Lilis senyum-senyum sendiri saat melihat Devano masih berada di tempat Luna. Lalu Lilis menghampiri Luna yang masih asik berbincang dengan Devano.
"Ehem ... ternyata masih asik nih berduaan. Pantesan gak ke kantin, makan siangnya ada yang nemenin ya Lun?" bisik Lilis di telinga Luna.
"Ish ... sana ke tempatmu, ganggu aja!" balas Luna berbisik.
Bukannya pergi, Lilis terus menggoda Luna yang tampak tersipu malu. Luna tak menggubris ucapan Lilis, dia lebih memilih membereskan kotak makan siangnya yang ludes.
Terlihat Devano melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Gak terasa yah sudah satu jam lewat. Terima kasih buat waktunya ya bu Luna. Saya jadi merepotkan bu Luna," kata Devano sambil membantu merapikan meja kerja Luna.
"Nggak merepotkan kok pak Devan," sahut Luna.
"Sering-sering datang ke sini ya pak Devan, bu Luna pasti sangat senang. Hehehe," kata Lilis yang terus menggoda Luna.
Seketika Luna melirik Lilis yang berada di sampingnya. "Apaan sih! Pak Devan ke sini mau nanya-nanya desain rumah. Maaf yah pak Devan, Lilis memang suka ngomong asal," kata Luna membela diri, walaupun sebenarnya dia benar-benar sangat senang bisa makan bareng dengan Devano.
Devano hanya bisa tersenyum melihat kelakuan jail temannya Luna. "Gak apa-apa bu Luna, ya sudah saya permisi dulu kembali ke ruangan saya. Terima kasih buat makan siangnya," pamit Devano.
"Sama-sama pak Devan."
Lalu Devano pun pamit kepada rekan kerja Luna dan langsung berjalan menuju ruang kerjanya.
Setelah Devano berhasil keluar ruangan, sontak teman-teman Luna langsung heboh menggoda Luna. "Cie ... mimpi apa ya semalam bu Luna."
"Ehem, bu Luna keren bisa menaklukkan sang idola di kantor ini," goda teman-teman rekan kerjanya Luna.
"Kapan nih syukurannya? Traktir kami dong!" goda Lilis.
Luna hanya menutup telinganya, sambil berdoa supaya semua ledekan teman-temannya berakhir. Luna juga khawatir jika teman-temannya salah paham dan menyebar gosip kedekatannya dengan Devano.
"Halo buat teman-temanku yang baik hati. Perlu kalian tahu bahwa saya sama pak Devan gak ada hubungan apa-apa. Jadi, jangan macem-macem buat nyebarin gosip yang enggak-enggak," ucap Luna dengan suara keras.
"Uuu ... bilang aja bu Luna suka kan sama pak Devan."
"Terserah kalian, yang penting saya sudah katakan bahwa saya dan pak Devan tidak ada apa-apa," ucap Luna yang kembali duduk di tempat kerjanya.
Sejak kejadian itu, berita Luna dekat dengan Devano dan makan siang bareng pun menyebar ke divisi lain. Entah siapa pertama kali yang menyebarkannya, tidak ada yang tahu dan tidak ada yang mengaku.
****
Hari berganti hari, suasana kantor Arkana Group pagi ini seperti biasa terlihat sibuk. Setiap pegawai melakukan aktivitas pekerjaannya di ruangan masing-masing.
Begitu juga dengan Renatta, yang sepertinya sibuk dengan komputer di depannya. Beberapa kali dia memainkan mouse, namun masih belum ada perubahan atau penambahan gambar hasil desainnya.
Ya, walaupun Renatta terlihat berkutat dengan komputer di depannya, tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Ada sesuatu hal yang menghantu-hantui hati dan pikirannya.
Lalu Renatta berjalan menuju kaca jendela di ruangannya. Dia melihat penampilannya dari pantulan kaca jendela.
"Mungkin penampilanku yang membuat Devano lebih memilih wanita lain. Apa aku bukan tipe wanita yang di sukai Devano yah?" kata Renatta yang tampak sedih.
"Tapi kan penampilanku sudah ada perubahan. Sekarang gak pernah pakai rok pendek, pakaianku lebih sopan, dan selama ini kelakuan terbilang baik. Tapi kenapa kamu sudah lebih dulu memilih yang lain. Apa kamu tidak mengerti perasaanku selama ini," curhatan hati Renatta memandang pemandangan jalanan kota dari atas ruangannya.
