Sebenarnya Devano merasa berat untuk datang memenuhi ajakan Renatta. Dia tidak merasa nyaman harus berduaan dengan seorang perempuan di tempat umum, tapi Devano berpikir kalau Renatta membutuhkan pendapatnya mengenai Emir karena saat ini Devanolah yang dekat dengan Emir.
Setelah berpikir panjang lebar, akhirnya Devano memutuskan membalas pesan Renatta. "Baik, semoga tugas di lapangan bisa cepat selesai," pesan Devano.
"Bro!" panggil Emir. "Makan siangnya udah datang nih."
"Oke bang." Devano langsung berdiri dari tempat duduknya dan bergabung dengan teman-teman rekan kerjanya untuk makan siang bersama-sama. Devano tidak memberi tahu pada Emir soal Renatta yang mengajaknya ketemuan di kafe.
Jam 5 sore Devano sudah bersiap-siap untuk pulang, dia berbicara sebentar dengan seniornya Emir dan kemudian pamit ijin pulang kerja ontime.
"Bang, duluan yah!" kata Devano.
"Tumben cepat sekali. Nih baru jam 5 sore, istirahatlah sebentar," ujar Emir.
"Gak usah bang. Saya harus pulang sekarang karena ada urusan penting," jelas Devano mengingat pesan Renatta kalau ia jangan mengajak Emir.
"Maaf ya bang, mungkin Renatta mengajak ketemuan karena ingin bertanya-tanya soal bang Emir," batin Devano.
Devano langsung pulang ke rumah kostnya. Setelah sudah bersiap, Devano segera menuju kafe tempat dia bertemu dengan Renatta.
****
Di sebuah kafe XXX, tampak Renatta sudah duduk dan sedang menikmati vanila late sambil menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Sesekali pandangannya tertuju ke pintu masuk dan memperhatikan pengunjung yang datang.
Namun sosok yang di tunggu-tunggu masih belum nongol. Renatta kembali menyibukkan dirinya dengan membuka sosmed pribadinya. Saat dia kembali melirik ke arah pinta masuk, akhirnya yang di tunggu-tunggunya pun datang.
Renatta langsung melambaikan tangannya untuk memanggil Devano yang tengah mencarinya. Renatta kelihatan bahagia sekali dan penuh antusias menyambut kedatangan Devano.
"Di mana Renatta?" tanya Devano Celingak-celinguk mencari keberadaan Renatta. "Eh ... Sepertinya yang melambaikan tangan itu Renatta! Saya harus ke sana."
"Maaf telah yah, soalnya baru nyampe rumah jam lima lewat. Apa kamu lama menungguku?" tanya Devano yang merasa bersalah karena membuat Renatta lama menunggunya.
"Gak apa-apa kok, santai aja." Lalu Renatta memanggil waiters dan memesan minuman untuk Devano.
"Rena, tumben nih ngundang saya ke sini dan gak boleh ngajak bang Emir lagi. Emang ada hal penting apa yang harus di bicarakan?" tanya Devano memulai percakapan.
"Emang sengaja pengen ngobrol berdua sama kamu Devan. Ada beban pikiran yang harus saya ungkapkan, mungkin dengan mengungkapkannya saya dapat mendengar kebenaran dari mulutmu sendiri," kata Renatta.
"Wah ... mau curhat yah? Mau minta pendapatku tentang bang Emir? atau jangan-jangan bang Emir melamar kamu dan kamu belum yakin nerima lamarannya," kata Devano sambil tertawa kecil.
Seketika Renatta memunculkan wajah cemberutnya. "Hey ... kenapa bawa-bawa nama Emir sih, padahal aku mengajakmu ketemuan karena aku pengen bahas perasaanku padamu," batin Renatta.
"Bukan tentang Emir kok Devan, tapi ada sesuatu hal penting lagi," kata Renatta.
Seketika Devano mengernyitkan dahinya mencerna ucapan Renatta. "Kamu lagi ada masalah?" tanya Devano penasaran.
"Bukan, ada yang mau kutanyakan tentang kamu."
"Saya?" tanya Devano menunjuk dirinya sendiri. "Ada apa dengan saya," batin Devano.
"Iya, kamu lagi dekat yah sama Luna? Apa kamu menjalin hubungan dengannya? Maksudnya kamu sudah jadian sama Luna?" Pertanyaan beruntun dari Renatta.
Sontak Devano kaget mendengar pertanyaan Renatta. Dia jadi bingung bagaimana harus menjelaskan bahwa dia dan Luna tidak ada hubungan spesial.
"Saya gak ada hubungan apa-apa sama Luna. Kami hanya berteman baik dan tidak lebih dari itu. Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya balik Devano.
Mendengar jawaban langsung dari mulut Devano membuat Renatta tersenyum dan hatinya merasa lega. Ternyata benar dugaannya bahwa berita kedekatan Devano dan Luna hanyalah gosip belaka.
