhan membalasnya dengan rejeki yang berlipat-lipat. Amin!" ucap Keisha sambil mengambil kwintasi yang telah di tanda tangani oleh ayahnya.
"Ya udah, Keisha mau balik lagi ke kampus. Terima kasih Dady," ucap Keisha sambil mencium pipi ayahnya dan berlalu meninggalkan ruangan itu dengan tersenyum bahagia.
"Hati-hati di jalan!" teriak Stephanus yang langsung di balas senyuman oleh Keisha.
Devano yang melihat adegan anak dan papanya hanya bisa tersenyum. Di balik senyumannya tersirat kerinduannya pada almarhum ayahnya.
...~ Bersambung ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Aerik_chan
nah tidak salah lagi...
2023-09-22
1
վմղíα | HV💕
wah jangan jangan ayah mu yang di bilang presdir
2023-09-17
1
Ucy (ig. ucynovel)
nah tdk diragukan lg dia itu sahabatnya bpk devan
2023-09-14
1