Sejak Renatta tertarik dengan Devano dan mulai mengetahui bagaimana karakter Devano seperti apa, Renatta sedikit demi sedikit merubah penampilannya.
Dulu dia suka menggunakan rok pendek dan baju yang sedikit terbuka, sekarang Renatta mulai merubahnya dengan penampilan yang tertutup, karena dia tahu Devano tidak akan menyukainya.
Bahkan selama ini, Renatta sering berkunjung ke ruangan kerja Devano untuk sekedar ngobrol atau bertanya sesuatu. Ya ... walaupun di mana ada Devano di situ juga ada Emir yang selalu berusaha mencari perhatian darinya. Tapi Renatta berusaha mencari kesempatan untuk bisa dekat dengan Devano.
Bukan hanya dari segi penampilan Devano yang membuat Renatta tertarik dengannya. Tetapi attitude, tanggung jawab, jiwa pekerja keras, sayang dengan keluarga yang membuat Renatta semakin jatuh cinta dengan Devano.
Hal yang membuatnya galau saat ini di karenakan dua hari yang lalu Renatta mendapatkan kabar kalau Devano dekat dengan Luna.
Kabar kedekatan Devano dan Luna memang sudah menyebar ke semua divisi, apalagi yang heboh adalah para karyawan perempuan. Maklum semua itu bisa terjadi, karena Devano memang sering jadi pembicaraan para karyawan di perusahaan tersebut, bahkan Devano menjadi primadona di kalangan para karyawan perempuan.
Nah, sejak mendengar gosip tersebut Renatta jadi tidak bersemangat. Tapi kabar tersebut belum tentu benar adanya, hal tersebut yang membuatnya Renatta untuk mencari kejelasan berita itu.
Dia ingin bertanya langsung dengan Devano mengenai kebenaran berita tersebut, tapi dua hari terakhir bahkan hari ini Devano tidak bertugas di kantor, melainkan Devano bertugas di lapangan.
Tampak Renatta berjalan bolak-balik di ruangannya untuk mencari ide bagaimana bisa ke temu langsung dengan Devano tanpa di ganggu orang lain, termasuk Emir.
Seketika ide muncul di benaknya, lalu Renatta langsung mengambil ponselnya di atas meja dan langsung menulis pesan untuk di kirimkan ke kontak Devano.
Dengan bermodalkan keberanian, Renatta memberanikan diri mengajak Devano ketemuan ke suatu tempat.
"Pagi Devan, apa selesai jam kantor kita bisa ketemuan. Ada hal penting yang harus saya bicarakan, saya tunggu di kafe XXX."
"Ku mohon gak usah ajak Emir, please."
Sepenggal pesan dari Renatta yang di kirimkan ke nomor WA Devano.
Minimal dengan dengan bertanya langsung empat mata pada Devano, dia berharap masih punya harapan kalau berita kedekatan Devano dengan Luna hanyalah gosip belaka.
"Semoga beritanya tidak benar, kumohon ... " batin Renatta. Jika seandainya berita hanya gosip belaka, dia masih punya harapan bisa dekat dengan Devano dan bisa menjalin hubungan yang lebih serius.
Setelah mengirim pesan dan hatinya mulai tenang, Renatta mencoba berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Renatta tahu kalau Devano tidak akan langsung membaca dan membalas pesannya karena sedang sibuk di lapangan proyek.
****
Sementara di tempat yang berbeda, Devano sedang melaksanakan meeting dengan tim rekan kerjanya di lapangan. Selesai meeting, mereka langsung beristirahat dan memesan makan siang.
Sambil menunggu makan siang datang, Devano membuka ponselnya. Tak lama setelah data di hidupkan, muncul notifikasi pesan dari Renatta. Devano langsung menuju aplikasi hijau itu dan membuka pesan dari Renatta.
"Ada hal apa Renatta mengirim pesan?" batin Devano.
Setelah membacanya, Devano menghernyitkan dahinya. "Tumben Renatta ngajak ketemuan, dan meminta untuk tidak mengajak bang Emir, kenapa ya? Mungkin mau nanya-nanya tentang Emir atau jangan-jangan Emir sudah mengungkapkan cintanya dan Renatta mau minta pendapat dariku," pikir Devano setelah membaca pesan dari Renatta.
...~ Bersambung ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Maya●●●
renatta patah hati nih
2023-11-30
1
Aerik_chan
1 iklan buat kakak
2023-09-25
0
վմղíα | HV💕
sudah gak usah di ladeni Luna
2023-09-18
1