"Gini Devan ... dua hari yang lalu, di kantor ramai bicarain kamu. Menurut berita yang beredar di kantor, katanya kamu jadian sama Luna dan sering berduaan sama Luna," ungkap Luna.
Seketika Devano mengingat-ingat kejadian dua hari yang lalu, dia jadi teringat bahwa waktu itu dia makan siang bareng dengan Luna. "Oh ... ini pasti kelakuan teman-teman kerja Luna yang bikin gosip gara-gara makan siang bareng itu," pikir Devano.
"Benarkah, kenapa aku tidak mendengarnya yah?" tanya Devano.
"Wajarlah kamu tidak tahu, kamu kan lagi tugas di lapangan. Apa berita tersebut benar?" tanya Renatta sekali lagi untuk memastikan.
"Saya gak ada apa-apa sama Luna, apalagi punya hubungan spesial dengannya. Saya pernah beberapa kali ngobrol dia, ngobrolin tentang desain rumah. Kebetulan saya ingin sekali mewujudkan keinginan ibu di kampung untuk merenovasi rumah."
"Saat aku sedang berada di ruang Luna bertanya-tanya soal desain rumah, teman-teman seruangan Luna tertuju melihat kami dan mungkin saja mereka salah paham dan akhirnya ada gosip ini deh," jawab Devano.
Devano sendiri merasa aneh dengan orang-orang yang dengan mudah menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya.
Renatta percaya dengan ucapan Devano yang bicara sejujurnya. Hal tersebut membuatnya tersenyum lega, hingga timbul kekuatan dia untuk mengungkapkan perasaannya kepada Devano.
Devano pun kembali menatap Renatta yang ada di depannya. "Jadi kamu ngajak ketemuan hanya untuk menanyakan kejelasan berita itu? Kirain kamu mau minta pendapat tentang perasaan bang Emir padamu," goda Devano tertawa kecil.
"Kenapa dia selalu menyebut nama Emir," batin Renatta berdecak kesal. Entah kenapa Renatta tidak suka Devano menyebut nama Emir.
Saat ini, Renatta hanya fokus pada perasaannya saat ini. Niatnya mengungkapkan perasaannya semakin kuat, dia tampak menerima kekuatan baru setelah mendengar Devano dan Luna tidak ada hubungan apa-apa di antara keduanya. Ada setitik harapan yang di miliki oleh Renatta.
Tapi saat ini jantungnya berdetak semakin kencang, mulutnya terasa kaku untuk mengeluarkan kata-kata.
"Devan, a-aku ... eee ... ada yang mau aku sampaikan," ucap Renatta dengan bibir yang sedikit bergetar.
Devano melihat perubahan wajah Renatta yang tampak tegang. "Kamu baik-baik saja? Kalau ada masalah cerita saja, siapa tahu saya bisa bantu," ungkap Devano.
"Huft ... Devan kamu memang bukan cowok yang peka, tapi apa kamu tidak bisa membaca perasaanku selama ini padamu. Aku akan mengungkapkan perasaanku, walaupun nantinya kamu tidak menyukaiku," batin Renatta.
"Devan, sebenarnya ..."
"Sebenarnya apa?" tanya Devano.
"Sebenarnya aku menyukaimu selama ini." Akhirnya kalimat tersebut juga berhasil keluar dari mulut Renatta.
Seketika Devano membulatkan kedua matanya. Dia tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi. Dia yang berpikir bahwa Renatta mengajaknya ketemuan karena membicarakan perasaannya pada Emir, namun sebaliknya Renatta malah mengungkapkan perasaannya kepadanya.
"Perasaan ini telah aku pendam sejak aku mengenalmu. Saat Emir memperkenalkanmu padaku di kantin waktu itu, aku melihat kamu sangat berbeda dengan laki-laki lain," kata Renatta.
"Semakin aku mengenalmu dan mencari tahu tentangmu, aku semakin jatuh cinta padamu. Aku tidak tahu kalau kamu juga menyukaiku atau tidak, yang penting aku sudah mengungkapkan perasaan ini," ucap Renatta yang tampak lancar mengungkapkan perasaannya.
Tampak Renatta sudah dapat mengendalikan kegugupannya. Entah apa jawaban dari Devano, dia tidak tahu. Dia sudah siap apapun nanti yang menjadi jawaban Devano yang penting kini dia merasa hatinya lega.
...~ Bersambung ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Maya●●●
apa ya nanti jawabn devan. jreng jreng jreng
2023-12-01
1
վմղíα | HV💕
wah gosip memang sangat cepat menyebar seperti wabah
2023-09-18
1
Ucy (ig. ucynovel)
ren, kamu cocoknya sm emir aja deh
2023-09-16
1